Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Rencana Perceraian


__ADS_3

Di ruang baca rumah Frisya.


"Kau disini rupanya.." ucap Rama


"Ah, kau mengagetkan ku Rama.." ucap Debora.


"Kau sedang membaca apa ??" tanya Rama


"Tidak.. aku hanya membaca buku tentang pernikahan.." ucap Debora.


"Apa kau ingin memperbaiki hubungan rumah tangga mu dengan Frisya ?" tanya Rama


"Hahaha, tuan payah itu.. mana mungkin kami bisa memperbaiki hubungan kami sedang hatinya tidak ada untuk ku.." ucap Debora .


"Lalu ?" tanya Rama


"Aku sebagai seorang wanita, kelak aku ingin merajut rumah tangga dengan lelaki yang kucintai dan mencintai ku Ram, saat itulah aku akan menerapkan apa yang aku baca dalam buku ini.." ucap Debora.


"Mulia sekali.." ucap Rama.


"Ada apa kau kemari menemui Ram ?" tanya Debora.


"Ada yang ingin aku sampaikan.." ucap Rama.


"Apa tuan itu akan menceraikan ku ?" tanya Debora.


"Darimana kau tahu.." ucap Rama


"Jadi benar yaa.. tentu saja aku tahu, dia pasti sangat mencintai Nona Brenda, dan aku akhirnya hanya penghalang diantara mereka" ucap Debora.


"Maaf, bahkan seharusnya kau mendapatkan kebahagiaan bukan malah sebaliknya." ucap Rama


"Dari awal pernikahan inilah yang salah.. seharusnya aku jangan mudah percaya saat orang sekelas Frisya menyatakan cintanya pada ku, bahkan sebelum aku merasakan kasih sayang darinya, dia sudah memperlihatkan seperti apa perasaannya yang sesungguhnya pada ku. " ucap Debora sedih.


"Jangan menangis.. ku mohon " ucap Rama.


"Apa kau menyukai ku Ram ??" tanya Debora membuat Rama mati kutu.


"Maksud mu apa Deb " ucap Rama

__ADS_1


"Aku bahkan tahu kau sering mencuri curi pandang pada ku, terakhir kali saat kita disuruh berkebun pukul 3 pagi, hingga akhirnya kau jatuh menimpa pohon." ucap Debora.


"Kau sungguh membuat ku malu.." ucap Rama


Perlahan Debora mendekati kursi roda yang digunakan Rama .


Cup


Cup


Cup....


Mereka berciuman dengan lembut meskipun sesekali Rama merasakan sakit di rahangnya saat dia berusaha menelusuri lidah Debora.


******


Keesokan harinya...


"Debora, aku hari ini aku akan menyuruh orang untuk pergi ke pengadilan mengajukan gugatan cerai Frisya pada mu.." ucap Rama


"Lebih cepat lebih baik.. aku ingin segera bersama dengan mu Ram.." ucap Debora membuat darah Rama mendesir deras.


"Jangan katakan itu lagi... kau masih istri Frisya, kau harus tetap menghormati dia.." ucap Rama.


"Aku juga mencintai mu.." ucap Rama.


*****


Frisya memanggil Rama di ruang kerjanya.


" Kau memanggil ku Fris.." ucap Rama


"Ya... Apa kau lupa jika hari ini Brenda akan pergi ke tempat persemayaman ?" tanya Frisya


"Ah, iya aku ingat... lalu apa kau akan pergi juga.." ucap Rama


"Aku penasaran siapa yang akan ditemuinya.." ucap Frisya


"Baiklah, masih kurang 15 menit.. kurasa masih ada waktu untuk pergi ke rumah Brenda sambil menunggunya keluar " ucap Rama

__ADS_1


"Kau benar.. aku akan segera berangkat.." ucap Frisya


"Tunggu, kau akan ditemani beberapa pengawal Fris.." ucap Rama


****


Rumah Brenda...


Pukul 10 pagi, beberapa mobil keluar dari rumah Brenda. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai.


Terlihat Brenda dituntun oleh sang Ayah menuju tempat persemayaman Gun Woo.


Setelah sampai mereka segera memanjatkan doa untuk Gun Woo, Brenda terdiam menatap batu nisan Gun Woo.


Juve memberikan isyarat untuk meninggalkan Brenda sendiri, dan memberikan waktu untuknya sendiri.


Frisya menatap Brenda dari kejauhan...


Terlihat raut wajah kehilangan yang teramat mendalam di wajah Brenda.


"Abang... aku datang, maaf baru kali ini aku kemari... aku merasa tidak akan pernah sanggup untuk datang kemari, ini masih terasa seperti mimpi bagi ku, tapi Juve.. dia dokter yang sangat baik dia membantu ku melewati ini semua, dan Hakim... dia adalah teman dari kegilaan ku, tapi dia sangat baik... Juve bilang aku harus merelakan dirimu, karena yang mati tidak mungkin bisa kembali, meskipun berat aku akan berusaha...Kau tahu mas Frisya ? dia datang kembali setelah sekian lama... dia kembali menyatakan cintanya padaku.. aku belum merasakan apapun.. aku rasa, hati ku terikut mati bersama dengan mu, tapi Juve bersih keras meminta ku untuk mengikhlaskan mu dan mencoba kembali untuk jatuh cinta." ucap Brenda


"Apa kau sedih melihat ku seperti ini ? apa kau benar benar ingin aku jatuh cinta lagi ?" tanya Brenda


"Jika iya, ku mohon datanglah dalam mimpi ku malam ini, aku sangat merindukan mu.." ucap Brenda.


Frisya masih melihat dan mendengarkan Brenda yang berbicara dengan nisan Gun Woo tak kuasa menahan tangisnya.


"Sedalam itu... tidak salah jika aku meninggalkan Brenda untuk lelaki seperti mu Gun Woo, kau lelaki yang baik... namun sayangnya kau tidak berjodoh dengan Brenda.. jadi aku akan berusaha membuatnya bahagia seperti yang kau lakukan dulu. " ucap Frisya melihat ketulusan Brenda.


"Nak.. Brenda... Ayo pulang sayang, ini sudah cukup.. ayo kita pergi. " ucap Ayah.


Brenda pun pergi, bersama dengan Juve dan Hakim.


"Siapa lagi mereka ?" tanya Frisya dalam hati.


"Kalian cari tahu siapa dua pria yang sedang bersama Brenda itu, pastikan informasi itu benar." ucap Frisya


"Baik tuan.." ucap pengawal Frisya.

__ADS_1


Beberapa orang suruhan Frisya mengintai rumah Hakim dan Juve dalam 3 minggu setelah mereka yakin, baru mereka melapor pada Frisya.


*******


__ADS_2