
*Rumah Sakit...
Titt.. Tit.. Titt.. Titt... ( suara detektor jantung )
Mami berjalan kesana kemari, tidak lama kemudian..
"Mami... Apa yang terjadi pada putri kita ?" tanya Ayah.
"Entahlah yah, Mami juga tidak mengerti... Seseorang yang mengaku sebagai adik Frisya membawanya kemari.. " ucap Mami sedih.
"Frisya ?" tanya Ayah..
"Apa ayah tidak menonton televisi ? atau membaca media online ?" tanya Mami.
" Disana sangat sibuk, jadi ayah menghabiskan waktu senggang hanya untuk tidur.. " ucap Ayah.
Mami menceritakan panjang lebar apa yang terjadi pada Frisya.
Ayah hanya sanggup menggelengkan kepalanya.
"Apa itu Frisya kecil kita mi ? apa tidak salah, setahu ayah dia pribadi penyayang ?" tanya Ayah.
"Entahlah yah.. " ucap mami.
Beberapa saat kemudian Kai datang.
" Om, tante ini silahkan diminum agar merasa lebih baik.. " ucap Kai.
"Nak, tolong katakan bagaimana Brenda bisa seperti ini ?" tanya Mami.
"Kemarin, aku berkunjung ke makam ayah ku, lalu aku melihat Brenda dari kejauhan, aku mengikutinya... Disana dia berbicara banyak hal, mungkin itu makam kekasihnya dia menangis cukup lama disana, cuaca sangat dingin.. Bukannya segera pergi, Brenda malah duduk dan bersandar disana.. " ucap Kai.
"Aku mencoba untuk menyapanya untuk mengajaknya pergi, namun dia sudah memejamkan mata dan tersenyum sendiri.. " lanjut Kai.
" Dia terlihat sangat nyaman berada disana, aku tidak tega membangunkannya, setelah aku cukup kedinginan, baru aku hendak mulai membangunkannya, tapi ternyata tubuhnya sangat dingin, mungkin dia mulai membeku.. " ucap Kai.
"Aku langsung membawanya ke rumah sakit, benar saja dia terkena hypotermia, namun anehnya setelah hypotermianya reda, tubuhnya malah tidak merespon apapun, otaknya seperti menolak untuk bangun. " ucap Kai mengakhiri ceritanya.
Mami dan Ayah bertatapan.
"Ada apa ?" tanya Kai
"Hal ini pernah dialami oleh Brenda.. " ucap ayah.
Mami tidak kuasa menahan air matanya.
" Kapan Om ?" tanya Kai penasaran.
"Saat kekasihnya meninggal dunia.. " ucap Ayah.
__ADS_1
Kai mematung, tidak bisa melakukan apapun.
*****
"Hai Brenda... pulanglah, semua orang mencemaskan dirimu.. " ucap Gun Woo.
"Aku.. aku sebenarnya ingin pulang, tapi disana... aku tidak tahu harus melakukan apa ?" tanya Brenda
"Hai, suami mu sedang melewati masa sulitnya, bagaimana kau bisa pergi begitu saja.. " ucap Gun Woo.
"Apa aku bersalah Gun Woo ?" tanya Brenda
"Tentu saja, aku bahkan tidak menyangka kau akan melakukan ini.. Bagi ku kau wanita dengan kebaikan luar dalam, tapi kau mengotorinya dengan hal seperti ini.. " ucap Gun Woo.
"Apa aku benar benar harus kembali ?" tanya Brenda
" Tentu, aku disini bisa hidup bahagia karena semua kenangan indah kita berdua dulu, jadi kau harus hidup bahagia dengan hidup mu yang masih akan terus berjalan maju. " ucap Gun Woo.
"Andai aku menemukan seorang pria lagi seperti dirimu.. " ucap Brenda
" Aku juga berharap di kehidupan selanjutnya kita bisa bersatu.. " ucap Gun Woo.
"Baiklah... saatnya pergi, apa kau sudah siap.. " tanya Gun Woo.
Brenda menggelengkan kepalanya.
"Oh, ayolah disini bukan tempat mu.. " ucap Gun Woo.
" Itu selalu aku lakukan untuk mu. " ucap Gun Woo.
"Aku pergi dulu.. " ucap Brenda sambil berjalan ragu ragu..
Brenda berbalik menatap Gun Woo. Gun Woo tersenyum manis.
*****
Beberapa saat kemudian..
Brenda mulai tersadar, Brenda membuka mata sambil melihat sekelilingnya...
Terdengar suara mami dan Kai.
"Mami !!" ucap Brenda.
Mami mendengar ucapan Brenda segera masuk.
"Brenda.... " ucap mami sambil menangis.
"Kenapa Brenda ada disini ? Berapa lama Brenda disini ?" tanya Brenda.
__ADS_1
" Kau tidur lelap sekali... " ucap Kai.
"Benarkah ? " tanya Brenda
"Benar... 3 hari sudah kau berbaring tidur, apa tidak lelah ?" tanya Kai.
"Haha, apa yang terjadi pada ku ?" tanya Brenda
"Awalnya hypotermia, lalu ...." ucap Kai
"Lalu apa ?" tanya Brenda
"Lalu dokter bilang tubuh mu tidak merespon meskipun sudah diberikan rangsangan, dan otak mu, seperti menolak untuk bangun.. " ucap Kai.
"Apa seperti masa lalu ?" tanya Brenda pada Mami.
"Mami mohon jagan lakukan iti lagi.. " ucap Mami.
"Jika kamu mau membenci Frisya benci saja, jika kamu ingin mengakhiri hubungan dengan Frisya, lakukan saja, asal jangan kamu lakukan hal seperti ini lagi.. " ucap Mami sambil sesegukan.
Kai tidak kuasa melihat air mata mami.
"Nak... Kai mendukung apapun keputusan kamu.. " ucap Ayah sambil mengelus kepala Brenda.
"Kai... Apakah kamu menempuh jalur hukum untuk Frisya ?" tanya Brenda
Kai mengangguk.
"Maafkan aku Brenda, mungkin hanya itu hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk ayah ku.. " ucap Kai.
Brenda mengangguk.
"Aku mengerti.. " ucap Brenda.
" Lalu bagaimana dengan mu ?" tanya Kai.
"Aku... " ucap Brenda
"Aku Aku akan menerima Frisya kembali... Aku akan berada di sisinya lagi.. " ucap Brenda sambil tersenyum.
" Benarkah ?" tanya Mami.
"Apa kamu sungguh sungguh nak ?" tanya Ayah.
"Tidak perlu memaksakan diri nak.. " ucap Ayah.
"Tidak, Gun Woo benar seharusnya aku ada di sisinya saat suami ku dalam masa sulit seperti ini, bukan ikut menghakiminya." ucap Brenda.
"Kau benar, aku bangga pada mu Brenda.. " ucap Kai.
__ADS_1
*****