
Shafira memang sudah seperti orang yang depresi, saat ini ia menangis tersedu-sedu memanggil nama gian.
Membuat semua orang bingung, mama nirmala seakan kasihan melihatnya.
Ia mengelus kepala dan rambut shafira, "Nak, kasihan sekali dirimu, tapi gian sungguh sedang sibuk, kalau tidak pasti dia sudah kesini, tolong mengerti ya." ucap mama nirmala, penuh kelembutan untuk menenangkan shafira.
Erwin hanya menatap mama nirmala yang sedang menenangkan shafira.
Akira menjadi serba salah melihat kakak dan mertuanya.
Tidak lama ayah ayus dan ibu yuli datang mereka melihat shafira sedang di tenangkan oleh besannya.
Mereka segera menghampirinya, dan menanyakan apa yang terjadi, mama nirmala menjelaskan bahwa shafira ingin bertemu dengan gian.
Namun mama nirmala juga menjelaskan bahwa gian sedang sibuk. Kedua orang tua shafira pun mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh besannya, mereka pun merasa tidak enak hati kepada putri bungsu mereka yaitu Akira.
Karena shafara tidak pernah menghargainya sebagai istri sah gian, padahal akira juga sedang hamil.
Karena ayah dan ibu akira atau shafira sudah sampai di sana.
Mama nirmala dan erwin pamit dari sana karena mereka juga masih punya urusan yang harus mereka urus.
Tidak lupa mama nirmala mengajak menantunya untuk ikut pergi dari sana, karena mama nirmala merasa akira tidak aman berada di sana.
Sebab shafira tidak pernah menghargainya, mama nirmala bersikap lemah lembut kepada shafira sengaja untuk menjaga akira dari amukan shafira yang di khawatir akan brutal.
Namun akira menolak secara halus untuk pergi dari sana meskipun sang mertua sudah mengajarkannya untuk pergi.
"Mah, biarkan aku di sini dulu aku cuma mau menemani ayah dan ibu, aku berjanji tidak akan dekat-dekat dengan kak fira, karena aku juga tau dia tidak menyukaiku dan malah menganggapku musuhnya." akira sadar betul atas sikap kakaknya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu tetap harus waspada, akira." mama nirmala memperingati akira.
"Iya mah." tegas akira.
Mama nirmala juga menitipkan akira kepada kedua orang tuanya, agar mereka menjaga kesehatan dan keselamatan menantu dan calon cucunya.
Karena mama nirmala sangat mengkhawatirkan akira, sebab sudah tau situasi di sana seperti apa.
Dengan berat hati mama nirmala dan juga erwin pergi dari sana.
…
Setelah sarapan dan minum obat, shafira pun merasakan ngantuk karena pengaruh obat.
Agar tidak mengganggu shafira, akira mengajak kedua orang tuanya berbincang di taman rumah sakit.
Dan kedua orang tuanya menyetujui ajakan akira untuk pergi dari sana agar shafira bisa istirahat dengan tenang.
…
Semenjak menikah dengan gian, akira memang jarang sekali bertemu dengan kedua orang tuanya, sehingga kali ini akira mencurahkan semua kerinduannya kepada kedua orang tuanya.
Bercerita segala hal tentang apa yang dia alami, terutama terkait kehamilannya.
Tapi akira tidak menceritakan tentang perbuatan shafira atau kejelekan shafira, akira tidak ingin menambah beban kedua orang tuanya. Ia memilih untuk mengatasinya sendiri.
Setelah lama berbicara dengan kedua orang tuanya, akira merasa lapar dan ingin membeli sesuatu tapi tasnya tertinggal di ruangan shafira.
Skira pamit kepada kedua orang tuanya untuk mengambil tasnya dahulu.
__ADS_1
Sementara akira mengambil tasnya, sementara itu kedua orang tuanya menunggunya di kantin rumah sakit.
…
Akira berjalan menuju kamar rawat inap shafira yang lumayan cukup jauh dari taman rumah sakit.
Sesampainya di depan pintu kamar ruang rawat inap shafira, akira melihat ada seorang pria yang mengenakan jas dokter, dan akira pikir dia adalah dokter yang ikut menangani kondisi shafira, karena akira baru melihat Dokter itu.
Tapi saat akira akan masuk dan menghampiri mereka, tiba-tiba saja akira melihat gelagat yang mencurigakan.
Sehingga akira mengurungkan niatnya untuk menemui mereka ketika itu.
Akira memilih untuk mengintip dari balik pintu dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Saat itu shafira terlihat sudah bangun dari tidurnya, dan terdengar bercakap dengan lelaki yang berpenampilan seperti seorang Dokter tersebut.
Akira juga cukup jelas mendengar apa saja obrolan mereka berdua.
"Shafira, ternyata kamu sudah ada di tanah air, padahal sebentar lagi jadwalku terbang ke sana (luar negeri) jatahku menemui mu di sana." ucap sang lelaki yang berpenampilan seperti seorang Dokter tersebut.
Ia sambil mendekatkan wajahnya menciumi wajah shafira.
Akira begitu tercengang melihat dan mendengarnya, dalam benaknya banyak sekali pertanyaan tentang lelaki itu, siapa sebenarnya lelaki itu, apa hubungannya dengan kakaknya, mengapa ia berbicara seperti itu.
Pertanyaan-pertanyaan itu ingin sekali akira lontarkan saat itu juga, tapi rasanya shafira memang merahasiakan tentang itu, jadi percuma saja jika akira bertanya pun sepertinya shafira akan berusaha untuk menutupinya.
Sebab terdengar shafira mengusir lelaki itu dari sana, dan gelagat shafira terlihat sangat tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh lelaki itu kepadanya.
"Tolong jangan begini lucky, ini tempat umum, bagaimana jika ada orang yang melihat kita seperti ini? tolong pergilah dari sini." pinta Shafira kepada lucky.
Ya, lelaki itu memang lucky kekasih gelap Shafira yang melarikan Shafira keluar negeri, untuk menyembuhkan hubungan mereka.
Alasan yang ia berikan kepada istrinya mengapa ia harus terbang keluar negeri karena ada urusan pekerjaan di sana, tapi pada kenyataannya dia ke sana hanya untuk menemui shafira, memadu kasih dengannya.
Iya, jika Dokter lucky sedang berkunjung kesana Shafira merasa senang dan bahagia, tapi ketika Dokter lucky kembali ke tanah air, Shafira merasa kesepian dan selalu teringat Gian dan menyesali semua perbuatannya.
Saat ini Shafira terlihat menolak Dokter lucky mencumbunya karena takut Ayah dan Ibunya serta Akira datang saat itu dan memergokinya, bisa terbongkar semuanya.
"Kamu berani menolakku?" Dokter Lucky merasa tersinggung dengan penolakan Shafira.
"Bukan seperti itu, aku pun sama sepertimu, harus menutupi hubungan kita dari keluargaku, mereka akan beranggapan buruk tentangku, jika mereka tau aku memiliki hubungan denganmu, seorang lelaki yang telah berkeluarga, apalagi jika mereka tau aku lari dari pernikahanku dengan Gian karenamu, mereka semua akan membenciku." Shafira menjelaskan apa alasannya.
"Oke, tapi bukan karena kamu ingin kembali kepada Gian, kan kamu jadi menolakku?" Lucky menegaskan jawaban sahafia.
Shafira hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya, sebab ia tidak bisa menjawab apa yang sebenarnya yang ia inginkan.
Shafira sepertinya sangat takut kepada Lucky, karena Shafira telah diperdaya olehnya.
"Baguslah jika begitu, jangan coba main-main denganku, kalau kamu berani melakukan hal itu, kamu akan tanggung akibatnya, aku akan bongkar semuanya, dan sudah pasti kamu akan kehilangan segalanya." Lucky mengancam Shafira.
"Kamu, akan kehilangan kepercayaan diri sahabatmu sendiri yaitu istriku, orang tuamu, seluruh orang terdekatmu bahkan lingkunganmu akan mengucilkanmu menggunjingmu, jika mereka tau yang sebenarnya, tentang hubungan kita." Lucky terus saja menggertak shafira membuat Shafira makin ketakutan.
Shafira memohon kepadanya, "Ku mohon jangan lakukan itu."
"Baiklah asalkan kamu, selalu lakukan apa yang aku mau, sayang." ucap Lucky sambil memeluk shafira lalu mencium keningnya dengan ekspresi wajah menyeringai.
"Bisa kita bahas masalah ini nanti, setelah aku keluar dari rumah sakit, nanti aku akan menemuimu, tapi untuk saat ini ku mohon jangan temui aku dulu." pinta Shafira.
"Baiklah, semoga kamu segera keluar dari sini, karena aku sangat merindukanmu dan rindu bercinta denganmu." ekspresi wajahnya masih menyeringai, membuat bulu kuduk shafira berdiri di buatnya.
__ADS_1
Akira sendiri yang sedari tadi berada di balik pintu menyaksikan itu semua, mengetahui kebenaran tentang kakaknya.
Sungguh merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
Akira begitu syok, matanya membulat dengan mulut menangnga, ketika melihat dan mendengar setiap kebenaran yang ia ketahui.
Ketika itu akira begitu tegang, tiba-tiba ada seseorang dari belakang tubuhnya menepuk pundaknya, dan bertanya, "Nona, apa yang sedang anda lakukan di sini?"
Sehingga Akira terperanjat dan berteriak karena terkejut, "Aaah …."
Sontak suara teriakan Akira membuat shafira dan Lucky curiga, bahwa Akira telah mendengar dan melihat mereka berdua.
Shafira menjadi panik dan mencari cara untuk menyiasati keadaan.
Akhirnya ia kembali berakting penyakitnya kambuh, shafira berteriak sambil memegangi kepalanya.
"Aaaw … sakit sekali Doktor."
Lucky mengerti dan bertindak seakan sedang menanganinya.
"Tenang ya Nona, nanti saya akan panggilkan Dokter Lusi (Dokter yang biasa menanganinya)." Padahal itu hanya alasan agar ia bisa keluar dari sana tanpa harus ditanya oleh Akira. Tentang siapa dirinya.
Ya, Lucky keluar begitu saja melewati Akira yang menatapnya dengan ekspresi wajah bingung.
Sebenarnya Akira ingin mengejarnya tapi teriakkan Shafira mengalihkan perhatiannya.
Dan Shafira memang sengaja melakukan hal itu, agar Akira tidak memperhatikan Lucky.
Suster segera masuk untuk mengecek kondisi Shafira.
Ya, orang yang mengejutkan Akira ternyata adalah suster yang hendak masuk mengecek kondisi Shafira.
Suster segera mengecek tekanan darah Shafira dan memang tensi darahnya naik, detak jantungnya pun tidak beraturan.
Sesungguhnya shafira pun merasa terkejut, ia juga merasa sangat ketakutan atas apa yang telah dilakukan lucky kepadanya.
Sehingga kondisinya memang tidak stabil saat ini, "Suster ini sakit sekali rasanya suster, tolong aku …." ucap Shafira sambil merintih.
Melihat Kakaknya kesakitan Akira sungguh tidak tega melihatnya, tapi Akira tidak berani untuk mendekat, ia hanya melihat dari kejauhan.
Karena Akira tetap harus waspada, apalagi setelah ia tahu semua kebenaran tentang kakaknya, Akira merasa ilfil kepadanya.
Akira juga mengingat pesan-pesan dari mertuanya agar tetap waspada, dan harus jaga jarak dengan shafira.
Akira segera menghubungi Ayah dan Ibunya agar segera kembali ke ruangan Shafira.
Sedangkan suster masih menangani shafira yang masih merintih kesakitan.
"Suster lakukan sesuatu, sepertinya Kakakku sangat kesakitan." ucap Akira setelah selesai menghubungi kedua orang tuanya, Akira sebenarnya sangat mengkhawatirkan kondisi kakaknya.
Suster segera memanggil dokter Lusi untuk menanganinya.
Dokter lusi segera memerintahkan Suster untuk menyuntik obat penenang atau penghilang rasa sakit.
Setelah obat disuntikkan selang beberapa waktu Shafira terlihat lebih tenang, tapi masih dalam kondisi sadar, shafira terus saja menatap Akira dengan tatapan tajam.
Seakan ia ingin mengancam Akira untuk tidak mengatakan apapun yang telah ia ketahui, sebab shafira yakin Akira sudah mengetahui semuanya.
......
__ADS_1
Apakah Akira akan mengatakan kebusukan Shafira kepada semua orang ... ?