Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Rumah Sakit II


__ADS_3

Di luar ruangan...


Brenda menunggu Frisya dan Rama yang tengah berbincang, dari kejauhan Brenda melihat langkah sesorang yang dia kenal.


"Nonaa Br Brenda..." ucap Debora..


"Debora ??" ucap Brenda.


Mereka langsung berpelukan erat dan hangat. air mata mereka saling menetes.


"Nonaa Brenda... saya sangat merindukan anda..." ucap Debora.


"Aku juga merindukan mu Debora... " ucap Brenda


"Ada banyak hal yang ingin saya bagi dengan anda Nona.." ucap Debora.


"Aku senang jika kau mau berbagi kisah mu pada ku.." ucap Brenda


Beberapa saat kemudian, Frisya keluar dari ruangan Rama, dan langsung kaget saat melihat kedua wanita yang saling berpegangan tangan dengan hangat itu.


"Kalian sedang apa ??" tanya Frisya sambil menatap menatap mereka berdua.


Mereka berdua menatap kearah Frisya.


"Apa yang terjadi pada Rama ?" tanya Debora.


Frisya terdiam...


"Itu, Rama berjalan jalan bersama ku lalu tiba tiba dia di serang seseorang di suatu lorong gelap." ucap Brenda menjelaskan .


Debora langsung menatap ke arah Frisya tajam.


"Pasti kau yang sudah melakukannya... tega kau Fris.. dia bahkan sudah seperti bayangan dirimu, tapi kau masih tega padanya." ucap Debora marah dan segera pergi meninggalkan Frisya.


Brenda tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Debora, namun hati Brenda seperti tidak terima saat Debora memaki Frisya seperti itu.


Kemudian Brenda berdiri dan menarik tangan Frisya sambil membawanya kembali masuk ke ruangan Rama.


Melihat Brenda masuk dengan tergesa gesa Debora langsung menyambut Brenda.


"Ada apa Nona Brenda ??" tanya Debora.


"Bagaimana kamu bisa marah marah pada suami mu, padahal dia tidak mengetahui apapun.." ucap Brenda.


"Hm... Tenanglah nona Brenda, aku mengatakannya karena aku yakin.." ucap Debora.


"Tapi aku yang bersama Rama sejak awal.." bela Brenda.


"Maaf nona Brenda... bahkan dia tidak menyangkal tuduhan ku." ucap Debora.

__ADS_1


Brenda menatap Frisya, Frisya menundukan kepalanya, Mendengar ada sedikit keributan Rama kembali terbangun.


"Kalian... kalian semua ada disini ?" tanya Rama


" Rama, katakan padaku siapa yang telah membuat mu sekarat seperti ini.." ucap Debora.


"hm... itu.. " Rama kebingungan hendak menjawab apa.


"Katakan Ram... jangan takut.. " ucap Brenda menenangkan.


"Ya... memang benar, Frisya yang melakukan ini semua, tapi kalian lihat sendiri aku baik baik saja, ini hanya luka kecil Bren.." ucap Rama .


Brenda menatap Frisya, dan pergi keluar.


Brenda duduk di kursi depan Ruangan Rama sambil menutupi wajahnya .


"Maaf dek.. aku seharusnya mengatakannya sejak awal.." ucap Frisya.


"Kenapa mas melakukan itu ? Rama adalah kaki tangan mu sendiri, dia bahkan masih berpura pura untuk baik baik saja setelah apa yang kamu lakukan.." ucap Brenda.


"Awalnya aku tidak tahu jika itu Rama, tapi saat aku tengah menghajarnya barulah aku tahu jika itu Rama... Aku sudah terlanjur marah.." ucap Frisya dengan nada menyesal.


"Jangan lakukan hal itu lagi pada siapapun... kau membuat ku ketakutan setengah mati.. aku tidak ingin kehilangan orang orang yang aku sayangi lagi, seperti aku kehilangan Gun Woo." ucap Brenda


"Apakah kamu tidak marah dek ??" tanya Frisya


"Aku sudah mengatakan jika aku akan melupakan yang sudah terjadi jika kamu mengantarkan kami ke rumah sakit, dan itu berlaku untuk siapapun." ucap Brenda


*****


"Hai Ram, bagaimana bisa kau mengatakan baik baik saja, saat tubuh mu babak belur seperti ini.." ucap Debora sedih.


"Sudahlah jangan terlalu khawatir, dan jangan terlalu keras pada Frisya, kau tahu hanya Brenda yang bisa mengeluarkan kita dari semua ini.." ucap Rama


Debora terdiam...


"Kau benar... "


****


keesokan harinya, Brenda sudah kembali ke Rio... Debora mengirim pesan pada Brenda untuk bertemu dengan nya.


Sebuah kafe...


"Hai.. maaf membuat mu menunggu.." ucap Brenda.


"Ah, tidak nona, aku juga baru saja sampai.. Nona Brenda mau pesan apa ?" tanya Debora.


"Coffe late saja.." ucap Brenda.

__ADS_1


Kemudian Debora memanggil seorang pelayan dan memesan makanan mereka. Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang.


"Maaf Debora, apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan pada ku ?" tanya Brenda


"Maafkan saya nona Brenda... Saya sesungguhnya tidak pernah tahu jika sebenarnya Nona Brenda dan Frisya masih berhubungan saat kami hendak menikah.." ucap Debora


"Maksud kamu ?" tanya Brenda


"Ya.. saya seperti mengambil belahan jiwa orang lain..." ucap Debora sedih.


"Tidak... kamu tidak bersalah, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa memiliki keduanya.." ucap Brenda


"Tapi, Frisya... kehilangan segalanya setelah dia meninggalkan anda nona Brenda.." ucap Debora.


"Maksud kamu ?" tanya Brenda


"Biar saya katakan singkatnya... Setelah pernikahan kami hari itu, Frisya kehilangan tawanya, dia menjadi sosok yang sangat menyeramkan, dingin dan kasar." ucap Debora


"Selama ini kamu hidup bersama tapi tidak pernah saling mencintai ataupun saling menghormati, aku hanya tidak ingin disakitinya saat aku mengikuti perintahnya." lanjut Debora.


"Jadi maksud kamu ?" tanya Brenda


"Maaf nona Brenda mungkin ini sangat keterlaluan.. tapi saya harus mengatakannya, Kembalilah pada Frisya, hiduplah bahagia bersama dengan Frisya." ucap Debora.


"Itu juga yang dikatakan oleh Rama pada ku.." ucap Brenda


"Lantas bagaimana nona ?? aku rela sekalipun harus berpisah dengan Frisya.. daripada tetap bersama dengan Frisya namun rasanya setiap hari seperti ada di neraka." ucap Debora.


"Itu masalahnya... " ucap Brenda


"Apa nona Brenda... ? kalian adalah pasangan yang serasi, Aku yakin Frisya akan membaik saat bersama anda." ucap Debora.


"Aku tidak mengerti dengan hati ku kini... aku merasa jika aku tidak memiliki perasaan apapun pada mas Frisya.." ucap Brenda.


"Apa ???" teriak Debora kaget bukan kepalang.


"Aku yakin nona Brenda masih mencintai Frisya hanya saja nona Brenda belum menyadarinya.." ucap Debora..


"Entahlah.. Aku tidak memahami hatiku, sepeninggal Gun Woo, rasanya hati ku terikut mati.." ucap Brenda


"Ku mohon jangan katakan itu nona Brenda, anda harus tetap hidup untuk bahagia.." ucap Debora.


"Terimakasih, sudah bersama mas Frisya dan menjaganya dengan baik.." ucap Brenda


"Meskipun seharusnya seperti itu, tapi aku setuju dengan yang anda katakan nona Brenda.." ucap Debora sambil tersenyum.


"Aku mohon nona Brenda pikirkan apa yang say ucapkan tadi.." ucap Debora.


"Tentu.." ucap Brenda

__ADS_1


*******


__ADS_2