Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
S I R I N D U


__ADS_3

Mas, Fris sya ??" ucap Brenda, tanpa sadar air mata Brenda menetes linangan air mata Brenda membuat bibir Frisya membeku.


"mas ?? ini aku Brenda... apa kamu tidak mengenali aku ??" tanya Brenda.


Masih tidak ada jawaban dari Frisya, beberapa saat kemudian Frisya terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Masss.. mass... kamu kenapa ??" tanya Brenda.


*****


Beberapa orang menolong dan membawa Frisya ke rumah sakit bersama dengan Brenda.


"Bagaimana keadaannya dokter ??" tanya Brenda


"Dia baik baik saja, hanya sedikit shock." ucap dokter.


"Beberapa saat lagi dia pasti akan bangun, tunggulah.." ucap dokter.


"Terimakasih.. " ucap Brenda


30 menit kemudian, Frisya sadar dan mendapati dirinya ada di rumah sakit.


"Kamu sudah sadar ??" tanya Brenda sambil tersenyum.


Frisya tak henti menatap Brenda, bahkan berkedip pun enggan, linangan air mata menetes dengan derasnya.


"Mas.. mengapa menangis ??" tanya Brenda.


"Apa ini sungguh kamu Bren ??" tanya mas Frisya.


"Tentu.. ini aku..." ucap Brenda.


"Mas sangat merindu " ucap Frisya sambil memeluk erat tubuh Brenda.


"Aku juga sangat merindukan kamu mas.." ucap Brenda.


"Hari hari mas, sangat berat... semua orang menderita, karena mas.." ucap Frisya.


Frisya menangis di pelukan Brenda.


"Mas, aku akan mengantarkan mu pulang... jangan pingsan lagi.." ucap Brenda.


Frisya menatap Brenda dengan tatapan seperti jangan pergi.


"Jangan menatap ku seperti itu, kita harus menjalani apa yang sudah ada.. " ucap Brenda karena tidak ingin merusak rumah tangga orang lain.


Frisya turun dari ranjang rumah sakit dan kembali memeluk Brenda.


"Hiduplah dengan mas... tinggalkan semua yang ada, kita mulai kembali segalanya.." ucap Mas Frisya.


"Tidak bisa mas... " ucap Brenda


"Mengapa ?? apakah kamu masih tidak mencintai ku Brenda ??" tanya Mas Frisya.


"Kita bicarakan ini lain waktu saja.. ayo pulang.." ucap Brenda


"Mas.. aku sudah memesan sebuah taksi untuk kamu, hati hati dijalan.." ucap Brenda


"Apakah kita bisa kembali bertemu lagi besok ??" tanya Mas Frisya.


"Hm.. Baiklah, pukul 9 aku tunggu di pantai dekat Barra Hotels." ucap Brenda

__ADS_1


"Baiklah.. sampai bertemu besok.." ucap Mas Frisya


*****


Kediaman Frisya.


"Darimana saja kau fris..??" tanya Rama.


Frisya hanya tersenyum senyum seperti orang gila. Bahkan dia mengajak berdansa Rama.


"Astaga.. sepertinya kau belum minum obat ya.." ucap Rama.


"Hari ini aku sangat senang.. Luka ini mengering seketika.. hahaha.." ucap Frisya sambil tertawa bahagia.


Selama ini Frisya tidak pernah tertawa dengan lepas dan sebahagia ini semenjak Frisya meninggalkan Brenda.


Kemudian Frisya pergi ke kamar tidurnya untuk beristirahat.


"Apakah dia sedang jatuh cinta pada seorang gadis disini ??" tanya Rama pada dirinya.


"Lalu ?? apa dia sudah melupakan Brenda ??" tanya Rama pada dirinya.


"Mengapa dia selalu membuat ku bingung untuk bekerja ekstra.. " ucap Rama.


*******


Keesokan harinya...


Frisya sudah berada di pantai sejak pukul 6 pagi, karena ingin segera bertemu dengan Brenda.


*** Kamar Brenda.


"Emh... Selamat pagi, Terimakasih Tuhan atas segala kebaikan mu hari ini..." ucap Brenda sambil membuka jendela kamarnya yang menghadap ke pantai.


Secara tidak sengaja Frisya menatap ke arah hotel dan menemukan Brenda diatas sana.


"Apakah kau akan segera turun ??" tanya Mas Frisya pada dirinya sendiri.


"Atau kau masih akan bersenang senang dengan nya.." ucap Frisya menyayat hati.


Merasa sedang diperhatikan seseorang, Brenda menatap kearah itu, sontak saja mata mereka saling bertemu.


"Mengapa dia ada disana.. " ucap Brenda sambil bersembunyi di balik jendela.


"Apakah aku harus menemuinya sekarang ??" tanya Brenda pada dirinya.


Beberapa saat kemudian Brenda turun dan menemui Frisya.


"Hai... ini masih terlalu pagi... mengapa sudah ada disini ??" tanya Brenda.


"Maaf, aku hanya.. emm.. " ucap Frisya kebingungan.


"Kamu udah sarapan ???" tanya Brenda


Frisya menggelengkan kepalanya malu malu.


"Kamu lucu sekali mas.." ucap Brenda melihat Frisya yang terlihat sangat manis.


"Sangat manis... Benarkah.." tanya Frisya.


"Ayo sarapan bersama dengan ku.." ucap Brenda.

__ADS_1


Frisya senang bukan kepalang mendengar ucapan Brenda.


"Semoga ini awal yang baik untuk ku.." ucap Frisya dalam hati.


Mereka berjalan menuju sebuah kafe di pinggiran jalan.


"Kamu makan apa mas ??" tanya Brenda.


"Aku ingin makan sandwich saja.." ucap Frisya.


"Masih seperti di masa lalu.. " ucap Brenda .


Mereka bertatapan dan saling tersenyum malu malu.


"Apakah dia masih tidur ??" tanya Frisya.


"Hah ?? Siapa ??" tanya Brenda


"Gun Woo.." ucap Frisya.


"Rupannya Rama belum mengucapkan apapun tentang Gun Woo pada mas Frisya" pikir Brenda.


Frisya menyantap makanan nya dengan begitu nikmat, rasanya baru kali ini dia merasakan makanan seenak ini.


"Kami tidak jadi menikah.." ucap Brenda sambil menunduk kepalanya.


Seketika Frisya tersedak, matanya memerah terbelalak menatap Brenda merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Apa yang baru saja kau katakan Bren ??" tanya Mas Frisya


"Minumlah dulu, nanti perut mu sakit mas." ucap Brenda.


Frisya segera meminum air yang diberikan Brenda.


"Katakan apa yang baru saja kau katakan Bren.." ucap Frisya


"Ya.. aku tidak menikah dengan Gun Woo.." ucap Brenda.


"Apakah aku salah dengar ?? atau aku sedang bermimpi.." ucap Frisya sambil menepuk nepuk pipinya.


"Yaa.. kecelakaan besar merengutnya dariku.." ucap Brenda sambil menahan sesak dalam dadanya.


"Mengapa aku baru tahu sekarang.." ucap Frisya.


"Sudahlah, semuanya sudah berlalu.." ucap Brenda sambil menahan air matanya .


"Baiklah.. habiskan sarapan mu Brenda.." ucap Frisya tidak ingin membuat Brenda semakin tersudut dengan pertanyaan darinya.


Selang beberapa saat...


"Mas Bagaimana keadaan Debora?? apakah kalian baik baik saja ??" tanya Brenda.


"Aku tidak pernah mencintainya... " ucap Frisya jujur.


"Bagaimana bisa kau tidak pernah mencintainya mas.. kalian sudah hidup bersama selama beberapa tahun.." ucap Brenda.


"Sayang sekali, aku tidak pernah sanggup untuk melakukannya, aku hanya mencintaimu... " ucap Frisya.


Brenda hanya menatap Frisya dan kemudian kembali melanjutkan makannya.


********

__ADS_1


__ADS_2