
Sesudah melihat putra-putranya, Akira kembali ke kamarnya untuk melihat suaminya apakah sudah siap untuk pergi bekerja.
Tapi ternyata ia masih santai memakai pakaian casualnya, Akira merasa heran ketika melihatnya, "Loh, loh … kok kamu belum siap sih?" tegur Akira.
"Memangnya kamu mau ajak aku ke mana?" Gian malah balik bertanya.
"Kok aku sih, ya, kan kamu yang akan pergi ke kantor untuk bekerja." Akira protes.
"Aku gak ngantor hari ini," terang Gian.
"Kenapa, kamu sakit?" Akira mendekati Gian lalu menempelkan telapak tangannya di kening suaminya untuk mengecek suhu tubuhnya.
Namun Akira merasakan suhu tubuhnya normal, "Normal kok!" gumam Akira.
Gian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera melakukan pergerakan mengunci tubuh Akira dengan merangkul pinggangnya dan mendekapnya.
"Lagian siapa yang bilang kalau aku sakit!" ucap Gian sambil tersenyum genit.
Akira baru menyadari bahwa dirinya sedang kena perangkap Suaminya.
"Eeh kok begini sih!" Akira berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Suaminya.
Tapi jangan harap Gian mau melepaskannya, ia malah semakin erat mendekapnya.
Karena Gian sengaja izin untuk tidak pergi ngantor sebab ingin menghabiskan waktu dengan Akira seharian.
"Aku memang sengaja tidak ngantor karena ingin berbulan madu denganmu!" terang Gian.
"Apa!" pekik Akira.
"Jadi aku benar-benar sedang kena jebakan Betmen!" lanjut Akira.
Gian tidak menjawab ia malah tersenyum jahil.
"Oke, siapa takut!" Akira seakan menyanggupi apa yang Gian inginkan.
Tapi ia ingin lepas terlebih dahulu karena masih banyak urusan yang harus ia tangani,
Akira mengatur siasat agar bisa terlepas dari cengkeraman suaminya.
Dengan bergelayut manja membalas setiap perlakuan suaminya kepadanya, sehingga Gian tidak menaruh rasa curiga sedikitpun kepadanya jika dirinya ingin melepaskan diri.
Akira mendorong Gian ketika Gian lengah, dan akhirnya ia berhasil untuk melepaskan diri, "Nanti ya indehoy nya kita sarapan dulu." ucap Akira sambil berlari keluar.
"Hey, kamu curang ya!" teriak Gian, dan ia mengikutinya dari belakang Akira.
__ADS_1
Dan ternyata Mama Nirmala masih ada di rumah, dan ia melihat Akira dan Gian sedang kerja-kerjaan.
"Eeh, ada apa dengan kalian?" tanya mama Nirmala.
Akira terdiam menghentikan langkahnya, Gian Pun berdiri di di samping Akira setelah ia berhasil menyusulnya.
Akira dan Gian saling menatap karena bingung akan menjawab apa.
Mama Nirmala sendiri merasa semakin bingung melihat pasangan suami istri di hadapannya.
"Kalian kenapa, ada apa?" Mama Nirmala semakin Kepo.
Akira dan Gian hanya cengengesan tidak pertanyaan Mama Nirmala.
"Dasar aneh!" gerutu Mama Nirmala.
Kemudian Akira dan Gian bergegas ke meja makan untuk sarapan.
Namun saat mereka berdua sedang sarapan tiba-tiba datang tamu tidak diundang.
Salah satu ART menghampiri Gian dan Akira yang sedang sarapan, dan memberitahu mereka bahwa ada tamu yang datang mencari mereka berdua.
"Siapa bi?" tanya Akira ingin memastikan.
Jawaban si ART membuat Akira dan Gian penasaran, tapi mereka tetap melanjutkan sarapan mereka.
Dan memerintahkan agar ART membuatkan minuman untuk tamunya dan berpesan agar tamu itu untuk menunggu mereka selesai sarapan.
ART mematuhi setiap perintah tuannya, ia seger berlalu untuk membuatkan minuman lalu menyuguhkannya, dan memberitahu sang tamu untuk sabar menunggu.
Namun ketika itu saat Mama Nirmala hendak pergi ia melintas di ruang tamu dan melihat tamu tersebut.
Mama Nirmala segera menghampirinya, mama Nirmala merasa tidak asing dengan orang itu, ia merasa pernah melihatnya tapi entah di mana.
Tapi Mama Nirmala tetap menghampirinya dan menyapanya sambil mengingat orang itu.
"Selamat pagi!" sapa Mama Nirmala.
"Pagi juga!" tamu menjawab sapaan mama Nirmala.
Kemudian mama Nirmala bertanya apa tujuannya datang ke kediamannya, siapa orang yang ingin tamu itu temui di kediaman Mahendra.
Dengan lantang orang itu menjawab ingin bertemu siapa saja keluarga Mahendra, terutama Giantha Mahendra.
Mama Nirmala melihat keangkuhan dari nada bicaranya, mama Nirmala langsung mengambil kesimpulan bahwa orang itu pasti punya tujuan tidak baik datang kerumahnya.
__ADS_1
"Saya, Nirmala nyonya di rumah ini, jika anda mencari tuan rumah sayalah tuan rumahnya," tegas mama Nirmala memperkenalkan dirinya.
"Oo … jadi anda orangnya!"
"Apa maksud anda?" Mamah mengerutkan keningnya mendengar ucapan orang itu.
"Perkenalkan saya Jimi, ayah dari bayi Mila yang kalian ambil." Tegas Jimi memperkenalkan dirinya.
Mama Nirmala tersenyum sinis, akhirnya ada orang yang mau mengaku sebagai ayah dari bayi itu, padahal selama ini Mila Bersi keras anak itu darah daging Gian, meskipun sudah jelas-jelas tes DNA membuktikan bahwa anak itu bukan anak Gian, saat ini Mila malah memberikan anak itu dengan suka rela kepada keluarga Mahendra.
"Lalu apa tujuan anda datang ke mari?" Kemudian tanya mama Nirmala ingin penjelasan.
"Aku sudah tau bahwa kalian mengambil anakku dan Mila." terang Jimi.
"Oo … iyakan?" Mama Nirmala bicara seakan mencibir.
Jimi merasa tersinggung mendengar nada bicara mama Nirmala, ia memberikan bukti kuat bahwa ia memang ayah dari bayi itu, bukti itu berupa secarik kertas laporan hasil tes DNA dirinya dengan bayi itu.
Dengan demikian ia lebih berhak atas anak itu, mama Nirmala tidak usah meragukannya lagi, agar mereka mempermudah untuk menyerahkan bayi itu kepadanya.
Namun Mama Nirmala juga Bersi kukuh mempertahankan anak itu.
Ia menjelaskan bahwa mereka tidak merebut anak itu, justru Mila sendiri yang menyerahkannya secara sukarela, dan tidak hanya itu, Mereka juga telah membuat surat perjanjian agar siapapun tidak ada yang mengusik tentang anak itu.
Bahkan Mila meminta imbalan untuk karena untuk menandatangani surat perjanjian itu.
Mila mau menandatangani surat perjanjian asal mama Nirmala mau memberikan sejumlah uang dan satu unit mobil kepadanya.
Dengan keamanan keluarganya, Mama Nirmala memberikan apa yang Mila minta, dan tidak ada satupun yang bisa mengusik anak itu, termasuk Jimi.
"Apa!" Jimi sungguh terkejut mendengar tentang imbalan yang Mila minta.
Sebab kepada Jimi Mila tidak bercerita tentang itu, ia malah bercerita bahwa keluarga Mahendra yang telah merebut paksa putranya karena telah menyaka anak itu darah daging Gian.
Maka dari itu Jimi datang membawa bukti bahwa ialah ayah dari bayi itu.
"Sekarang sudah jelas bukan, jadi siapapun tidak ada yang bisa mengusik anak itu, dia sekarang milik keluarga Mahendra." tegas Mama Nirmala, dan secara tidak langsung ia mengusir Jimi dari rumahnya.
Jimi mengerti bahwa dirinya telah di usir dari sana, ia juga sadar betul ia tidak bisa memaksakan dirinya, karena keluarga Mahendra memiliki bukti yang lebih kuat.
Dari surat perjanjian yang Mila sudah tandatangani. Karen Jimi hanya mengakui anak itu sebagai anaknya dengan bukti tes DNA yang ia punya, sedangkan status dirinya dengan Mila tidak menikah atau tidak resmi.
Maka Mila lah yang lebih berkuasa atas putranya, dan pada kenyataannya Mila telah memberikan putranya kepada keluarga Mahendra dan telah menandatangani surat perjanjiannya.
Jimi sungguh kecewa dengan apa yang telah Mila lakukan, tanpa bertanya kepadanya, Mila sama saja menjual putranya dengan meminta sejumlah imbalan.
__ADS_1