
Perasaan Debora kacau balau, di satu sisi Debora berpikir bagaimana bisa dia menikahi seseorang yang tidak dia cintai. Sisi lain dirinya berkata, jika tidak mengambil kesempatan ini, mana mungkin bisa memiliki gedung untuk dirinya sendiri sekalipun dia bekerja seumur hidupnya.
30 menit kemudian Debora sudah siap...
"Astaga gadis ini... " ucap Rama dalam hati.
"Sudah berapa lama kau tinggal di kota ?? bagaimana bisa gaun mahal ini nampak sangat kampungan." ucap Rama Kasar.
"Ram, kamu kok kasar banget gini... aku ini calon istri boss mu loh.. " ucap Debora kepalang malu mendengar ucapan Rama.
Sebenarnya Debora sudah ingin menangis, tapi dia bertahan agar tidak membuatnya semakin malu.
Rama yang seharusnya membawa Debora ke restaurant bertemu dengan Frisya dia malah membawa Debora ke sebuah salon kecantikan.
"Turunlah..." ucap Rama.
"Kita mau ngapain disini ?? " tanya Debora.
"Aku berusaha membuat semua ini lebih mudah untuk mu.." ucap Rama serius.
"Tolong dandani dia.." ucap Rama pada pelayan salon.
"Baik tuan.." sahut pelayan itu.
"Astaga Nona.. ini gaun mahal banget kok ya kelihatan kampungan gini sihh... wahh gak bener nih... tunggu akan aku perbaiki." ucap Pelayan itu membuat muka ku memerah sangat malu.
30 menit kemudian Debora sudah selesai di dandani oleh pelayan salon dan menemui Rama untuk minta pendapatnya.
Rama ternyata bahkan seperti tidak mengenali jika gadis itu adalah Debora.
"Bagaimana..??? apakah cantik dan tidak kampungan ?? " tanya Debora.
Rama menggelengkan kepalanya.
Deg Deg Deg. "Astaga jantungku.. tolong jangan berdetak terlalu keras nanti dia bisa mendengar mu.." ucap Rama pada dirinya.
"Haloo.. Rama.." ucap Debora sambil mengayun ayunkan tangannya.
"Ah, kurasa sudah saatnya kita pergi, Friss sudah menunggu." ucap Rama.
5 menit kemudian mereka sampai di restoran.
"Datangilah Frisya.. dia sudah menunggu mu."
"Baiklah Ram."
****
"Selamat malam tuan... maaf saya terlambat.." ucap Debora.
__ADS_1
"Apakah Rama yang melakukan ini pada mu ??" tanya Frisya.
"Hah.. apa ya maksud tuan ??" tanya Debora.
"Kau tampak lebih menarik malam ini daripada biasanya." ucap Frisya sambil menaikan alisnya.
pelayan pun berdatangan membawa makanan.
"Makanlah dulu " ucap Frisya sambil menyantap hidangan nya.
"Baik tuan terimakasih.." sahut Debora.
Setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.
"Benarkah kau sungguh sungguh mau menjadi istri ku ??" tanya Frisya.
"Hahh... apa.. anuu.. ituu... " ucap Debora tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudahlah jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.. aku tidak akan memaksa mu mencintaiku, aku hanya meminta mu untuk tetap bersama dengan ku dengan status sebagai istri ku." ucap Frisya jelas.
"Apa ini... apakah dia menikahi ku hanya untuk merasakan kesepiannya ?? Aduuhh ini mimpi buruk..", pikir Debora.
"Untuk hadiah pernikahan.. Aku akan memberi mu satu salah gedung apartemen ku, pilihlah salah satu gedung itu untuk dirimu sendiri" Ucap Frisya seperti menawarkan permen yang tidak berharga.
"Astagaaa... Debora apa yang harus kau lakukan... ini belum apa apa sudah satu gedung.. " ucap Debora dalam hati meringis.
"Kenapa diam ?? apakah kurang ??" tanya Frisya mengerutkan dahi nya.
"Tidak.. aku bahkan akan memberi mu segala fasilitas mewah.."
"Hm..terimakasih.."
"Tapi, itu semua berlaku jika kau menaati semua aturan dan permintaan ku." ucap Frisya dengan pandangan tajam.
"A a appa maksudnya ??" Apakah dia meminta ku melayaninya sepanjang malam, sepanjang pagi hingga sore.. wuaaa... apa apaan dia..." pikir Debora.
"Haii, kau jangan berpikiran kotor.. aku bahkan tidak ingin menyentuh mu.." ucap Frisya.
"Ahh.. iya, tidak tuan.." ucap Debora
"Dalam minggu ini ku harap kau segera resign dari perusahaan Hoki Grup, lakukan sebaik mungkin agar tidak memberatkan Brenda."
"Hadeuhh... Masih mikirin nona Brenda ternyiti.." pikir Debora.
"Apa kau mengerti ?? "ucap Friss.
"Ahh, iya mengerti tuan.. saya akan melakukan sesuai permintaan anda." ucap Debora.
******
__ADS_1
4 hari kemudian...
tok.. toko.. tokk.. ( Seseorang mengetuk pintu Ruangan Brenda.)
"Masuklah..." ucap Brenda
"Nona Brenda... ada yang ingin saya katakan apakah saya menggangu anda ??" ucap Debora.
"Ah, tidak.. ada apa, katakanlah " ucap Brenda dengan masih menatap laptopnya.
"Itu Nona Brenda.. saya.. ( menyodorkan sebuah amplop coklat) Ingin memberikan surat resign saya." ucap Debora.
"Hahhhhh.... ( membelalakan mata) apa kata mu... " ucap Brenda kaget.
"Iya, nona.. maaf saya akan segera menikah jadi calon suami saya tidak memperbolehkan saya untuk tetap bekerja, jadi saya resign saja.." ucap Debora.
"Siapa yang memperbolehkan mu keluar masuk Hoki Grup seenak jidat mu.. kau pikir posisi mu itu mudah di gantikan." ucap Brenda kaget bukan kepalang karena Debora adalah satu satunya kandidat paling sempurna saat Brenda mencari sekertaris.
"Tenang saja Nona Brenda saya sudah memghandel segalanya, saya juga sudah mentraining Meta." ucap Debora yang sudah menyiapkan Meta yang dulu adalah kandidat sekretaris rival Debora dulu.
"Benarkah... apakah dia mampu seperti dirimu.. lagi pula siapa sih calon suami mu itu.. apakah dia tidak mengenal Hoki Grup, perusahaan besar seperti ini apa tidak sayang untuk di tinggalkan " ucap Brenda melupakan sesuatu.
"Calon suami saya adalah tuan Frisya, pemilik Boom&Food Nona Brenda, maaf saya harus menuruti permintaan nya, jika tidak nanti dia akan sedih.." ucap Debora.
"Hii Drama banget si mas Frisya itu.." ucap Brenda dalam hati.
"Astaga... aku ingat... Baiklah.. silahkan pergi saat Meta sudah sanggup menggantikan mu." ucap Brenda ketus.
"Baik Nona.. saya meminta maaf atas kesalahan saya selama bekerja dengan anda.. semoga kita bisa menjadi teman baik selamanya.." ucapan perpisahan Debora pada Brenda sebelum benar benar resign.
"Iih.. nyebelin banget sih mas Frisya, kalo mau jatuh cinta ya silahkan tapi.. janalgan sama Debora kali.." ucap Brenda.
Debora keluar kantor dan segera menghubungi Mas Frisya.
"Aku Sudah resign kak.." ucap Debora..
"Baguslah.. sekarang kau pilih gedung apartemen itu, dan minggu depan kita akan menikah." ucap Frisya.
"Iih, kebelet amat sih nih orang kek mau boker aja." ucap Debora.
"Nona Brenda ku sayang.. bertahanlah meskipun tanpa aku.. " ucap Debora masih tidak tega meninggalkan Nona nya yang sempurna baginya.
Debora pergi bersama Rama melihat beberapa gedung apartemen mewah milik Frisya, Rama pun menjelaskan setiap detilnya.
Setelah seharian memilih milih akhirnya Debora memutuskan untuk memilih gedung yang dekat dengan perusahaan Hoki Grup agar jika terjadi sesuatu atas meta, maka Debora bisa segera bergegas membereskannya.
"Wahh.. udah sore aja.. duuh capeknya.. pulang yuk Ram.." ucap Debora.
"Siapa yang ngebolehin kamu pulang, kamu harus fitting gaun, memilih undangan dll hari ini juga, itu pesan Frisya." ucap Rama membuat Debora mengedipkan mata berkali kali tidak percaya jika harus menyelesaikan nya hari ini.
__ADS_1
*****