
*** Kamar Brenda
"Hm... aku harus melakukan sesuatu... ya aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana bisa Gun Woo meninggalkan ku." ucap Brenda menyusun rencana.
Brenda hendak melangkah beranjak pergi untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Gun woo.
Namun, langkahnya terhenti... dia harus kembali menarik nafas panjang yang sangat berat dirasakannya.
"Sepertinya aku masih belum mampu untuk melakukan ini sekarang.." ucap Brenda.
Brenda menghabiskan hari ini dengan tiduran dan berdiam diri di balkon kamar, tersenyum, sedih, bahkan menangis tersedu sedu tanpa seorang pun yang tahu.
"Brenda... Nak.. kamu kok gak keluar dari kamar.. kamu ga papa ??" tanya Ayah.
"I'm oke Ayah... bentar aku keluar.." ucap Brenda sambil membersihkan wajahnya dari sisa air mata.
"Nak... kalo ada yang mau kamu bicarakan katakan saja haaa.." ucap Mami.
"l'm oke mii... pasti aku lakuin itu kalo emang ada yang ingin aku sampaikan... " ucap Brenda
"Bagus... mami percaya dengan kamu.." ucap Mami.
Mami dan Ayah sedikit lega melihat keadaan anaknya yang sudah mulai membaik, terlihat ceria dan nafsu makannya sangat bagus.
Malam ini Brenda tidur di temani Mami nya.
"Ihh.. mami, aku bukan anak kecil lagi.. tolong jangan lakukan ini.." ucap Brenda
"Duh.. gak papa nak... sini biar mami peluk.. duhh.. gadis kecil mami benar benar sudah dewasa sepertinya.." ucap mami.
"Iya dong.. demi mami.. apapun akan Brenda lakukan." ucap Brenda
**** Keesokan harinya
Pagi ini ada seorang kurir yang mengantarkan sebuah surat untuk Brenda, yang ternyata dikirim oleh Ayahnya Gun Woo.
"Sudah pak kurir, biar saya sendiri yang memberikan pada Brenda, saya Maminya.." ucap Mami Brenda menghentikan kurir itu agar tidak menemui Brenda.
"Undangan 40 hari meninggalnya Gun Woo ???"ucap Mami lirih.
"Astaga nak... Gun Woo ku... tidak terasa sudah 40 hari kamu meninggalkan kami semua nak..." ucap Mami sambil menangis tersedu sedu.
Bik Sari terkaget melihat mami menangis di ruang tamu.
"Nyonya besar ada apa ??mengapa anda menangis ??" tanya Bik Sari.
"Bik.. Tidak terasa Gun Woo sudah 40 hari meninggalkan kita bik... ini sungguh menyayat hati bik.." ucap Mami yang terlanjur menyayangi Gun Woo seperti anaknya sendiri.
"Sabar ya Nyonya besar... ini pasti sudah jalannya yang terbaik dari Tuhan untuk Tuan Gun Woo.."
"Jika waktu bisa ku ulang kembali bik.. aku akan menjaga ucapan ku.. aku tidak mampu melihat apa yang dialami Gun Woo dan Brenda.. ini sangat berat." ucap Mami.
"Sudah Nyonya besar, takut Nona Brenda mendengar suara Nyonya." ucap Bik sari.
"Kau benar bik.. " ucap Mami sambil beranjak dan membuang surat undangan itu.
Brenda yang sebenarnya tahu saat Kurir tadi datang, keluar dari kamar hendak menemui si kurir, namun.. terhenti saat dia melihat mami menangis, sekaligus mendengar segalanya..
__ADS_1
"Hm.. 40 hari ?? aku bahkan tidak menyadarinya." ucap Brenda yang kemudian masuk lagi ke dalam kamar.
Kalo ini Brenda tidak menangis, atau bahkan Brenda sudah tidak bisa menangis.
"Apa yang harus aku lakukan Gun Woo ?? hadir kah ?? atau aku harus diam disini.." ucap Brenda.
**** Malam harinya..
"Brenda sayang... Mami sama ayah mau ke kondangan dulu ya sayang..." ucap Mami yang sebenarnya menghadiri hari meninggalnya Gun Woo.
"Ah, tentu... have fun ya.." ucap Brenda.
"Bye sayang.. hati hati di rumah, bik kabari kalo Brenda nakal ya.." ucap Ayah.
"Iih emang aku anak tk yah.. " ucap Brenda
Setelah Mami dan Ayah berangkat, bik Sari melihat Brenda yang mulai terlihat murung dan rapuh.
Ya... Brenda bukan seorang artis papan atas yang selalu bisa berakting sempurna untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Nona Brenda ?? apakah anda membutuhkan sesuatu ??" tanya Bik Sari
Brenda yang sadar jika dirinya di perhatikan oleh bik Sari langsung kembali tersenyum dan ceria.
"Ahhh... bibik... aku gak butuh apa apa kok.. tolong dong.. ambilin obat aku.. aku mau minum obat lalu istirahat duluan, capek nih.." ucap Brenda sambil Tersenyum ceria.
"Ini tidak benar.. seharusnya Nona Brenda bisa bercerita dan membagi kesedihannya.." pikir bik Sari.
"Ini Nona..." bik Sari memberikan obat Brenda
Setelah minum obat itu, Brenda segera pergi ke kamar nya. Brenda mencoba untuk berbaring sambil memejamkan mata.
"Iih.. nyebelin.. aku kok gak bisa tidur sih.. katanya obat aku ada obat tidurnya, kok gak bisa bikin aku tidur." ucap Brenda marah pada dirinya sendiri.
Brenda membuka handphone nya dan mulai melihat menu di handphone nya dengan malas.
"Apaan nih.. Spirtify ?? hm... oke, gak ada salahnya kita dengerin musik aja.." ucap Brenda.
Brenda mulai dengan sebuah lagu dari Hivi Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi.
"Gak !!! gue belum siap... ganti ah.." ucap Brenda sambil memencet lagu dengan sembarangan.
🎶 bila kau hanya main main saja sudah kau buang waktu percuma...
"Hanjirr siapa yang main main.. ganti ah " ucap Brenda mengomel sendiri.
🎶
Langit, begitu gelap hujan tak juga reda,
Ku harus menyaksikan cinta ku terengut tak terselamatkan...
Mendengar lagu ini Brenda langsung terdiam, seperti menghayati setiap baris lagu yang dinyanyikan.
🎶
Dimana... letak surga itu
Biar ku gantikan tempat mu dengan ku
__ADS_1
Adakah tangga surga itu biar ku gantikan
untuk bersama mu...
lagu ini sungguh membuat Brenda membawa segenap hati dan perasaannya, serasa pas dengan apa yang dirasakan oleh hatinya.
Brenda berusaha menarik nafas panjang, namun sayangnya dia tidak bisa menahan air matanya untuk menetes.
🎶
Apalah artinya hidup tanpa kekasih ku
Percuma ku ada disini....
Brenda seperti kembali merasakan sakit saat dia pertama kali melihat Gun Woo dalam keadaan mengenaskan di hadapannya.
"Astaga Gun Woo... Mengapa pergi secepat ini.." pekik Brenda.
Brenda berjalan menuju balkon kamarnya sambil menangis tersedu sedu.
"Katakan... bagaimana bisa aku melanjutkan hidup ku .."
Brenda berdiri tepat di balkon kamar.
"Hari ini 40 hari kematian mu... apakah kau akan datang menemui ku ??" tanya Brenda.
"Aku kehilangan dirimu seakan akan aku kehilangan segalanya... sangat menyakitkan.. " ucap Brenda.
"Apakah lebih baik... jika aku ikut saja dengan mu..." ucap Brenda mulai melantur.
Brenda mulai menaiki pagar balkon kamar nya, roknya sempat tersangkut dan sedikit sobek.
"Bahkan, pagar ini menahan ku.. cukup menggelikan... hai pagar.. aku akan menemui kekasih ku.. jangan sedih aku akan bahagia bersamanya disana.." ucap Brenda dengan pikirannya yang sempit.
Brenda kini sudah ada di atas pagar balkon.
"Rumah ini kira kira tingginya 30 meter, dan aku berdiri di ketinggian kurang lebih 20 meter... mungkin jika kepala ku terhantam lantai terlebih dahulu, mungkin aku akan langsung mati..." ucap Brenda pahit.
"Baiklah.. ayo Brenda kita lakukan... kita akan susul Gun Woo... Sayang.. abang Gun Woo aku datang..." ucap Brenda tersenyum sambil memejamkan mata dan mulai menjatuhkan tubuhnya dari lantai atas.
Saat tubuh Brenda menghujam dengan keras jatuh ke lantai bawah, tiba tiba....
Sesuatu dengan sayap seperti malaikat dengan pakaian berwarna putih mendekap erat tubuh Brenda, dan membawanya kembali naik ke balkon kamar Brenda.
Brenda membuka matanya...
"Gun Woo.... Apakah aku sudah mati... sayang... hiks hiks hiks... aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan mu... huhuhu... jangan tinggalkan aku lagi, aku membutuhkan mu.." ucap Brenda sambil menangis tersedu sedu dan menyentuh wajah Gun Woo.
"Brenda... sayang... dunia kita sudah berbeda.. kita tidak bisa lagi bersama... jangan lakukan hal ini lagi.. hiduplah bahagia.. lanjutkan hidup mu.. " ucap Gun Woo.
"Jangan tinggalkan aku lagi... !!! ku mohon.." ucap Brenda sambil menjerit.
"Brenda... dengar... ini sudah jalan Tuhan.. hiduplah dengan bahagia.. jangan siksa dirimu sendiri.. Aku harus segera pergi... ingat.. aku sangat mencintai mu.. ingatlah itu.." ucap Gun Woo.
"Tidak.. !!!! Tidakk.. !!! Tidak.. !!!! Gun Woo !!!! jangan pergi kumohon !!! " ucap Brenda.
"Nakk... Nak.. Brenda sayang... nak.. sadarlah.. ini mami nak... Mami mohon " ucap Mami menyadarkan Brenda di atas tempat tidur nya. yang terus berteriak teriak memanggil nama Gun Woo sejak 1 jam yang lalu.
********
__ADS_1