
Debora hanya melihat Frisya dan Rama. ternyata ada orang yang mencintai Nona Brenda hingga sanggup mengeluarkan uang berapa pun untuknya.
"Dan untukmu Nona, ambil ini.. (memberikan kartu kredit no limits) gunakan untuk apapun senang hati mu, itu hadiah untuk bantuan mu" ucap Frisya .
Rama, memberikan isyarat agar Debora mengambil kartu kredit yang di berikan Friz.
"Terimakasih... " ucap Debora.
"Nanti malam, kita akan bertemu di cafe Bintang... dan kau akan meminta maaf pada Brenda atas tindakan mu kemarin. Ram, antar Debora pulang... " tegas Friss.
"Baiklah..." ucap Debora.
"Ayo Debora kita pergi." ucap Rama .
***Di perjalanan pulang***
"Mengapa tuan Frisya tidak langsung bilang jika memang mencintai nona Brenda ??"
"Jangan cerewet dan jangan menjawab terutama saat Frisya sedang marah.. dia bahkan akan menghancurkan apapun termasuk melempar mu dari atas gedung jika dia sedang marah. Dia hanya mau mendengarkan apa yang ingin dia dengar saat marah." jelas Rama.
"Kau benar, bahkan tangan ku saja masih sakit... Nona Brenda yang dia sukai saja pernah di buatnya seperti ini.."
"Brenda benar benar membekas di hati friss.. bertahun tahun dia bekerja keras agar dia bisa pantas untuk Brenda namun sayangnya dia lupa jika Brenda terlalu cantik hingga banyak sekali lelaki yang mendekatinya."
"Heyy.. lalu bagaimana dengan mu ??" sahut Debora.
"Aku ??? aku cukup mengagumi kecantikan Brenda namun tidak untuk memiliki."
"aku tidak membahas Nona Brenda.. aku hanya membahas tentang seseorang yang beberapa waktu lalu sering men dm ku dengan ucapan yang manis.." Debora melirik Rama.
"hm.. mungkin aku salah.. maaf aku tidak akan men dm mu lagi.. "
"Oh, cuman begitu ya..." Debora kecewa..
Setidaknya, jika perasaan Frisya itu bohong Debora berharap perasaan Rama yang men dm nya setiap hari, bahkan hingga tengah malam itu sungguh sungguh untuknya..
"Mas.. rumah ku di depan itu.. " ucap Debora.
"Nanti malam ku jemput jam 7 bersiaplah.." sahut Rama.
***Rumah Frisya**
(Frisya menelfon Brenda)
"Ya mas ??" sahut ku dengan lembut.
"Ehm... kamu lagi ngapain dek.. suaranya kok gini banget.."
"Eh, ini lagi abis mandi.. mas Frisya bisa kesini.. aku kangen.."
"Kangen sama mas ??" ucap mas Frisya.
"Hehe gak kok boong.. " ucap ku cekikikan.
"Apa kau merindukan gun woo..."
"Sedikit.. hehe.. namanya juga pacarnya.."
"Anggap aku gun woo hari ini saja.." ucap mas Frisya sambil menitihkan air mata tanpa sadar.
Dia kaget, bagaimana bisa air mata ini jatuh tanpa dia sadari.
"Ihh.. mas Frisya.. kok gitu... aku kan gak bisa nyakitin mas seperti ini.."
"Tunggulah aku akan datang.. Aku merindukan mu Brenda.."
"Baiklah aku menunggu.."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian... Frisya datang dengan gaya yang keren.
Aku sedang duduk di sofa menunggu mas Frisya sambil mendengarkan musik.
"Hai cantik... ini untuk mu.." sambil memberikan bucket bunga yang cantik.
"Astaga mass.. cantik sekali... aku seperti pernah melihatnya. tapi dimana yaa..."
Otak ku melakukan Flashback..
Taman bunga anggrek...
Setelah itu... Juve mengendarai mobil nya dengan santai, lalu sisi disebelah utara taman... aku melihat seseorang yang dari belakang, caranya berjalanya tidak asing bagi ku.
"Apakah itu Rakhman ???" ucap ku dalam hati.
Setelah kami mendahului nya, mata kami sempat bertatapan, dia membawa bucket bunga yang indah.
"Ah, ternyata bukan Rakhman.... tunggu, sepertinya aku pernah melihatnya.. tapi dimana ?? hmm, entahlah.." aku berbicara pada diriku sendiri. (Tuhan Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua, eps. 14 Bingung.)
Kembali di kediaman Brenda ~~
"Mas Frisya..." ucap ku kaget sendiri.
"Apa ?? Apakah ada yang salah dek ??"
"Kamu... ya ampun mass.. (Memeluk Frisya) Kamu ternyata adalah lelaki dengan bunga yang indah itu.. di taman anggrek.."
"Kau baru menyadari nya ?? Apa aku kurang tampan Brenda untuk mu ?? hingga kau lama sekali mengenali ku ??"
"Mass.. maafkan aku.. "
"Sudahlah sudah berlalu.."
Mas Frisya mengajak ku duduk di sofa.
"Sama aku juga kangen.. mas.. cium aku... "
"Kamu mencintai Gun Woo bukan aku.. aku tidak mau jadi mainan mu Brenda."
"Mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadiran mu mas..."
"Mungkin jika kau mulai mencintai ku aku akan sangat bahagia Brenda.."
"Aku tidak mengerti dengan hati ku.."
"Katakan apa yang kau rasakan ??"
"Aku merasa rindu saat jauh darimu.. tapi aku juga memiliki rasa yang sama dengan gun woo."
"Bolehkah aku berusaha sedikit lebih keras agar kau mencintaiku Brenda ??"
"Apakah salah jika aku melakukan ini ??"
"Lakukan sesuai dengan nurani mu saja Brenda.." ucap mas Frisya sambil hendak beranjak pergi.
"Mass.. jangan pergi.." aku memeluknya dari belakang, aku bisa merasakan detak jantungnya...
"aku sangat mencintai mu Brenda.." ucap mas Frisya seraya membalikan tubuh nya.
Aku menatap lekat lekat wajah mas Frisya..
Aku mencium lembut bibirnya...
"Kau sungguh sungguh mempermainkan ku Brenda.."
Aku tidak memperdulikan ucapannya. Kami berciuman dengan panas di sofa ruang tamu, desahan erangan saja yang terdengar.
__ADS_1
Aku mulai membuka kancing kemeja mas Frisya.
"Jangan lakukan ini Brenda.. kau menantang ku.."
"Mass... "
Mas Frisya menatap kearah lantai atas, ternyata disana ada bik Sari yang menatap adegan kami sejak tadi.
Mas Frisya mendadak melepaskan diri ku dan menurunkan ku, kemudian segera merapikan pakaian nya.
"Ada apa ??" tanya ku keheranan.
"Ada bik Sari melihat kita.." ucap Frisya.
Aku melihat ke atas tangga.
"Mana ???" tanya ku
"Dia sudah pergi, mengapa tidak bilang jika dia ada di rumah.."
"Iih, kenapa ?? apa kamu mau ngelanjutin barusan kalo gaada bik Sari ??" hihi.
"Brenda..." ucap mas Frisya
"Bik Sari.... bik ....." panggil ku.
"Ya nona Brenda.."
"Apa yang kau lihat tadi, diantara kami ??"
"Tidak.. nona Brenda.. tidak ada yang terjadi.. Nona Brenda hanya bercakap saja dengan tuan ini.." jelas bik Sari
"Kamu denger mass ???" haha...
"Hm, yaa baiklah.."
"Bik pergilah..."
Setelah bik Sari pergi berlalu.
"Hm.. nakal kamu yaa.. " Mas Frisya menindih ku di sofa sambil menatap ku..
"Mass.. kamu ganteng banget.. "
"Apa aku lebih tampan dari gun woo.."
"entah mas.. ."
"hm... brenda... bunga ku.."
"Iyaa.. apaan??"
"Terimakasih sudah mulai membuka hati mu untuk ku."
Aku tersenyum mendengar setiap ucapannya.
Beberapa saat kemudian Frisya pergi ke kamar mandi.
"Ehm, dia mungkin sedang tidak enak badan yak.. haha"
15 menit kemudian mas Frisya keluar dari kamar mandi.
"Makasih ya mas.." ucap ku sambil memeluknya.
"Itu hadiah buat kamu.."
"Makasih.. " ucap ku sambil tersenyum.
__ADS_1