Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Mencari kebenaran.


__ADS_3

Malam harinya..


Brenda kembali menelisik jauh pada kenangan kenangan yang pernah terjalin antara Brenda dan Frisya...


"Hidup ini begitu singkat, tapi membuat ku menjalaninya dengan kesedihan yang tidak berkesudahan. " ucap Brenda dalam kesendiriannya.


" Bagaimana mungkin dia bisa begitu saja menduakan aku... " ucap Brenda sambil tersenyum.


Brenda teringat akan ucapan Frisya...


"Aku bisa melakukan apapun Bren.... "


" Apapun ? Apapun ??" ucap Brenda


"Oh astaga, apa ini adalah akal akalan Frisya agar aku berhenti mengejarnya... " Ucap Brenda.


" Jika memang benar seperti itu, aku harus mendapatkan kejelasan atas ini... tapi.. siapa yang bisa melakukan.... " ucapan Brenda terhenti saat otaknya mengingat seseorang yang pasti mengerti tentang Frisya.


"Rama... aku akan menanyakan hal ini kepadanya... " ucap Brenda menggebu gebu.


* Keesokan harinya...


Brenda mulai kembali untuk mengurus perusahaannya.


pukul 8 pagi, Brenda sudah berangkat ke perusahaan Hoki Grup.


"Nona Brenda... Anda dapat kembali ? ". ucap Meta.


" Iya, mulai hari ini aku akan kembali mengurus semuanya sendiri.. " ucap Brenda.


" Nona, haru ini kita akan ada rapat dengan perusahaan BO.. " ucap Meta.


" Perusahaan BO ? mengapa aku baru mendengar nama itu ?" tanya Brenda.


"Apa nona tidak tahu, itu adalah perusahaan anakan dari perusahaan Free Food yang baru saja berjalan beberapa bulan lalu.. " ucap Meta.


" Apa Rama yang mengurusnya ?" tanya Brenda.


" Benar nona.. " ucap Meta.


" Baguslah jika begitu, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi mencarinya." ucap Brenda .


" Rapat dimulai setelah makan siang nona.. " ucap Meta.


Brenda mengangguk...


*Meeting setelah makan siang di mulai...


Brenda dan Meta mulai memasuki ruangan meeting.


Rama kaget, saat Brenda masuk ke dalam ruang meeting.


" Brenda, sedang apa kau disini... " ucap Rama.


" Untuk apa lagi ? Tentu saja untuk mengurus perusahaan ku.. " ucap Brenda.


"Baiklah meeting bisa kita mulai sekarang ?" tanya Brenda.


" Tentu saja... " ucap Rama.


Rama mulai berdiri di hadapan semua anggota. Brenda terus menatap Rama tanpa henti, Rama dibuat salah tingkah olehnya.


2 jam kemudian, meeting selesai.


"Ram, bisa kau ikut aku sebentar ?" ucap Brenda.

__ADS_1


" Baiklah... " sahut Rama.


*Ruangan Brenda.


15 menit berlalu, Brenda dan Rama duduk saling berhadapan Brenda terus menatap Rama tanpa berkedip.


Seluruh tubuh Rama sudah banjir karena keringat yang terus bercucuran.


Rama terus menunduk tidak berani menatap Brenda.


"Bisakah kau mengatakan apa maksud mu mengajak ku kemari ?" tanya Rama.


" Apa kau masih tidak mengerti mengapa kau kuajak kemari ?" tanya Brenda dingin.


"Jika ini tentang Frisya, maafkan aku... aku tidak bisa membantu apapun..." ucap Rama.


"Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapan mu... " ucap Brenda masih menatap Rama tajam.


"Aku sudah memintanya untuk tidak meneruskan itu, tapi dia malah ingin lanjutkan perkaranya karena dia bilang kau yang memintanya.. " ucap Rama berusaha menjelaskan.


"Lalu Debora ? anak siapa yang ada bersamanya itu ?" tanya Brenda mengintograsi Rama.


" Bagaimana kau tahu anak Debora ?" tanya Rama.


"Apa benar itu anak Frisya ?" tanya Brenda.


Rama membelalakkan matanya.


"Apa Frisya mengatakan bahwa itu anaknya ?" tanya Rama.


Brenda mengangguk..


"Jika memang itu yang dikatakan oleh Frisya, berarti itu yang akan terjadi.." pikir Rama dalam hati.


" Mengapa kau melamun ? " tanya Brenda.


Brenda tahu betapa setianya Rama pada Frisya. Rama tidak akan semudah itu mengatakan kejujuran pada Brenda.


" Kau sedang berbohong pada ku, aku tahu itu... katakan sebenarnya, sebelum aku akan melakukan hal kasar. " ucap Brenda.


" Aku hanya tahu itu saja, aku tidak tahu apapun selain itu.. " ucap Rama sambil menunduk.. " ucap Rama


" Baiklah jika begitu, kau boleh pergi.. " ucap Brenda.


Rama segera pergi meninggalkan ruangan Brenda. Di lobi Rama bertemu seorang pria dengan tubuh kekar yang dengan sengaja menabrak Rama dengan tubuh besarnya itu.


"Hai, apa kau tidak punya mata ?" ucap Rama kesal .


Orang itu hanya menatap Rama dingin. Rama ketakutan seketika melihat postur tubuh besar orang yang menabraknya.


Rama memilih pergi tidak ingin memperpanjang masalah.


* Malam harinya...


Saat Rama hendak makan malam bersama Debora anak Debora sedang tidur.


15 menit setelah mereka makan malam, Debora bermaksud memberikan anaknya susu, namun sayangnya Balitanya sudah tidak ada di tempatnya.


Seketika itu Debora menjerit keras.


"Rama !! Anak ku tidak menghilang...!!!" jerit Debora.


Rama langsung berlarian ke tempat Debora berada .


"Apa yang terjadi ? dimana dia saat terakhir kali kau meninggalkannya ?" tanya Rama tidak kalah paniknya.

__ADS_1


" Dimana lagi, dia sedang tidur.. sudah pasti aku menidurkan dia di kamarnya, disini.. " ucap Debora sambil menangis.


Rama mencoba mencari anak Debora di bawah tempat tidur, lemari hingga akhirnya dia menemukan jendela yang terbuka dan secarik kertas yang terselip di jendela.


Rama membaca Secarik kertas itu..


" *Kau seharusnya berkata jujur, sekarang nikmati ketidakjujuran mu "


Deg !!


Deg* !!!


"Brenda.... " ucap Rama.


" Maksud mu ? Nona Brenda yang melakukan ini ?" ucap Debora di tengah tangisannya.


"Apa Brenda menemui mu beberapa hari lalu ?" tanya Rama.


"Bagaimana bisa kau tahu ?" tanya Debora.


"Dia menanyakan hal itu.. " ucap Rama


"Kau tahu, Frisya meminta ku membohonginya... " ucap Debora.


" Aku juga melakukan hal yang sama dengan mu.. " ucap Rama.


" Lantas apa yang harus kita lakukan ? Bagaimana jika Nona Brenda menyakitinya.." ucap Debora sambil menangis.


" Bersiaplah kita akan pergi ke rumah Brenda.. " ucap Rama


Debora mengangguk.


Beberapa saat kemudian mereka berangkat.


* Rumah Brenda


Mereka langsung masuk ke dalam pagar rumah Brenda namun sayangnya tidak bisa menembus masuk karena pintu yang dikunci dari dalam.


Debora dan Rama berteriak memanggil Brenda dari halaman rumahnya.


"Brendaa !!! keluarlah, kembalikan anak itu... " teriak Rama.


"Nona Brenda, maafkan kami, kami bersalah tolong maafkan kami, maafkan saya, anak itu tidak bersalah disini.. " ucap Debora sambil berlutut dan tangan memohon.


Brenda keluar dan terlihat dari Balkon rumahnya.


"Bren.. " ucap Rama


"Nona Brenda.... " ucap Debora masih tetap berlutut.


Brenda tersenyum melihat tingkah kedua orang yang telah membohongi dirinya.


"Kalian pikir aku mudah dibodohi ?" ucap Brenda sinis.


"Aku juga bisa menjadi seorang psikopat seperti Frisya. " ucap Brenda.


"Lihat ini.. " ucap Brenda sambil menunjukkan dia sedang menggendong seorang anak.


"Zain.... " seru Debora .


Beberapa saat kemudian Brenda menjatuhkan anak itu dari atas balkon rumahnya.


Seketika, Rama dan Debora berlari sambil menjerit-jerit sejadi jadinya. Setelah itu mereka kaget ternyata yang di lemparkan Brenda hanyalah Boneka yang berpakaian sama dengan anak Debora.


"Brenda, berhenti bermain main.. apa kau sudah gila ? " ucap Rama marah

__ADS_1


"Aku bahkan bisa benar benar gila saat bertemu dengan orang orang yang tidak jujur seperti kalian." ucap Brenda.


"Apa kesalahan ku, hingga kalian berhak berbuat jahat pada ku.." lanjut Brenda.


__ADS_2