
"Kau bersedia untuk bertemu dengan Debora ??" tanya Rama
"Tentu saja.. dia sahabat ku.." ucap Brenda
"Terimakasih Brenda.. dia pasti senang bisa bertemu dengan mu lagi.." ucap Rama.
"Baiklah Ram... sudah sore kita pergi ke tempat menyenangkan disana yuk.." ucap Brenda sambil menarik tangan Rama untuk pergi menuju sebuah tempat perbelanjaan yang tidak jauh dari kafe mereka berada
"Astaga.. dia benar benar belanja.. " ucap Rama sambil menggaruk garuk kepala nya.
Brenda terlihat sangat bahagia saat memutari tempat perbelanjaan itu, membuat Frisya semakin penasaran dengan lelaki yang tengah bersama dengan Brenda.
Frisya tetap mengikuti Brenda dan Rama, sesekali dia bersembunyi saat Brenda ataupun Rama menoleh ke arahnya.
Ketika mereka sampai di suatu tempat di area perbelanjaan itu melewati sebuah lorong gelap, Rama berjalan di belakang Brenda mengikuti kemanapun Brenda pergi.
Tiba tiba Rama di dorong paksa masuk ke dalam lorong gelap itu oleh seseorang yang tidak lain adalah Frisya, Frisya langsung memukul menghajar Rama.
Bukkk....
Bukk...
Rama mencoba untuk membalas dan melindungi dirinya, namun sayangnya seseorang yang tengah menghajarnya itu tengah kalap dipenuhi oleh amarah, sehingga dia tidak memberi cela hingga Rama bisa membalas ataupun melindungi dirinya.
Brakk..
Bukkk
Buugghkkk...
Setelah berkali kali pukulan mendarat di wajah Rama, perut dan kakinya, tanpa sempat Rama berbicara apapun. Akhirnya Rama jatuh tersungkur.
Melihat lawannya jatuh tersungkur Frisya tak kunjung merasa puas dia masih berusaha untuk melukai dada lawannya dengan menginjaknya dengan keras, namun beruntung karena Rama segera menyadarinya dan segera menahan kaki Frisya .
Saat itu pula Frisya baru mengucapkan sepatah kata membuat Rama menyadari siapa yang tengah menghajarnya.
"Matilah kau... !!! Ini ganjaran untuk anjing liar yang sudah berani bersama dengan Brenda ku" ucap Frisya dengan nada yang dan aura menakutkan membuat Rama sempat berpikir jika itu adalah hari terakhirnya.
"Astaga !! Ini Frisya... " Pikir Rama dalam hati.
"Dia benar benar menghajar ku, apakah ini benar benar hari terakhir untuk ku.." pikir Rama dalam hati.
"Ku mohon hentikan... ini aku Friss... Rama.." ucap Rama dengan mulut penuh dengan darah.
__ADS_1
"Aku bahkan tidak perduli siapapun kau !!! Kau akan mati hari ini !! " ucap Frisya sambil menekan kakinya lebih kuat.
Tangan Rama yang juga terluka merasa sudah tidak mampu lagi menahan kaki Frisya hendak melepaskan tangannya.
Tiba tiba dari kejauhan ujung lorong.
"Hentikan !!!! Jangan sakiti Rama... Apa yang kau inginkan, aku bisa memberikannya padamu tuan, tolong lepaskan teman ku.. " ucap Brenda dengan tangan memohon dan menangis ketakutan.
Mendengar kata Teman Frisya langsung menghentikan kakinya yang hendak menginjak Dada Rama dan kembali tersadar.
Melihat seseorang dalam kegelapan itu mulai melepaskan Rama, dengan takut takut Brenda berjalan menuju Rama.
Rama sudah tidak sadar mungkin karena dia kehilangan banyak darah akibat pukulan dari Frisya.
Frisya hanya bisa terdiam mematung, tidak bisa membayangkan bagaimana bisa dia menghadapi Brenda saat mengehtahui jika dia yang menghajar Rama.
"Rama... Rama... Ramm.. sadar Rama.. " ucap Brenda sambil menangis sesegukan.
"Tuan, bisakah kau menolong untuk membantu ku membawanya pergi ke rumah sakit ?? teman ku dia tidak sadarkan diri, sepertinya terluka parah.." ucap Brenda panik.
Frisya masih terdiam membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi pada Rama karena ulahnya.
"Apa Rama mati ?? Ram.. apakah kau akan mati semudah ini.." pikir Frisya.
Brenda berusaha mengangkat tubuh Rama, namun sayangnya tidak cukup kuat dan akhirnya Frisya bersedia membantunya.
"Mengapa dia bisa menangis seperti itu ?? apakah dia menyukai Rama ??" pikir Frisya yang masih tidak menjawab apapun.
"Bagaimana ini... Bagaimana saat keluar dari lorong gelap ini saat dia melihat siapa aku.." kepala Frisya berpikir keras.
Saat mereka keluar dari lorong...
Sayangnya Brenda tidak melihat wajah Frisya dengan benar, Brenda malah dengan segera mencari taksi hingga hampir tertabrak mobil. beruntung Frisya bisa menghindarkan Brenda dari mobil yang hendak menabraknya.
"Astaga wanita ini... ceroboh sekali !!" pikir Frisya.
Brenda masih tetap menangis tersedu sedu, dia sangat ketakutan, takut untuk kehilangan lagi, meskipun Rama bukan orang yang dia cintai namun rasa kehilangan yang pernah dia alami membuatnya trauma .
"Rama bertahanlah.. kumohon... " ucap Brenda.
Beberapa saat kemudian Frisya menghentikan sebuah taksi dan segera naik dengan Brenda di sisi kanan Rama dengan terus menangis sambil mengelap wajah Rama yang di penuhi darah.
"Pak tolong pergi ke rumah sakit terdekat.." ucap Frisya
__ADS_1
Tangannya gemetar hebat, Kepala Brenda seperti memutar kisah lama saat dia mendekap Gun Woo yang sudah tidak bernyawa.
5 menit kemudian mereka sampai. Brenda seperti lemas tidak memiliki tenaga, namun dia berusaha keluar dari taksi dan memanggil beberapa perawat untuk meminta pertolongan. dan kemudian Brenda tidak sadarkan diri.
Setelah menunggu 2 jam berlalu, Brenda belum juga tersadar. kemudian Frisya mulai mencari tahu bagaimana keadaan Rama.
"Bagaimana keadaannya dokter ??" tanya Frisya.
"Lumayan parah tuan, lengan kirinya retak, rahangnya sedikit bergeser, kakinya patah dan luka luka lebam di sekujur tubuhnya, untungnya kepalanya tidak mengalami pendarahan otak." ucap Dokter.
"Apakah sungguh aku yang telah melakukannya.." ucap Frisya dalam hati.
Frisya merasa sangat bersalah, lalu kemudian Frisya menghubungi Debora .
"Yaa !! Ada apa ??" ucap Debora kasar seperti biasanya .
"Tolong segera datanglah ke rumah sakit di Duque de Caxias. Rama dia terluka." ucap Frisya.
"Haii... apa yang merasuki mu tuan !!! seumur hidup ku baru kali ini kau meminta tolong dengan benar ..." ucap Debora.
"Segeralah datang.. " ucap Frisya rendah.
"Apa Rama mati ??" tanya Debora keheranan dengan nada bicara Tuan sombong itu.
"Kumohon, datanglah saja... aku bahkan tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan mu.." ucap Frisya kemudian mematikan teleponnya.
Frisya hanya melihat Rama dari pintu kamar rumah sakit tempat Rama di rawat, dan kembali ke kamar Brenda dirawat.
"Brenda... dek... Bren... sadarlah, mengapa kau lama sekali untuk bangun... apakah kau menyukai Rama hingga kau takut kehilangannya ?" tanya Frisya dengan mata berkaca kaca.
"Jika kamu memang sangat mencintai Rama, ku berjanji akan melepaskan mu lagi.. tapi ku mohon sadarlah.. Jika sampai terjadi sesuatu, aku lebih memilih pergi bersama mu..." ucap Frisya menangis di samping Brenda.
Perlahan Brenda mendengar suara tangisan yang membuatnya tersadar. Brenda mencari asal suara itu, ternyata dilihatnya mas Frisya nya tengah menangis, entah apa yang membuatnya menangis seperti itu. Brenda mengelus lembut kepala Frisya.
"Brenda... dek... kamu sadar ??" ucap Frisya sambil memeluk Brenda, hatinya terasa sangat lega melihat Brenda tersadar.
*******
**Hallo kakak READERS lama gak menyapa.. hehe... yuhuuu.. apa kabar sudah ngevote ?? apa sudah Ngomen hari ini ?? ehh.. haha
udah maem... udah minum apa belon hari ini maksudnya... . hehe
Btewe semoga kakak kakak READERS sekalian sehat selalu, barokah umurnya dan selalu beruntung setiap harinya**...
__ADS_1
**Gimana kisahnya ?? nyambung gak ?? asik gak ?? komenin yuk.... Biar author nya sadar diri gitu kalo ceritanya mulai kecau hihi...
Sekian dulu deh yaa... see u later di tunggu komentar nya... 😋**