Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 55


__ADS_3

"Aku melihat jelas raut kesedihan di wajah Akira meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya, jujur aku tidak tega melihatnya seperti itu, Gian aku memang baru mengenalnya tapi aku tau dan aku yakin Akira orang baik, ia tidak pantas untuk  selalu kamu perlakuan buruk."


"Pulang lah Gian bersamanya, jika tidak ijinkan aku yang mengantar mereka pulang." 



Gian termenung mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh Erwin kepadanya.


Iya, Gian memang merasa sangat berat untuk melepaskan Akira, tapi cintanya kepada Shafira juga masih sangat dalam.


Gian dilema dengan perasaannya, 'Ya tuhan berikan lah jawaban atas perasaan ini, berikan yang terbaik untuk kami tuhanku." Doa Gian dalam hatinya.


Kini akira dan juga Sisil serta babysitternya sudah bersiap, untuk pulang.


Mereka menghampiri Erwin dan Gian yang sedang berbincang.


"Papi…!" Seru Sisil Kenapa Erwin.


"Ia nak?" Jawab Erwin.


"Papi jangan rindu sama aku ya?" Pesan Sisil dengan nada bercanda menggoda papinya.


"Loh kok gitu?" sahut Erwin, sembari mencerna ucapan Sisil.


"Iya, soalnya rindu itu berat kata si mbak ( babysitternya) juga." Sisil membuat lelucon.


Dan babysitter Sisil terlihat canggung karena malu telah mengajarkan Sisil hal seperti itu.


"Wah… Sisil pintar merayu juga ya rupanya." Erwin baru menyadari rupanya Sisil sedang menggoda papinya.


Tapi tatapan Erwin menatap babysitter Sisil dan berhasil membuat babysitter Sisil makin salah tingkah.


Kemudian ia memberanikan diri untuk berbicara agar tuan Erwin tidak salah paham kepadanya, "Maaf tuan itu hanya guyon saja, untuk menghibur Sisil." ucapannya.


Akira tersenyum mendengar percakapan papi dan Putrinya.


"Sisil kan anak pintar…?" Akira ikut menimpali, agar babysitter Sisil tidak usah merasa canggung atau tidak enak hati.


"Siapa dulu dong anteunya…" ucap Sisil dengan maksud membanggakan Akira.


"Loh kok anteunya, papinya dong." Protes Erwin dengan nada bercanda pula.

__ADS_1


Dan semua merasa terhibur hanya dengan guyon seperti itu.


Gian berlalu ke kamar nya tanpa berucap apapun, dan Akira juga hanya  menatapnya tidak bertanya apa pun.


Tidak lama Gian kembali dengan menyeret kopernya.


Melihat itu Akira merasa curiga, dan akhirnya ia bertanya, "Kak Gian mau kemana bawa koper segala?" 


"Menurutmu aku mau kemana?" Gian malah Balik bertanya, dan menanyakan pendapat Akira tanpa melihat ke arah Akira orang yang sedang ia ajak bicara.


Dan di saat yang bersamaan datang shafira dari arah belakang Gian dan langsung merangkul tangan Gian.


Lalu shafira lah yang menjawab pertanyaan Gian, "Ya, tentu saja kamu akan pindah ke apartemenku untuk menemaniku." Shafira berbicara tetap dengan rasa pedenya.


"Oo…" hanya kata itu yang keluar dari mulut Akira, padahal hatinya sangat kecewa mendengar apa yang di katakan oleh Shafira.


Setelah itu hanya ada keheningan di antara mereka, Erwin sendiri hanya menatap Gian lalu bergantian menatap Akira.


Erwin berharap Gian tidak salah dalam mengambil keputusan.


Tapi masih di saat itu, Gian berusaha melepaskan tangannya dari rangkulan shafira.


"Maaf shafira, aku akan tetap ikut pulang bersama mereka, aku tidak bisa membiarkan mereka pulang tanpa aku, karena mereka tanggungjawab ku, aku harus memastikan keselamatan mereka." Kemudian ucap Gian setelah tangannya berhasil terlepas dari rangkulan shafira.


"Iya, maaf kan aku Shafira aku, mereka tanggungjawab, ke sini bersamaku dan pulang juga harus bersama ku." tegas Gian 


Mendengar itu, shafira langsung memasang ekspresi wajah sendu ia merasa kecewa dengan penutur Gian ternyata Gian berubah sikap kepadanya.


Padahal shafira sudah merasa bangga dengan dirinya sendiri, karena Gian masih sangat mencintainya, tapi pada kenyataannya Gian lebih berat hati kepada Akira daripada kepadanya.


"Lalu aku…" kemudian ucap shafira lirih.


"Tenang Shafira, ada Erwin disini yang akan mendampingi mu di sini, aku telah memintanya untuk itu, setelah urusan mu beres di sini, Erwin juga yang akan menemani mu pulang ke tanah air." Jelas Gian.


Sesungguhnya shafira ingin berontak, tapi shafira takut dirinya benar-benar dianggap gila dan malah akan membuat Gian lebih jauh darinya.


Shafira berpikir bahwa dirinya harus bermain cantik, mengalah untuk menang.


Karena shafira pikir akira juga sedang melakukan hal sama, terlihat kalah tapi kenyataannya dirinyalah kini yang menang.


"Ya sudah ayo kita berangkat." Ajak Erwin.

__ADS_1


 


Dan ketika yang lain sibuk dengan barang bawaannya, Shafira malah menghampiri Akira dan saat melintasi Akira, Shafira berbisik di telinganya.


"Ternyata hebat juga ya kamu Shakira… kamu telah membuktikan bahwa kamu bukan lawan yang bisa aku remehkan, tapi tengah, jangan anggap aku kalah, aku akan buktikan kepadamu dan membuka matamu lebar-lebar bahwa Gian hanya mencintaiku, dan akan tetap menjadi milikku." Dengan penuh kebencian Akira mengatakan hal itu.


"Tidak usah membuktikan apapun kak, aku sudah tau itu, dan aku akan membantumu untuk mendapatkan Gian." Sahut Akira menimpali ucapan kakaknya.


Karena Akira sudah merasa sangat lelah, jadi dia berusaha untuk menghindari perdebatan.


Shafira tersenyum sinis ketika mendengar ucapan adiknya, "orang bermuka dua sepertimu mana bisa dipercaya, itu hanya siasat mu agar aku lengah, dan pada kenyataannya kamu yang berusaha untuk mendapatkan Gian."


"Ya sudahlah terserah kakak mau percaya atau tidak kepada ku." Akira sudah tidak mau ambil pusing.


"Dasar munafik." Shafira sepertinya semakin membenci Akira.


Karena semua sudah siap lalu Erwin mengantarkan mereka semua ke bandara.


Sesampainya di bandara saat sedang menunggu keberangkatan pesawat.


Shafira memeluk Gian, ia memang sedari tadi terus saja menempel kepada Gian.


Tidak ingin terpisahkan, karena ambisinya dan rasa kangennya masih belum terpuaskan.


Shafira pun menangis di pelukan Gian, "Sayang… apa kamu benar-benar ingin meninggalkanku, padahal aku masih sangat merindukanmu." 


Sesungguhnya sedari tadi juga Gian berusaha melepaskan diri dan menghindari Shafira, tapi Shafira terlalu agresif, sehingga sulit sekali untuk Gian untuk menghindar.


Awalnya Akira hanya diam, tidak bereaksi ketika Gian ingin ikut pulang bersama mereka, karena sesungguhnya Akira begitu bahagia mendengar ucapan Gian yang seakan mengkhawatirkannya dan peduli kepadanya.


Tapi ketika melihat kakak menangis di pelukan Gian, memohon dan meminta kepada Gian untuk tetap tinggal di sana bersamanya.


Kebahagian Akira lenyap, Akira merasa dirinya sangat Egois bahagia diatas penderitaan kakaknya.


Gaian sendiri merasa tidak tega melihat Shafira sampai menangis seperti itu  memohon dan meminta kepadanya.


Ingin rasanya Akira ikut membela kakaknya, tapi Akira ingin melihat sikap tegas Gian, apa Gian dapat menentukan pilihannya berpegang teguh dengan pendiriannya yang ingin mempertahankan Akira.


Atau Gian akan kembali kepada Shafira, dan dengan begitu Akira tau cinta Gian benar-benar hanya untuk Shafira.


Dan jika begitu, Akira akan merasa mantap untuk mundur dari kehidupan mereka.

__ADS_1


Saat itu Gian hanya termenung, ia terlihat bingung untuk menentukan pilihannya.


Erwin juga tau apa yang dirasakan oleh Gian,  Gian juga berat untuk meninggalkan Shafira.


__ADS_2