
Dia memberhentikan mobilnya dan menatap ku dalam dalam.
"Mas ga papa kok, maaf menakuti mu Dek.." ucap nya sambil tersenyum di paksakan.
Pikirannya nampak sangat kacau, kami sampai di kota saat menjelang makan siang.
"Mas kamu gak sekalian makan siang sama aku ??" ajak ku.
"Gak dek... mas sedang kurang sehat." ucap mas Frisya.
"Baiklah aku akan menghubungi mas Frisya nanti yaa.." ucap ku
"Jangan.. tolong jangan hubungi mas dulu.. mas akan sedikit sibuk beberapa hari ini." ucap nya membuat ku merasa khawatir.
"Mas.. kamu.." ucapan ku terpotong karena mas Frisya segera memacu mobilnya, tanpa memperdulikan ku.
Setelah waktu makan siang.. aku langsung datang ke perusahaan Hoki Grup.
"Nona Brenda... selamat datang.. anda sudah kembali.. senang rasanya bisa bertemu kembali dengan anda..." Sambut Debora saat melihat ku.
"Apa ?? apakah pekerjaan ku sudah menumpuk ??" tanya ku.
"Hehe, iya Nona.. ini sudah saya tata rapi.." ucap Debora.
"Antar ke ruangan ku... aku akan menyelesaikan nya.." ucap ku.
Debora mengetuk pintu.
"Masuklah.. "
"Nona.. ini berkas yang perlu anda tanda tangani.. saya letakkan di meja yaa.." ucap Debora.
"Debora.. bisakah kau membantu ku ?? "
"Tentu saja nona.. saya akan melakukan apapun yang bisa saya bantu untuk anda.."
"Bisakah kau menghubungi mas Frisya ?? tanya kan dimana dia berada sekarang.."
"Aw.. kak Frisya yaa.. (membayangkan wajahnya saja sudah sangat takut aku.. bagaimana aku bisa menghubungi dia) Ahh.. Baiklah tunggu sebentar Nona" ucap Debora.
Debora bukannya menghubungi mas Frisya dia malah menghubungi Rama.
"Ya haloo ada Apa ??" ucap Rama
"Hai tuan.. bolehkah aku meminta bantuan mu ??"
"Iya.. ada apa.. keadaannya kurang baik disini, tolong jangan minta tolong macam macam."
"Itu.. anuu.. nona Brenda meminta ku menghubungi tuan Frisya untuk bertanya dimana dia sekarang.. tapi aku terlalu takut untuk berurusan dengan nya.."
"Benarkah Brenda bertanya ?? Frisya sedang ada di kantor, handphone nya di matikan.. dia sedang kurang waras.. ku harap kau tidak mengganggu dia.."
__ADS_1
Tanpa Debora sadar aku berada tepat dibelakangnya, sedang menguping pembicaraan nya di telepon.
"Apa ?? dia sedang kurang waras ???" ucap ku tak kalah kaget dengan Debora yang menyadari kehadiran ku di belakang nya.
"Nona... mengapa anda menguping... anda tidak percaya dengan saya.. " protes Debora.
"Maafkan aku, tapi Debora.. ikutlah dengan ku pergi ke perusahaan Boom&Food aku ingin menemui mas Frisya, aku sangat khawatir.."
"Baiklah, tunggu sebentar nona.. ada yang harus saya bereskan." ucap Debora.
Aku menunggu 10 menit kemudian, setelah mengambil tas aku langsung menarik tangan Debora untuk masuk ke dalam mobil.
"Nonaa.. tolong.. saya masih belum mau mati.... tolonggg... pelankan nona... aaaahhh... "
Ciiittttt... Kami sampai di perusahaan Boom&Food.
Aku langsung masuk menuju ruang kantor mas Frisya, Rama yang melihat kedatangan ku langsung menahan ku agar tidak masuk, karena keadaan di dalam sangat kacau.
"Bren.. jangan masuk yaa cantik ku mohon... Frisya sedang kehilangan akal nya, aku takut terjadi sesuatu pada mu.."
"Biarkan aku masuk atau aku akan kehilangan akal dan hal buruk akan terjadi padamu." ucap ku mengintimidasi Rama.
"Astaga.. kalian.. mengapa tidak ada bedanya saat marah.. Sangat menakutkan.." ucap Rama sambil minggir dari pintu.
Aku mulai memasuki ruangan mas Frisya, aku melihat serpihan kaca, vas dan berkas berkas yang bercecer di segala penjuru ruangan.
Aku tidak menemukan mas Frisya dimana pun.. tak lama kemudian aku mendengar suara gemericik air dari kamar mandi yang ada diruangan mas Frisya.
Tiba tiba Rama menyentuh pundak ku.
"Sapa dia dengan perlahan.. seperti tidak terjadi apapun..jangan buat dia semakin panik.. Frisya itu terlalu kuat di luarnya dan teramat sangat rapuh di dalamnya."
Aku menuruti ucapan Rama.
"Mas Frisya.. lagi ngapain ??" tanya ku mencoba biasa saja.
" Bagaimana kau bisa disini." tanya mas Frisya.
"Iya, aku merindukan mu.. ayo pergi keluar kamu sepertinya mulai kedinginan.." ucap ku.
Mas Frisya memeluk ku tanpa aba aba dia mencium leher ku, bibir ku.. sebenarnya aku takut tapi aku tidak tega melihatnya seperti ini.
Lama kelamaan ciumannya menjadi kasar, di menggigit bibir ku hingga aku kesakitan.
"Aduh mas.. sakit..." ucap ku.
"Sakit... ha haa.. bukankah kau menikmatinya nona.. lihat ini.." Krekk.. krekk... suara mas Frisya menyobek rok ku dengan kasar.
"Auuh, mass.. jangan.. kamu kenapa ?? aku Brenda mas.. " ucap ku.
Dia mendorong ku ke pojokan ruangan dan mencumbui ku dengan kasar.
__ADS_1
"Mas.. jangan mas.. emmm.. uunmm.. iihh..." mas Frisya seperti hendak melahap ku.
Rama dan Debora mendengar jeritan ku.
"Astaga.. sudah ku bilang jangan masuk.. Friss sedang tidak waras dia tidak percaya.."
"Apa yang terjadi.. Nona.." ucap Debora.
"Ayo segera selamat kan Brenda.. aku takut terjadi sesuatu pada Brenda."
Rama dan Debora pun masuk. Betapa kagetnya mereka dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Rok yang di kenakan Brenda sudah Robek semua tinggal g-string dan kemeja yang melekat pada tubuh Brenda.
Brenda duduk di pinggir bak mandi dan Frisya menyiram tubuh Brenda dengan anggur. Frisya benar benar sudah kehilangan akal.
"Hah ?? mengapa begitu.. apa yang terjadi dengan tuan mu itu Ram ??"
"Dia itu sedang mabuk berat tapi sayangnya itu tidak bisa menghilangkan kekecewaan terhadap Brenda. Mungkin Friss tidak bisa melihat dengan benar siapa yang sedang ada di hadapannya."
"Kasihan sekali... ayo kita bantu Nona Brenda" seraya melepaskan Blazer milik Debora untuk menutupi bagian bawah Nonanya.
"Friss hentikan... hentikann... " sebuah hantaman tepat di wajah Friss. buug##
Friss langsung pingsan dan Brenda segera di tolong Debora dan segera pergi. Debora mengantarkan Brenda pulang..
Brenda langsung mandi membersihkan tubuh nya dari sisa anggur yang melekat di tubuhnya.
Brenda sangat merasa bersalah, lelaki yang baik seperti itu harus terluka karena wanita seperti ku yang tidak memilihnya.
Setelah mandi..
Brenda meminum cokelat hangat yang di buat oleh bik Sari tadi saat melihat Brenda pulang kedinginan.
"Dekk... Brenda.." suara mas Frisya dari dalam kamar.
Aku kaget dan langsung berdiri. Mas Frisya yang menemukan ku langsung memeluk ku.
"Maaf.. maafin mas.. mas.. gak sengaja.. mas gak sadar dengan apa yang mas lakukan sama kamu tadi dek.. kamu terluka ???"
Aku menatap matanya yang dipenuhi rasa bersalah..
"Mas.. maafkan aku juga.. karena sudah buat kamu seperti ini.. andai hati ku bisa ku ubah agar hanya bisa mencintai mu.. aku akan melakukan itu, namun sayangnya... maafkan aku .." ucap ku sambil menangis di pelukan mas Frisya.
Bik Sari hendak membawa kopi untuk mas Frisya, namun langkahnya terhenti karna seseorang yang berdiri di pintu kamar Brenda, menguping pembicaraan mereka.
"Tu tuann.." ucap bik Sari pelan dan gugup.
"Suut... diamlah.. jangan bilang aku kemari hari ini... aku akan kembali besok saja.. oke bik.. bye.."ucap lelaki itu.
Bik Sari melanjutkan jalannya mengantar kopi pada mas Frisya. Mas Frisya yang melihat kedatangan bik Sari langsung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
*******