
"Jadi begini, pak, Bu, maksud kedatangan kami kemari kami ingin memanggil kembali Rima untuk kembali bekerja pada kami sebagai babysitter putri saya." Kali ini Erwin yang berbicara mulai menjelaskan apa tujuan kedatangannya.
…
"Tapi maaf sebelumnya apa boleh kami bertemu dengan Rima, pak, Bu, " belum juga Bapak dan Ibu Rima bereaksi ketika mendengar ucapan Erwin.
Gian sudah menyelanya terlebih dahulu, dan ingin memastikan untuk bertemu dulu dengan Rima, apa benar Rima yang mereka maksud sama dengan Rima putri Bapak dan Ibu yang berada di hadapan mereka saat ini.
Tapi Erwin punya keyakinan bahwa Rima putri mereka memang Rima yang mereka maksud, karena apa yang telah diceritakan oleh pak Salim, sama persis seperti cerita Rima tentang perjodohannya sebelum Rima keluar dari rumah mereka.
Ibu dan ayah Rima menyetujui permintaan Gian untuk memanggilkan Rima.
"Panggilan Rima kemari Bu!" Bapak Rima memerintahkan istrinya untuk memanggil putri mereka.
Sementara Rima sedang melakukan ritual sebelum acara akad nikah dimulai, ia sedang sibuk di rias oleh tim MUA, yang sengaja datang sebelum subuh untuk merias pengantin - Rima.
Rima hanya bisa pasrah ketika wajahnya dihias sedemikian rupa.
Karena ia sudah bertekad untuk melupakan perasaan cintanya kepada Erwin dan menjalankan pernikahan dengan pria pilihan orang tuanya.
Sesuai perintah suaminya, Bu Mimin memanggil putrinya ia mengetuk pintu kamarnya.
Tok … tok … tok…, suara pintu di ketuk.
"Siapa?" Orang yang dari tim MUA yang menjawab.
"Ini ibu …!" sahut Bu Mimin.
"Masuk, Bu." masih orang dari tim MUA yang mempersilahkan bu Mimin untuk masuk.
Sedangkan Rima tetap diam, tapi sebenarnya pikiran dan hatinya sedang bertarung.
Bagaimana tidak bertarung, hatinya berkata untuk memperjuangkan cintanya kepada Erwin dan berjuang untuk itu.
Sedangkan pikirannya mengatakan tidak, ia harus memikirkan kedua orang tuanya, yang akan menanggung malu jika pernikahan ini gagal.
Dan ketika ibu masuk, ia hanya menyaksikan putrinya diam seribu bahasa.
Tapi wajahnya sudah hampir sembilan puluh persen selesai di rias. Ia sudah nampak sangat cantik dengan riasannya.
Hanya saja Rima belum mengenakan kebaya pengantinnya.
Ia masih mengenakan baju tidurnya.
Ya, masih terlihat aneh sih karena belum sempurna layaknya pengantin.
"Rima …!" seru Bu Mimin.
Rima tidak menjawab ia hanya melirik sekilas dan melihat ibunya dari sudut matanya.
"Ada apa Bu?" tanya perias, yang lebih kepo dengan kedatangan sang ibu.
"Rima …!" sentak ibu Mimin, karena tidak mendapat respon dari putrinya.
"Iya Bu, ada apa sih." Kemudian sahut Rima.
"Itu, di luar ada orang yang mencarimu." Ibu Mimin memberi tau putrinya.
Tapi reaksi Rima tetap datar, seakan tidak peduli dengan hal apapun.
"Ya, Bu suruh tunggu aja dulu, kan ibu lihat sendiri aku belum selesai di rias atau di makeup." jawaban Rima masih sangat santai, karena ia pikir yang datang memang calon suaminya, atau teman-temannya datang untuk mengejek dirinya yang baru mau menikah di usianya yang sekarang.
Dengan pemuda yang usianya juga sudah menginjak kepala empat.
Sehingga Rima merasa malas sekali ketika ibunya memberi tau ada tamu yang mencarinya.
Tapi ibunya begitu antusias memberi kabar itu.
__ADS_1
"Rima … ayo temui dulu mereka, karena mereka ingin bertemu denganmu!"
"Ibu … aku kan belum sesuai, ini masih lama, biarkan saja mereka menunggu!" jawab Rima engga menemui tamunya.
"Tapi ini penting Rima, mereka ingin bicara denganmu." Lanjut ibunya.
"Paling mereka mau mengejekku, Bu." Rima menduga-duga.
Ibu Mimin tertegun ia mulai menyadari jika anaknya telah salah sangka.
"Rima, memang kamu tau siapa yang datang?" tanya Ibu Mimin memastikan.
"Tidak …." jawab singkat Rima.
"Dasar b o d o h …. belum tau siapa yang datang sudah bereaksi seperti itu." umpat ibu Mimin kesal kepada putranya.
"Memang siapa yang datang, Bu?" Rima baru merasa penasaran.
"Lihat saja sana!" Ketus sang ibu karena merasa kesal kepada putranya atas responnya sedari tadi .
Ya, otomatis Rima merasa penasaran dan ingin melihatnya, siapa sebenarnya tamu yang di maksud oleh ibunya.
Kemudian Rima meminta agar perias untuk mengehentikan dulu pekerjaannya, karena Rima ingin mengekori Ibunya dan melihat siapa orang yang dimaksud oleh ibunya itu.
Saat tiba di ruang tamu, Rima merasa syok melihat tamu nya, ternyata sang pujaan hati, ya itu Tuan Erwin majikannya sendiri.
"Ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi, ini nyatakan. Dia beneran Tuan Erwin?" gumam Rima dalam hatinya.
Jantungnya berdebar kencang seakan ingin copot dari tempatnya.
Ia sampai mematung dengan ekspresi wajah syok, matanya membulat sempurna, dengan mulut yang menganga.
Saking syoknya Rima hampir tidak sadarkan diri karena jantungnya seakan berhenti berdetak dan ia merasa kehabisan nafas di sepersekian detik.
Sebab Rima sungguh tidak menyangka dengan kedatangan mereka di rumahnya sepagi itu pula.
"Rima … Hay Rima, kamu tidak apa-apa kan." Ibunya sampai harus menegurnya.
Barulah Rima tersadar, tapi seketika itu ia merasa kehausan, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
Ia sampai ngos-ngosan mengatur nafasnya dan sampai kesulitan menelan salivanya.
Ibu sampai memapahnya untuk mendekati para tamu dan ikut duduk dengan mereka.
Setelah duduk wajah Rima terlihat tegang, ia sampai bercucuran keringat, padahal masih pagi, udara masih sangat sejuk ketika itu.
Ibu mengambil air minum dan menyerahkannya kepada Rima.
Tanpa basa-basi lagi Rima segera meneguk air itu, dan seketika segelas air itu habis dalam satu tegukan.
Semua merasa kegerahan melihat sikap aneh Rima.
Sesungguhnya Rima sedang merasakan suasana perasaan, antara tidak percaya dengan kehadiran mereka, bahagia karena Erwin datang untuknya.
Ia juga takut mengecewakan kedua orang tuanya, tapi Rima sendiri juga takut merasa kecewa dan merasakan sakit hati lebih dari pada yang telah ia rasakan sebelumnya.
"Rima kamu baik-baik saja?" tanya Erwin yang keheranan melihat sikap Rima.
Rima mengangguk, "Iya, saya baik." kemudian ucap Rima.
Lalu Erwin kembali mengulang kata-katanya yang sempat diucapkan sebelumnya.
"Jadi begini, pak, Bu, maksud kedatangan kami kemari, kami ingin memanggil kembali Rima untuk kembali bekerja pada kami sebagai babysitter putri saya." Kali ini Erwin yang berbicara mulai menjelaskan apa tujuan kedatangannya.
Suasana hening, mungkin jika bisa di dengar hanya detak jantung Rima yang terdengar.
Deg … deg … deg … yang berdetak sangat kencang, ternyata Rima memang harus merasa kecewa, karena kedatangan Erwin ke sana tidak seperti yang Rima pikirkan.
__ADS_1
Sebelumnya Rima berpikir Erwin akan menghentikan pernikahannya, dan memintanya untuk menjadi miliki Erwin.
Tapi nyatanya Erwin ke sana hanya untuk meminta dirinya tetep menjadi babysitter untuk Sisil, bukan untuk menjadi ibu Sisil.
Gurat kesedihan, kekecewaan terlihat jelas di wajah Rima, meskipun wajahnya sudah dipoles make up pengantin.
Rima memang tidak banyak berkat sedari ia datang ke rumahnya, jadi ibu dan bapaknya tidak tau apa yang terjadi dengan putrinya.
Yang mereka tau hanyalah, bahwa Rima bersedia untuk dinikahkan dengan pilihan mereka tanpa mereka tau apa alasannya tiba-tiba Rima setuju dengan pernikahan itu padahal sebelumnya ia menolak mati-matian perjodohan itu.
Bapak dan Ibu Rima hanya saling memandang lalu mereka melihat ke arah putri mereka secara bersamaan.
Mereka bingung harus menjawab apa dan bagaimana, sedangkan kesepakatan pernikahan telah disepakati oleh kedua belah pihak, tidak semudah itu mereka membatalkannya.
"Maaf Tuan-Tuan, pernikahan akan segera dilaksanakan tinggal menunggu beberapa waktu lagi, jika dibatalkan, kami akan menanggung kerugian tidak hanya rugi material tapi kamu juga akan mengalami kerugian moril." tegas Bapak Rima.
"Maaf Tuan, bukannya sudah saya katakan sedari awal bahwa ini sudah menjadi keputusan saya, mohon mengerti dan tolong hargai." Rima menegaskan kembali dengan nada suara lirih.
"Rima, tolong mengerti juga kondisi sisil saat ini sedang kritis dia hanya butuh dirimu di sisinya." Erwin juga menegaskan kondisi putrinya saat ini.
"Baiklah Tuan, biarkan dulu pernikahan ini berjalan lancar sebagaimana mestinya, nanti baru saya akan menemu Sisil setelahnya." Rima mencoba mengambil jalan tengah.
"Kamu akan kembali bekerja kan?" Erwin penuh harapan dan memastikannya.
"Maaf Tuan, saya hanya akan menemuinya, setelah menikah saya akan mengabdikan diri kepada suami saya, layaknya seorang istri pada umumnya." tegas Rima.
"Baiklah Rima jika itu keputusanmu, Tapi biarkan kami tetap disini dan menyaksikan pernikahanmu." Gian yang berucap.
Sedangkan Erwin tidak lagi berkata, ia sudah sangat kecewa atas pendirian Rima, tapi ia tidak bisa menyalakan Rima sepenuhnya.
Rima gadis normal, ia perlu menikah kayanya wanita pada umumnya, jika terus-menerus di tuntut untuk tetap bekerja ia akan benar-benar jadi perawan tua.
"Ya, silahkan." Kemudian Rima kembali ke kamarnya dan kembali di makeup sampai selesai sempurna.
Sesuai rencana acara ijab qobul akan dilakukan di kantor KUA. Dan calon mempelai pria sudah menunggu di sana.
Kini waktunya untuk Rima berangkat ke sana.
Erwin dan Gian juga ikut mengingi Rima ke kantor KUA.
Di perjalanan menuju kantor KUA, yang berjarak lumayan jauh. Di dalam mobil Gian dan Erwin berdiskusi berdua.
"Win, apa kamu ingin menggagalkan pernikahan Rima, dan membuat Rima tetap menjadi pengasuh sisil." tiba-tiba Gian bertanya seperti itu.
"CK …." Erwin berdecak kesal.
"Dasar b o d o h, pertanyaannya pun b o d o h, kamu pikir kita jauh-jauh datang kesini untuk apa, kalau bukan untuk itu." Erwin kesal mendengar pertanyaan Gian.
Tapi Gian tetap santai menanggapi, emosi kakaknya.
"Oke, kalau begitu, aku punya ide untuk itu." Gian memiliki ide untuk menggalakkan pernikahan Rima, dan tetap menjadikan Rima sebagai pengasuh untuk Sisil.
"Ide apa itu, bagaimana caranya." tanya Erwin penasaran.
"Tapi ini perlu pengorbanan darimu." Gian merasa ragu Erwin mau melakukannya.
"Apa pun untuk Sisil akan ku lakukan, mekipun nyawa taruhannya." Erwin meyakinkan Gian.
Gian tersenyum puas mendengar jawaban Erwin.
"Oke jika begitu …"
....
Ide apa yang akan di berikan Gian kepada Erwin untuk menggagalkan pernikahan Rima ?
Simak kisah selanjutnya di bab berikutnya ...
__ADS_1
Terimakasih 🫰🫰🫰