
"Apa yang baru saja dia katakan... Saudara kembar Mellyta ?" ucap Brenda lemas.
"Dan mas Frisya akan dia gunakan sebagai alat untuk menyakiti aku.." ucap Brenda
"Kejam sekali.." air mata Brenda menetes perlahan.
Meta masuk ke dalam ruangan Brenda untuk menyerahkan sebuah dokumen kaget saat melihat Brenda terkulai lemas di lantai.
"Nona Brenda apa yang terjadi... ?" tanya Meta.
"Mari saya bantu anda duduk.." ucap Meta seraya membantu Brenda duduk di sofa.
Meta segera menelfon seorang dokter langganan Brenda yang tidak lain adalah dokter Sadid.
15 menit kemudian Dokter Sadid tiba.
"Hai cantik... apa yang terjadi pada mu ?" tanya dokter Sadid.
"Kak... " ucap Brenda
"Iya Bren, aku disini.." ucap Sadid.
"Peluk aku... aku sangat lelah.." ucap Brenda
"Katakan pada ku, apa yang terjadi ?" tanya Sadid.
" Diamlah, biarkan aku memeluk mu sejenak.." ucap Brenda.
*****
15 menit kemudian...
"Apakah kamu merasa sakit ?" tanya Sadid.
Brenda menggelengkan kepalanya...
"Bren, apa kamu sudah memiliki kekasih ?" tanya Sadid.
Brenda kembali menggelengkan kepalanya.
" Baiklah, sepertinya kamu sedang tidak ingin bicara dengan ku, aku pergi saja dulu.." ucap Sadid sambil beranjak pergi.
Brenda menarik tangan Sadid enggan membiarkan Sadid pergi.
" Jangan pergi temani aku sebentar..." ucap Brenda sambil memeluk Sadid.
"Nikah yuk Bren.." ucap Sadid.
Brenda menatap ke arah Sadid.
"Kamu bilang apa kak ?" tanya Brenda
"N nikah yuk.." ucap Sadid lagi.
"Kamu ngelamar aku ?" tanya Brenda sambil tersenyum.
Sadid balik menatap Brenda yang tersenyum.
"Apa menurut mu aku bercanda ?" tanya Sadid.
__ADS_1
"Hm... Makan yuk, lapar nih.." ucap Brenda.
"Baiklah.." ucap Sadid.
Brenda dan Sadid pun makan siang bersama.
"Brenda, makanlah dengan perlahan... Apakah kamu begitu lapar hingga harus terburu buru seperti ini.." ucap Sadid sambil mengusap ujung bibir Brenda.
"Kamu masih tetap manis seperti masa lalu kak..." ucap Brenda sambil tersenyum.
"Bahkan mungkin cinta ku masih sama.." ucap Sadid.
"Jangan terlalu berharap banyak pada ku kak.." ucap Brenda
"Aku mungkin tidak bisa banyak berharap, tapi kumohon jangan halangi aku untuk berusaha kembali mendapatkan hati mu.." ucap Sadid.
Brenda tidak menjawab dia hanya tersenyum mendengar ucapan Sadid. Tiba tiba Brenda mencium aroma parfum seseorang yang dia kenal.
Brenda menatap ke arah dua orang yang tengah berjalan berdampingan sepertinya mereka hendak makan siang juga.
"Mas Frisya..." ucap Brenda sambil menatap Frisya dari kejauhan.
Serllyta menyadari bahwa Brenda ada dan sedang memperhatikannya dan Frisya. Serllyta langsung memeluk Frisya yang sedang makan dan menyuapi Frisya.
Frisya menatap Serllyta tidak mengerti apa yang terjadi padanya, tak lama kemudian Frisya menatap ke arah Brenda berada, mata Frisya terbelalak kaget.
"Brenda... " ucap Frisya
Kemudian Frisya mendatangi Brenda.
"Apa yang kau lakukan disini dek ?" tanya Frisya
"Hmmm entahlah..." ucap Brenda
Brenda menggelengkan kepalanya sambil mengusap air matanya.
"Kak aku rasa.. aku.." Ucapan Brenda terputus.
"Friss... Kita harus segera pergi, ini sudah waktunya.." ucap Serllyta sambil menggenggam tangan Frisya.
Frisya melihat Brenda terlihat tidak senang, namun Frisya tetap pergi dengan Serllyta, Serllyta melihat Brenda dengan tatapan kasihan.
"Siapa dia Bren ?" tanya Sadid.
"Teman masa kecil ku.." ucap Brenda hatinya sangat kesal melihat Frisya berjalan dengan mesranya dengan saudari kembar wanita yang menyebabkan kematian kekasihnya itu. Sadid kemudian memeluk Brenda
******
Malam harinya...
"Mii, Kak Hakim sama Juve kemana sii... " tanya Brenda
"Mereka sibuk sayang... emang mereka gak ngabarin kamu ?" tanya Mami.
"Nggak.." ucap Brenda
"Ya kamu dong Brend yang tanya sama mereka.." ucap Mami.
"Loh.. loh.. kenapa ini anak cantik Ayah .." tanya Ayah.
__ADS_1
"Itu yah lagi nyariin Hakim sama Juve.." ucap Mami.
"Sibuk banget mereka, maklumlah memang mereka sangat berbakat.." ucap Ayah.
"Bren, jadi kapan kamu nikah ?" tanya Ayah.
"Brenda pinginnya besok yah... tapi karena belom ada calonnya gimana dong.." ucap Brenda sambil tertawa.
"Anak gadis diajak ngomong bener gitu yaa.." ucap Ayah..
"Udah doain aja dulu yah sabar.." ucap Brenda
"Emang gak ada yang deketin kamu Bren.." tanya Mami.
"Ada.. udah ngelamar malah.." ucap Brenda sambil mengunyah makanan.
"Apa !!!" ucap Ayah dan Mami bersamaan.
"Kamu beneran Bren... lalu, apa udah kamu terima ?" tanya mami.
"Brenda niatnya sih mau terima, tapi sayangnya hati Brenda gak yakin sama dia.." ucap Brenda
"Aishh... kau ini Brenda terlalu pemilih.." ucap Mami.
"Mami... keburu nikah sih boleh tapi jangan asal dong.. " ucap Brenda.
"Ingat loh Bren, umur kamu udah gak muda lagi.. " ucap Mami.
Brenda tersenyum kecut....
Tiba tiba ada notif pesan masuk dari mas Frisya.
"Bren, bisa bertemu ?" Frisya
" Mi, mas Frisya ngajakin aku ketemu nih, apa mending kesini aja ya.. katanya mami kangen ?" tanya Brenda.
"Ide yang bagus Bren... iya udah Frisya ajak kesini, mami mau ke supermarket dulu ya buat makan malam." ucap mami.
"Hati hati ya mii.." ucap Brenda
"Iya.."
" Mas kerumah aja ya, mami kangen... kamu diajak makan malam disini.." Brenda
" Baiklah aku datang pukul 7 malam ini ya.. " Frisya.
*******
Pukul 7 malam Frisya sudah sampai di rumah Brenda.
"Mami... " ucap Frisya sambil membawa bucket bunga.
"Frisya mami... anak ganteng, kok gak pernah ngabarin mami sih nak... gak kangen apa yaa.." ucap mami.
"Maaf mi.. banyak hal yang terjadi, sampai sampai Frisya gak ada waktu untuk diri Friss sendiri." ucap Frisya.
"Iya mii... lagi sibuk diantar, sibuk sama Serllyta.. " ucap Brenda malas.
" Hai, apa yang kamu katakan ?" tanya Frisya
__ADS_1
"Udah udah yaa... kita makan dulu, nanti kalian lanjutin berantemnya.." ucap Mami membuat Frisya dan Brenda tersenyum geli.
*******