Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Kehidupan yang tak pernah Adil


__ADS_3

Brenda dan Kai langsung pergi meninggalkan gedung kosong itu. Brenda mematung, air matanya mengalir suasana menjadi hening.


" Mengapa dia sejahat itu pada ku ? Mungkin jika dia tidak melakukan hal itu, aku sudah bahagia dengan Gun Woo.. " pikir Brenda.


"Mengapa aku selalu mendapatkan masalah, aku hanya ingin hidup bahagia dengan Frisya awalnya, tapi kenyataan ini sungguh.. " ucap Brenda dalam hati tidak habis pikir.


Tiba tiba..


"Kai, hentikan mobilnya... " ucap Brenda


"Apa yang terjadi ?" tanya Kai


"Kau bisa melanjutkan perjalanan, aku akan turun.. " ucap Brenda


"Kau akan pergi kemana ? mengapa turun disini ?" tanya Kai.


"Jangan khawatir, sudah pergilah " ucap Brenda sambil beranjak turun.


Kai keluar dari mobilnya mengikuti Brenda.


"Katakan kau akan pergi kemana ?" tanya Kai dengan wajah sembab.


"Ada yang harus aku selesaikan.. " ucap Brenda


"Apa ?" tanya Kai


Air mata kembali menetes.


"Aku menghabiskan banyak waktu agar luka lama ku bisa sembuh dan aku melanjutkan hidup ku, tapi hari ini. luka itu kembali terkorek dengan begitu dalamnya, tolong biarkan aku sendiri.. " ucap Brenda sambil mulai berjalan meninggalkan Kai.


Kai mengerti apa yang diucapkan oleh Brenda, namun tidak benar jika Kai meninggalkan seorang wanita di tempat jalanan sepi seperti itu.


Perlahan Kai mengikuti Brenda berjalan dengan jarak yang cukup jauh..


"Apa ini cara mu menyembuhkan luka.. " pikir Kai.


Brenda dan Kai sudah berjalan sekitar 1 jam lamanya. Kaki Kai yang pernah mengalami cedera serius saat menari mulai merasakan kesakitan.


"Brenda !! Kau sudah cukup lama berjalan, apa kaki mu tidak sakit ?" tanya Kai.


Merdengar dari kejauhan.


"Mengapa kau mengikuti ku ?" tanya Brenda

__ADS_1


"Aku tidak bisa meninggalkan mu sendiri.. " ucap Kai.


Brenda tidak menjawabnya.


"Hai, setidaknya gunakan alas kaki, kaki mu bisa terluka, ini sangat panas.. " ucap Kai


"Biarkan aku sendiri aku akan melampiaskan ini, jika aku diam aku takut akan gila seperti saat itu.. " ucap Brenda.


"Kita bisa bicara, ini bukan cara yang tepat. " ucap Kai.


"Kau pulanglah minta seseorang menjemput mu, aku akan pergi ke rumah Mami ku.. " ucap Brenda


"Brenda... !!! " panggil Kai lagi.


Brenda tidak menggubrisnya.


" Bahkan setelah berjalan cukup jauh pun aku tidak merasakan sakit atau lelah.. " ucap Brenda


" Aku akan pulang, Mami dan Ibu panti benar, mungkin seharusnya setelah aku tahu kisah Frisya, aku seharusnya mundur, agar tidak jatuh banyak korban lagi... " ucap Brenda hatinya pedih.


Brenda teringat masa masa yang dia habiskan dengan Frisya setahun ini.


"Apa aku seseorang yang pantas kau khianati ? apa tidak bisa kau mengatakannya tanpa lebih banyak kebohongan seperti ini.. ini terlalu sakit " ucap Brenda sambil terus berjalan.


"Apa ini sudah cukup.. " ucap Brenda pada dirinya sendiri.


Tiba tiba...


"Brenda... " ucap seseorang yang tidak lain adalah Frisya.


"Dek... apa yang kamu lakukan, mengapa kamu berjalan seperti ini ? Kamu menyiksa dirimh sendiri.. " ucap Frisya


" Bukankah ini lebih baik daripada di khianati oleh orang yang kau sayangi ?" tanya Brenda


Brenda masih terus berjalan. Frisya turun dan menghentikan langkah Brenda.


"Mas akan mengatakan segalanya begitu juga alasan mas melakukan ini semua, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.. " ucap Frisya


"Tidak seperti yang kamu bayangkan ?" tanya Brenda


"Apa kau tahu Fris, bagaimana perasaan ku saat... ( Menarik nafas ) saat, aku menemukan orang yang aku cintai bermandikan darah tepat di depan mata ku.. " ucap Brenda marah.


"Tahukah kamu, aku bahkan sempat kehilangan waras ku dan menjadi orang lain, merasa dipermainkan oleh diri ku sendiri.." ucap Brenda

__ADS_1


"Apa kau mengerti itu ??" tanya Brenda


"Sayang sekali, pasti orang seperti mu tidak akan pernah mengerti.. " ucap Brenda


Brenda kembali melanjutkan perjalanan.


"Apa kau tidak sadar..." ucap Frisya dengan nada sedikit meninggi.


Brenda tidak bergeming.


"APA KAU TIDAK SADAR JIKA AKU INI SUAMI MU !!!! " Teriak Frisya.


"Bagaimana kau bisa memperlakukan suami mu seperti ini demi mantan mu yang sudah mati itu... " ucap Frisya.


Brenda menghentikan langkahnya.


"Aku tahu kau suami ku, tapi aku sudah tidak yakin.. " ucap Brenda sambil berlalu.


Deg !


Deg !!


" Kau keterlaluan Brenda... " ucap Frisya sambil menitihkan air mata.


" Hentikan air mata buaya mu... Aku akan pergi ke rumah mami, jangan mengikuti ku.. aku butuh waktu untuk diri ku sendiri.. " ucap Brenda


"Kau benar benar akan meninggalkan mas mu ini ?" tanya Frisya


Brenda tidak menjawab dan sedikit berlari agar tidak lagi mendengar ucapan Frisya.


Brenda sungguh merasa kehidupan tidak adil kepadanya.


"Jika memang aku tidak ditakdirkan untuk bahagia hidup bersama seseorang, tidak bisakah aku hidup dengan bersenang senang seperti dulu.. " ucap Brenda


"Aku merindukan hidup ku yang lalu.. Aku ingin kembali tertawa, bahagia.. " ucap Brenda.


Beberapa jam kemudian Brenda sampai di sebuah halte bus. Brenda terduduk disana...


Brenda melihat kakinya.


Brenda tersenyum.


" Pantas saja kaki ku terasa sakit, sepertinya aku sudah terlalu jauh berjalan.. " ucap Brenda melihat kakinya yang mulai berdarah karena berjalan tanpa alas kaki.

__ADS_1


******


__ADS_2