Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Sakit


__ADS_3

Keesokan harinya...


Brenda bangun sambil mengucek ngucek matanya, kepalanya pusing rasanya pengar.


Brenda mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, rasanya terakhir kali Brenda didekap oleh Kai dan lupa setelah hal itu terjadi.


"Ah, Frisya... ya ya ya, semalam aku ingat aku tidak sengaja bertemu dengan Frisya." Ucap Brenda sambil merasakan sakit di pergelangan tangannya.


"Auuh, apa ini mengapa sakit sekali." Ucap Brenda sambil melihat pergelangan tangannya.


"Ah, tidak salah lagi... Ini pasti bekas tangan Frisya, astaga dia memang pria yang kasar." Keluh Brenda.


Beberapa saat kemudian Brenda pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. 45 menit kemudian Brenda keluar dan duduk di meja riasnya.


"Hahh, rasanya hari ini aku ingin sekali bertemu dengan Mami." Ucap Brenda sambil melihat foto Keluarganya di meja rias.


Kemudian Brenda mengambil beberapa pakaian dan memasukkannya kedalam tas dan segera pergi. Sampai di dapur Brenda mengambil dua lembar roti dan mengoleskan selai kacang kesukaannya.


Brenda pergi ke garasi dan melihat keadaan mobilnya yang sudah lama tidak dia perhatikan.


"Aku rasa hobi mengoleksi mobil ku sudah hilang, bahkan aku sudah lama tidak membeli mobil baru." Keluh Brenda pada dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian Brenda memilih mini Cooper putih keluaran 3 tahun lalu yang hanya pernah dia gunakan 1 kali.


"Baiklah minicop ( sebutan baru untuk mobilnya ) come on, kita pergi kerumah Mami." Ucap Brenda penuh semangat.


Brenda memulai perjalanannya dan memperhatikan sekelilingnya.


"Ini memang hari yang indah untuk pergi keluar." Ucap Brenda.


"Aku akan bersenang-senang hari ini, aku akan menjadi seorang putri kecil hari ini." Ucap Brenda senang mengingat Mami dan Ayahnya yang selalu memperlakukannya seperti anak kecil berusia 5 tahun.


****


Tempat Frisya.


"Hubungi Brenda dan minta dia segera membayar hutang pada perusahaan kita." Perintah Frisya.


"Baik Fris, aku akan segera menghubunginya." Ucap Rama.


Beberapa saat kemudian Rama menghubungi Brenda.


"Yap.." Sahut Brenda.


"Ada dimana kau sekarang Brenda ?" Tanya Rama.


"Aku sedang dalam perjalanan kerumah Mami." Lanjut Brenda.


"Dengan siapa kau pergi." Tanya Rama.


Frisya melirik Rama yang sedang bertelepon dengan Brenda.


"Aku pergi sendiri." Ucap Brenda.


"Ah, begitu... Dengar aku sebenarnya ingin menemui mu." Ucap Rama.


"Untuk apa menemui ku ?" Tanya Brenda balik.


"Frisya meminta ku menghubungi mu untuk masalah ganti rugi." Sahut Rama.


"Aku tidak ingin bertemu dengan mu, kau pengkhianat... Sudah biarkan Meta asisten ku yang menyelesaikannya." Sahut Brenda


"Bukankah dia yang membuat perusahaan mu merugi, mengapa kau masih percaya padanya." Rama penasaran.


"Bukan urusanmu, sudah datanglah ke Hoki Grup." Ucap Brenda.


"Hai, mengapa kau begitu keras padaku ?" Tanya Rama.


"Sudahlah, aku sedang dalam perjalanan... kau jangan sampai mengganggu konsentrasi ku." lanjut Brenda.


"Baiklah, have fun Brenda." Sahut Rama.


Brenda tidak menjawab lagi dan langsung mematikan teleponnya.


"Memang siapa dia bisa bisanya memerintah ku." Kesal Brenda pada Rama .


**


"Dimana Brenda sekarang ?" Tanya Frisya.


"Dia bilang jika dia sedang pergi kerumah Maminya." Ucap Rama.

__ADS_1


Frisya terdiam.


"Apa ada masalah Fris ?" Tanya Rama perhatian.


Frisya menggelengkan kepalanya.


"Pergilah, aku harus melanjutkan pekerjaan ku." Ucap Frisya.


Rama segera pergi keluar dan kembali keruangannya, beberapa saat kemudian suara pintu diketuk.


"Masuklah." Sahut Frisya dari dalam.


"Sayang aku datang..." Ucap Lena sambil berjalan manja kearah Frisya.


"Untuk apa datang kemari, tidak bisa mengunjungi mu nanti." Ucap Frisya datar.


"Bagaimana bisa aku membuat mu jatuh cinta padaku, jika kau terus menghindar dari diri ku Fris." Ucap Lena.


"Aku tidak perduli." Batin Frisya.


"Ah, aku membawakan mu buah potong. Aku akan menyupkannya untukmu." Ucap Lena penuh perhatian.


Frisya membuka mulutnya dan mulai mengunyah buah yang diberikan oleh Lena. Tiba tiba mata Frisya terbelalak.


"Ada apa ? Apa buah ini tidak kau sukai, maaf aku tidak tahu." Ucap Lena menyesal.


"Bukankah ini buah persik." Batin Frisya yang kemudian mengingat jika Mami dan Ayah Brenda menyukai buah persik.


"Tidak, aku sangat menyukai buah ini. Tapi bisakah kita mengakhiri ini, aku memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Frisya .


"Astaga aku disini belum 15 menit lamanya kau sudah meminta ku pergi ? Apa itu tidak keterlaluan Frisya ?." Keluh Lena pada sikap Frisya yang sering menolaknya.


"Mengertilah aku sedikit saja, maka kau akan terus berada disisi ku dalam waktu yang sangat lama." Ucap Frisya bersungguh sungguh.


Lena tidak bisa menolak ataupun membantah ucapan Frisya, Lena langsung mengambil tasnya dan segera pergi, namun terhenti saat sampai di pintu.


"Bolehkah aku mendapatkan sebuah kecupan bibir ?" Ucap Lena memelas.


Frisya tersenyum menyungging.


"Tidak !" Tolak Frisya.


"Kau sungguh sungguh mempermainkan ku Frisya." Kesal Lena sambil beranjak pergi.


***


Brenda sudah melakukan perjalanan selama 4 jam lamanya, 1 jam lagi dia sampai di rumah. Brenda berhenti di tempat orang yang menjual oleh oleh langganannya. Namun sayangnya toko itu sedang tutup. akhirnya Brenda pergi ke toko lain yang menjual dagangan yang sama.


"Mbak buah persiknya 5 kilo ya." Ucap Brenda.


"Kue baloknya sekalian 6 box." Pesan Brenda.


Beberapa saat kemudian semuanya sudah selesai dibungkus dan si pegawai mulai menjumlah belanjaan Brenda.


"Mbak, itu toko sebelah sana itu kok tumben tutup mbak ?" Tanya Brenda.


"Oh, iya nona anaknya sedang melahirkan." Ucap pegawai itu.


"Anaknya ?" Tanya Brenda.


"Iya nona, yang biasanya membantu ditoko." Ucap pegawai itu.


"eemmmmhh..." Sahut Brenda sambil mengangguk.


"Totalnya sekian nona." Ucap pegawai itu sambil menunjukkan angka yang terdapat pada kalkulatornya.


"Ah ya, ini ya mbak." Ucap Brenda sambil menyodorkan sejumlah uang pada pegawai itu.


"Terimakasih nona, semoga selamat sampai tujuan." Ucap pegawai itu.


"Terimakasih..." Lanjut Brenda sambil masuk kedalam mobilnya.


Beberapa saat kemudian Brenda mulai melanjutkan perjalanannya.


"Hm... Semuaa akan indah pada waktunya..." Brenda bersenandung.


"Saat aku mendapatkan pria yang kucintai dan aku berhasil menikahinya, aku berjanji aku akan memiliki 5 orang anak, ah tidak 8 saja... yaa benar 8 dan tidak akan berhenti sebelum 8 hehehehe." Ucap Brenda yakin pada dirinya sendiri.


1 jam kemudian. Brenda sampai dirumah Mami nya. Brenda melihat jam ditangannya.


"Pukul 2 siang, aahh... aku bisa bersenang-senang Sebelum senja datang setelah menemui mami dan ayah." Ucap Brenda kegirangan.

__ADS_1


Brenda mulai mengetuk pintu rumah Mami, beberapa saat kemudian suara pintu dibuka.


"Maaammm..." Ucapan Brenda terhenti karena Brenda melihat dirinya disambut orang yang tidak dia kenal.


"Maaf mbak siapa ya ?" Tanya Brenda keheranan.


"Perkenalkan saya Naning mbak, saya kerja bantu bantu disini." Ucap Seseorang itu.


"Mami mana ?" Tanya Brenda.


"Apa anda ini mbak Brenda anak dari Nyonya ?" Tanya mbak Naning.


Brenda mengangguk keheranan karena selama ini mami tidak pernah menggunakan jasa pembantu rumah tangga seberat apapun pekerjaan rumahnya pasti beliau kerjakan sendiri.


"Silahkan masuk mbak, nyonya sedang beristirahat dikamarnya." Ucap mbak Naning.


"Apa Mami sakit ?" Selidik Brenda.


"Ya, kurang lebih seperti itu mbak." Jelas mbak Naning.


Beberapa saat kemudian Brenda hendak mengetuk pintu kamar mami dan ayah, namun ditahan oleh mbk Naning.


"Jangan diketuk mbak, langsung masuk saja perlahan." Jelasnya.


Brenda mengangguk, Brenda masuk dengan perlahan. Di dalam sana terlihat ayah sedang tertidur pulas sedang mami tidur disampingnya dengan memeluk sebuah bingkai foto.


Karena penasaran Brenda mencoba mengambil bingkai itu untuk melihatnya, setelah melihatnya Brenda langsung terperanjat kaget melihatnya.


Mungkin mami merasa jika apa yang dipeluknya menghilang beliau langsung membuka matanya dan terbangun.


"Brenda." Ucap Mami tak kalah terkejutnya.


"Mami apa kabar ?" Sapa Brenda.


"Kita keluar dulu ya nak, jangan sampai ayahmu mendengar dan terbangun karena suara berisik kita." Ucap Mami.


Brenda mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka duduk berdua di teras rumah.


Brenda keheranan melihat keadaan mami sekarang, tubuhnya begitu kurus, matanya menghitam, rambutnya kusut, kulitnya penuh kerutan.


"Mami sedang kesulitan keuangan ya ? Mengapa tidak menghubungi Brenda ?" Ucap Brenda sedih.


"Kamu sudah mengirimkan banyak uang selama ini nak." Ucap Mami.


"Hanya saja mami sudah lama mengalami insomnia berat, mami juga sering menangis dimalam hari, entah apa yang terjadi pada Mami." Ucapnya sedih.


"Apa mami memikirkan mas Frisya ?" Tanya Brenda.


"Tidak, mana mungkin mami memikirkannya." Ucap mami dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan bohong pada Brenda." Lanjut Brenda.


Mami terlihat dalam keadaan yang tidak nyaman.


"Permisi mbak Brenda, bukan maksud saya tidak sopan, tapi sepertinya ini saatnya nyonya beristirahat." Ucap mbak Naning.


Brenda mengangguk. Kemudian mami dibopong mbak Naning untuk masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


"Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa menjadi seperti ini." Ucap Brenda.


Beberapa saat kemudian mbak Naning menemui Brenda yang masih berada di teras rumah.


"Mbak Brenda, kalo saya boleh tahu siapa itu mas Frisya ?" Tanya mbak Naning.


"Ada apa ? Mengapa kamu ingin tahu tentang Frisya ?" Tanya Brenda penasaran.


"Bukan maksud saya untuk tidak sopan mbak Brenda, tapi jujur saja, selama ini nyonya sering menyebut nama itu, sepertinya nyonya sangat merindukannya." Ucap mbak Naning.


"Kamu yakin mbak ?" Tanya Brenda


"Yakin mbak, sejak sebulan nyonya pulang kemari saya langsung bekerja disini, setiap malam Nyonya tidak bisa tidur dengan nyenyak, jika terlelap pun pasti akan memanggil nama Frisya, putra ku seperti itu." Ucap mbak Naning.


"Lalu ayah ? Apa yang terjadi padanya ?" Tanya Brenda.


"Anda tahu sendiri mbak Brenda, kalau tuan itu sudah sakit sejak lama, awalnya keadaannya membaik, tapi setelah mendapati nyonya sakit seperti itu tuan jadi ikut kepikiran dan akhirnya beliau juga sakit seperti sekarang." Jelas mbak Naning.


"Mengapa tidak ada yang mengabariku ?" Ucap Brenda kecewa.


"Beliau berdua menahan saya nona, maafkan saya." Ucap mbak Naning.


"Mengapa tidak pergi kerumah sakit ?" Tanya Brenda lagi.

__ADS_1


"Mereka menolak mbak Brenda." Sahutnya lagi.


"Coba mereka mau berobat pasti tidak akan jadi seperti ini." kesal Brenda.


__ADS_2