Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab -100


__ADS_3

Ternya ketika Rima keluar dari kamar Sisil, ia melihat Lisa sudah ada di ruang tamu sedang berbincang dengan Akira.


Dan Rima yakin pasti Akira pasti akan memberi tahu Lisa tentang pernikahan Erwin dengan dirinya, atau mungkin Akira memang sudah memberi tahunya.


Sebab tatapan Lisa terlihat sangat berbeda ketika melihat Rima.


Rima melintas menuju dapur untuk menyimpan mangkuk kosong bekas Sisil makan.


Di dapur sudah ada Mama Nirmala dan papa Arga, mereka berdua seperti biasa setiap pagi selalu duduk di sana untuk meminum teh hangat, biasanya Gian dan Erwin atau juga Akira suka ikut bergabung bersama mereka, tapi kali ini putra-putranya dan menantu mereka sedang sibuk masing-masing.


Rima menyapa keduanya, sambil membungkuk hormat.


Mama Nirmala dan juga Papa Arga membalasa sapaan Rima, dan mengajaknya untuk duduk bersama mereka.


Tapi seperti biasa Rima selalu menolak, dengan alasan ingin segera menemani Sisil, karena ada Dokter Eva sedang bersama Sisil, Rima memberi tahu Mama Nirmala dan Papa Arga, yang memang belum tahu kedatangan Dokter Eva.


"Oo ya sudah nanti kami akan menyusul kesana." ucap Mama Nirmala.


"Baik Nyonya." jawab Rima dan berlalu dari sana.


Selepas kepergian Rima, Mama Nirmala dan Papa Arga berbincang tentang pernikahan Rima dengan Erwin.


"Pah, sepertinya kita harus cari cara agar pernikahan Erwin dan Rima bisa berjalan langgeng."


"Itu tugas mama-lah." jawab Papa Arga tidak mau pusing.


"Iya pah, mama tau itu, tapi mama bingung harus berbuat apa?" Mama Nirmala meminta masukan dari Papa Arga.


"Menurut Papa, buat Rima percaya diri, bahwa ia pantas menjadi pendamping Erwin, sepertinya dia minder tidak percaya diri." Dan tebakan Papa Arga memang tepat sekali.


"Mama, pasti bisa melakukannya, seperti yang mama lakukan kepada Akira dan Gian, mereka bisa seperti sekarang kan berkata bantuan Mama juga." 


"Iya sih pah, tapi Mama perlu waktu untuk membuat mereka bisa bersatu." 


"Lakukan yang mama bisa, Papa akan selalu mendukung Mama."


"Terimakasih pah," Mama Nirmala tersenyum bahagia, karena Papa Arga menang paling bisa bikin Mama Nirmala selalu bahagia.


Buktinya pernikahan mereka langgeng sampai jadi kakek nenek.


Lalu Papa Arga mengajak istrinya untuk menemui Dokter Eva dan menanyakan bagaimana perkembangan kondisi Sisil.


Di kamar Sisil, Rima hanya berdiri di belakang Erwin dan Dokter Eva, ketika mereka sedang membahas kondisi Sisil.

__ADS_1


Posisi mereka sedang berdiri di sebelah tepi tempat tidur Sisil.


Dan ketika itu Akira juga masih bersama Lisa. Lisa memang sengaja datang kesana untuk menjenguk Sisil, karena ia mendapat kabar dari Akira kalau Sisil sakit.


"Selamat pagi Sisil, apa kabarmu nak …." sapa Lisa.


Erwin sedikit terkejut ketika melihat ternyata Lisa ada di sana.


"Lisa …." gumam Erwin.


"Tante Lisa … aku baik ko …" Sisil menjawab sapaan Lisa.


Karena sudah selesai, dan Sisil juga sudah membaik, Dokter Eva akhirnya pamit undur diri bersama Susternya.


Tapi baru saja di depan pintu kamar Sisil, Dokter Eva berpapasan dengan Mama Nirmala dan juga Papa Arga.


"Eeh Dok, mau kemana?" 


"Eeh Ibu Nirmala, dan pak Arga, saya permisi mau pulang." Dokter Eva menjawab, dan sekaligus pamit.


"Oo ya sudah, hati-hati dan Terimakasih sudah menyempatkan diri datang kemari merawat Sisil sampai sembuh." 


Dokter Eva tersenyum, "Yang menyembuhkan itu bukan saya tapi tuhan Bu, saya hanya membantu dan hanya sebagai pelantar saja." balas Dokter Eva.


Dokter Eva hanya menggunakan dan segera berlalu di ikut susternya.


Kini semua orang berkumpul di kamar Sisil, hanya Gian yang tidak ada karena ia masih mengarungi dunia mimpinya.


Kemudian mama Nirmala mengajak semua orang untuk sarapan bersama, mereka beralih ke ruang makan untuk sarapan.


Mama Nirmala dan Papa Arga sempat menanyakan putra bungsunya, dan Akira memberi tau bahwa Gian masih tidur, karena merasa kelelahan  habis bepergian jauh ke desa Rima.


Setelah selesai sarapan, Erwin meminta waktu untuk bicara berdua dengan Lisa.


Dan Lisa pun menyetujuinya, Erwin ngajak Lisa untuk berbicara di halaman belakang rumah. Di sana Erwin mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dengan Rima.


Dengan nada suara lirih, dan sedikit ragu Erwin berkata, "Sa … Aku minta maaf ya, sebelumnya."


"Untuk apa, minta maaf?" Lisa menimpali.


"Sebenarnya aku menyukaimu, tapi maaf aku tidak bisa bersamamu, karena aku sudah menikahi Rima, Sa …!" terang Erwin seakan menyayangkan keadaan.


"Oo itu, iya aku sudah tau itu, Akira sudah memberitahuku." jawab Lisa.

__ADS_1


"Maaf jika aku mengecewakanmu Sa," 


Lisa tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya, karena Lisa pikir Erwin akan memperlihatkan perasaannya kepada Lisa, tapi dari ucapannya yang meminta maaf berulang kali itu artinya. Erwin ingin melupakannya.


Sebagai perempuan biasa Lisa memang merasa sedih, baru saja ia mencoba untuk membuka diri mulai menyukai pria lagi.


Tapi pada kenyataannya ia harus menerima kenyataan pahit lagi, tapi Lisa mengerti Erwin melakukan itu demi Sisil. Dengan begitu Lisa tetap merasa bangga kepada Erwin, karena Erwin tidak Egois tidak mementingkan perasaannya, ia lebih mementingkan putrinya.


"Ya, jujur saja aku memang menyukaimu juga, karena selama mengenalmu, aku merasa nyaman berkonotasi denganmu, tapi aku juga salut kepadamu, kamu tidak Egois kamu lebih mementingkan putrimu dari pada perasaanmu."


"Semoga pernikahanmu langgeng ya." Lanjut Lisa memberi doa.


"Tapi, aku telah membuat mu kecewa dengan pernikahanku bersama Rima." Erwin merasa tidak enak hati, mungkin lebih tepatnya ia merasa bersalah atas rasa kecewa yang Lisa rasakan.


Tapi Lisa sungguh orang bijak, ia tetap berusaha untuk berlapang dada menerima kenyataan.


"Ya, mungkin tuhan sedang mempersiapkan jodoh yang terbaik untukku, dan kamu telah tuhan persiapkan menjadi jodoh terbaik untuk Rima." Lisa berbesar hati.


"Karena rezeki, jodoh dan maut hanya tuhan yang tau." Lanjut Lisa agar Erwin tidak usah merasa bersalah dan malah bersedih.


Erwin hanya menganggukkan, karena yang di ucapkan oleh Lisa itu memang benar.


"Tapi, meskipun kita tidak berjodoh, apa aku masih boleh bertemu dengan Sisil?" Lisa tidak ingin ada jarak di antara mereka meskipun mereka tidak berjodoh.


"Ya, tentu saja boleh, rumah ini terbuka kapanpun kamu ingin menemui Sisil." jawab Gian menegaskan.


"Terimakasih …" mereka tertawa bersama setelah itu, berbincang dengan santai tidak lagi membahas tentang perasaan mereka.


Rima, sungguh cemburu melihatnya, "Ya tuhan apa yang aku rasakan, berusaha untuk membuang perasaan ku kepada Tuan Erwin, tapi semakin hari aku semakin tersiksa dengan perasaanku ini." batin Lisa sambil bengong menatap ke arah Lisa dan Erwin.


"Tuhan … tolong beri aku jalan agar aku bisa membuang perasaan ku ini." Rima masih membatin berusaha mencari jalan dari masalah yang sedang dihadapi.


Tapi saat Rima seperti itu, Akira melihatnya. Akira melihat raut wajah Rima penuh kesedihan.


Lalu Akira menghampirinya, dan menegurnya, "Kenapa Mbak Rima?" Akira mengejutkan Rima.


"Ti - tidak apa-apa ko Nona." jawab Rima gelagapan, karena tertangkap basah oleh Akira bahwa dirinya sedang merasa sedih saat memperhatikan suaminya sedang bersama wanita lain.


"Mbak Rima cemburu ya?" Akira terkesan sedang meledek Rima.


"Ti - tidak ko Nona, saya biasa saja." Rima terlihat salah tingkah, karena sangat gugup.


"Tidak usah berbohong Mbak, saya juga perempuan, jadi saya tau seperti apa perasaanmu meskipun kamu menyangkalnya, menurut saya itu hal yang wajar ko."  Ternyata Akira malah mendukung Rima.

__ADS_1


Mendengarnya Rima merasa sedikit lega, jadi Akira tidak berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


__ADS_2