
Sepanjang perjalanan pulang Brenda berusaha untuk beristirahat agar tidak kelelahan saat besok dia pergi ke Freefood untuk menemui Frisya.
Pukul 4 pagi.
"Nona permisi, kita sudah sampai." Ucapnya sambil membangunkan Brenda.
"Emh iya, sebentar aku akan membuka pintu gerbangnya." Ucap Brenda sambil keluar mobil.
Brenda masuk kedalam rumahnya.
"Pak, anda bisa beristirahat di paviliun itu ini kuncinya." Ucap Brenda sambil memberikan kuncinya.
Brenda segera masuk ke dalam rumahnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Aku harus memasang alarm dengan suara yang keras agar tidak kesiangan nanti." Ucap Brenda sambil mulai memejamkan mata.
Pukul 7 pagi...
Kringg kringggg kringggg....
"Ah, iya aku bangun cerewet !!" Kesal Brenda sambil melihat jam di handphonenya.
"Astaga sudah jam 7 aku belum bersiap siap." Ucap Brenda terkejut dan langsung lari ke kamar mandi, namun karena kurangnya Brenda berhati hati, itu membuat Brenda jatuh terpeleset.
"Aduhh..." Keluh Brenda sambil menitihkan air matanya.
Tiba tiba seseorang masuk ke kamar Brenda.
"Anda baik baik saja nona Brenda ?" Tanya Bik Sari.
Brenda lega ternyata yang masuk adalah bik Sari karena saat itu Brenda sedang tidak menggunakan handuknya dengan benar .
"Apa yang terjadi ? Mengapa anda bisa jatuh seperti ini." Ucap bik Sari khawatir.
"Aku sedikit terburu buru bik, tolong bantu aku berdiri dan berpakaian." Lanjut Brenda.
"Nona kaki anda berdarah apa tidak sebaiknya kita obati terlebih dahulu ?" Tanya bik Sari khawatir.
"Tidak perlu, hari ini aku ingin memakai baju pink itu dan bawahan warna pastel itu, ayo bik cepat sedikit." Ucap Brenda.
15 menit kemudian bik Sari sudah selesai membantu Brenda memakai pakaiannya dan merapikan rambutnya.
"Apa bibik sudah bertemu dengan sopir yang tinggal di paviliun rumah ?" Tanya Brenda.
"Sudah nona, saya juga sudah membuatkannya kopi." Ucap bik Sari.
"Baiklah aku akan segera berangkat." Ucap Brenda sambil berdiri.
"Auuh, kaki ku.." Keluh Brenda.
"Nona, jika ini sakit apa tidak lebih baik anda diam saja dirumah dan mengobatinya sebentar." Ucap bik Sari.
"Tidak perlu, aku baik baik saja aku hanya sedikit terkejut dengan luka ku." Ucap Brenda sambil berusaha mengenakan high heelsnya.
"Apa tidak sebaiknya menggunakan sepatu yang lebih nyaman nona Brenda ?" Ucap bik Sari.
Brenda tidak menggubrisnya dan segera pergi ke mobilnya yang sudah siap dengan sopir di dalamnya.
30 menit kemudian, Brenda sudah sampai di perusahaan Freefood milik Frisya. Brenda segera masuk. Rama melihat kedatangan Brenda.
"Brenda, sedang apa kau disini ?" Tanya Rama.
"Rama, aku ingin bertemu dengan Frisya bisakah kau membantuku bertemu dengannya ?" Ucap Brenda ramah.
__ADS_1
Rama merasa aneh dengan sikap Brenda.
"Ba baiklah, ikuti aku." Ucap Rama.
Beberapa saat kemudian Brenda dan Rama sudah berada di depan pintu ruangan Frisya, Rama mulai mengetuk pintu.
"Masuklah..." Ucap Frisya dari dalam ruangan.
Rama dan Brenda kaget ketika melihat ternyata Lena sedang berada dipangkuan Frisya, namun secepat kilat Frisya langsung mendorong Lena hingga hampir terkena tembok.
"Frisya !!" Kesal Lena.
Brenda yang terlihat cukup kaget itu langsung menunduk dan pura pura tidak melihat apa yang terjadi dihadapannya baru saja.
"Pergilah..." Ucap Frisya pada Lena dingin.
"Baiklah sayang kita lanjutkan nanti yaa, emuahh." Ucap Lena sambil melakukan kiss bye dan melirik ke arah Brenda.
"Tidak perduli... tidak perduli..." Batin Brenda.
"Masuklah..." Ucap Frisya.
"Fris, aku hanya mengantar Brenda dia ingin menemui mu." Ucap Rama.
"Ya, aku tahu... Pergilah lanjutkan pekerjaan mu." Ucap Frisya.
Rama keluar dan segera menutup pintu ruangan Frisya. Frisya yang tadinya menyender pada meja kerjanya langsung mendekati Brenda yang duduk di sofa ruangannya.
Brenda hendak memulai pembicaraan namun tiba tiba Frisya menarik tubuh kecilnya dan segera ******* bibir Brenda.
"Emmh, emm..." Hanya itu yang terdengar, Brenda melawan Frisya pun tidak akan mampu Karena tubuh Frisya terlalu kuat dan dipenuhi hawa panas seorang pria.
Beberapa saat kemudian Frisya melepaskan ciumannya pada Brenda.
"Bukankah ini yang kau inginkan ?" Ucap Frisya.
"Sebenarnya apa yang akan aku katakan lebih penting dari ini." Ucap Brenda kesal.
"Katakan, kau sudah membuat ku senang apapun itu akan ku lakukan untuk mu." Lanjut Frisya.
Brenda begitu kesal dengan perlakuan Frisya. Beberapa saat kemudian Brenda menampar Frisya sekuat tenaga. Frisya sampai terjatuh dan hampir menghantam meja karena tamparan Brenda yang keras itu.
Mata Frisya memerah, Brenda tidak perduli dia langsung memalingkan wajahnya dan hendak pergi, namun ditahan oleh tangan Frisya.
"Apa kesalahan ku, sehingga kau berani beraninya menampar ku." Ucap Frisya kasar.
"Kau masih bertanya apa kesalahan mu ?" Ucap Brenda tak kalah murkanya.
"Aku ini mantan istrimu Frisya, aku datang kemari karena aku memiliki urusan yang penting dengan mu, bukan karena aku ingin merayu mu." Ucap Brenda.
"Apa kau tidak punya sedikit rasa malu saat memperlakukan mantan istri mu seperti wanita murahan dan dengan mudahnya kau mengatakan apapun akan ku lakukan karena aku sudah menyenangkan mu." Lanjut Brenda.
"Aku yakin Ayah dan Mami akan sangat murka saat tahu kau orang yang mereka anggap sebagai putra mereka melecehkan putri mereka." lanjut Brenda.
Frisya tidak bisa mengatakan apapun.
"Asal kau tahu Ayah dan Mami sedang sakit karena terlalu memikirkan dan merindukan dirimu. Aku kemari karena mereka, bukan karena aku ingin kembali padamu." Lanjut Brenda.
"Masih banyak pria yang akan mencintai ku selain kau Fris, mereka lebih tulus dan mereka tidak akan melecehkan ku seperti yang kau lakukan ini padaku." Ucap Brenda
Tampak Frisya yang merasa bersalah diwajahnya. Entah apa yang ada dipikiran Frisya hingga dengan begitu saja dia menyerang Brenda tadi.
"Aku permisi." Ucap Brenda beranjak pergi.
__ADS_1
Setelah itu saat Brenda sampai di lobi perusahaan Freefood tiba tiba suara handphone berdering.
"Halo Brenda..." Ucap seseorang yang tidak asing untuk Brenda.
"Ayah, ada apa ayah mengapa menelpon Brenda ? Apa ada yang terjadi ?" Tanya Ayah Brenda di seberang telepon.
"Disini semuanya sudah kembali baik baik saja, tadi Mami mu down lagi." Ucap Ayah.
Brenda merinding mendengarnya. Brenda menghela nafas panjang menahan diri agar dia tidak menangis.
"Ah, ayah... Brenda sebentar lagi akan berangkat Brenda masih menunggu mas Frisya sedang bersiap siap, tunggu Brenda sebentar lagi ya." Ucap Brenda
"Hati hati ya Brenda, salam sama mas mu." Lanjut ayah.
"Siap ayah.." Ucap Brenda sambil mematikan teleponnya dan bergegas kembali ke ruangan Frisya.
Frisya yang sedari tadi sebenarnya memperhatikan Brenda langsung kembali ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian suara pintu diketuk.
"Masuk..." Sahut Frisya.
Brenda perlahan masuk.
"Kau lagi ?" Ucap Frisya.
"Hm, dengarkan aku... kali ini aku tidak ingin bertengkar dengan mu aku sudah kehilangan banyak tenaga sejak semalam." Ucap Brenda.
"Baiklah, katakan..." Lanjut Frisya.
"Frisya, Mami dan Ayah ku sedang sakit mereka sangat merindukanmu, jadi bisakah aku meminta mu untuk menemui mereka ?" Ucap Brenda.
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak meminta mu dengan cuma cuma dan aku juga masih ingat apa yang kau inginkan." Sahut Brenda.
"Maksud mu ?" Tanya Frisya.
"Aku akan menyerahkan Hoki Grup padamu." Ucap Brenda tanpa menatap Frisya.
Mata Frisya terbelalak mendengar ucapan Brenda.
"Kau akan menyerahkan hasil kerja keras seumur hidup mu padaku ?" Ucap Frisya.
"Ya, dan bersiaplah untuk pergi kerumah mami, aku sudah berjanji akan membawamu hari ini." Ucap Brenda.
"Aku tidak akan mengganggu mu ataupun menggoda mu, kau bisa memegang ucapan ku." Ucap Brenda yakin.
Frisya tidak percaya dengan apa yang dia dengar jika Brenda menyerah begitu saja hanya karena ayah dan Maminya.
"Baiklah, aku akan pergi dengan mu." Ucap Frisya.
Beberapa saat kemudian Frisya dan Brenda sudah berada dalam satu mobil bersiap untuk berangkat kerumah Mami.
"Hai, mengapa aku duduk sendirian di belakang..." Ucap Frisya
"Aku hanya membuat jarak antara kita, aku tidak ingin kau salah paham padaku." Ucap Brenda tanpa menatap Frisya.
"Ayo pak berangkat." Ucap Brenda
Beberapa saat kemudian mereka berangkat. Brenda mengirim email pada meta tentang pengalihan kepemilikan Hoki Grup. setelah mengirim email itu Brenda segera mematikan Handphonenya karena pasti meta akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan dan Brenda tidak memiliki tenaga untuk melayaninya.
Sepanjang perjalanan Brenda berusaha meyakinkan dirinya jika dia mampu melewati semua ini, Hoki Grup perusahaan kebanggaannya dengan mudahnya dia berikan pada orang lain begitu saja.
Tapi, apa yang lebih penting daripada kesehatan Ayah dan Ibunya. Ini sungguh dilema.
__ADS_1