
“Brenda, dengarkan aku dulu, bukan seperti itu maksud ku.” Ucap Rama.
“Hahh… Pria harus konsisten dengan ucapannya.” Ucap Brenda.
“Brenda, kau tahu sendiri Frisya dia dipenjara tapi dia sungguh tidak pernah meninggalkan pekerjaannya. Semuanya di bebankan padaku.” Bela Rama.
“Aku tidak perduli, aku hanya ingin menagih janjimu padaku.” Ucap Brenda tegas.
“Tapi masih 3 bulan lagi Bren…” Ucap Rama.
“Aku tahu, aku hanya mengingatkanmu…” Ucap Brenda.
“Kau harus ingat konsekwensinya jika kau melupakan janjimu padaku.” Ancam Brenda.
“Aku tidak akan lupa, tapi bagaimana jika Frisya sudah benar benar tidak menginginkanmu ?” Ucap Rama.
“Benarkah ? Seingatku, kau yang meyakinkan ku untuk melepasnya dan menantikan kepulangan Frisya.” Tegas Brenda.
“Bren, tapi…” Sanggah Rama.
“Aku tidak perduli apapun itu, aku akan ambil semua kebahagiaanmu dan memburu mu seumur hidupmu, jika sampai kau mengingkari ucapanmu.” Ucap Brenda.
Setelah itu Brenda segera menutup teleponnya .
“Aku benar benar akan mengakhirinya dengan buruk jika dia berani menghianatiku.” Ucap Brenda dalam hati.
Beberapa saat kemudian…
“Permisi nona Brenda, ada yang ingin menemui anda.” Ucap seorang security.
“Siapa ?” Tanya Brenda.
“Dia bilang dia adalah teman lama anda nona Brenda.” Ucap Security.
“Bawa dia masuk kemari.” Ucap Brenda sambil mengecek handponenya.
__ADS_1
“Baik nona Brenda, saya akan permisi.” Ucap security.
Brenda mengangguk sambil duduk di sofa.
“Nona, haruskah saya membawa minuman ?” Tanya Meta.
“Tidak perlu, aku juga tidak tahu dia siapa.” Ucap Brenda yang masih asik menscroll handphonenya.
Tak lama kemudian, Brenda yang sedang asik menscroll handphonenya tidak menyadari dua orang pria menghampirinya.
“Ekhem…” Suara salah seorang pria itu berdehem.
Brenda masih tidak memperdulikannya. Tiba tiba salah satu dari mereka menutupi mata Brenda dengan tangannya.
“Siapa ini, lepaskan berani sekali anda.” Ucap Brenda kesal.
Seseorang itu membuka tangannya, Brenda segera membuka matanya dan tidak menemukan siapapun, Brenda melebarkan pandangannya.
“Hai Brenda ?” Ucap seseorang itu.
Brenda membelalakan matanya, hatinya sangat pedih melihat mereka berdua, air matanya perlahan menetes di pelupuk matanya.
“Hai, mengapa menangis seperti itu… Kau tidak senang kami datang ? Kami bisa pergi.” Ucap salah seorang dari dua pria tampan itu.
Brenda menggenggam keuda tangan pria itu dan meletakkannya di kedua pipinya.
“Hiks… kemana selama ini kalian pergi meninggalkan ku ?” Ucap Brenda sambil menangis.
Mereka berdua adalah Juve dan Hakim, dua pria baik yang sempat disingkirkan oleh Frisya beruntung mereka hanya diasingkan oleh Frisya dan tidak di lenyapkan. Melihat Brenda menangis mereka memeluk hangat Brenda.
“Hai, kami sudah disisni jangan menangis lagi.” Ucap Hakim.
“Itu benar, sumgguh cengeng bukanlah gayamu Brenda.” Ucap Juve.
“Apa dia menyiksa kalian disana ?” Tanya Brenda.
__ADS_1
“Siapa ? Frisya itukah ?” Tanya Juve.
Brenda mengangguk.
“Tidak, saat itu kami beruntung dia hanya menyingkirkan kami dan tidak menyentuh kami setelah itu.” Ucap Hakim.
“Aku sangat senang melihat kalian disini, rasanya aku tidak bisa berhenti menangis.” Ucap Brenda penuh haru.
“Apa kau mau bersenang senang dengan kami hari ini ?” Tanya Juve.
“Benar, daripada bersedih bukankah lebih baik kita merayakan hari baik ini kami baru saja sampai dan langsung menemui mu, kami khawatir.” Ucap Hakim.
Brenda mengangguk.
“Ayo pergi, aku merasa memiliki banyak urusan dengan kalian.” Ucap Brenda sambil menyeka air matanya yang seakan enggan berhenti mengalir.
“Baiklah ayo pergi dan makan enak bersama.” Ucap Brenda.
“Berangkat…” Ucap Juve dan Hakim bersamaan.
“Tunggu, ucap Brenda sambil menghentikan langkahnya.
“Ada apa lagi ?” Tanya Hakim.
“Sebentar…” Ucap Brenda sambil menoleh kea rah Meta.
“Ada yang bisa saya bantu nona Brenda ?” Tanya Meta.
“Aku akan pergi sekarang, kau lakukan seperti biasanya.” Ucap Brenda.
“Baik nona, sepertti yang anda inginkan.” Ucap Meta.
“Baiklah ayo kita pergi…” Ucap Brenda sambil menggandeng kedua tangan pria tampan itu.
Meta hanya mematung melihat apa yang dilakukan oleh atasannya. Bagi Meta Brenda adalah tipe wanita ideal, tidak hanya cantik dan sukses diusiannya. Namun dia juga mendapatkan perhatian dari pria tampan yang mugkin dia tidak akan pernah mendapatkannya.
__ADS_1
“Pantas saja dulu Debora benar benar memujanya, dia memang wanita penuh pesona. Aku tidak yakin jika ada pria yang mampu menolak pesona itu.” Gumam Meta.