Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 7


__ADS_3

Rasa sakit hati yang Giant rasakan begitu besar, sehingga tidak ada rasa iba sama sekali di hatinya ketika melihat Shakira yang terpuruk.


Meskipun ia terlihat menikmati tubuh Shakira sekalipun.


Kini Gian telah siap untuk beraktivitas, ia telah membersihkan diri dan berpakaian rapi, tapi kemudian Gian melempar handuk ke arah Shakira dan jatuh tepat di kepala Shakira.


….


Hay kawan… untuk memudahkan pembaca aku akan ganti penyebutan nama ya! Shafira kita sebut Fira, untuk nama Shakira kita sebut Akira.


semoga suka,,, dan selamat membaca 😊


….


Akira langsung merasakan sesuatu menimpa kepalanya, ia langsung terbangun dan melihat Gian sudah berdiri di hadapannya, sedang menatapnya dengan tatapan tajam sungguh mengerikan, ekspresi wajah yang tidak bersahabat itu.


"Ya tuhan pagi ku sungguh suram…" gumam Akira berbisik, mencoba menggeliat meregangkan otot-otot tubuh nya yang serasa remuk.


Akira meringis, dan merintih kesakitan, "ssst, aaah… sakit sekali." gumamnya.


Gian begitu geram melihat pergerakan Akira dan mendengar gumaman nya.


"Tidak usah drama, dasar pemalas jam segini belum bangun…" ketus Gian.


"Tapi tubuhku sakit semua, kamu sungguh kejam kepada ku… hiks…hiks." Akira kembali menangis mengingat peristiwa semalam.


Gian berjongkok di menghadap Akira ia mencengkram pipi Akira dengan satu tangannya, "Jangan manja! kamu bukan putri raja, ayo bangun dan bersiap, kita akan tinggal di rumah ku, dan Jangan berani macam-macam dengan ku, aku tidak akan segan-segan membuat kedua orang tuamu menderita." 


"Jika ingin mereka selamat, sehat dan bahagia ikut semua perintahku!" lanjut Gian mengancam Akira.


Lalu Gian menghempaskan wajah Akira yang ia cengkeraman dengan kasarnya.


Akira hanya bisa terisak, karena ancam Gian sungguh-sungguh dan Akira tidak akan pernah rela Gian menyakiti kedua orang tuanya.


"Hiks… hiks… hiks…" Isak tangis Akira.


"Aku tunggu di luar cepat bersihkan dirimu dan bersiaplah." perintah Gian.


Namun Akhir masih terisak dan di tidak merespon ucap Gian.


Sehingga amarah gimana kembali memuncak, "CEPAT…!" Gian membentak Akira, agar Akira bergegas.


Tanpa kata Akira berusaha bangkit dari posisinya, karena rasa sakit yang luar biasa Akira sampai tertatih-tatih, sempoyongan rasanya ia tidak sanggup untuk berjalan menuju kamar mandi.


Tangan Akira sampai harus menggapai dinding untuk berpegang, agar menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak terjatuh.

__ADS_1


Gian menyaksikan itu semua, tapi lagi-lagi ia tersenyum sinis melihatnya, tidak ada rasa iba sama sekali, jangan kan menyesali perbuatannya atau ingin membantu Akira ia malah mencibir keadaan Akira, kemudian ia bergegas keluar dari sana untuk menemui kedua mertuanya.


Di ruang tamu sudah ada Ayah Ayus, ia sedang duduk termenung, memikirkan putri-putrinya.


'Kemana perginya Fira, apa alasannya ia pergi begitu saja?'


'Bagaimana nasib Akira? menikah dengan pria yang tidak ia cintai, sedangkan Reza kekasih nya sangat mencintainya bahkan mereka telah berencana akan menikah.' 


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di benak ayah Ayus tentang putri-putrinya, yang mengganggu pikirannya.


Sampai Datang lah Gian menghampirinya dan mengejutkannya.


"Selamat pagi ayah…!" sapa Gian basa-basi.


"Oh,,, nak Gian."  Ayah Ayus sampai terhenyak menyadari kehadiran Gian.


"Silahkan duduk…" kemudian ayah Ayus mempersilahkan Gian untuk duduk.


Tak lama datang pula Bu Yuli membawakan teh hangat untuk mereka, Bu  Yuli juga berbasa-basi menanyakan keberadaan Akira kepada Gian.


"Akira sedang bersiap, mulai sekarang Akira akan ikut bersama ku, tinggal di rumah ku." Terang Gian.


Ayah dan ibu sedikit terkejut mendengarnya.


"Nak! apa tidak terburu-buru, apa sebaiknya biarkan dulu Akira tinggal di sini untuk sementara waktu, untuk penyesuaian dulu baginya karena semua ini terlalu mendadak baginya." Saran Bu Yuli karena mengkhawatirkan putri bungsunya.


"Iya nak, kami mengerti itu tapi apa…" ucapan pak Ayus terhenti.


"Cukup!" (Sambil mengangkat satu tangan dengan gerakan menyetop, menghentikan ucap pak ayus) "Aku tidak ingin ada yang membantah ku, lagi pula aku tidak melakukan kesalahan aku melakukan hal yang memang sudah seharusnya aku lakukan." Tegas Gian 


Dan ucapan itu, penuh sindiran sehingga pak Ayus dan Bu Yuli tidak dapat berkata-kata lagi, sebab mereka sadar semua terjadi karena kesalahan putri sulung mereka yang telah ingkar.



Sedangkan Akira di kamar mandi.


Ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya di bawah shower tersebut.


Ia Terduduk di lantai dan menangis sesenggukan, "Kak Fira.. di mana dirimu sekarang, kenapa kamu jahat sekali kepada ku, membiarkan aku menikah dengan pria kejam macam Gian, aku sungguh tersiksa kak… apa salahku kepadamu kak… hiks… hiks…?" Tangis Akira meminta jawaban.


Karena Akira tidak kunjung keluar menemuinya, Gian kembali ke kamar untuk mengecek kondisi Akira.


Di dalam kamar ia tidak melihatnya, lalu ia segera memeriksa kamar mandi.


Yang memang pintunya lupa Akira kunci.

__ADS_1


Gian segera masuk dan melihat Akira yang masih Terduduk di lantai di bawah shower.


"Astaga…! Apa yang kamu lakukan?" pekik Gian bertanya.


Gian sungguh geram melihat kelakuan Akira, yang belum bersikap dan malah anteng bermain air, sedangkan dirinya sedari tadi menunggunya.


Gian langsung menarik tangan Akira untuk membangunkannya, dan segera memandikannya seperti memandikan balita.


Akira hanya diam tanpa ekspresi, di perlakukan seperti itu.


Setelah selesai Gian melempar handuk tepat di wajah Akira sambil berkata, "Ayo cepat pakai!" 


Akira tidak menangkap nya, sehingga handuk itu jatuh ke lantai.


Gian yang hendak keluar dari kamar mandi, langsung berbalik dan melihat Akira dengan tatapan mata tajam menusuk hingga ke jantung.


Tapi Akira tidak peduli ia tetap diam memaku.


"Kamu ingin menguji kesabaran ku…? Oo apa kamu ingin mengulang peristiwa semalam, ingin ku cumbu lagi,,,? Kamu mulai candu dengan ku?" Gian malah sengaja memancing respon dari Akira.


Tapi Akira benar-benar diam seperti mati rasa, jiwanya terguncang akibat ulah Gian, Akira seperti orang yang sedang depresi.


Gian mendekat ke arah Akira ia kembali mencengkram kedua pipi Akira dengan satu tangannya.


Tapi Akira membuang tatapannya, ia tidak sudi menatap wajah Gian, Akira pun sangat membencinya.


Gian mendekatkan wajahnya lalu mulai ******* kasar bibir Akira, tapi memang tidak mendapat respon apapun pun dari Akira ia tetap diam.


Sampai akhirnya Gian percaya, Akira tidak baik-baik saja.


Gian mengerutkan keningnya, ketika menyadari telah terjadi sesuatu pada Akira, ia lalu menghentikan aksinya dan melepaskan tautan bibirnya.


Gian menatap wajah Akira dengan seksama.


"Apa dia benar-benar depresi? jika terus seperti ini dia bisa benar-benar gila." gumam Gian dalam hatinya.


Kemudian Gian memakai handuk yang sempat ia lemparkan.


Ia menuntun Akira keluar dari kamar mandi, lalu ia memilih kan baju ganti dan memakaikannya.


"Apa-apa ini kenapa aku malah jadi babunya?" gumam Gian setelah selesai memakaikan pakaian lalu menyisir rambutnya.


Sesungguhnya Gian orang yang penyayang dan penuh perhatian serta setia, tapi jika hatinya telah dikecewakan tidak ada ampun bagi siapa saja orang yang melakukan hal itu.


Gian akan berubah kejam sekejam-kejamnya membalas rasa kecewanya dan rasa sakit hatinya.

__ADS_1


Namun kini ia telah salah sasaran, bukan Akira yang patut menerima semua pembalasannya, harusnya ia berterimakasih kepada Akira karena telah menyelamatkan nama baik keluarga dari rasa malu.


__ADS_2