
Seseorang yang punya trauma di masa lalu itu tulusnya bukan main, tapi penyakitnya cuma satu, "tapi dia akan susah percaya sesungguhnya ia disayangi atau hanya dimanfaatkan.
Intinya untuk seseorang yang pernah punya trauma di masa lalu, hanya perlu terus menerus untuk di yakin kembali.
Seperti yang diinginkan oleh Akira, ia tidak butuh kata atau janji, ia hanya perlu waktu untuk di yakin, dengan sikap dan tindakan baik yang Gian tunjukkan kepadanya.
Mungkin seiring waktu dengan keyakinan yang Gian berikan, Akira bisa berubah pikiran. Dan dapat membuka hati atau kesempatan untuk Gian.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hari ini adalah di mana hari keberangkatan libur Sisil, Akira dan juga Gian ke luar negeri yaitu, ke negeri Jepang.
Jepang
Dikenal dengan sebutan negeri matahari terbit, Jepang menjadi bagian dari negara ramah anak untuk traveling. Hal ini tidak lain karena banyaknya spot menarik yang sangat cocok untuk dijadikan sebagai referensi wisata bersama buah hati. Selama di Jepang, Anda bisa berkunjung ke beberapa destinasi terbaik yang diantaranya adalah Tokyo Disneyland, aquarium raksasa Okinawa hingga Studio Ghibli Museum.
Sisil begitu senang dan penuh semangat menyambut hari ini, semua persiapannya sudah rampung di kemas.
Meskipun hanya tiga orang yang disponsori oleh pihak sekolah Sisil, tapi babysitter sisil ikut serta bersama mereka atas keinginan mama Nirmala dan papa Arga untuk mencegah kemungkinan yang akan terjadi.
Karena orang tua Gian ingin Akira dan Gian sekalian bulan madu di sana, untuk itu mereka tidak ingin Sisil mengganggu kebersamaan mereka.
Oleh sebab itu mereka yang mendanai babysitter Sisil untuk ikut bersama mereka untuk agar lebih fokus menjaga Sisil.
Saat ini Akira masih bersiap di kamar Gian, sedangkan Gian pun baru selesai mandi.
Gian keluar dari kamar mandi, dengan telanjang dada, mengekspos bagian dada perut dan punggungnya yang putih bersih tidak ada noda sedikitpun.
Akira yang duduk meja rias nya sedang memakai make up nya, berbalik ke arah Gian dan sedikit terperangah melihat Gian, seperti itu tubuh Gian terlihat begitu menggoda atletis dan seksi.
Tapi saat Akira menyadari sikapnya sendiri ia langsung mengontrol diri dengan bersikap biasa-biasa saja.
'Heran kenapa sih, mataku jelalatan banget kalau lihat dia gak pake baju kaya gitu, padahal kan aku~ Ah sudahlah lupakan saja.' Akira bicara dalam hati sambil melamun.
Tanpa ia sadari Gian sudah berada tepat di belakangnya.
Dengan tubuh yang sedikit basah wangi sabun, rambut acak-acakan dan masih meneteskan air sisa keramasnya dan wangi shampo bermerek yang khas wanginya.
__ADS_1
Gian memeluk tubuh Akira yang sedang melamun, membuat Akira terperanjat karena terkejut.
"Eeh apa-apaan ini!" seru Akira, sambil berusaha melepaskan dirinya.
"Tenang sayang… aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin memelukmu." Gian menenangkan Akira.
"Untuk apa?" ketus Akira yang masih selalu menjaga jarak dengan Gian, karena belum bisa percaya kepada Gian, meskipun giay sudah berusaha selalu bersikap baik kepadanya, dan selalu mengucapkan kata maaf.
"Ya, tidak untuk apa-apa, entah mengapa aku rasanya kangen banget sama kamu." ucap Gian lirih.
"Setiap hari kita bertemu dan bersama, tapi rasanya jarak kita sangat jauh, hanya sekedar ingin menggenggam tangan saja rasanya sulit sekali." Lanjut Gian mengutarakan isi hatinya.
Dan itu membuat Akira lemah dan menyadari bahwa sikap nya selama ini terlalu tertutup dan ia terlalu menjaga jarak, tidak memberi kesempatan untuk Gian dekat dengan nya.
Meskipun Mama Nirmala dan papa Arga sering sekali membuat momen untuk mereka berdua agar lebih akrab.
Tapi Akira sendiri membuat dinding pembatas untuk dekat dengan Gian.
Meskipun tidur satu kamar dan satu tempat tidur, tetap saja ada jarak di antara mereka.
Gian sendiri tidak bisa memaksakan kehendaknya karena ia sudah berjanji tidak akan menyakiti Akira lagi dan ingin membuat nya percaya kepada Gian.
Tapi ketika itu Akira hanya diam, sampai Gian membalikan tubuh Akira agar menghadap ke arah nya, sehingga kini mereka saling berhadapan, dan saling menatap satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat.
"Tolong beri aku kesempatan sekali saja, untuk memperbaiki semuanya." ucap Gian.
Entah perasaan apa yang dirasakan oleh Akira, ia seperti terhipnotis oleh pesona Gani saat itu, sehingga ia hanya bisa diam dan tanpa ia sadari ia menganggukkan kepalanya.
Membuat Gian senang mendapat respon baik dari Akira, Gian tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi ke wajah Akira.
Dan sama sekali tidak ada penolakan dari Akira seperti sebelumnya, seperti yang selalu Akira lakukan menghindari hal seperti itu. Gian mulai mengecup kening Akira, Akira sendiri malah memejamkan matanya seakan menikmati sentuhan bibir Gian yang menempel di keningnya.
Karena tidak ada penolakan dan bahkan Akira menikmati hal itu, Gian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Ia melanjutkan aksinya dengan mencium kedua pipi Akira, dan Akira masih tidak menolaknya.
Kemudian Gian mulai beralih mengecup bibir merah Akira yang terlihat manis dan segar, karena Akira sudah memolesnya dengan lip tint.
__ADS_1
Satu kecupan dua kecupan, masih sama tidak ada penolakan, Gian makin penasaran dan ketagihan, sehingga ia memperkuat kecupannya dan dengan durasi yang lumayan lama.
Gian makin liar, merasakan sensasi yang membuatnya makin bergairah, bibir Akira terasa manis dan kenyal sehingga Gian betah berlama-lama bermain bibir di sana.
Saat saat keduanya hanyut dalam sensasi yang sulit diungkapkan, tengelam dalam gairah dan kenikmatan, sampai melupakan segala rasa yang membentengi hubungan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, BRAK…
"Om… Anteu… ayo buruan!" seru Sisil mengejutkan Akira dan Gian.
Gian langsung melepaskan tautan bibirnya, begitu juga dengan Akira ia langsung mendorong Gian menjauh dari dirinya.
Suasana begitu canggung, rasa kaget malu, serta rasa penasaran yang belum terselesaikan, campur aduk dirasakan keduanya terutama Gian.
Mereka juga takut Sisil melihat perbuatan mereka.
Sisil menatap keduanya yang terlihat canggung, "Anteu, om kalian kenapa?" tanya Sisil merasa heran melihat tingkah keduanya.
Dengan gugupnya Akira menghampiri Sisil, "Kenapa sayang… ada apa? Kok masuk gak ketuk pintu dulu?" kemudian Akira balik bertanya.
"Ayo anteu cepetan, kita kata nenek dan kakek kita bisa terlambat." Sisil mengingatkan Akira dan Gian.
"Kok om belum pake baju sih!" Protes Sisil.
"Iya ini om mau pake baju, masalah gampang itu mah sil..!" jawab Gian sambil mengambil bajunya dari lemari dan langsung memakainya.
"Anteu sudah siap kan?" tanya Sisil lagi memastikan.
"Iya udah sayang." jawab Akira.
"Ayo kita keluar anteu"Â
"Iya ayok…!"
Dengan canggungnya Akira menatap ke arah Gian yang sedang sibuk bersikap.
Gian membalas tatapan Akira, lalu menganggukkan kepalanya memberi isyarat, mengiyakan Akira untuk keluar terlebih dahulu.
__ADS_1
Â