
Pagi harinya...
"Mas Frisya bangun... Mass.." ucap ku sambil menyentuh hidung mas Frisya.
"Ehm, udah pagi yaa.." sahut mas Frisya.
"Iyaa.. ayok siap siap ke kantor.." ucap ku sambil berjalan memilih pakaian.
Mas Frisya berdiri dan memeluk ku dari belakang.
"Kenapa ??" tanya ku
"Biarkan aku tetap disini di sisi mu seperti ini sekarang dan selamanya dek.." ucap nya sambil mendekap tubuh ku.
"Duh, masih pagi belom mandi ngomongnya ngelantur kemana mana yaa.. udah mandi sana.." ucap ku.
"
" Maaf mas, aku harus segera berangkat aku sibuk hari ini.." ucap ku sambil membalikkan badan dan segera berpakaian.
"Baiklah.. "
"Aku berangkat dulu yaa... nanti bik Sari pulang kok"...
"Dia pasti sengaja melakukan ini pada ku. astaga.. dia melakukan apapun agar bisa bersama ku.. ini tidak benar."
15 menit kemudian aku sampai di kantor, aku melihat Debora asik berkirim pesan.
"Apakah itu masih dari mas Frisya ??" tanya ku pada Debora.
"Tentu Nona.. dia sangat romantis."
"Baiklah.. aku tahu kau jatuh cinta tapi jangan sampai lupa dengan pekerjaan mu yaa.."
"Baik Nona Brenda, siiaappp ." ucap nya seraya berdiri dan melakukan hormat.
Aku hanya tersenyum dan berjalan menuju ruang kantor ku.
1 jam kemudian aku merasa sangat letih, aku hendak meminta Debora membuatkan aku teh, namun dia terlihat amat sibuk, jadi aku memutuskan membuatnya sendiri.
"Nona Brenda mau pergi kemana ?? apa ada yang bisa saya lakukan ??"
"Ah, tidak.. sudah bekerjalah, aku hanya ingin membuat teh ku sendiri."
__ADS_1
"Baik nona.." Debora melanjutkan pekerjaan nya.
Aku berjalan menuju dapur kantor, mengambil teh hijau dan mengambil suatu toples yang ku kira adalah gula, namun ternyata garam.. entah siapa yang meletakkannya disana.
Aku berjalan kembali menuju ruang kantor ku. Kulihat ada mas Frisya dan Debora yang sedang bersenda gurau.
"Ihh, kok malah pacaran disini sih.." gerutu ku dalam hati.
Aku berjalan hendak pura pura tidak melihat mereka.
"Ehem.. begitukah cara CEO memperlakukan investor terbesar di perusahaannya ?? melewati nya seperti orang asing Nona Brenda??"
"Hehe, kalian kan lagi pacaran.. aku kan cuman ga mau ganggu gitu.." bela ku.
"Ku maafkan jika teh dalam gelas mu, kau beri untuk ku."
"Aku akan membuatkan sendiri untuk mu kak Frisya.. jangan ambil milik nona Brenda, tolong " ucap Debora
"Tidak.. aku berkata seperti ini karena aku rekan kerjanya bukan sebagai pacar mu Debora."
"Ya ya ya.. ini.. ambil saja, aku juga sudah tidak haus, selamat menikmati teh nya.." ucap ku.
"Terimakasih Nona Brenda" ucap mas Frisya sambil mengedipkan mata.
Aku dapat melihat dengan jelas kedekatan mereka memang seperti orang yang berpacaran, namun mas Frisya masih belum meminum teh dari ku tadi.
Aku merasa risih dengan pemandangan ini, aku menutup tirai ruangan ku agar tidak melihat mereka.
Diluar, Frisya menyadari jika aku menutup tirai ruangan ku, lalu dia menyeruput teh yang ku buat tadi.
karena tadi yang ku masukkan adalah garam, sontak saja mas Frisya menyemburkan teh dalam mulutnya.
"Apakah ini buatan Brenda ??" tanya Frisya pada Debora .
"iya.. ku dengar dia tadi ingin membuat teh sendiri." ucap Debora.
"Ah, sial dia.." mas Frisya tidak melanjutkan ucapan nya dia hanya tersenyum.
"Diamlah disini jangan masuk, akan ku buat perhitungan dengannya." ucap Mas Frisya pada Debora.
Mas Frisya masuk ke dalam ruang kantor ku tanpa permisi.
Aku yang sedang duduk di sofa sambil mencoba suatu produk yang ku oleskan pada kaki ku.
__ADS_1
"Kauuu.. mas Frisya... kenapa masuk tanpa permisi.."
"Apa yang sedang kau lakukan ??"
"Tidak aku hanya memakaikan produk ini di kaki ku, itu saja" sambil membetulkan rok ku.
"siang siang kau sudah membuat ku kepanasan Brenda..."
"Mas.. ini kantor.. tolong jangan serang aku.. nanti kekasih mu tahu.."
"Aku tidak perduli, dalam diriku, hanya kau wanita yang benar-benar kucintai dan kusayangi seumur hidupku. "
Tiba tiba...
"Nona Brenda saya Debora.. Apakah anda baik baik saja.." sontak aku langsung menendang mas Frisya yang berada di hadapan ku.
"Aduuh.. " ujung mata sebelah kanan mas Frisya kena tendangan ku hingga biru.
"Aduh.. kamu ga papa mas ??"
"Kamu gimana sih.. kamu gausah nendang.. biar mas aja..."
"Iih udah membiru gitu masih aja mesum."
"Masuklah Debora."
"Astaga kak Frisya.. kamu kenapa ??"
"ini tadi, gak sengaja kena gelas.." ucap Frisya.
"Sakit ???"
"Dikit, ga papa kok.. aku obatin ntar aja... ya udah aku pulang dulu.."
"Biar aku antar sampai depan." ucap Debora.
Mas Frisya hanya mengedipkan mata pada ku dan berlalu dengan Debora.
"Dasar mesum gilak " gerutu ku.
Setelah itu aku tidak bisa berkonsentrasi dan memilih pulang.
****
__ADS_1