Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Malam


__ADS_3

15 menit kemudian Brenda sampai dirumahnya. Brenda keluar dari mobil terlihat begitu kesal dengan dirinya sendiri.


"Permisi nona..." Panggil sopir itu.


Brenda tidak menjawab hanya mengangkat sebelah alisnya.


"Sebaiknya wanita secantik anda tidak terlihat muram seperti itu." Ucapnya.


"Lalu seharusnya seperti apa ? Bersenang-senang dengan pacar atau pria seperti dirimu misalnya begitu ?" Ucap Brenda asal.


"Saya tidak akan menolak nona." Ucap sopir itu.


"Hahaha ( Tawa garing ) Menjijikan." Ucap Brenda sambil berlalu masuk.


Beberapa saat kemudian Brenda segera mengganti pakaiannya dan merebahkan tubuhnya di sofa di balkon kamarnya.


"Hmm... Apa dia sungguh sungguh akan bertunangan ?" Pikir Brenda sambil memakai masker diwajahnya.


"Tapi mengapa Ashlan tidak pernah mengatakan jika adiknya akan bertunangan dengan Frisya ?" Pikir Brenda.


"Ahh, tidak salah lagi... Pasti ini akal akalan Ashlan agar aku tidak bisa bersama dengan Frisya dan akhirnya memilih bersama dengannya." Ucap Brenda sambil berjalan kesana dan kemari berbicara sendiri.


Seseorang memperhatikan Brenda yang berbicara sendiri dan menggelengkan kepalanya.


"Wanita ini memang sedang sakit rupanya." Ucap Kai yang tiba tiba datang.


"Hai gadis gila !!" Ucap Kai.


Brenda terkejut.


"Oh, haii... Masuklah, sedang apa kau disana ?" Jawab Brenda setengah berteriak .


"Aku mengkhawatirkan mu, kau pergi dan tidak kembali ke pesta." Ucap Kai.


"Mari bicara diatas aku tidak bisa mendengar mu dengan baik." Ucap Brenda.


"Baiklah." Sahut Kai sambil berlari masuk ke dalam rumah Brenda dan segera masuk ke kamar Brenda menuju balkon kamarnya.


"Astaga, bagaimana bisa seperti ini..." Tanya Kai.


"Maksud mu apa ? Datang datang langsung seperti itu." Ucap Brenda


"Mengapa semua rumah mu memiliki balkon yang sama di setiap kamar yang kau tempati." Ucap Kai.


"Ya, aku sangat menyukai tempat seperti ini... Aku bisa melihat banyak hal disini dan bisa kapanpun mengakhirinya." Ucap Brenda sambil melihat kearah lain.


"Mengapa pulang tanpa mobil mu ?" Tanya Kai.


"Aku pulang diantar sopirnya Frisya." Ucap Brenda datar.


"Waw tumben sekali nadamu tidak heboh saat mengatakan sesuatu tentang Frisya ?" Tanya Kai.


"Ya, tadinya dia akan mengantarkan ku pulang tapi ternyata malah sopirnya, bukankah dia brengsek..." Kesal Brenda.


"Ya, bagaimana lagi... mungkin Frisya benar benar ingin kau lupakan Bren..." Lanjut Kai.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melupakannya, aku berharap bisa kembali bersamanya dan kami kembali merajut hari hari yang indah bersama lagi." Ucap Brenda penuh bayangan masa depan.


"Woow, sangat menarik... Bahkan Brenda yang terkenal didekati oleh banyak pria bisa berpikir seperti ini." Ledek Kai.


"Apa aku semurahan itu hingga rumor seperti itu tercipta ?" Ucap Brenda.


"Semua orang mengetahuinya, kau sangat diidamkan oleh banyak pria." Ucap Kai.


"Tapi ngomong ngomong, bagaimana penampilan ku malam ini ?" Tanya Brenda sambil berpose.


"Apa yang kau lakukan ? Aku pria loh Bren." Sahut Kai.


"Apa selain cantik menurut mu aku selalu terlihat seksi ? Hmm... Hmm." Ucap Brenda sambil menggoda Kai dengan gaya seksi yang dia tunjukkan.


"Kau sungguh sungguh pengecut." Ucap Kai tiba tiba.


"Pengecut ?" Ucap Brenda tidak terima.


"Apa maksud mu ? Aku bisa melakukan apapun sendiri dan aku tidak pernah takut pada apapun." Sela Brenda.


"Kau hanya berani berlaku seperti ini pada pria baik baik seperti ku, kau tahu jika aku tidak akan melakukan hal macam macam padamu." Ucap Kai serius.


Brenda mengedipkan matanya.


"Kai kemarilah, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku lakukan setiap melihat mu." Ucap Brenda.


"Apa ?" Ucap Kai sambil mendekat pada Brenda.


Brenda menyentuh dada Kai, Kai melihat dan merasakan setiap jengkal tubuhnya disentuh oleh jemari kecil tangan Brenda.


"Seperti yang kubayangkan, darimana kau mendapatkan otot seperti ini ?" Ucap Brenda menatap Kai intens.


"Mengapa kau menyentuh ku ?" Ucap Kai dengan suara bergetar.


"Apa kau merasakan sesuatu ?" Ucap Brenda.


"Kau.... Kau tahu betapa aku menginginkan dirimu, mengapa kau melakukan ini padaku ?" Ucap Kai tubuhnya seperti mendidih.


"Apa aku sudah keterlaluan ?" Ucap Brenda menyentuh leher Kai hingga telinganya.


Kai merasakan kegelian yang luar biasa. Perlahan Kai mendekatkan wajahnya pada Brenda dan mulai ******* bibir tipis Brenda.


Air mata Brenda menetes, Kai menyadarinya.


"Maafkan aku." Ucap Kai.


"Jangan lepaskan aku malam ini, biarkan aku mendekapmu." Ucap Brenda membuat Kai terbakar.


"Kau menyerah ?" Tanya Kai disela sela tangannya yang mulai menyentuh setiap lekukan tubuh Brenda.


"Aku lelah, aku menunggunya cukup lama dan dia masih mengacuhkan ku." Ucap Brenda.


"Peluk aku Kai, peluk aku..." Ucap Brenda sambil terisak.


"Mari hiduplah dengan ku, aku tidak akan pernah mengacuhkan dirimu seperti yang dia lakukan." Ucap Kai yang mulai hendak menyentuh area Brenda dan mencumbunya.

__ADS_1


Brenda juga sudah mulai terbawa emosi dalam dirinya. Dia mulai membalas Kai dengan menciumnya dan menyentuh tubuh Kai.


"Bren, tubuh ku rasanya terbakar... Bisakah ahh, bolehkah aku melakukannya ?"Ucap Kai jujur.


Belum sempat Brenda menjawab tiba tiba suara bel pintu, membuat mereka berdua terkejut.


"Sepertinya ada tamu." Ucap Brenda sambil merapikan pakaiannya.


"Astaga, lihat." Ucap Kai sambil melihat pakaiannya dengan kancing baju yang terbuka dan bekas bibir Brenda menempel di beberapa area bajunya.


"Aku benci tamu tidak diundang." Ucap Kai sambil membenarkan pakaiannya.


Setelah itu Kai segera turun dan melihat siapa yang datang.


Beberapa saat sebelum kai datang.


"Siapa tamu datang semalam ini." Ucap Brenda sambil membuka pintu rumahnya.


Terlihat seseorang yang menghadap membelakangi Brenda.


"Mas Frisya ?" Ucap Brenda terbata bata.


Frisya berbalik.


"Kau baik baik saja ?" Ucap Frisya.


Brenda mengangguk,


"Masuklah... Aku punya kopi kesukaan mu." Ucap Brenda penuh harap.


"Uhm..." Ucap Frisya sambil hendak melangkah masuk, tiba tiba terhenti ketika melihat Kai turun dari lantai atas.


"Kakak..." Kai terkejut.


Brenda lupa jika Kai masih ada bersama dengannya. Brenda segera berbalik dan melihat Frisya.


"Ah, mas Fris, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Ucap Brenda.


Frisya tersenyum.


"Kupikir kau seorang diri, tapi ternyata tidak." Ucap Frisya.


"Ah, iya aku seorang diri tapi secara tidak sengaja Kai datang dan berkunjung kemari." Sanggah Brenda


"Emh aku tidak ingin mengganggu, lebih baik aku pulang saja." Ucap Frisya.


"Kak, kami sungguh sungguh tidak ada hubungan lebih, kami hanya teman." Ucap Kai.


"Ya aku dengar itu jangan mengulanginya berkali-kali, tapi aku rasa tidak pantas orang yang baru bertunangan bersama wanita lain." Sela Frisya.


"Aku permisi " Ucap Frisya sambil berjalan keluar dari rumah Brenda.


Frisya pergi begitu saja.


Kai melihat begitu rapuhnya Brenda saat Frisya meninggalkannya begitu saja .

__ADS_1


"Brenda kau baik-baik saja ?" Tanya Kai.


Brenda mengangguk sambil menahan rasa pedih dihatinya.


__ADS_2