
"Jadi, Begini paman... sebenarnya saya dengan Brenda sudah cukup lama menjalin hubungan.. jadi kami memutuskan untuk hidup bersama... jadi saya ingin melamar Brenda.. mungkin bisa saja saya meminta Brenda untuk langsung menjadi istri saya.. namun, saya rasa itu terlalu terburu buru untuk Brenda.. jadi saya bermaksud untuk bertunangan terlebih dahulu.. tapi sebelum kami melaksanakan hal itu, kami membutuhkan restu dari Om dan Tante, begitu juga mas Frisya.. agar kami dapat selalu hidup bahagia.." ucap Gun Woo panjang lebar.
Ayah terkesima dengan ucapan Gun Woo yang tegas sebagai seorang lelaki.
Mami menyela ucapan Ayah..
"Ehm.. maaf ya nak Gun Woo.. kamu terlihat seperti pemuda yang sangat baik dan berwibawa... Tapi maaf anak kami sudah kami jodohkan dengan Frisya." ucap mami ketus.
"Mami.. kok gitu sih.." aku kaget mendengar ucapan mami yang tiba tiba itu.
"Paman dan Tante sangat beruntung memiliki anak secantik dan sebaik Brenda.."
"Abangg.." ucap ku
"Diam sebentar ya sayang.." ucap Gun Woo tidak membiarkan ku membelanya.
"Saya tahu, satu tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sepasang kekasih terpisah dan, pasti banyak hal berat yang harus di hadapi Brenda selama ini.." lanjut Gun Woo.
Sebelum melanjutkan nya lagi.. Gun Woo menengguk air yang ada di hadapannya tenggorokan nya terasa kering.
"Mulai dari hari hari yang sepi, pekerjaan yang menumpuk, capek meeting sampai perasaan dari orang orang yang menyayangi Brenda. Saya jauh.. tapi saya tidak buta.. saya tahu segalanya.."
"Maksud kamu bang ??" tanya ku pada Gun woo.
"Iya.. aku tahu tentang mu dan Juve di taman anggrek aku tahu tentang, Vilgar yang sangat memperhatikan mu. Tentang Tangan mu yang memar, tentang Mas Frisya.. Aku tidak seberuntung mas Frisya dimana dia bisa bertemu dengan mu sejak kamu kecil Bren.. Aku juga tahu tentang apa yang dilakukan Frisya untuk keluarga mu Brenda.. Semua kenyataan ini membuat ku gila. aku tidak berdaya mendengarnya. bahkan beberapa hari yang lalu kalian baru saja pulang dari sini berdua.. perasaan ku sudah cukup tercabik cabik dengan semua ini." mata Gun Woo berkaca kaca.
"Namun sayangnya... beberapa kali aku juga mendengar kau membela ku, kau bahkan tidak melupakan ku demi lelaki lain.. sebenarnya aku sudah sampai disini sehari sebelum hari kepulangan ku, aku datang menemui mu, aku ingin mengakhiri segalanya... lagi, Saat itu kulihat kalian berdua ada dibalkon kamar mu.. aku mendengar ucapan mu yang membuat ku ingin maju.. "
*****Flashback..***
"Mas.. maafkan aku juga.. karena sudah buat kamu seperti ini.. andai hati ku bisa ku ubah agar hanya bisa mencintai mu.. aku akan melakukan itu, namun sayangnya... maafkan aku .." ucap ku sambil menangis di pelukan mas Frisya. (Tuhan Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua, eps. Hati sudah memilih)
***Back again ***
"Saat itu juga aku yakin, aku akan terus melangkah maju dengan mu Brenda..." ucap Gun Woo sambil menatap mata ku dalam dalam.
Aku tersenyum...
"Mami ayah.. tolong restui kami.. Gun Woo sangat mencintai ku, begitupun aku juga sangat mencintainya.."
Mereka tidak berekspresi... Mami dan Ayah tidak menyangka jika Gun Woo cukup tahu banyak tentang kehidupan Brenda sekalipun Gun Woo di tempat yang jauh. Begitu pun Brenda tang amat sangat Setia dengan Gun Woo.
"Dann, untuk perusahaan ayah ku yang hampir bangkrut.. Terimakasih sudah berinvestasi... Namun jika dengan tidak mundurnya aku mendapatkan Brenda.. kau akan menarik invest itu.. apa daya ku.. saat ini aku hanya perlu restu dari mu kak."
Mas Frisya menatap Gun Woo yang sudah terlalu banyak bicara.
__ADS_1
"Mas Frisya..sebagai sesama Pria dewasa.. aku juga tidak menyalahkan apa yang kini kamu rasakan untuk Brenda.. dia memang istimewa. tapi... bukankah setahun ini adalah tenggang waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hati Brenda.. "
"Meskipun aku sadar betul perasaan ku pada Brenda, aku masih ingin Bertanya padamu Brend.. apakah kamu benar benar masih ingin bersama ku, atau dengan mas Frisya."
Aku membelalakan mata ku bersamaan dengan Mami dan ayah.
"Sekalipun, paman dan tante merestui kita aku masih akan menanyakan hal ini Brenda.." ucap Gun Woo.
"Tolong jawab dengan jujur, hati mu milik siapa ?? aku tidak akan marah apalagi hingga memaksa mu untuk tetap bersama dengan ku."
Mas Frisya tampak pucat, mas Frisya sangat kesal.. bagaimana dia bisa bertemu dengan seseorang yang sangat gentel man.
"Aku juga tahu apa yang mas Frisya lakukan pada Brenda didalam mobil tadi, sungguh aku sangat kesal.. tapi mau bagaimana lagi.. mungkin ada hati yang masih belum selesai disana.. Mangkannya aku memilih pergi keluar dan menunggu kalian."
Aku menatap mas Frisya..
"Bisakah kita keluar sebentar.." ajak ku pada mas Frisya.
Mas Frisya menuruti ku dan mengikuti ku pergi keluar.
"Mas ?? Apa kau akan merestui kami.. ?" tanya ku pada mas Frisya.
"Hm.. dimana kau mendapatkan lelaki dewasa seperti itu.. mengapa sangat menyebalkan.." ucap mas Frisya.
"Apakah tiada hatimu untuk ku Brenda ??" tanya mas Frisya.
"Aku bahagia, nyaman berada di samping mu, tapi aku sudah terlanjur terpaut hati pada Gun woo, aku amat mencintai nyawa.." ucap ku serius.
Mas Frisya mulai menitihkan air mata. Lalu dia mengambil rokok di sakunya dan mulai merokok.
"Pergilah... Aku tidak akan mengganggu mu lagi."
Saat saat seperti ini mengingatkan ku akan kejadian di cafe saat pertama kami datang kemari. saat itu mas Frisya juga menyuruh ku pergi.
"Mas ??"
Tiba tiba suara, geluduk terdengar dan hujan pun turun..
Cup
"Ini restu ku untuk mu.. ingat jangan pernah datang kembali.. kay mematahkan hati ku." ucap mas Frisya sambil berlalu di tengah hujan.
Aku kembali masuk..
"Mana mas Frisya mu ??"tanya mami.
__ADS_1
"Dia pergi, dia bilang sudah merestui hubungan kami." ucap ku.
"Ooh, Frisya ku yang malang.." mami mulai menangis tersedu sedu.
"Sudah mi.. Brenda tidak mencintai Frisya. andai dipaksakan ini tidak akan baik.." ucap Ayah.
"Bagaimana jawaban mu atas pertanyaan ku brenda ??" tanya Gun woo
"Aku memilih mu bang Gun Woo.." ucap ku sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan Ayah dan Mami apakah kalian merestui hubungan kami ??" ucap ku.
"Nak.. apakah kamu berjanji akan melindungi gadis kecil ini untuk kami.." ucap Ayah.
"Buat dia bahagia selalu.. kami sangat mengharapkan agar yang terbaik selalu untuk Brenda.." ucap mami masih sesegukan.
"Kamu merestui kalian, segeralah bertunangan agar kami bisa merasa lega.." ucap ayah.
"Sudah mi, ayo kita masuk.. sudah.. Frisya pasti mengerti.. " lanjut ayah pada mami.
"Apakah kita akan langsung pulang bang ??" tanya ku.
"Sepertinya begitu, aku besok harus meeting dengan klien ku pukul 9 pagi."
Aku menscroll handphone ternyata aku Debora mengingatkan ku dengan pekerjaan ku yang tidak jadi ku kerjakan tempo hari."
"Emh, iya ini mas, pekerjaan ku juga menumpuk.."
"Ya udah kita pulang yaa.. yang penting restu sudah kita dapat kan.. " ucap Gun Woo.
"Aku mencintai mu bang,.." ucap ku berbisik.
"Aku juga mencintai mu cantik, ayo kita pamitan dulu.." balas Gun Woo.
Aku hanya mengangguk..
"Mami, ayah... aku pulang dulu yaa.. tolong jangan bersedih lagi... " ucap ku.
"Kamu gadis nakal.." ucap mami mencubit pipi ku.
"paman, tante kami pulang dulu... terimakasih sudah merestui kami.."
Akhirnya kami pulang pukul 9 malam.
***************
__ADS_1