Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Pulang


__ADS_3

Keesokan harinya...


Brenda tidur di sofa, Frisya juga tidur di sofa yang satunya lagi. Frisya bangun terlebih dahulu karena merasa tubuhnya pegal pegal karena tidur di tempat yang sempit seperti itu.


Frisya melebarkan pandangannya, dia melihat Brenda masih memejamkan matanya dengan lelap. Frisya tersenyum menyungging melihat itu karena baginya itu pernah menjadi salah satu kenangan manis dalam hidupnya.


Kemudian Frisya beranjak pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya dan segera kembali dengan baskom berisi air hangat dan kain.


"Mami..." Sapa Frisya.


"Udah pagi nih mi, Ayah... bangun yuk." Ucap Frisya.


Mama Brenda san Ayahnya terbangun mendengar suara Frisya memanggil.


"Ada apa Frisya ?" Tanya Mami.


"Mami sama ayah kan akan segera pulang yuk Frisya bersihin tubuh kalian, selama ini kalian sakit Frisya tidak pernah datang dan mengurus kalian, jadi tolong biarkan kali ini Frisya melakukan bakti pada kalian berdua sebagai Mami dan Ayah Frisya." Lanjut Frisya.


"Ah, kamu manis sekali Fris..." Ucap Mami.


"Fris, adekmu gak dibangunkan sekalian ?" Ucap ayah.


"Biarkan Brenda tidur yah, dia mengalami perjalanan jauh kemarin, kakinya juga terluka." Ucap Frisya sambil mengelap tangan ayah dengan air hangat.


"Dia menepati janjinya, ayah tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika tidak berhasil membawa mu kemari." Ucap Ayah.


"Brenda dia akan berusaha mati matian, kamu tahulah yah, bagaimana dia mengurus perusahaannya dan pergi sendiri ke kota diumur yang sangat belia dulu." Ucap Mami mengenangnya.


Beberapa saat kemudian Frisya selesai membersihkan tubuh kedua orang tua angkatnya itu, kemudian dokter dan beberapa perawat mulai masuk.


"Bagaimana kabar anda hari ini tuan dan nyonya ?" Tanya dokter.


"Sangat baik dokter, saya merasa sangat bugar." Ucap Mami


"Anda, bagaimana tuan ?" Tanya dokter.


"Saya merasa seperti kembali muda dokter." Ucap Ayah seketika membuat semua orang di ruangan itu tertawa.


Brenda terbangun karena suara tawa mereka.


"Eummh, udah siang ya." Ucap Brenda sambil mengumpulkan nyawa.


"Lekaslah bangun, mami dan ayah akan pulang hari ini." Ucap Frisya.


Brenda terharu dan segera pergi ke toilet untuk membersihkan wajahnya. Beberapa saat kemudian Brenda mulai membereskan pakaiannya mami dan ayah.


45 menit kemudian mereka pulang.


"Fris, mobil siapa ini ?" Tanya Ayah.


"Mobil Brenda yah." Ucap Frisya


"Brenda, mobil gadis kok penuh debu begini ?" Ucap ayah.


"Iya, Brenda lupa gak minta lak sopir bawa ke tukang cuci." Ucap Brenda.

__ADS_1


"Kamu gak beli mobil baru de ?" Ucap Frisya.


"Gak ada duitnya." Ucap Brenda.


"Hahaha." sahut Frisya.


15 menit kemudian mereka sampai di rumah.


"Ah, lega sekali sudah sampai rumah." Ucap ayah sambil duduk di kursi ruang tamu.


"Ayah, mami, mulai sekarang harus menjaga kesehatan kalian, tidak boleh sakit lagi. Jika kalian merindukan Frisya kalian tinggal menghubungi Frisya atau minta Brenda mengatakan pada Frisya, jangan menyiksa diri kalian sendiri." Ucap Frisya


"Le, bagaimana bisa mami gak sakit saat tahu putra mami masuk penjara nak... Mami merasa paling terluka." Ucap Mami.


"Mami berusaha untuk menutupinya tapi tidak bisa rasanya perasaan ini menggerogoti mami perlahan." Ucap Mami.


Brenda mendengarkan mereka dari balik ruangan setelah meletakkan barang barang mami di kamarnya.


"Kenapa mbak Brenda ?" Tanya mbak Naning.


"Tidak apa apa, mbak Naning boleh istirahat dulu." Ucap Brenda.


"Baik mbak Brenda saya permisi." Ucap mbak Naning.


Naning melewati ruang tamu.


"Mbak dimana Brenda ?" Tanya Mami.


"Ada di dalam nyonya, kata mbak Brenda saya boleh beristirahat dulu." Ucap mbak Naning.


"Brenda, kamu ngapain di dapur ?" Seru mami.


"Bikin teh Mami." Ucap Brenda yang kemudian keluar dengan 4 cangkir teh.


"Setelah minum ini mami dan ayah beristirahatlah." Ucap Brenda


"Makasih ya Brenda, ini teh herbal kesukaan kamu kan ?" Ucap Ayah.


Brenda mengangguk. Beberapa saat setelah mereka selesai minum teh, mami dan ayah kembali ke kamarnya, dan Brenda menutup pintunya agar tidak ada yang mengganggu.


"Mas Fris, kamu tidur disini ya kamar ini. Tapi aku mau bersihkan terlebih dahulu, bisakan nungguin Sebentar." Ucap Brenda.


Frisya mengangguk. Brenda mulai mengganti sprei tempat tidur Frisya. Sesaat kemudian Frisya masuk dan menutup pintu kamarnya.


"Jangan di tutup dong aku belum selesai." Ucap Brenda sambil masih sibuk menata bantal guling Frisya.


Frisya memeluk Brenda dari belakang.


"Kamu ngapain ?" Lepasin dong mas Fris.


"Aku kangen de." Ucap Frisya.


"Kamu kangen tunangan mu, ya telfon aja dulu ntar pas aku udah selesai kamu tinggal istirahat." Ucap Brenda


Frisya menjatuhkan tubuhnya dan mendorong Brenda jatuh di atas tempat tidur bersamaan.

__ADS_1


"Mas Fris jangan keterlaluan dong." Ucap Brenda.


"Apa kamu sudah berubah ?" Ucap Frisya.


Brenda mengangguk .


"Aku rasa semua yang menimpa ku adalah balasan karena dulu aku sering bermain gila dengan calon mempelai pria wanita lain." Ucap Brenda.


"Maaf ya de, mungkin jika aku tidak terobsesi padamu, mungkin tidak akan seperti ini." Ucap Frisya sedih.


"Sepertinya kamu sedang waras ya, hihi biasanya kamu akan dingin dan menyebalkan." Ucap Brenda sambil membalikkan tubuhnya menghadap Frisya.


"Apa kau benar benar akan menikah dengan Kai ?" Tanya Frisya.


"Entahlah, itu rahasia." Ucap Brenda sambil memperhatikan wajah Frisya secara intens.


"Aku sebenarnya ingin kembali padamu." Ucap Frisya, Brenda diam takut jika Frisya hanya mengerjainya.


"Tapi aku kembali mengingat semuanya, hatiku sakit." Ucap Frisya.


Brenda mendengarkan.


"Memang kenapa jika aku jahat, memang kenapa jika aku terobsesi padamu. Apapun yang aku lakukan pada mereka itu bukan urusanmu karena kau adalah istriku, bagaimanapun seharusnya kau membela ku mati matian." Keluh Frisya, sesekali air mata menetes dari pelupuk matanya.


Brenda menghapus air mata Frisya.


"Mengapa kau harus mengatakannya dengan menangis ?" Ucap Brenda.


"Aku juga punya sisi lemah dalam diriku de." Ucap Frisya.


Brenda memeluk kepala Frisya dalam dekapannya.


"Sudah berhentilah menangis, semuanya sudah berlalu kamu bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik." Ucap Brenda yang juga menitihkan air mata.


"Tadinya aku ingim membawamu kembali dalam pelukan ku, tapi aku merasa tidak pantas lagi, aku sudah menyakiti mu." Ucap Brenda.


"Aku juga masih tidak yakin dengan keputusan ku." Ucap Frisya.


"Kau tahu hal yang paling menyebalkan." Ucap Brenda.


"Apa ?" Tanya Frisya sambil kembali menatap wajah Brenda yang sudah memerah karena menangis.


"Aku pergi ke makam Gun Woo, disana aku merasa kembali bertemu dengannya." Ucap Brenda sambil tersenyum karena orang lain pasti akan berpikir jika Brenda konyol.


"Apa yang dia katakan ?" Tanya Frisya.


"Dia bilang semuanya sudah berakhir, antara aku dan dia seharusnya aku bisa melanjutkan hidup ku dengan baik, dan melupakannya karena dia juga hidup dengan baik disana." Ucap Brenda kembali meneteskan air mata.


Frisya tersenyum.


"Apa kau pikir aku konyol ?" Ucap Brenda.


"Tidak, aku pikir mungkin karena kau terlalu mencintainya jadi kau mengalami hal itu." Ucap Frisya.


"Andai aku bisa seberuntung dia untuk memiliki mu." Ucap Frisya menerawang jauh.

__ADS_1


__ADS_2