Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Masa Masa Sulit Brenda I


__ADS_3

"Otak Brenda sudah mau merespon, semoga dia akan segera sadar." ucap dokter Sadid.


"Terimakasih tuan, sudah banyak membantu... Gun Woo pasti sangat bangga memiliki ayah seperti anda" Ucap ayah Brenda


"Ah.. jangan sungkan, andai wanita itu tidak ada pasti kita sudah menjadi satu keluarga." ucap Ayah Gun Woo.


12 jam kemudian Brenda terbangun dari tidur panjangnya.


"Mami... aduhh.. pusing.." ucap Brenda


"Loh, nak kamu sudah sadar ???" ucap Mami


"Dokter... dokter... " ucap Ayah memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Brenda.


Dokter Sadid langsung memeriksa keadaan Brenda dengan teliti.


"Hai Brenda.. apakah kau ingat aku ??" tanya dokter Sadid.


"Kak Sadid ??" tanya Brenda.


"Apa ada yang kamu ingat kejadian sebelum ini ???" tanya dokter Sadid lagi.


"aku tidak begitu ingat, tapi mata ku rasanya pedih.." ucap Brenda.


"Baiklah... saya rasa Brenda hanya perlu istirahat saja, beberapa hari lagi pasti sudah boleh pulang.." ucap Dokter Sadid.


Brenda sebenarnya mengingat dengan jelas, apa yang sudah dialaminya beberapa waktu yang lalu.


Hanya saja, saat dia koma dia sudah terlalu banyak mendengar Mami dan Ayahnya menangis, bahkan bik Sari juga datang dan menangis tersedu sedu di sampingnya sedang pada kenyataannya Brenda masih tidak sanggup menerima kenyataan pahit akan apa yang terjadi pada Gun woo, itu yang membuatnya enggan untuk bangun.


"Nak... kamu istirahat dulu ya.. mami di luar mu ambil makanan buat kamu.." ucap Mami


Brenda hanya mengangguk.


Brenda mencoba untuk berjalan jalan sebentar di dalam ruang rawatnya, saat mendekati pintu dia kembali melihat maminya menangis.


"Yah... apa yang harus kita katakan, jika Brenda bertanya lagi tentang Gun Woo ??" tanya Mami.


"Entahlah mi.. aku juga bingung.. aku tidak mampu membayangkan nya.." ucap Ayah ikut menitihkan air mata.


"Hm.. kalian sudah terlalu banyak menangis karena ku.. Aku berjanji, tidak akan pernah menangis lagi di depan kalian." ucap Brenda


Brenda kembali naik ke tempat tidur nya.


"Nak.. Brenda... ini makan yuk sayang.. Mami suapin.." ucap mami


" Gak deh mii.. aku akan makan sendiri lapar nih aku.." ucap Brenda.


Brenda makan dengan lahapnya, membuat maminya keheranan.

__ADS_1


"Sayang pelan pelan..." ucap mami.


"Aku udah selesai.. " ucap Brenda.


"Brenda sayang... "


"Iya mii..."


"soal Gun Woo...." ucap mami terpotong.


"Sudahlah mii.. aku baik baik saja... " ucap Brenda


Dokter Sadid datang untuk memeriksa Keadaan Brenda.


"Apa yang kau rasakan hari ini Bren ??" tanya dokter Sadid.


"Sangat baik kak.." ucap Brenda


"Jika sampai besok tidak ada keluhan, kamu boleh pulang Brend.." ucap dokter Sadid


"iya terimakasih kak.." ucap Brenda


"Gadis baik... segeralah sehat... jika berlama lama disini, bisa bisa kau akan jatuh cinta lagi pada ku.." ucap dokter Sadid.


Mami kaget mendengar ucapan dokter Sadid tidak menyangka jika mereka pernah memiliki hubungan dekat.


"Ahh.. bahkan sejak pertama kali aku terbangun dan melihat mu lagi, aku sudah jatuh cinta lagi padamu kak.." ucap Brenda


"Astaga... sepertinya kau memang sudah baik baik saja... " ucap Dokter Sadid


"Bagaimana kau tahu kak.." ucap Brenda


"Iya.. itu... bercanda mu mulai keterlaluan Brenda.." ucap Dokter sadid terkekeh.


"Terimakasih sudah menghibur ku... kamu tetap kakak yang baik seperti dulu.." ucap Brenda


"Kau harus hidup dengan baik dan bahagia Brenda.. banyak sekali yang menyayangi mu.. bertahanlah dengan semua masalah yang datang.. Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan dari umat nya." ucap Dokter Sadid membuat Brenda merinding.


"Iya, kakak ku yang baik.. thank u.." ucap Brenda


******


Keesokan harinya...


"Apakah aku sudah diperbolehkan untuk pulang kak ??" tanya Brenda


"Yaa.. tentu, karena keadaan mu semakin membaik.." ucap dokter Sadid


"Baiklah jika begitu, ayah akan mengurus kepulangan mu nak.. biar mami sama bik Sari yang beres beres." ucap Ayah.

__ADS_1


"Iya ayah terimakasih." ucap Brenda.


Mami Brenda terheran heran, bagaimana bisa anaknya setegar ini.. padahal dia amat terpukul.


Brenda nampak sangat ceria seperti semula.


entah sampai kapan Brenda mampu bertahan dalam kepura puraan hatinya.


**** Brenda sampai di rumah.


Saat pertama kalu memasuki rumah, Brenda seakan akan merasakan aura yang berbeda.


Setiap langkah kakinya seperti merasakan sesuatu.


Brenda terduduk di sofa ruang tamu. Dia melihat seakan akan segala kenangan tentang Gun Woo bangkit dan sedang berlangsung semua kebersamaan mereka, tawa mereka berdua...


Nafas Brenda mulai sesak, mata mulai berkaca kaca. sofa yang di duduki oleh Brenda sekarang adalah tepat dimana tempat biasa Brenda bercengkerama dengan Gun Woo, dia melihat seakan akan Gun Woo benar benar nyata duduk di sampingnya dan mengajaknya berbicara.


Namun ketika Brenda hendak menjawabnya.... seketika semuanya hilang begitu saja. Brenda sadar jika itu hanyalah sebuah halusinasinya saja. Brenda kecewa dan kemudian pergi berlari menuju kamar nya.


Dia mengunci kamarnya dan menangis tersedu sedu.


"Aku tidak bisa berbohong untuk perasaan ku... " pekik Brenda.


Dari luar kamar...


"Brenda.. kamu ga papa nak ???" tanya Mami.


Brenda kaget langsung menghapus air matanya.


"Im okey mami... " brenda ceria.


"Baiklah.. kamu istirahat dulu ya.. mami mau nebus obat kamu tadi kelupaan.." ucap mami.


"iya mi.. hati hati. " ucap Brenda


Selang beberapa saat kemudian.


" Nona Brenda.. bik sari pamit ke pasar dulu yaa... Nona Brenda sama tuan besar di rumah... tuan berada dikamarnya, apa perlu saya panggil untuk menemani nona ??" tanya bik sari.


"Pergilah bik, tidak perlu memanggil ayah, dia sudah lelah.. biar aku istirahat juga.. hati hati yaa.." ucap Brenda


"Baik nona.." ucap Bik Sari


*** Kamar Brenda


"Hm... aku harus melakukan sesuatu... ya aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana bisa Gun Woo meninggalkan ku." ucap Brenda menyusun rencana.


****

__ADS_1


__ADS_2