
"Lepas.. lepassss.. Brendaa.. " ucap mas Frisya sambil berteriak keras.
Aku mulai menangis dan melepas cincin ku.
"Bagus gadis manis.. " ucap mas Frisya sambil mencoba menciumi ku, aku melawan dengan keras tindakannya itu..
"Gun Woo.. tolong.. tolong.." ucap ku sambil terisak.
Sayangnya Gun Woo tidak mendengar tangisan ku, begitu juga mas Frisya tidak mengindahkan perlawanan ku. Aku terdiam sambil menutup mata.
Mas Frisya yang melihat ku pasrah sambil menutup mata, menghentikan kegiatannya.
"Apakah kau setakut ini pada ku Brenda ??" tanya mas Frisya.
"Aku sangat menyayangi mu mas.." ucap ku masih menitihkan air mata.
"Rapikan pakaian mu... " ucap mas Frisya.
Aku merapikan pakaian ku dan masih menatap mas Frisya dengan perasaan takut.
"Aku pergi...kita bertemu di rumah mami." ucap mas Frisya.
"Kamu mau pergi kemana mas ?? mass..." teriak ku.
"Brenda... Ada apa ??" ucap Gun Woo yang baru memasuki mobil.
"itu.. mas Frisya.. pergi.. " sahut ku...
"Lalu ?? apakah kita akan melanjutkan perjalanan ??" tanya Gun Woo seperti tidak terlalu memperdulikan mas Frisya.
"Iya pasti itu.. ayo segera berangkat sayang.." ucap ku pada Gun woo.
"Sayang... aku seneng deh ga ada yang gangguin kek tadi, haha " ucap Gun woo sambil terkekeh.
"Ihh, mas Frisya itu baik banget loh.." ucap ku sambil menatap kaca mobil.
"Vilgar juga baik banget kayaknya.."
"Ehm.. mass... mereka itu orang orang baik yang selalu menemani ku saat kamu ga ada disini tau.."
"Iya, akhirnya mereka salah paham dengan sikap kamu.. ."
"Mass... jangan gitu dongg.."
"Mass ?? mas ??? haha " ucap Gun Woo sambil tersenyum menyeringai.
"Astaga iya.. duhh ni mulut gimana sih.." ucap ku dalam hati.
Aku terdiam tidak menjawab.
3 jam kemudian kami sampai di rumah mami.
Ting.. tunggg... tingg... tungg...
"Mami... aku datang..." ucap ku.
Suara pintu dibuka.
__ADS_1
"Kamu Bren ayo masuk.." ucap mami.
"Mami kok lemes ?? lagi sakit kah ??" tanya ku.
"Gak, mami cuman baru bangun tidur."
"Mami... kenalin.. ini Gun Woo.." Ucap ku memperkenalkan Gun Woo.
"Ini ?? Oh, ini yang namanya Seung Gun Woo.."
ucap mami, melihat Gun Woo kagum dengan ketampanan Gun woo.
"Ibu, perkenalkan saya Seung Gun Woo, saya kekasih Brenda.. maaf baru sempat memperkenalkan diri."
"Ahh, iya... pantas saja dia suka sama kamu, kamu ganteng ternyata."
"Mami... yang ganteng itu terlalu banyak.. tapi aku sayangnya sama yang satu ini.. hehe.." ucap ku .
"Baiklah.. makanlah dahulu.. " ucap mami mempersilahkan.
"Mi.. ayah mana ??" tanya ku.
"Ayah mu ada pekerjaan, nanti dia pulang saat makan malam."
"Ayo nak Gun Woo, makanlah yang banyak.. Friss.. Frisya... ayo makan.."
"Loh ?? mas Frisya udah sampai ??"
"Ya udah dong.. " sahut mami.
"Mass.. kamu kok tumben jelek amat sii.. kacau sekali.." ucap ku menyapa mas Frisya.
"Mengapa aku harus tampan saat kau tidak akan memilih ku.." ucap mas Frisya terang terangan.
Gun Woo terdiam sejenak dan kemudian melanjutkan lagi makannya.
Aku hanya melirik mas Frisya, suasana ini sangat canggung.
"Brenda.. Frisya dan kamu Gun Woo.. kita akan bicara nanti saat Ayah Brenda pulang." ucap mami.
30 menit kemudian, kami semua selesai makan.
"Kalian bertiga jalan jalan dulu deh.." ucap mami.
"Iya.. ayokk.. kita jalan jalan ke Air terjun yang dulu itu loh mas.." ucap ku pada mas Frisya.
"Kita berdua ?? Ayo.." ucap mas Frisya, aku langsung mengurungkan niat ku.
"Tidak sudah, aku ingin berdua dengan Bang Gun Woo saja disini.." ucap ku.
"Friss.. ayo nak jangan seperti itu..." ucap mami.
"Ya sudah baiklah kita pergi bertiga." ucap mas Frisya.
"Yee.. sayang.. nanti kita foto bareng ya.. hihi kamu tahu, aur terjunnya sangat indah.." ucap ku pada Gun woo.
"Benarkah.. terimakasih sudah mengajak ku dan tidak meninggalkan ku sendiri disini.." ucap Gun Woo sambil melirik Mas Frisya.
__ADS_1
Kami masuk kedalam mobil, namun lucunya kami bertiga duduk dibangku belakang.
"Loh.. ini siapa ntar yang nyetir.. " ucap ku.
"Ga usah bingung mami udah nyiapin sopir." ucap mami.
Aku terdiam mendengarnya.
Mas Frisya menggenggam tangan ku..
"Mas ?? ngapain sih ?? gak menghargai Gun Woo sama sekali." ucap ku sedikit berteriak
"Maaf aku lupa." ucap mas Frisya
Gun Woo hanya terdiam.. aku sungguh tidak mengerti ada apa dengan Gun Woo.. sekalipun dia menjadi lebih dewasa bukankah seharusnya dia menjaga ku agar tidak disentuh oleh orang lain.
Saat sampai di tempat air terjun..
Jalannya amat sangat licin, aku berjalan dengan berpegangan pada Gun woo, dan duduk di sebuah batu besar. diikuti mas Frisya.
"Sayang... apa kamu marah bang ??" tanya ku
"Tidak... aku tidak bisa marah sama kamu Brenda.." ucap Gun Woo
"Tapi kamu kok diem mulu sih.. mas Frisya selalu cari kesempatan tuhh.. " ucap ku sambil melirik mas Frisya.
"Aku akan selalu mencari kesempatan." ucap mas Frisya sambil memeluk tubuh ku dari belakang.
"Tuan.. tolong hentikan... aku diam sejak tadi.. tolong.. aku kemari ingin mencari restu, bukan mencari masalah dengan anda." ucap Gun Woo tegas.
"Lalu ??? apa yang akan kau lakukan ?? " ucap mas Frisya terdengar menantang.
"Sudahlah... aku tidak ingin berdebat, aku hanya ingin bersaudara.. dan aku tidak akan lupa.. aku juga akan membutuhkan restu mu untuk menikahi Brenda.." ucap gun woo santai.
"Bermimpilah untuk restu ku." ucap mas Frisya songong.
Tanpa terasa hari sudah mulai malam, kami pun pulang.. Ayah menyambut kami dengan bahagia.
"Selamat datang kalian semua.." ucap Ayah melihat kami bertiga.
"Ayah.. kenalkan ini Gun Woo kekasih ku."
"Ooh, ini yang katanya orang korea itu... "
"Iya Paman, saya Seung Gun Woo... saya kekasih Brenda anak Paman." ucap Gun Woo
"Wah.. berat ini sepertinya.. hmm.. apakah tidak sebaiknya kalian makan dulu saja ?" tanya Ayah.
"Tidak yah, kami sudah makan tadi di jalan." ucap mas Frisya.
"Baiklah kalau begitu.. karena Ayah, Mami, Frisya, Brenda dan kamu nak Gun Woo, sudah berkumpul semua.. jadi apakah ada yang ingin kalian bicarakan dengan kami." ucap Ayah membuka pembicaraan.
"Jadi, Begini paman... sebenarnya saya dengan Brenda sudah cukup lama menjalin hubungan.. jadi kami memutuskan untuk hidup bersama... jadi saya ingin melamar Brenda.. mungkin bisa saja saya meminta Brenda untuk langsung menjadi istri saya.. namun, saya rasa itu terlalu terburu buru untuk Brenda.. jadi saya bermaksud untuk bertunangan terlebih dahulu.. tapi sebelum kami melaksanakan hal itu, kami membutuhkan restu dari Om dan Tante, begitu juga mas Frisya.. agar kami dapat selalu hidup bahagia.." ucap Gun Woo panjang lebar.
Ayah terkesima dengan ucapan Gun Woo yang tegas sebagai seorang lelaki.
****************
__ADS_1