Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Kedekatan Brenda, Hakim dan Juve I


__ADS_3

Wajah Brenda seketika menjadi merah padam.


Dokter mulai memasuki tempat Brenda berada untuk di periksa.


" Brenda ?" ucap dokter itu yang tidak lain adalah dokter Sadid.


"Kak Sadid... " ucap Brenda


"Apa kau terluka ?" tanya dokter Sadid


"Ah, hanya luka lecet sedikit." ucap Brenda


"Luka lecet juga bisa mengakibatkan infeksi Bren.. biar aku obati ya.. " ucap Dokter Sadid


Frisya terdiam melihat keakraban mereka berdua.


"Bren.. apakah kau sudah menikah ?" tanya dokter Sadid.


"Belum kak... kenapa ?" tanya Brenda


"Hm, aku juga..." ucap dokter Sadid


" Ehheemm.. " Frisya Berdehem ria.


Brenda melirik ke arah Frisya...


"kak.. sakit.." ucap Brenda mengalihkan perhatian.


"Tunggu sebentar... ini sudah selesai.." ucap dokter Sadid.


"Terimakasih ya kak... " ucap Brenda


"Ini sudah kewajiban ku untuk merawat mu Bren.." ucap dokter Sadid.


"Ah, kak Sadid bisa saja.." ucap Brenda


******


Dalam mobil Frisya.


"Dia sangat centil sekali pada mu ..." ucap Frisya


"Yaaa... dia kakak yang baik.." ucap Brenda


"Apa kau masih menyukainya ?" tanya Frisya


"Jika aku menyukainya, apa kau pikir aku akan ada disini bersama mu mas Frisya ?" tanya Brenda


"Jadi kau sudah tidak menyukainya... ?" tanya Frisya senang.


"Tidak juga.. haha " ucap Brenda sambil tertawa.


"Dasar gadis nakal " ucap Frisya


Frisya mengantar Brenda pulang, namun berhenti sebentar di sebuah toko bunga dan segera kembali.


"Untuk mu..." ucap Frisya


"Mas Frisya ini bunga yang indah.." ucap Brenda senang.

__ADS_1



Tiba tiba, seseorang mengetuk pintu mobil Brenda dan melambaikan tangannya.


"Kak Hakimm.... " ucap Brenda Bersemangat dan segera membuka pintu mobil.


Frisya mengerutkan keningnya. Brenda langsung memeluk Hakim dengan senangnya hingga lupa dengan kakinya yang terluka.


"Kakk... Bagaimana bisa kau tahu aku ada disini ?" tanya Brenda


"Aku tidak sengaja melihat mu, bagaimana hari mu hari ini ?" tanya Hakim sambil menggenggam tangan Brenda.


"Ah, iya aku sampai lupaa.." ucap Brenda


"Lupa apa ?" tanya Hakim.


"Lupa jika kaki ku terluka.. hehe.. " ucap Brenda


"Bagaimana bisa kaki mu bisa terluka Bren ?" tanya Hakim.


"Ah, itu tadi aku sedang be...." ucapan Brenda terpotong saat seseorang memanggil Hakim dari belakang.


"Pak Hakim, ayok kita harus segera berangkat sudah waktunya pergi.." ucap asisten Hakim.


"Ah, Bren.. simpan dulu nanti malam aku akan mampir jika saat pekerjaan ku sudah selesai, okey.." ucap Hakim.


"Baik kak... see u later..." ucap Brenda sambil cipika cipiki pada Hakim.


Frisya sebenarnya ingin turun dan segera menghajar lelaki itu, namun apa daya Frisya jika dia melakukan itu mungkin mendapatkan Brenda akan menjadi lebih sulit.


Setelah Hakim pergi Brenda segera kembali kedalam mobil. Frisya kembali memacu mobilnya..


"Apa kamu marah mas ?" tanya Brenda


Tiba tiba Frisya menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Loh mas kok berhenti disini ?" tanya Brenda


Frisya keluar dari mobilnya dan mengambil sebuah rokok dari dalam sakunya.


"Mas, kamu masih merokok ? itu tidak baik untuk kesehatan kamu.." ucap Brenda


"Kamu masuklah Bren.. aku harus pergi dulu, kamu masih bisa menyetir sendiri kan.. " ucap Frisya sambil berlalu.


Brenda hendak menghentikan Frisya namun kakinya terasa sangat sakit jika digunakan untuk berjalan terlalu jauh.


"Mass... jangan pergi.. mas !!!" teriak Brenda berusaha menghentikan Frisya.


Frisya segera menghentikan sebuah taksi dan segera naik tanpa menoleh pada Brenda.


"Aku yang menemaninya saat dia terluka, namun bagaimana bisa dia yang mendapatkan sebuah pelukan hangat dari Brenda." ucap Frisya kesal.


"Aku bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih... " ucap Brenda sambil memacu mobilnya untuk pulang.


*****


Keesokan harinya Frisya hendak mengajak Brenda untuk makan malam.


"Halo mas Frisya..." sahut Brenda di seberang telepon.

__ADS_1


"Dek, nanti malam kamu ada waktu ? kita makan malam yuk.." ucap Frisya bersemangat, hendak mengajak Brenda makan malam romantis.


"Tentu... pukul berapa ? " tanya Brenda


"Nanti malam mas jemput pukul 8 malam, gimana ?" tanya Frisya


"Aku menunggu kedatangan mas Frisya, jangan terlambat yaa.." ucap Brenda


"Tentu... see u dek..." ucap Brenda


*****


Malam harinya...


Frisya bersiap untuk pergi menjemput Brenda untuk dinner malam ini.


"Semangat Fris... jangan patah sebelum berperang.." ucap Rama


"Kau cerewet sekali... " ucap Frisya sambil tersenyum saat hendak masuk mobilnya.


Sekitar pukul 19.45 Frisya sampai di samping rumah Brenda, namun sayangnya Frisya melihat Brenda keluar dari rumah dengan seseorang lelaki, dengan sebuah pelukan dan ciuman di keningnya, hingga lelaki itu berlalu dan Brenda kembali masuk ke dalam rumah.


Melihat itu darah Frisya seperti mendidih, namun Frisya masih bisa untuk menahan amarahnya dan mencoba berpikir jika itu mungkin hanyalah seorang kerabat Brenda.


Beberapa menit kemudian setelah lebih tenang Frisya hendak keluar dari mobilnya namun lagi lagi ada yang menghambatnya. Saat Frisya baru akan membuka pintu mobil tiba tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Brenda dan masuk kedalam begitu saja.


deg...


deg...


"Siapa lagi dia... berani beraninya masuk begitu saja kerumah Brenda.." ucap Frisya sambil meremas stang mobil.


Beberapa menit kemudian Handphone Frisya berdering....


"Ya..."


"Mas Frisya... mas udah berangkat belum ?" tanya Brenda


"Belum, aku akan segera berangkat.." ucap Frisya


"Em.. jadi begini mas.... aku kayaknya gak enak badan nih.. maaf yaa aku gak bisa dinner sama mas Frisya dehh kayaknya..." ucap Brenda.


Frisya bingung, bagaimana bisa dia mengaku sakit saat dia melihat Brenda baik baik saja saat bersama seorang lelaki tadi.


" Ya " ucap Frisya menggambarkan kekecewaan nya karena Brenda membohonginya, setelah itu telepon langsung dimatikan oleh Frisya.


Beberapa saat kemudian, ternyata Brenda keluar bersama seorang lelaki yang menyapanya tempo hari saat kakinya terluka.


"Mau pergi kemana mereka.." ucap Frisya.


Frisya mengikuti mereka hingga sampai di suatu Kafe. Disana ada sebuah kue ulang tahun lengkap dengan dekorasi pestanya.


Tiba tiba keluarlah seorang lelaki dengan membawa bunga dan sebuah kotak cincin yang indah.


Frisya yang melihat hal itu langsung lemas,tubuhnya terasa dingin, Frisya menahan air matanya yang hendak menetes.


Frisya langsung kembali ke mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi, pikirannya kacau.


****

__ADS_1


__ADS_2