
Sekertaris segera menyambung kembali panggil dari resepsionis dan menyampaikan pesan dari Nyonya Nirmala untuk mempersilahkan tamu itu menemui Nyonya Nirmala.
Kemudian resepsionis mempersilahkan Mila untuk menemui Nyonya Nirmala sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh sekretarisnya, dan memberi arahan di mana letak ruangan Nyonya Nirmala.
Mila segera bergegas menuju ke sana, dengan langkah tak pernah gentar ia siap menerima konsekuensinya. Apapun itu.
Mila yakin Gian akan membantah dengan arogannya, tapi semua tidak membuatnya takut bahkan membuat Mila merasa semakin tertantang, dan ingin tau siapa yang akan kalah dirinya atau Gian.
Di depan ruang Nyonya Nirmala, Mila menyapa sekretarisnya dengan tersenyum ramah dan mengatakan bahwa dirinya tamu yang bernama Kamila dan ingin menemui Nyonya Nirmala.
Seketika segera masuk dan memberi tahub Nyonya Nirmala bahwa tamu yang ingin menemuinya sudah ada di luar ruangan.
"Suruh masuk saja." perintah Nyonya Nirmala.
Kemudian Mila dipersilahkan untuk masuk, dan ternyata di dalam sana keluarga Papa Arga dalam keadaan formasi lengkap.
Ayah, Ibu dan para putranya sedang berkumpul di ruangan itu mereka sedang membahas tentang pekerjaan.
Semua mata menatap Mila dengan tatapan mencurigai Mila.
Tidak di pungkiri tatapan mereka membuat Mila gugup dan ada keraguan di hatinya, tapi saat matanya bertemu dengan mata Gian mereka saling menatap.
Kebencian kembali menguatkan tekadnya, sehingga membuat Mila tidak gentar menghadapi situasi.
"Mila, tumben sekali kamu kemari menemui Saya, bukannya kita sudah tidak ada urusan?" tanya mema Nirmala ketika melihat ternyata Kamila itu adalah Mila.
Mila masih merasa gugup menghadapi semuanya, ia terlihat menarik nafas untuk menenangkan perasaannya. "Iya, Tapi saya ada urusan dengan anggota keluarga Ibu, saya ingin meminta tanggung jawab darinya."
Mendengar kata "tangga Jawa" dari Mila, mama Nirmala mengerutkan keningnya, dan langsung berpikiran negatif kepada para lelakinya.
Mama Nirmala, berbalik menatap satu persatu para lelakinya, mencurigai mereka, dan dari tatapan mata Mama Nirmala terlihat jelas ia meminta penjelasan dari mereka.
Tapi dari pada kecurigaan mama Nirmala makin bertambah, Papa Arga segera bertanya dan meminta penjelasan langsung biar Mila,
"Apa maksudmu bicara seperti itu, tanggung jawab seperti apa yang kamu inginkan, dan siapa yang kamu mintai tanggung jawabnya?" Pertanyaan beruntui yang di lontarkan papa Arga kepada Mila.
Tapi Mila menjawab semua pertanyaan papa Arga hanya dengan satu gerakan dan satu kata.
"Dia." Mila menunjukkan Gian dengan tegas.
Sontak semua orang beralih menatap ke arah Gian.
"Gian, apa yang telah kamu lakukan kepadanya?" tanya mama Nirmala.
Gian malah menampilkan senyum sinis, "Sudah kuduga, kamu akan memainkan permainan murahanmu seperti ini." Gian sudah dapat menebak permainan Mila.
"Dia menjebakku Mah!" tuduh Gian.
"Aku tidak menjebaknya Bu, dia sendiri yang ingin ikut dengan ku pada malam itu, aku ada saksinya, kok pak supir yang tau semuanya."
__ADS_1
"Tunggu, tunggu! sebenarnya ada apa ini Gian, Mila, apa yang terjadi di antara kalian " sergah Mama Nirmala karena merasa bingung dengan perdebatan antara Mila dan Gian
Mila meminta Pak sopir dihadirkan disana dan dia yang akan menjelaskan semuanya.
Dan ternyata sebelumnya Mila telah menemui sopir itu dan meminta agar Pak sopir untuk menceritakan tentang kejadian malam itu. Awalnya dia menolak karena ia tidak ingin ikut campur, tapi Mila menangis ada mengiba kepadanya, sehingga membuat hati pak sopir merasa tidak tega kepada Mila dan menyanggupi permintaan Mila, lagian dia tidak di minta untuk berbohong oleh Mila ia hanya di minta untuk menceritakan semua kejadian dengan sebenarnya.
Pak sopir di panggil, lalu mama Nirmala meminta ia untuk menjelaskan apa yang terjadi yang dimaksud oleh Mila.
Sesuai yang dia tahu, pak sopir menceritakan dari awal membawa Gian dari rumah sampai mengantarkannya ke apartemen Mila.
Semua merasa syok mendengar cerita pak sopir tentang Gian malam itu.
"Apa benar itu semua Gian?" tanya papa Arga.
"Aku tidak tahu, karena aku sedang mabuk berat malah itu, bahkan aku tidak tahu kalau di klub malam itu ada perempuan murahan ini di sana, yang ku ingat setelah pagi hari aku ada bersamanya."
Sekarang giliran Mila menceritakan semuanya untuk menyempurnakan cerita Pak sopir, agar tuduhannya kepada Gian makin kuat.
Mila tidak banyak bicara dia malah mangirim video rekaman CCTV ke ponsel mama Nirmala, rekaman CCTV itu memperlihatkan dari awal mula Mila masih bersama temannya, lalu tidak lama Mila terliha ingin pergi dari sana setelah berbincang dengan beberapa orang di sana, dan terlihat seorang pria menabrak tubuh Mila, dengan langkah sempoyongan, dan ternyata pria itu adalah Gian, ia terlihat jatuh bangun ketika berjalan dan Mila membantunya memapahnya untuk keluar dari sana. Dan terlihat juga Gian menarik lengan Mila untuk masuk ke dalam mobil sesuai dengan cerita Pak sopir.
Mila mulai bercerita menyambung cerita dari video itu bahwa, Gian berkali-kali muntah selama dalam perjalanan pulang.
Mila bercerita sesuai dengan apa yang diceritakan oleh pak sopir.
Tapi Mila menambahkan setelah di dalam apartemennya apa saja yang terjadi.
"Tentu kalian tau apa yang terjadi, seorang pria dewasa dalam keadaan mabuk, pasti ia menginginkan hal yang demikian." ucap Mila mengada-ada.
Gian langsung menyala apa yang di katakan oleh Mila, "Bohong dia bohong, Aku tidak pernah melakukannya. Aku tau persis tidak melakukan hal itu, mekipun aku sedang mabuk berat."
Setiap Gian menyangkal, Mila semakin merasa tertantang dan ingin bermain-main dengannya.
Ia malah tertawa geli mendengar sangkalan dari Gian. "Silahkan, Tuan, anda menyangkalnya, tapi aku punya bukti yang tidak bisa anda sangkal lagi sampai keluar air mata darah sekalipun."
Mila yang awalnya memiliki rasa ragu kini malah semakin berani, dia tidak punya rasa malu maupun rasa takut lagi di hadapan Mama Nirmala, Papa Arga, serta Erwin dan juga Gian.
Mila mengirim kembali foto-foto bersama Gian saat berpose adegan panasnya, seakan Gian sedang mencumbunya.
Wajah Gian terlihat jelas di setiap foto-foto itu, sehingga Gian memang tidak dapat menyangkalnya lagi meskipun ia tidak merasa melakukannya sama sekali.
Dan semua keluarga juga percaya setelah melihat itu.
"Apa perlu bukti lain?" tantang Mila.
"Terlanjur malu dan dihinakan aku perlihatkan sekalian semua kepada kalian" ucap Mila penuh penekanan.
Mila kembali mengirim video, dan di sana terlihat adegan Mila sedang menikmati pisang Gian, Mila juga sengaja merekam ekspresi wajah Gian saat merasakan sensasi geli-geli n i k m a t ketika itu dan terdengar pula d e s a h a n yang keluar dari mulutnya.
Meskipun dalam keadaan tidak sadar Gian bisa merasakannya, dan itu yang membuat Mila cekikikan sendiri malam itu karena merasa lucu dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Malam itu Mila memang sengaja bermain-main dengan Gian memanfaatkan ketidak sadar'an Gian hanya sekedar candaan untuk dirinya saja.
Tapi pada kenyataannya, ternya keisengannya bisa ia manfaatkan untuk menuntut balas atas rasa sakit hati yang Gian berikan kepadanya.
Mama Nirmala dan papa Arga serta Erwin merasa kecewa atas kelakuan Gian. Mereka merasa jijik melihat semua gambar dan video yang Mila kirimkan.
Gian tidak menyangka jika wanita murahan di hadapannya bisa selicik itu.
"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Gian pasrah karena sudah tidak dapat mengelak lagi.
Mila tersenyum mencibir,di hatinya dipenuhi kepuasan, ia merasa menang dalam permainannya sendiri.
"Aku ingin kamu menikahiku," jawab tegas Mila.
"Apa? Itu tidak mungkin, karena aku sudah punya anak dan istri. aku tidak ingin mengkhianati mereka." Gian menolak dan bicara seakan Akira dan anak-anaknya masih ada.
"Tapi anakku juga butuh tanggung jawab mau," tegas Mila.
"Apa maksudmu?" Kali ini Mama Nirmala yang bertanya meminta jawaban yang lebih detail.
"Kalian pikir aku kemari meminta tanggung jawab karena apa, ya, karena aku hamil dan tidak sanggup menanggung beban seorang diri, kalau saja aku tidak hamil aku tidak akan melakukan hal ini semua, Aku juga merasa malu." Mila bicara sambil menangis membuat Mama Nirmala merasa iba melihatnya.
"Apa jadi, Kamu, hamil?" gumam Gian tidak percaya.
"Iya." Jawab Mila dengan tegas sambil . menganggukkan kepalanya.
Seperti biasa Gian tetap menyangkal meskipun Mila telah memperlihatkan bukti testpack yang bergaris dua, yang Dokter berikan tempo hari saat ia dan Jimi melakukan testpack pertama kali.
Keluarga memang kecewa dengan apa yang telah Gian lakukan kepada Mila tapi Nasi sudah menjadi bubur, Gian memang harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya, menurut tuduhan Mila dan semua bukti yang telah diperlihatkan, Gian memang terlihat melakukan hal itu.
Padahal sesungguhnya tombak tumpul Gian tidak pernah menancap di lembah basah Mila.
Kedua orang tuanya meminta Gian untuk bertanggung jawab agar Gian segera menikahi Mila.
Sedang Erwin, hanya jadi pendengar di sana, ia tidak berani untuk berkomentar apapun karena Gian selalu sensitif jika Erwin berbicara.
Mila masih di sana untuk menunggu keputusan dari Gian. Mama Nirmala dan Papa Arga masih membujuknya agar ia mau menikahi Mila.
"Baik aku akan menikahnya tapi dia bawah tangga." Akhirnya Gian bersedia untuk menikahi Mila tapi dengan syarat, ia menikahinya hanya untuk status bayi di perut Mila.
"Bagaimana, Mila?" tanya Mama Nirmala.
Mila tidak segera menjawab ia tetap diam. Ia berpikir, daripada tidak sama sekali akhirnya Mila pun menyetujuinya. Asal bayi dalam kandungannya mendapatkan status memiliki ayah.
"Oke, baiklah aku setuju, tapi kapan pernikahan itu akan lakukan." Jawab Mila, sambil mengulum senyum.
"Aku menikahimu hanya karena bayi itu, tidak ingin menjadikanmu istri sesungguhnya, maka kamu tidak punya kewenangan atas diriku, kita tidak perlu tinggal bersama, dan kamu jangan pernah menuntut apapun atas diriku, kapanpun istri dan anak-anakku kembali merekalah keluargaku." Gian menegaskan tujuan pernikahan mereka.
Mila sedikit keberatan, "Lalu siapa yang akan menafkahi kami.(Mila dan anaknya)?" tanya Mila khawatir Gian tidak akan menafkahinya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku akan memberikan tunjangan untuk kalian, anggap saja aku bersedekah kepada kalian, semoga pahalanya mengalir kepada anak dan istriku." Karena keyakinan Gian sangat kuat, ia yakin bayi yang di kandang oleh Mila bukan anaknya.