
Setelah itu, Brenda dan kedua sahabatnya pulang, Hakim dan Juve harus kembali bekerja, begitu juga dengan Brenda.
"Apa kalian nanti akan datang menemui ku lagi ?" Tanya Brenda.
"Sepertinya malam ini aku ada jadwal lembur Bren, bagaimana jika Juve saja ?" Tanya Hakim .
"Sebenarnya aku senang sekali jika bisa berdua dengan mu Brenda, tapi hari ini aku ada jadwal untuk pergi keluar kota, dan mungkin baru pulang besok sore." Ucap Juve.
"Ahh, kalian sibuk rupanya... Baiklah, aku mengerti kesibukan kalian." Ucap Brenda.
"Baiklah aku turun di depan sana saja." Ucap Juve.
"Aku akan mengantarmu Juve." Ucap Brenda.
"Tidak, aku ada janji sebentar dengan seseorang di dekat sini." Ucap Juve.
"Hati hati Juve, jika dia seorang wanita cantik tolong perkenalkan padaku." Celetuk Hakim.
"Apa tidak masalah jika dia istri orang ?" Sahut Juve.
"Dasar tidak waras." Sahut Hakim.
"Hahaha." Brenda tertawa disambut tawa juga oleh Juve.
Beberapa saat kemudian Juve keluar dan Brenda segera mengantar Hakim ke kantornya.
"Berhati hatilah kak, jangan bekerja terlalu keras." Ucap Brenda.
"Iya aku mengerti, aku harus mencari istri begitukan maksud mu ?" Balas Hakim.
"Mantep !!" Ucap Brenda sambil mengacungkan jempol tangannya.
"Bye Brenda." Ucap Hakim.
"Bye Kakak, jangan lupa hubungi aku saat ada waktu senggang." Ucap Brenda.
"Iya cerewet." Sahut Hakim dengan senyuman manisnya.
Setelah itu Brenda berangkat ke Hoki Grup. Brenda mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai beberapa hari yang lalu.
Tiba tiba seseorang mengetuk pintu.
"Masuklah..." Ucap Brenda.
"Nona Brenda !!" Seru Meta.
"Ada apa ?" Tanya Brenda tanpa menatap wajah Meta.
"Mengapa anda masih berada disini ?" Tanya Meta.
"Lalu ? Seharusnya aku berada dimana ?" Tanya Brenda masih tidak melihat Hanna yang berada dihadapannya.
"Apa anda tidak tahu, jika tuan Frisya bebas hari ini ?" Ucap Meta
Brenda langsung menatap Meta dengan mata terbelalak.
"Bagaimana bisa ? Darimana kau mengetahuinya ?" Tanya Brenda
"Nona Brenda, yang penting sekarang nona pergi dulu menemuinya " Ucap Meta.
Brenda tersenyum...
"Terimakasih sudah memberitahu ku, aku pergi dulu..." Ucap Brenda sambil meraih tasnya.
Beberapa saat kemudian Brenda sudah berada di dalam mobilnya dan segera memacunya.
"Sial, Rama benar benar tidak berguna, dia bahkan tidak mengatakan jika Frisya keluar hari ini." Gumam Brenda.
15 menit kemudian, Brenda melihat Frisya masuk ke dalam mobil yang menjemputnya dengan beberapa mobil yang mengawal.
"Baiklah, meskipun Frisya pernah melakukan kejahatan tapi Frisya tetap pria kaya dengan segala kekuasaannya." Ucap Brenda melihat pengawalan ketat Frisya.
Brenda mengikuti mobil mereka dan berhenti di sebuah apartemen mewah milik Frisya di kawasan merpati putih.
"Baiklah, karena aku terlambat cukup untuk hari ini." Ucap Brenda sambil tersenyum melihat Frisya yang turun dari mobilnya dan berhenti saat hendak masuk apartemen.
Dia menoleh kearah mobil Brenda. Brenda menyadarinya dan segera bersembunyi di balik stang mobilnya.
Beberapa saat kemudian Frisya berbalik dan segera masuk. Setelah semua pengawal Frisya pergi, Brenda pun ikut pergi.
__ADS_1
Frisya memperhatikan mobil Brenda dari jendela apartemennya.
"Dasar gadis bodoh, kau pikir aku tidak tahu jika itu kau." Ucap Frisya.
Beberapa saat kemudian Frisya segera mandi dan beristirahat. Sedang Brenda langsung pergi berbelanja banyak pakaian baru, dia ingin membuat Frisya terkesan saat melihatnya.
Tiba tiba suara pesan masuk...
Brenda segera mengecek handphonenya.
"Nona Brenda, anda diundang dalam pesta penyambutan tuan Frisya yang diadakan oleh tuan Hae."
"Tuan Hae ?" Pikir Brenda, Brenda segera menelepon Meta.
"Halo nona Brenda ?" Sahut Meta.
"Kau bilang tuan Hae ?" Tanya Brenda keheranan.
"Iya nona, tuan Hae... Saya dengar dari beberapa teman saya, mereka bilang tuan Frisya sepertinya akan dijodohkan dengan putrinya tuan Hae, jadi dia sengaja membuat pesta penyambutan." Ucap Meta.
Brenda langsung lemas.
"Hali nona Brenda, Halo..." Ucap Meta di ujung telepon.
Brenda segera mematikannya.
"Apa yang terjadi, bagaimana bisa seperti ini ?" Keluh Brenda, matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak akan membiarkan dirimu jatuh ke pelukan wanita lain, aku berjanji akan membawamu pulang ke hatiku." Tekad Brenda.
Brenda yang tadinya mood untuk berbelanja,moodnya langsung hancur.
"Mbak bungkus semua pakaian ini, ini kartu saya." Ucap Brenda sambil otaknya bekerja keras.
Beberapa saat kemudian...
"Ini nona.." Ucap pelayan itu, dan Brenda segera pergi menuju salon langganannya dia benar benar ingin merubah penampilannya.
5 jam kemudian, Brenda baru selesai dengan serangkaian perawatannya mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Brenda kali ini tampil dengan gaya yang berbeda, dia benar benar terlihat seperti orang baru.
Brenda melihat jam.
"Aku harus segera berangkat." Ucap Brenda sambil masuk ke dalam mobil .
15 menit kemudian Brenda terjebak macet karena ada insiden dijalan yang sedang Brenda lewati.
"Astaga, sepertinya aku harus putar arah." Keluh Brenda sambil memacu mobilnya.
20 menit kemudian, Brenda sampai di tempat acara. Beruntung saat itu acara baru saja dimulai dan seorang pelayan menunjukkan tempat duduk Brenda yang terlihat berada di depan.
"Baguslah, aku malam ini akan jadi pusatnya.." Ucap Brenda dalam hati.
Beberapa saat kemudian Brenda mulai melewati orang orang disekitarnya, mereka semua benar benar langsung terpesona melihat Brenda dengan penampilan barunya, tak sedikit dari mereka malah tidak mengenali jika itu adalah Brenda.
Begitu juga Ashlan yang saat itu juga hadir, bahkan Kai pun yang sudah berteman cukup lama dengan Brenda masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Waw, selamat datang nona Brenda." Ucap Ashlan yang saat itu menjadi pembawa acara dalam acara itu.
Brenda melihat Ashlan, Frisya yang tidak sengaja menatap ke arah Brenda langsung membelalakkan matanya.
Brenda menyadari tatapan mata Frisya.
"Bagaimana penampilan baru ku ? Apa kau menyukainya ?" Ucap Brenda dalam hati.
"Ciihh, wanita ini.." Ucap Frisya memahami tatapan Brenda.
"Terimakasih." ucap Brenda sambil tersenyum.
Seperti yang Brenda inginkan, orang orang membuatnya menjadi pusat perhatian setiap mata enggan berhenti menatapnya, banyak wanita yang iri dengan kecantikan yang terpancar dari seorang Brenda, termasuk adik Ashlan yang dijodohkan dengan Frisya.
Frisya tidak tahan melihat Brenda yang terlihat seperti meminta Frisya untuk terus menatapnya.
"Aku permisi ke toilet." Ucap Frisya pada Lena adik Ashlan.
Melihat itu Brenda segera mengikuti Frisya.
"Permisi, aku akan ke kamar kecil " Ucap Brenda pada teman temannya yang duduk semeja dengannya.
__ADS_1
"Apa perlu aku menemani anda nona Brenda." Ucap seorang pria.
"Ah, tidak perlu saya bisa sendiri." Ucap Brenda sopan.
"Oh ayolah..." Ajaknya mulai keterlaluan.
Brenda langsung menatapnya dengan tatapan dingin.
"Apa kau sudah bosan hidup nyaman tuan ? Apa kau ingin saham mu hancur besok ?" Ucap Brenda santai.
Pria itu langsung berhenti tertawa. Brenda langsung melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
"Toilet dimana kau berada ?" Ucap Brenda sambil tersenyum.
"Aah, aku menemukan mu toilet... hehehe." Ucap Brenda di depan toilet pria .
Beberapa saat kemudian Brenda mendengar suara pintu hendak dibuka, Brenda segera bersembunyi.
Benar saja, yang keluar dari toilet itu adalah Frisya, Frisya langsung berjalan hendak kembali ke tempat pesta, setelah itu Brenda langsung keluar dari tempatnya bersembunyi.
"Haaahhh... rasanya, rasanya seperti aku baru keluar dari lemari pendingin " Ucap Brenda setelah melihat Frisya yang baru saja lewat.
"Untuk apa bersembunyi didalam sana." Ucap Frisya .
Brenda langsung menoleh .
"Hahhh..." Brenda terperanjat kaget dan sontak hampir membuat tubuhnya terjatuh, Frisya langsung menangkap tangannya dan menarik Brenda di dadanya, Brenda langsung membeku dan hanya mampu mengedipkan matanya.
"Kau mengikuti ku ?" Ucap Frisya.
"Ti tidak... Tolong lepaskan aku." Ucap Brenda
Frisya langsung melepaskan pelukannya kasar. Brenda tidak menyadari jika high heelsnya patah, jadi dia hampir terjatuh lagi dan lagi lagi Frisya menariknya dan Brenda terjatuh di dada Frisya lagi.
"Bagaimana bisa kau jatuh ditempat yang sama dua kali ?" Ucap Frisya.
"Aku bahkan berencana jatuh ribuan kali di tempat yang sama ini. ( Dada Frisya )
"Oh astaga... Pulanglah, kuantar kau ke mobil mu." Ucap Frisya .
"Aku... aku sedang tidak membawa mobil, bisakah kau mengantarkan ku pulang ?" Rengek Brenda.
Frisya menatap Brenda tajam.
"Euumm, apa arti tatapannya itu... Apa dia hendak mencium ku ?" Pikir Brenda.
Tiba tiba Frisya memukul kepala Brenda lembut.
"Hei, berhentilah berpikir seperti itu... Sejak kapan kau menjadi semesum ini ?" Tanya Frisya.
"Aku tidak berpikir mesum kok." Bela Brenda.
"Antar aku pulang ya..." Ucap Brenda dengan mata berbinar.
Frisya mengangguk, beberapa saat kemudian Frisya membawa Brenda ke parkiran dan membuka pintu mobil.
Brenda tersenyum senang karena dia pikir sudah memenangkan kembali hati Frisya. Tiba tiba...
"Antar dia pulang dengan selamat." Ucap Frisya.
Brenda menoleh.
"Loh mas Frisya apa apaan ini ? kau sudah berjanji mengantarkan ku pulang mengapa kau mengingkarinya ?" Rengek Brenda.
"Hahhhh, apa maksud mu ? Apa aku harus meninggalkan acara ini ? Mana mungkin aku bisa meninggalkan acara pertunangan ku hanya karena dirimu." Ledek Frisya.
"Mas Frisya kamu berbohong kan ?" Tanya Brenda cemas.
Frisya meminta sopir untuk segera berangkat.
"Bye Bren, oh ya gaya baru mu sungguh menarik." Ucap Frisya
Brenda masih terus merengek meminta penjelasan, tapi dia sudah berlalu. Brenda menitihkan air matanya.
"Lihat betapa menyebalkannya dirimu." Ucap Brenda sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nona, sebaiknya anda mencari pria yanh lebih baik dari tuan Frisya, sepertinya dia sudah menerima perjodohan dengan nona Lena." Ucap sopir itu.
Brenda tidak menggubris dia hanya peduli pada apa yang baru saja dia alami.
__ADS_1
"Kau akan membayar mahal untuk air mata ku hari ini, jangan panggil aku Brenda jika aku tidak bisa membuat mu kembali padaku." ucap Brenda yakin.