
Brenda masih terdiam duduk di halte bis sambil menatap kakinya yang berdarah. Tiba tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya.
Brenda masih tetap menatap kakinya.
"Brenda... ini benar dirimu ?" ucap seseorang.
Perlahan Brenda menatap ke arah asal suara.
"Richard ?" seru Brenda.
Richard tersenyum.
"Iya, ini aku... Bagaimana kabar mu ?" tanya Richard tersenyum.
"Seperti yang kamu lihat, Ah.. apa yang terjadi padamu ? Mengapa kamu menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan ?" tanya Brenda khawatir.
"Ah, ini bukan apa apa... " ucap Richard.
"Duduklah, katakan apa yang terjadi ?" tanya Brenda menyelidik.
"Kau memaksa ku... Baiklah aku akan ceritakan... " ucap Richard .
Brenda mengangguk..
"Kau ingat saat terakhir kali kita bertemu, ah.. saat itu juga di halte bis seperti ini... " ucap Richard kemudian menunduk .
"Lebih tepatnya saat aku... Menggoda mu saat itu dan... Pimpinan Boom&Food menyelamatkan dirimu... " ucap Richard.
"Mas Frisya maksud kamu ? Lalu, ada apa ?" tanya Brenda.
"Kau ingat saat itu aku pernah memohon pengampunan ?" tanya Richard
"Tentu, aku mengingatnya... " ucap Brenda
"Terimakasih... " ucap Richard.
"Untuk apa berterimakasih ?" tanya Brenda bingung.
" Terimakasih sudah membela ku di depan Frisya.. " ucap Richard.
"Rich, kumohon jangan berbelit belit.. aku tidak mengerti.. " ucap Brenda.
" Keesokan harinya setelah malam itu, Frisya dan beberapa orang anak buahnya mendatangi ku, membawa ku secara paksa, mereka menghajar ku, Terutama kaki ku ini, kemudian Frisya mengatakan pada ku jika kau meminta pengampunan untuk diriku karena itu dia melepaskan ku ." ucap Richard .
"Setelah sampai rumah sakit ternyata kaki ku mengalami cedera sangat serius bahkan aku hampir kehilangan satu kaki ku, beruntung Paman ku langsung membawa ku berobat di Eropa, akhirnya kaki ku masih dapat tertolong meskipun dengan waktu yang sangat lama. " terang Richard.
"Benarkah ? mengapa kau tidak pernah mengatakannya pada ku ?" tanya Brenda sambil memegang tangan Richard.
"Sudah.. jangan menangis... Apa kamu sudah mendengar kabar ?" tanya Richard.
"Kabar apa ?" tanya Brenda
__ADS_1
Richard memberikan handphone nya dan memberitahukan sebuah artikel tentang Frisya.
Jika biasanya segala sesuatu hal tentang Frisya adalah prestasi, namun kali ini berbeda, dalam Berita kali ini memuat tentang Skandal Pembunuhan yang Frisya lakukan.
Brenda tidak bisa berkata apa apa lagi.
"Brenda, benarkah jika Frisya itu adalah suami mu ?" tanya Richard.
" Iya, untuk sekarang... " ucap Brenda sambil berdiri..
"Kau akan pergi kemana ?" tanya Richard.
"Frisya... ( Memejamkan mata ) Rich, jika yang kau alami itu adalah sungguhan dan kau masih dendam dengan Frisya, buatlah laporan juga, mungkin dia memang harus mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia perbuat.. " ucap Brenda sambil berlalu melanjutkan perjalanan.
"Aku akan mengantarkan dirimu Brenda ?" ucap Richard.
"Tidak perlu, aku akan naik bis... " ucap Brenda sambil hendak naik bis, namun langkahnya terhenti dan berbalik melangkah ke arah Richard lagi.
"Ada apa ? Kau berubah pikiran" tanya Richard.
" Tidak... Aku.. ( Mengambil nafas ) Aku sebagai istri sah dari Frisya meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh suami ku.. aku sungguh menyayangkan tindakan yang dia lakukan pada mu.. " ucap Brenda sambil menahan air matanya.
"Brenda... jangan menangis... Aku tidak bermaksud seperti itu... " ucap Richard.
"Aku tahu... Baiklah aku pergi dulu, jika kau mau melaporkan Frisya, silahkan, aku juga merasa kamu perlu mendapat keadilan atas apa yang menimpa mu.. " ucap Brenda.
Richard terdiam, Brenda segera beranjak dan naik bis.
Brenda tersenyum saat hendak sampai di pintu rumah.
"Tubuh ku rasanya sudah tidak kuat lagi berjalan... " ucap Brenda sambil sempoyongan.
Tiba tiba seseorang keluar dari rumah seperti sibuk hendak menelpon seseorang.
"Mammi... Mamiii... " ucap Brenda sambil berpegangan pada pagar rumah.
Seseorang yang hendak bertelepon tadi adalah mami, Mami yang mendengar suara Brenda langsung melihat kearah Brenda. Beberapa saat kemudian Brenda terjatuh pingsan.
"Astaga Brenda.. nak... apa yang terjadi ? Ayaaahh... Ayahh... " ucap Mami Brenda.
"Apa Mi... " ucap Ayah Brenda.
"Anak mu pingsan ini, tolong bantuin Mami.. " ucap Mami setengah berteriak.
"Oalah, Brenda... " ucap Ayah.
Beberapa saat kemudian Brenda sudah terbaring di tempat tidur dan sudah diberi obat oleh dokter.
"Mengapa jalan hidup mu begini banget sih Brenda... " ucap Mami sambil membersihkan tubuh Brenda.
"Apa jodoh mu masih jauh nak ?" tanya Mami Brenda lirih.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Brenda terbangun.
"Mami... " ucap Brenda sambil memeluk mami dengan terburu buru.
"Apa mami sudah dengar ?" tanya Brenda
"Apa sayang ?" tanya Mami.
"Mas Frisya ?" ucap Brenda
"Apa kau mempercayai berita itu ?" tanya Mami.
"Iya.. " ucap Brenda
" Kamu tidak boleh seperti itu, kamu harus menanyakannya dulu pada Frisya nak.. " ucap Mami.
"Brenda bahkan mendengarnya langsung dari mas Frisya mi.. " ucap Brenda
" Benarkah ?" tanya Mami kaget.
"Dia ternyata belum berubah... apa dia berbuat buruk juga pada mu ?" tanya Mami.
Brenda menggeleng..
"Semua baik baik saja, sebelum aku tahu semua kebenarannya, maaf aku tidak mendengarkan ucapan Mami dan Ibu panti saat itu.. " keluh Brenda.
"Kamu tidak menangis ?" tanya Mami
"Aku berjalan berjam jam untuk kesini mami.. " ucap Brenda
"Sepanjang jalan aku menangis... menangisi kebodohan ku... seharusnya aku sadar sejak awal jika Frisya pasti yang akan melakukan ini semua pada Gun Woo.. " ucap Brenda
Mami memeluk Brenda.
"Lalu, apa rencana kamu setelah ini ?" tanya Mami.
"Entahlah... mungkin berpisah juga tidak buruk, Brenda takut semakin banyak korban.. " ucap Brenda
" Sebagai orang tua mami menentang itu, tolong kamu pikirkan baik baik jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.. " ucap Mami.
"Iya, Brenda akan memikirkannya dengan kepala dingin... " ucap Brenda.
"Mami bisa beristirahat, Brenda akan istirahat juga.. " ucap Brenda.
"Baiklah nak, selamat malam... " ucap Mami sambil megecup pipi putrinya.
"Selamat malam Mami.. " ucap Brenda.
Setelah mematikan lampu mami langsung pergi tidur .
Brenda terduduk dan mulai melamun disana.
__ADS_1
******