Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Sekilas masa itu


__ADS_3

Setelah beberapa saat, mereka sudah menghabiskan sarapan mereka.


"Bren, hari ini kita akan pergi kemana ??" tanya Frisya.


"Hm.. sebentar.." ucap Brenda sambil mencari sesuatu di tasnya.


"Astaga, aku tidak membawa obat ku ternyata.." pikir Brenda.


"Kamu sedang mencari apa Brend ??" tanya Frisya.


"Hm.. sepertinya sebelum kita pergi, kita harus kembali sebentar ke hotel.. ada yang ingin aku ambil.." ucap Brenda


"Baiklah ayo kembali ke Hotel.." ucap Frisya.


Mereka berjalan beriringan dengan canggung.


"Mengapa rasanya sangat aneh.." pikir Frisya.


"Jantung ku.. aduh... seperti mau copot, semoga dia tidak mendengarnya.." pikir Brenda


*****


Barra Hotels.


"Apakah Hotel ini begitu nyaman.." tanya Frisya.


"Yaa, menurutku disini cukup membuat ku nyaman untuk berlama lama disini.." ucap Brenda


Sampailah mereka di depan kamar hotel Brenda. Brenda segera membuka pintu Kamar nya.


"Masuklah mas.. " ucap Brenda


Frisya duduk di sofa, melihat Brenda yang mencari sesuatu dan segera meminumnya, dan setelah itu Brenda pergi menuju kamar mandi untuk buang angin, Frisya cukup membuatnya Grogi.


Frisya penasaran dengan obat yang dikonsumsi oleh Brenda, lalu Frisya mencoba untuk melihat obat apa yang diminum oleh Brenda.


"Xa**x ??" ucap Frisya.


Frisya langsung mengecek untuk apa sebenarnya kegunaan obat itu.


"Anti Depresan ?? " ucap Frisya.

__ADS_1


"Rupanya pertanyaan ku tadi cukup membuatnya merasa terganggu..." ucap Frisya sambil melihat ke arah kamar mandi.


Frisya kembali duduk di sofa, menunggu Brenda keluar.


Beberapa saat kemudian Brenda keluar dari kamar mandi dan menyapa Frisya.


"Mas... wajah kamu kok serius banget... ada apa ??" tanya Brenda.


"Sejak kapan kamu mengkonsumsi obat obatan seperti itu...??" tanya Frisya.


"Em... baru saja.." ucap Brenda.


"Bisakah kau tidak menganggap ku seperti orang asing ??" tanya Frisya.


Brenda tidak mampu berbohong pada salah satu orang yang dia sayangi.


"Hari hari yang berat setelah aku kehilangan Gun Woo membuat ku gila mas.." ucap Brenda sambil menitihkan air mata.


Frisya memeluk Brenda.


"Diaa.. diaaa... dia bahkan pergi di saat besok adalah hari pernikahan kami.. hiks.. hikss.. hikss.." ucap Brenda sambil menangis tersedu sedu di pelukan mas Frisya.


Frisya tetap memeluk Brenda, Brenda menangis sejadi jadinya.


"Aku tidak cukup hanya kehilangan dia, aku bahkan harus melihat Mami menangis setiap hari karena apa yang ku alami, semuanya membuat ku semakin terpuruk.."


"Katakan semuanya pada ku.. maaf aku tidak mengehtahui nya, maaf aku tidak ada bersama dengan mu saat itu.." ucap Frisya ikut menitihkan air mata.


Brenda menceritakan semua kisah masa sulitnya pada Frisya, hingga pada akhirnya dia memiliki orang orang terbaik dalam hidupnya yang bersedia siang malam membantu kesembuhannya.


"Sungguh berat yang kau alami... maafkan aku, aku berpikir kalian berdua sudah menikah dan hidup dengan bahagia, aku bahkan mengasingkan diri ku disini, aku takut melihat kenyataan kau bersama dengan nya.." ucap Frisya.


"Maaf aku selalu melukai hati mu mas.. maafkan aku.." ucap Brenda.


"Kembalilah pada ku, aku berjanji akan membuat mu hidup bahagia.." ucap Frisya.


Brenda bingung hendak menjawabnya, jadi dia memilih untuk diam dan melanjutkan tangisnya.


2 Jam lamanya mereka berdua saling berpelukan dan menangis, Setelah itu mungkin karena lelah Brenda tertidur di lengan Frisya, melihat Brenda tertidur Frisya memindahkan dia untuk tidur di ranjang.


Frisya hendak meninggalkan Brenda namun hatinya tidak mampu, akhirnya Frisya tidur di sebelah Brenda hingga malam hari.

__ADS_1


****


Pukul 7 malam Brenda terbangun.


Brenda perlahan membuka mata, melihat sekitar...


"Hari sudah gelap... sepertinya mas Frisya sudah pulang.." ucap Brenda sambil turun dari ranjangnya dan segera pergi mandi.


Setelah mandi dan berpakaian Brenda baru menyadari jika Frisya ternyata belum pulang dan masih terlelap.


Brenda menatap Frisya dari dekat dan tersenyum.


"Bagaimana bisa kau tidur disini sedang istri mu tidak pernah kau sentuh." ucap Brenda.


"Maaf, aku tidak bisa membalas perasaan mu pada ku mas... Bagaimana pun aku tidak akan bisa mengampuni diriku sendiri jika aku sampai merusak rumah tangga kalian.." ucap Brenda.


Frisya masih memejamkan mata. Brenda beranjak pergi untuk mengambil air.


"Apakah kau sudah memiliki pria idaman lain ??" tanya Frisya membuat Brenda terkejut.


"Apa kamu mendengar semua ucapan ku mas ??" tanya Brenda


"Mungkin.." ucap Frisya sambil terduduk dan menyilangkan tangan nya.


"Mas.. sudah malam.. mungkin kamu harus segera pulang.." ucap Brenda.


"Baiklah, aku pulang.. ingat !! Aku pernah melepaskan mu sekali dalam hidup ku, dan itu adalah kesalahan yang fatal, aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi.." ucap Frisya sambil menggenggam tangan Brenda erat.


Brenda terdiam tidak mencoba untuk kembali menjawab ucapan Frisya.


Frisya melepaskan tangannya dan segera pergi... Brenda menutup pintu kamar nya dengan hati yang berkecamuk.


Brenda terdiam di balik pintu, rasanya air matanya sudah tidak mampu menetes, kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan karena disatu sisi Debora adalah sahabat nya, dan satu sisi lainnya Frisya mungkin adalah orang yang dia cintai.


Brenda segera meminum obat yang sudah di persiapkan Juve saat masih di tanah air.


"Gun Woo... kehilangan mu saja sudah sulit, ternyata untuk jatuh cinta lagi juga tidak mudah.." keluh Brenda.


"Kau tahu Sayang... Beberapa bulan yang lalu aku sudah mulai berhenti menggunakan obat obat ini... tapi, sepertinya tidak Semudah itu.." ucap Brenda sambil menatap langit yang di penuhi bintang malam itu.


*******

__ADS_1


__ADS_2