
Brenda terdiam, rasanya apa yang diucapkan Juve benar.
"Brenda ?? Kamu bisa coba untuk meditasi, biasanya itu bisa membantu menghilangkan stress.." ucap Juve.
"Benarkah ??" tanya Brenda
"Itu benar Bren... aku biasanya juga melakukan meditasi." ucap Hakim.
"Baiklah, mungkin nanti aku bisa meminta diajari oleh mu.." ucap Brenda.
******
Brenda beristirahat di rumah Juve, bersama dengan Orang tuannya dan juga hakim untuk sementara waktu.
Brenda beristirahat di kamar tamu yang disiapkan oleh Juve. Brenda merasakan kepalanya teramat sangat pening.
"Sepertinya aku harus segera beristirahat, semoga sakit kepala ini segera mereda, aku tidak tahan.." ucap Brenda sambil naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya segera memejamkan mata.
***
Brenda berada di suatu tempat yang gelap dia bertemu dengan dirinya sendiri, Brenda tidak yakin siapa dia, Tubuh Brenda terasa sangat lemah, Tiba tiba dia mengeluarkan sebilah pisau dan menghujamkan ke tubuh Brenda dengan kerasnya.
***
"Aaaaaaahhhhhh !!!!!!!" teriak Brenda terbangun, seraya memegangi dadanya, yang terasa sakit.
Semua orang yang mendengar jeritan Brenda langsung berlarian menuju kamar Brenda.
" Apa yang terjadi padamu Brenda ??" tanya Juve.
Brenda menceritakan mimpi buruk yang baru saja dialaminya.
"Sepertinya keadaan DID Brenda memburuk.." ucap Juve.
Juve memberikan obat anti depresan kepada Brenda, Setelah itu Brenda kembali terlelap.
***
Malam harinya...
Brenda terbangun...
"Astagfirullah.. dimana ini ?? Mengapa aku disini.." ucapnya, yang ternyata adalah Nina Syafilah.
"Mengapa aku berpakaian seperti ini.." ucap Nina.
__ADS_1
"Ummi.. abii... " teriak Nina.
Mami yang mendengarnya langsung menghampiri kamar Brenda.
"Nak.. ada apa ??" tanya Mami.
"Mami.. ana dimana ?? mengapa pakaian Ana seperti ini.. memalukan.." ucap Nina.
Hakim yang mendengar suara Nina, langsung berlari menuju kamar Brenda.
"Kamu kenapa lagi Bren ??" tanya Hakim
"Astagfirullah Aa.. mengapa bisa ada disini... tega teganya Aa melihat Nina seperti ini.." teriak Nina, karena Hakim melihatnya tanpa jilbab.
Hakim menatap Mami Brenda, dan mami mengangguk memberikan isyarat tentang keadaan anaknya.
"Maafkan Aa Nina.." ucap Hakim sambil berlari keluar dari kamar.
Mami yang sebenarnya sudah menyiapkan Gamis untuk berjaga jaga saat Nina muncul kembali, segera memberikan pakaian Nina dan Nina segera memakainya.
Setelah mengenakannya Nina hendak kabur dari rumah Juve. Beruntung saat itu juga Juve sudah datang dan menyadari apa yang terjadi, saat dia melihat seorang wanita dengan pakaian sangat tertutup dia langsung menangkapnya.
"Lepaskan !! Lepaskan !!!" ucap Nina.
"Nona Nina, tolong tenanglah sedikit, dengarkan aku dulu." ucap Juve.
"Siapa Antum ?? haaaa ?? " tanya Nina berteriak teriak.
Disusul Mami, Ayah dan Hakim mereka memegangi Nina yang masih meronta ronta menghentak hentakan tubuhnya.
Kemudian Juve mengeluarkan sebuah jarum suntik dan menyuntikkan pada Nina, beberapa saat kemudian Nina menjadi lebih tenang.
Setelah itu Nina dibawa ke Klinik milik Juve, dia diikat agar tidak kabur ataupun melawan, Mami yang melihat anaknya dengan kondisi seperti ini menangis tersedu sedu, tidak sanggup untuk menyaksikan ini.
"Tenanglah Tante, Om... ini adalah yang terbaik untuk Brenda." ucap Hakim.
Ayah Brenda hanya mengangguk ria dalam sendunya. Beberapa saat kemudian Nina kembali tersadar. Kedua orang tua Brenda dan Hakim masih ada diruangan yang sama disuruh untuk pergi keluar oleh Juve dengan alasan sedang melakukan pengobatan.
Mami, Ayah dan Hakim mereka menunggu dengan cemas di depan pintu Ruang tidakan Klinik Juve.
2 jam berlalu, entah apa yang Juve lakukan hingga Nina menjadi amat tenang,dan bahkan dia sudah kembali menjadi Brenda.
****
"Silahkan jika ingin bertemu dengan Brenda.. dia sudah lebih baik sekarang.. " ucap Juve.
"Brendaa.. nakk.. bagaimana keadaan kamu ??" tanya Mami.
__ADS_1
"Brenda baik baik saja Mi.. Brenda terasa lebih rilex." ucap Brenda.
"Astaga, Brenda tadi kau membuatku merasa sangat takut." ucap Hakim.
Brenda memegang tangan Hakim.
"Maaf yaa.. dan terimakasih sudah ada disini mendukung ku." ucap Brenda
"Jangan sungkan... Nina itu juga teman ku, sekalipun kita baru bertemu sekali, tapi dengan Nina aku sudah bertemu berkali kali dengannya." ucap Hakim.
"Apa kamu tidak sedih jika kelak tidak bisa kembali bertemu dengan Nina ??" tanya Brenda.
"Jika Nina itu Nyata aku akan sangat bersedih, namun sayangnya Nina hanyalah sebuah bayangan yang seolah olah menjelma dan menyakiti orang lain." ucap Hakim.
"Apakah kamu menyukai Nina ??" tanya Brenda.
Wajah Hakim langsung memerah malu.
"Sepertinya tebakan mu bemar Bren." ucap Juve.
"yaaa.. Nina sesungguhnya adalah seorang wanita idaman, jadi jangan salahkan aku yang menyukainya.." ucap Hakim tersenyum menunduk sambil menggaruk kepala nya.
mereka berdua tertawa melihat tingkah Hakim.
*****
1 tahun sudah Brenda menjalani pengobatan di Klinik Juve, Keadaan Brenda semakin membaik. Ini berkat Keinginan Brenda untuk sembuh dan juga dukungan moril dari Orang orang terdekatnya.
"Bren, apa yang kamu rasakan sekarang ??" tanya Juve.
"Waaw.. sangat baik.. rasanya lepas, gak ada beban." ucap Brenda.
"Jika kamu menjalani hidup dengan teratur, semuanya akan baik baik saja.."
"Iyaa... dokter Juve.. terimakasih atas segalanya.. aku gak tahu gimana jadinya jika aku tidak pernah bertemu dengan mu.." ucap Brenda.
"Apakah hakim, tidak kemari hari ini.." tanya Juve.
"Entahlah, mungkin dia kelelahan.. kumohon jangan ribut mulu sama Hakim, dia itu lucu lo orangnya." ucap Brenda
"hahh.. lucu ?? kamu apa tidak menyadari Bren, jika aku ini lebih lucu dari dia.." ucap Juve.
Brenda tertawa geli mendengar ucapan Juve, memang sejak Mereka banyak menghabiskan waktu bersama mereka menjadi sangat akrab dan saling mencari perhatian Brenda.
Mami dan Ayah yang melihat kedekatan mereka bertiga hanya bisa menggelengkan kepala, tidak habis pikir bahkan meskipun Brenda sakit, mereka siap siaga menjaga dan mensupport Brenda.
******
__ADS_1