
Keesokan harinya...
Frisya mengetuk pintu kamar Brenda.
"Dek Bren kamu belum bangun ?" Ucap Frisya dari depan pintu.
"Ya, aku bangun.." Ucap Brenda sambil mengucek matanya.
Beberapa saat kemudian Brenda membuka pintu kamarnya.
"Hmm, ada apa ?" Tanya Brenda.
"Udah siang kok baru bangun sih ?" Tanya Frisya.
"Aku semalam gak bisa tidur jadi kesiangan deh." Lanjut Brenda.
"Pergi belanja yuk ke pasar." Ajak Frisya.
"Hm, oke tungguin aku mandi bentar ya." Ucap Brenda sambil kembali masuk dan mengambil handuk.
Beberapa saat kemudian Brenda segera mandi. 30 menit kemudian Brenda keluar dan hampir kembali terpleset karena dia melihat Frisya berbaring sambil memainkan handphonenya.
"Mas Fris, ngapain sih disini ? Ntar kelihatan mami loh, mana pintunya gak ditutup lagi." Ucap Brenda sambil menutup pintu kamar.
Frisya menatap Brenda yang hanya mengenakan handuk yang menempel pada tubuhnya.
Frisya berdiri dan kembali memeluk Brenda.
"Astaga pria ini, apa yang merasuki mu mengapa kau senang sekali memeluk ku seperti ini." Ucap Brenda.
"Mas mu ini yang seharusnya bertanya apa tujuanmu menutup pintu, jika tidak berniat melakukan sesuatu ?" Ucap Brenda.
Brenda menggaruk kepalanya.
"Kamu ini gimana sih mas Fris, gimana kalo mami tahu atau ayah melihat." Ucap Brenda.
"Baiklah, pertama mami dan ayah tidak ada dirumah kedua kamu yang menutup pintu kamarnya." Ucap Frisya.
"Ah, begitu... Baiklah sekarang keluarlah aku akan berganti pakaian." Ucap Brenda.
"Mari biar mas bantu." Ucap Frisya.
"Mas gak perlu, ini memalukan." Rengek Brenda.
"Lalu bagaimana dimasa lalu ?" Ucap Frisya.
"Jangan bahas itu lagi, aku terlalu gila saat itu... tapi sekarang aku sudah memahami bagaimana seharusnya aku bertingkah." Ucap Brenda.
Frisya menarik tubuh Brenda duduk di tempat tidur dan Frisya berdiri dihadapannya. Frisya membuka kancing celananya.
"Hisap saja sendiri, aku tidak mau." Ucap Brenda memalingkan wajahnya.
Frisya tersenyum...
"Akan ku pastikan kau akan datang dan memintanya sendiri padaku." Ucap Frisya dingin.
__ADS_1
Brenda tidak mengerti mengapa Frisya menjadi seperti itu pagi ini. Beberapa saat kemudian Brenda selesai berpakaian dan segera keluar dari kamar.
"Mas Fris, jadi belanja ?" Ucap Brenda.
"Udah siang dek, kamu masuk gih bantuin mas." Ucap Frisya.
Brenda masuk.
"Kamu lagi berberes ?" Tanya Brenda.
"Iya, keadaan mami sudah membaik dan ada yang harus mas lakukan, sesuatu yang tidak bisa dihandle oleh Rama." Sahut Frisya.
"Mas Fris, semua aset yang ku janjikan sudah siap semuanya Hoki Grup bukan lagi milik ku, semuanya sudah jadi milik mu, tolong tetap pekerjakan mereka semua di Hoki Grup, mereka orang orang yang baik." Ucap Brenda.
Frisya tersenyum...
"Betapa perhatiannya kau pada mereka semua." Lanjut Frisya.
"Tentu saja." Sahut Brenda singkat.
"Apa tidak menyesal jika memberikan Hoki Grup dan saham mu pada mas ?" Ucap Frisya.
"Tidak, aku merasa senang kau sudah membantu banyak." Ucap Brenda
Beberapa saat kemudian, Mami dan Ayah pulang, mereka melihat Frisya yang tengah hendak pulang.
"Frisya, kamu mau pulang hari ini nak ?" Tanya Mami.
"Sebenarnya Frisya tidak ingin pulang mi, tapi bagaimana lagi Rama sangat payah dia terkadang tidak bisa menyelesaikan tugas yang mudah." Lanjut Frisya.
"Ah, dia harus segera mempelajari segalanya agar kalian tidak merepotkan mu seperti ini." Ucap Ayah.
"Tidak ayah, aku akan diam lebih lama disini aku mungkin akan pulang sekitar 6 atau setahun lagi."Ucap Brenda
Frisya terbelalak mendengar ucapan Brenda.
"Apa yang kau katakan ? Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu dikota dek ?" Ucap Frisya gusar.
"Tenang ada meta, dan lagi ada orang hebat yang baru saja datang." Ucap Brenda sambil menggoda Frisya .
Frisya menunduk. Beberapa saat kemudian mbak Naning datang.
"Permisi tuan,nyonya, tuan Frisya, mbak Brenda." ucap Mbak Naning
"Masuk saja mbak, kamu bawa apa ?" tanya mami.
"Saya membawa sarapan untuk semuanya." Ucap mbak Naning.
Beberapa saat kemudian mbak Naning mulai menyiapkan makanan di meja makan, Brenda dan Frisya masih ada diruang tamu.
Frisya menarik Brenda hingga Brenda jatuh di pelukannya.
"Ehm, dada ini terasa sangat nyaman dan hangat." ucap Brenda.
"Ini masih tempat yang sama seperti dahulu." Lanjut Frisya.
__ADS_1
"Baiklah.. Baiklah... berhentilah pamer."Ucap Brenda sambil menjauhkan dirinya dari dekapan Frisya.
Beberapa saat kemudian.
"Brenda, Frisya ayo makan dulu sayang." Ucap Mami.
"Baik mami." Ucap Brenda dan frisya bersamaan." Sahut Frisya
Beberapa saat kemudian mereka makan bersama. Ditengah tengah sarapan mereka Frisya hendak mengatakan sesuatu.
"Ada apa Frisya ?" Tanya mami.
"Begini mi, Frisya bermaksud ingin mengajak Brenda untuk rujuk." Ucap Frisya.
Seketika Brenda tersedak, Frisya segera mengambil minum untuk Brenda dan Brenda segera meminumnya.
"Mas Fris, ngomong apaan sih?" ucap Brenda kesal.
"Mas bersungguh sungguh." lanjut Frisya.
"Hahh, tidak perlu membual seperti itu jika kamu mau datang kemari lagi atau kamu tidak ingin pergi kamu bisa tetap disini." Ucap Brenda.
"Apa yang kamu ucapkan itu tidak terlalu kasar ?" Ucap Frisya.
"Mami, ayah... Tolong jangan mengambil hati ucapan mas Frisya, jadi sebenarnya mas Frisya sudah memiliki tuanngan." jelas Brenda.
"Aku bisa memutuskannya." Lanjut Frisya enteng.
"Hah, tidak aku tidak ingin melakukannya." Ucap Brenda.
Beberapa saat kemudian mereka semua berada di depan rumah mami sambil mengantar Frisya yang akan segera pergi.
"Frisya, berhati-hati ya nak dalam perjalanan." Ucap mami.
"Jangan ngebut kamu kan gak lagi balapan." Ucap Ayah.
"Terimakasih atas perhatian Mami dan ayah, Frisya merasa bersyukur memiliki kalian semuanya." Ucap Frisya seraya memeluk Mami dan ayah bersamaan.
Terkahir Frisya hendak berpamitan dengan Brenda, Brenda langsung tersenyum. Melihat senyum Brenda Frisya langsung mendekap tubuh kecil Brenda.
"Astaga, lepaskan..." Ucap Brenda.
Frisya melepaskan pelukannya.
"Kembalilah menjadi istri ku." Ucap Frisya.
Brenda tersenyum.
"Selesaikan dulu dengan wanita mu itu, baru kembalilah dan datang padaku." Ucap Frisya.
"Kau bersedia menerima ku kembali ?" Tanya Frisya.
"Entahlah, akan kupikirkan lagi tentang hal itu." Ucap Brenda tersenyum menggoda.
"Aissh, kau sungguh masih nakal." ucap Frisya.
__ADS_1
"Baiklah, Frisya pulang dulu ya." Pamit Frisya.
"Bye bye." Ucap Brenda mami dan ayah sambil melambaikan tangannya.