Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Dekat dengannya.


__ADS_3

Meta menghubungi Brenda berkali kali, karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, waktu makan siang pun sudah lewat .


"Oh astaga kemana perginya nona Brenda, diluar juga sedang hujan, apa sesuatu terjadi padanya, dia sungguh membuat ku khawatir. " ucap Meta.


"Maaf nona apa Brenda masih belum datang ?" tanya pimpinan Ashlan Grup.


" Maaf tuan saya rasa nona Brenda pasti sedang terjebak dalam hujan, atau hal lain bisa saja terjadi, karena nona Brenda tidak pernah seperti ini.." ucap Meta.


"Baiklah, buat janji meeting yang baru saja, minta Brenda untuk menghubungi ku nanti.. " ucap tuan Ashlan.


"Tuan apakah anda marah, maaf tuan tapi tolong tunggulah sebentar.. " ucap Meta menahan Ashlan.


"Tidak, aku tidak marah... buat janji meeting baru, karena aku ada janji lain. " ucap Ashlan.


"Baiklah tuan, saya atas nama nona Brenda meminta maaf sebesar-besarnya, saya berjanji ini tidak akan pernah terjadi lagi.. " ucap Meta.


"Sudah, biarlah... aku pergi.. " ucap Ashlan bersama rombongannya.


"Baik sekali tuan itu, tapi mengapa dia memanggil nona Brenda dengan sebutan Brenda saja ? Bukankah itu tidak sopan ?" pikir Meta.


*Di tempat Brenda dan Kai.


Mereka sudah kembali ke dalam mobil.


" Aku akan segera mengantarkan mu pulang.. " ucap Kai.


"Duuh makasih banget loo.. " ucap Brenda.


Kai menatap Brenda dengan tatapan berbeda berkali kali. Brenda menyadari tatapan Kai tapi Brenda enggan membalas .


"Apakah perusahaan mu baik baik saja Kai ?" tanya Brenda.


"Tentu saja, aku belajar banyak dari Wang ryu. " ucap Kai.


20 menit kemudian mereka sampai di rumah Brenda.


"Loh, nona Brenda kok basah begini non ? " tanya bik Sari khawatir.


"Duh gak papa kok bik, itukan cuman air." bela Brenda.


"iya tapi nanti kalo flu gimana non ?" tanya bik Sari.


"Duh udah aku gak papa kok, tolong dong bik ambilkan handuk untuk Kai, dan baju juga dia sepertinya mulai kedinginan ." ucap Brenda


"Baik nona Brenda... " Ucap bik Sari.

__ADS_1


Bik Sari turun dan memberikan handuk pada Kai.


"Tuan, silahkan pakai kamar mandi tamu dan ini pakaiannya, maaf hanya ada ini... " ucap bik Sari.


"Ya sudah terimakasih ya bik.. " ucap Kai.


Beberapa saat kemudian Brenda menunggu Kai di meja makan. Kai keluar dengan Hoodie dan celana jeans.


"Hai Bren, bagaimana apa ini cocok dengan ku... " ucap Kai, Brenda masih asik makan .


"Cocok dan terlihat sangat pas. " ucap Brenda


"Milik siapa, mengapa ukurannya bisa sama dengan ku ?" tanya Kai.


" Itu hadiah yang tidak sempat aku berikan pada mendiang Abang Gun Woo " ucap Brenda.


"Benarkah ? apa bukan masalah jika aku menggunakannya ?" tanya Kai.


"Tentu saja, dia sudah meminta ku untuk mengikhlaskannya dan hidup dengan bahagia, jadi aku akan menuruti keinginannya." ucap Brenda.


"Kau sungguh sungguh sudah berubah Bren, aku sangat senang.. " ucap Kai.


Setelah makan malam Kai pamit pulang.


Kai melambaikan tangannya.


"Akan aku hubungi nanti . " ucap Kai.


Tiba tiba...


Duuuaaarr !!!!


Seketika semuanya kaget mendengar suara itu. Kai keluar dari mobilnya.


"Oh astaga, ban ku terkena paku Bren, bagaimana bisa ada paky disini.. " ucap Kai.


"Hai kemarilah, jangan disana, kau bisa kebasahan lagi.. " ucap Brenda.


"Apa kau mau memakai mobil ku saja.. ? " tanya Brenda.


"Tidak, aku tidak mau merepotkan, aku bisa mengganti ban mobil ku sendiri.. " ucap Kai.


"Sudahlah ayo..." ucap Brenda sambil memegang tangan Kai dan menariknya lembut.


Kai merasa tangan Brenda terasa panas.

__ADS_1


"Apa kau dem ... " ucapan terputus.


Brenda jatuh pingsan.


"Bik... Bik Sari, tolong.. " ucap Kai.


Bik saya melihat Brenda yang tengah pingsan..


"Tuh kan... bibik juga bilang apa non.... " ucap bik Sari.


"Tolong bantu angkat ya bik.. " ucap Kai.


"Iya tuan... " ucap bik Sari.


*Kamar Brenda.


"Tuan ini kompres nona Brenda dan ini obatnya.." ucap Bik Sari.


"Baiklah, aku akan merawat mu sampai sembuh.. " ucap Kai.


Kai mengompres Brenda dengan sangat hati hati dan sabar menunggu Brenda kembali tersadar.


"Bren, bisakah kita menjadi sepasang kekasih ? Aku ingin membuat mu bahagia berada disisiku. " ucap Kai.


"Bagaimana bisa wanita secantik dan sebaik dirimu sangat tidak beruntung dalam hal asmara.. " lanjut Kai.


Brenda masih belum sadar tubuhnya menggigil karena suhu tubuhnya sangat tinggi.


"Tuan anda bisa beristirahat, biar saya yang menggantikan.. " ucap Bik Sari.


"Tidak perlu, bibik istirahatlah saja, aku yang akan menjaga Brenda.


"Baiklah jika begitu, tuam bisa memanggil saya kapan saja. " ucap bik sari.


Kai mengangguk.


Suhu tubuh Brenda baru turun saat jam menunjukkan pukul 4 pagi.


Setelah itu Kai baru bisa memejamkan matanya.


"Hahh, aku lelah... tapi ini sungguh menyenangkan... "Ucap Kai.


"Entah apa yang terjadi pada diriku... " ucap Kai sambil mulai memejamkan mata disamping ranjang Brenda.


*****

__ADS_1


__ADS_2