
Ayah langsung berdiri menghalangi pergerakan Shafira, Gian langsung merangkul Akira dan melindunginya.
Lucky juga ikut memegangi Shafira, lalu Ayah Ayus memintanya untuk membawa Shafira ke kamarnya.
…
Ayah Ayus juga menyuruh Gian untuk membawa Akira ke kamarnya agar beristirahat.
Sementara Ayah Ayus akan menemui ketua RT, untuk membicarakan pernikahan Shafira yang rencananya ingin Ayah Ayus gelar Soren atau malam nanti, sebab lebih cepat lebih baik pikir Ayah Ayus.
Setelah di kamar Akira duduk di tepi ranjangnya. Gian berdiri di depannya memandang wajah sang istri dengan lekat.
Akira yang merasa dipandang sampai sedemikian rupa, merasa bingung dan bertanya kepada suaminya, "Ada apa, apa menurutmu juga aku bersalah?"
Pertanyaan Akira membuat Gian tersadar bahwa dirinya sudah membuat istrinya salah paham.
Gian tersenyum dan bersimpuh di pangkuan Akira.
Membuat Akira makin bingung, dengan tingkah suaminya.
"Justru aku sangat bangga kepadamu, aku jadi semakin mengagumimu, aku merasa menyesal dulu telah berlaku buruk kepadamu."
"Padahal sesungguhnya aku lelaki beruntung bisa memiliki wanita sepertimu, pantas Riza sangat terpuruk kehilanganmu, aku jadi merasa bersalah kepadanya, tapi aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu kembali kepadanya, biarkan saja aku di anggap Egois, tapi memang pada kenyataannya aku tidak bisa kehilanganmu, aku mencintaimu …" sambil bersimpuh menatap wajah Akira, yang memerah karena salah tingkah di buatnya.
Akira berusaha membuang pandangan, untuk menghilangkan rasa gugupnya di tatap sedemikian rupa oleh suami tampannya.
Membuat perasaannya tidak karuan, karena Akira bingung harus bersikap seperti apa.
Jika ia bersikap kesenangan, ia takut di sangka GR (gede rasa) padahal suaminya hanya sedang menggombal saja, pikir Akira.
Yang jelas Akira benar-benar merasa malu ketika Gian bersikap seperti itu.
Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan suaminya begitu saja, Akira tetap harus memberi respon baik kepadanya.
Kemudian meskipun malu, dengan wajah yang semakin memerah Akira berusaha membalas tatapan suaminya, dengan senyum simpul di bibirnya.
"Aku juga mencintaimu, bisakah kamu tidak menginginkan tentang, Riza, karena itu hanya membuat moodku buruk." Akira membalas suaminya.
Tapi ia juga protes, karena sampai saat ini, perasaan Akira masih sangat sakit jika mengingat tentang Riza, Akira masih merasa sangat bersalah kepadanya.
Karena meskipun terpaksa Akira telah meninggalkannya begitu saja, Akira menolak memperjuangkan cinta bersamanya.
Tapi untungnya Akira melakukan hal itu, jika tidak Riza akan semakin terluka, karena tanpa di duga di perut Akira telah hadir benih kejantanan Gian.
Meskipun pada akhirnya Riza akan tetap menerimanya, tapi itu akan membuat Akira makin merasa bersalah.
Gian mengerti dengan maksud Akira yang tidak ingin membahas tentang Riza, Gian tau apa yang di rasakan Akira, ia juga pasti terluka jika teringat kisah cintanya dengan Riza.
"Oke … maafkan aku, sayang."
"Maaf atas semua yang telah aku lakukan kepadamu … dan izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku dengan tetap besamaku dan aku akan membahagiakanmu."
Akira tersenyum lebar lalu mengangguk, "Aku juga ingin bahagia bersamamu, tapi jangan selalu mengingat masalalau yang menyakitkan, karena bukannya ingin memaafkan, malah lukaku akan kembali terkuak dan tentu akan kembali sakit."
"Oke, aku berjanji tidak akan mengungkitnya lagi, kita sama-sama berjanji lupakan semuanya." Gian mengajukan kesepakatan.
Akira menganggukkan kepalanya sambil terus tersenyum.
Membuat Gian semakin gemes kepada istrinya cantiknya.
Gian merangkul pinggang Akira yang sudah nampak mulai melebar karena kehamilannya makin membesar.
Gian membenamkan wajahnya di pangkuan istrinya, Akira membalasnya dengan mengelus punggung suaminya dan menautkan kepalanya di atas sana.
Keduanya sama-sama terbawa suasana, dengan perasaan haru.
Kejadian terbongkarnya penghianatan Shafira, sungguh membuka mata Gian lebar-lebar.
Sehingga ia sadar betul Akira wanita terbaik untuknya.
Perasaan cinta yang tadinya tidak ada, seiring waktu tumbuh dan makin berbunga.
Akira pun merasakan hal yang sama, entah mengapa Akira bisa dengan mudah mencintai Gian begitu saja, dan perasaan cintanya kepada Riza kini hanya menyisakan rasa bersalah saja.
__ADS_1
"Sayang!" Seru Gian sambil bangkit.
"Hhhmmm …." Sahut Akira.
"Sebaiknya kamu istirahat, kamu pasti lelah kejadian tadi lumayan menguras emosimu."
Akira malah menggelengkan kepalanya.
Gian mengerutkan keningnya merasa aneh, tidak bisanya Akira seperti itu, biasanya Akira menurut jika di suruh istirahat.
"Loh, kok! Geleng kepala?" gumam Gian.
Akira memasang wajah cemberut sambil memanyunkan bibirnya.
"Loh, kok begitu!" Gian makin tidak mengerti."
"Iis, kamu gak peka deh!"
Gian berpikir keras untuk menebak apa yang akira mau, dan malah terbersit pikiran mesin di otaknya.
"Ooo … kamu pengen anu ya?" Gian malah mengutarakannya mengarah ke adegan ranjang.
Membuat Akira makin kesal, "Apaan sih kamu, tengah hari bolong malah mikir begituan." Protes Akira dengan nada menggerutu.
Gian malah makin jail untuk menggodanya, "Eeh, terus kamu pengen apa kalau bukan pengen anu? Hayoo ngaku aja deh jangan malu-malu … aku siapa kok melayanimu sampai puas." ucap Gian sambil terkekeh.
"He … he … he …." Gian cengengesan tergoda sendiri.
"Iih, itu mah pengennya kamu aja kali …." Akira menyauti.
"Ayo sini … sini …." Gian malah antusias dengan gerakannya menarik Akira ke tengah ranjang.
Jelas Akira makin kesal karena Gian memang tidak peka dengan apa yang diinginkan olehnya.
"Aaaah ~" Akira melepaskan diri lalu bangun dari tempat tidur.
Gian hanya bisa cengo, dia yang sudah semangat berpikir istrinya menginginkan hal yang ia pikirkan, tapi dari reaksinya malah sebaliknya.
"Loh kok!" gumam Gian, dengan ekspresi wajah bengongnya, melihat reaksi istrinya.
Melihat ekspresi wajah istrinya Gian langsung panik, "Kenapa ada yang sakit … apa yang sakit, kenapa tidak bilang?" Gian mencecar pertanyaan sambil bangun dan menghampiri istrinya.
"Aku tidak sakit." jawab Akira dengan nada kesalnya.
"Lah, lalu kenapa?" Gian makin bingung di buatnya.
"Aku lapar." ucap Akira dengan nada suara lemas.
"Yaaa, lapar rupanya!" akhirnya Gian tau apa yang membuat Akira seperti itu.
"Ayo, kita cari makan di luar!" ajak Gian kemudian.
"Tiap kita ajak Sisil ya." Akira merindukan Sisil.
"Hhhmm ... bilang aja kalau kamu pengen ketemu Sisil." Gian pikir Akira cuma modus, padahal tujuannya memang ingin bertemu dengan Sisil.
"Aku pengen makan, chicken bareng Sisil."
"Padahal makanan rumah lebih sehat untukmu dan bayi kita." Gian keberadaan Akira ingin makan, makan instan.
"Tapi gak papalah sekali-kali, iya dong." Akira mencari alasan.
"Iya, tapi cuma kali ini aja ya, gak boleh keseringan." Gian mengingatkan
"Iya, dari pada anakmu ileran kalau gak di turutin." ancam Akira.
"Ya, sudah hubungi babysitter Sisil dulu kita ketemuan di tempat makan aja biar gak lama kalau harus jemput Sisil dulu." Gian berinisiatif seperti itu.
Akira mengangguk cepat menyetujui saran suaminya, Gian sungguh senang melihat ekspresi wajah Akira yang sumringah seperti itu.
Keduanya bergegas bersikap lalu pamit kepada kedua orangtuanya.
Tapi sebelum itu, Ayah Ayus memberitahu mereka bahwa pernikahan Shafira akan dilakukan selepas isya.
__ADS_1
Ayah dan Ibu berharap mereka berkenalan hadir di acara nanti.
"Iya Ayah, insyaallah kami akan hadir, kami juga akan mengundang keluarga kak Gian untuk hadir di acara nanti, kami pamit untuk menjemput Sisil." Akira memberitahu Ayahnya.
…
Ditempat makan, yang bermenu beragam chicken, Akira dan Gian menunggu kedatangan sisil di sana, setelah lama menunggu akhirnya Sisil datang.
Tapi tidak hanya berdua dengan babysitternya melainkan bersama Papinya juga ~ Erwin.
"Ngapain si Erwin, ikut-ikutan segala." Ketus Gian ketika melihat Erwin dari kejauhan.
Akira hanya mendelikkan mata ke arah suaminya yang tidak suka dengan kehadiran kakaknya di sana.
"Hay, anteu … aku kangen sama, anteu!" ucap Sisil manja, dan langsung merentangkan kedua tangannya, menghamburkan pelukan.
Akira langsung menyambut kedatangan Sisil dan membalas perlakuannya.
"Anteu juga kangen banget sama, sisil." Sahut Akira lalu menciumi pipi Sisil.
"Hay, mbak Rima …." Akira juga menyapa bebysitter Sisil.
Rima membalas dengan tersenyum dan menundukkan kepalanya, tanda menghormati Akira dan juga Gian.
Tidak ketinggalan Akira pun menyapa Erwin, "Mas …"
"Iya …." Sahut Erwin.
"Kamu ikut juga, Win?" Gian basa-basi.
"Iya, karena mereka tidak ada yang antar, kebetulan pekerjaanku sedang santai, jadi bisa antar mereka."
Kemudian Akira dan Sisil serta babysitternya sibuk bertiga bercerita, memesan makanan.
Sementara itu Gian dan Erwin juga sibuk berdua, Gian menceritakan kejadian tentang Shafira, dan rencana pernikahannya nanti malam.
Erwin begitu syok mendengar berita tersebut.
Bukan karena berita tentang Shafira yang membuat Erwin syok, melainkan tidak ada harapan lagi bagi dirinya untuk bisa mendapatkan Akira.
Secara tidak sadar Erwin malah menatap Akira dengan tatapan putus asa.
Gian menyadari bahwa Erwin tidak fokus dengan dirinya yang mengajaknya bicara, karena Erwin terus saja menatap Akira yang sedang sibuk bersama Sisil dan babysitternya.
"Hey, Win! Kamu dengar aku tidak?" Gian menegur Erwin karena ia hanya diam saja, sedari tadi meskipun Gian sudah berkali-kali menyebut atau memanggil namanya.
"Eeh, iya kenapa, Yan" Erwin baru tersadar.
Erwin terlihat gugup dan salah tingkah, membuat Gian yakin dengan kecurigaannya, bahwa Erwin memang menyukai istrinya.
"Win, jangan sampai aku berpikir yang tidak-tidak tentangmu." Gian bicara penuh arti.
Erwin langsung mengerti dengan maksud Gian, sehingga ia makin salah tingkah.
"I-iya, tidaklah, Aku hanya sedang berpikir tentang Shafira, untung kamu tidak menikah dengannya, ternyata Tuhan sedang menunjukkan kuasanya kepadamu." Erwin malah mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan hal itu.
Ya, Gian memang termasuk orang yang beruntung tidak sampai menikahi Shafira dan malah menikahi Akira, yang awalnya terlihat biasa saja tidak punya kelebihan apapun di lihat dari fisiknya, berbeda dengan Shafira terlihat lebih menggoda dari segi penampilan maupun dari postur tubuhnya.
Tapi nyatanya Akira lebih unggul segalanya dibandingkan dengan Shafira, itulah mengapa janganlah menilai orang dari segi fisiknya saja, yang terlihat menarik di luar belum tentu itu dalamnya yang terbaik.
Dan ketika musibah datang, rencana tidak sesuai harapan, jika kecewa itu hal yang wajar, tapi ingat di balik itu semua Tuhan punya jawaban yang tentunya terbaik untukmu.
Seperti Gian, dia begitu kecewa, sakit hati dan marah besar, sehingga Akira jadi korban pelampiasan segala rasa yang ia rasakan, terutama korban hawa nafsunya.
Setelah terbukti, terkuak jawabnya barulah ia bersyukur berterima kasih.
Untung Akira orang yang berhati baik, mau memaafkannya dan menerimanya dengan tulus.
....
Di bab berikutnya ada pernikahan Shafira yang akan menguras emosi kita semua ...
hal apakah itu?
__ADS_1
Simak di cerita selanjutnya ....!