
Gian yang selama ini berhati dingin, tidak perduli hal-hal kecil. Namun kali ini ia sungguh tertarik melihat Anjas, menurutnya Anjas sangat menggemaskan.
Melihat Anjas ia jadi teringat Akira, entah mengapa wajah Anjas sangat mirip Akira menurut Gian, karena rasa yang Gian milik terhadap Anjas Giam merasa sangat tertarik kepada balita berusia satu tahun itu.
Akhirnya Gian merasa penasaran dan menghampirinya. Ia tersenyum lebar saat mendekati Anjas.
"Hay, baby boy!" sapa Gian.
…
Anehnya Anjas membalas sapaan Gian dengan tersenyum, membuat Gian semakin gemas melihatnya dan ingin mencubit pipi chubby Anjas.
Tapi saat Gian akan melakukan hal itu, Bi Atun dengan sigap segera menghadang pergerakan Gian.
"Maaf, Tuan! Anda siapa anda mau ngapain?" Bi Atun segera meraih Anjas yang sedang duduk di permainan anak balita itu, dan menggendongnya, Bi Atun segera waspada sebab Gian adalah orang asing, sesuai perintah Anjas Bi Atun harus tetap waspada.
"Maaf, Bu! Saya merasa gemes sekali melihat anak ibu!" Sahut Gian terus terang.
"Ini bukan anak saya, anak ini anak majikan saya," Terang Bi Atun.
"Oo iya …!"
Papa Arga yang baru saja dari dalam minimarket, segera menghampiri Gian yang sedang bersama Bi Atun.
Papa Arga merasa heran melihat Gian berbincang dengan orang asing, biasanya ia selalu cuek kepada hal di sekitarnya.
Papa Arga sampai menyimpan kecurigaan, ia menyangka pasti telah terjadi sesuatu kepada Gian dan si ibu itu, pikir papa Arga.
"Ada apa Gian, apa ada masalah?" tanya papa Arga.
Gian langsung menoleh ke arah Papanya, "Ini, Pah! Baby boy ini menggemaskan sekali, ganteng sekali mirip aku, he … he … he…," ucap Gian sambil cengengesan.
Mendengar ucapan Gian, Papa Arga memperhatikan bayi berusia satu tahun lebih itu, dan iya, papa Arga memang merasakan bahwa bayi itu memang mirip Gian bahkan memang sangat mirip dengan Gian waktu Gian kecil.
Bi Atun, merasa terdesak ia juga merasa curiga mereka punya niat jahat kepada anak majikannya.
"Maaf Tuan, saya harus pergi!" Bi Atun merasa panik dan segera pergi.
__ADS_1
Bi Atun segera menghubungi shilla yang sedang berada di toilet, dan memberitahukannya bahwa ia menunggunya di dalam mobil.
"Iya, Bi! Aku sebentar lagi!" ucap Shilla.
Kebetulan ia sudah selesai dengan kegiatannya di toilet, ia segera keluar dari toilet minimarket itu, dan tidak sengaja Shilla menabrak Mama Nirmala.
BRAK …!
"Eeh … Bu! Sorry … sorry …!" ucap Shilla.
Mama Nirmala menatap Shilla namun ia tidak dapat mengenalinya, karena shilla, memakai kacamata hitam dan penutup kepala, serta mengenakan masker, ia sengaja berpenampilan seperti itu, atas perintah dari Anjai, sebagai syarat jika ingin keluar rumah tanpa dirinya, Shilla harus berpenampilan seperti itu.
Tapi Mama Nirmala, memiliki firasat bahwa ia mengenal wanita itu, tapi siapa? Mama Nirmala masi mengingat-ingat siapa orang yang ia kenal yang mirip dengan wanita yang telah menabraknya.
Belum sempat Mama Nirmala mengingatnya, Shilla segera izin pamit untuk pergi.
"Bu, anda tidak apa-apakan? Maaf ya, Bu! saya permisi dulu ya, saya sedang buru-buru anak saya sudah menunggu," ucap Shilla. Namun, tidak mendapat respon apapun dari Mama Nirmala yang masih terlihat syok.
Kemudian ia segera berlalu meninggalkan Mama Nirmala yang hanya diam memaku.
Sedangkan Mama Nirmala baru bisa mengingat mirip siapa wanita itu, setelah beberapa saat Shilla pergi.
"Akira …." Gumam Mama Nirmala, kemudian ia lari berusaha mengejarnya, untuk memastikan perempuan itu Akira atau bukan.
ketika itu mama Nirmala melihat dari dalam minimarket di dinding kaca, wanita itu baru saja naik ke dalam mobilnya.
Mama Nirmala berjalan tergesa bahkan sedikit berlari untuk mengejar wanita yang ia sangka Akira.
Namun ketika Mama Nirmala sudah berhasil membuka pintu minimarket tersebut, mobil yang ditumpangi oleh wanita itu sudah melaju pergi.
Mama Nirmala berusaha untuk menghentikannya dengan berteriak memanggil nama Akira, "Akira … tunggu, Akira …!" seru mama Nirmala.
Namun, semua itu sia-sia, sebab mobil itu sudah berlalu melaju kencang meninggalkan minimarket tersebut.
Karena Bi Atun, sudah menceritakan kecurigaannya terhadap dua orang lelaki yang menghampirinya dan menyapa Anjas putra dari majikannya.
Bi Atun, merasa cemas mereka punya niat buruk terhadap Anjas atau nona Shilla, seperti yang Anjai (Tuannya) bilang harus tetap waspada sebab ada orang yang mengincar istri dan anaknya.
__ADS_1
Maka sopir atau anak buah Anjai segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan minimarket tersebut, setelah Shilla sudah memasuki mobilnya.
Sesungguhnya sang sopir melihat dari kaca spion, ada seorang Ibu paruh baya yang berusaha menghentikan mobil mereka sambil berteriak.
Tapi, ia tetap melakukan mobilnya untuk menghindari wanita paruh baya tersebut, untuk mencegah hal buruk menimpa dirinya, dan yang lainnya.
Jika mereka mencelakai Shilla, atau menculik Anjas sudah pasti nyawa dan karirnya juga akan terancam, sebab Anjai sudah mewanti-wanti agar menjaga keselamatan istri dan anaknya, karena itu ia dipekerjakan dan dibayar oleh Anjai.
…
Papa Arga dan Gian sungguh terkejut melihat dan mendengar tingkah Mama Nirmala, yang berlari mengejar mobil yang ditumpangi balita yang menarik perhatiannya.
Sambil berteriak, memanggil nama Akira. Papa Arga dan Gian segera menghampiri mama Nirmala, yang berdiri dengan Nafa ngos-ngosan karena sempat berjalan tergesa, setengah berlari, bahkan sampai berlari. Namun, usahanya nihil ia tidak dapat mengejar atau menghentikan mobil tersebut.
"Mama, kenapa ada apa?" Pertanyaan Gian mewakili pertanyaan papa Arga juga.
"Itu, kalian lihat wanita yang menaiki mobil tadi?" Mama Nirmala balik bertanya dan membuat Gian dan papa Arga semakin bingung.
"Wanita?" Gian mengulang kata yang diucapkan oleh mamanya.
"Iya, wanita yang memakai tutup kepala, kacamata dan juga memakai masker!" Mama Nirmala semakin detail menjelaskan.
"Iya, memang ada wanita paruh baya yang menaiki mobil itu bersama seorang balita, tapi bukan seperti wanita yang mama sebutkan tadi." Gian menimpali Mama-nya.
Kemudian Mama Nirmala menceritakan tentang wanita yang ia sangka mirip dengan Akira.
Mendengar cerita Mama Nirmala, yang mengatakan bahwa ia mengejar wanita itu karena ingin mastikan apa benar wanita itu adalah Akira atau bukan.
"Mah, kalau dia Akira masa dia tidak mengenali Mama, dan atas dasar apa mama mengira wanita itu adalah Akira." ucap Gian tidak mengerti.
"Justru itu, yang membuat mama bingung dan ragu, tapi Mama merasa yakin ketika menyadari suaranya dan body language nya sangat mirip dengan Akira, karena itu mama berusaha untuk mengejarnya untuk memastikannya." Terang Mama Nirmala.
Tapi, justru karena mendengar cerita Mama Nirmala, Papa Arga diam membisu ia mencerna setiap kejadian yang mama Nirmala ceritakan, dan mengaitkannya dengan balita yang juga masuk atau naik di mobil yang sama dengan wanita yang Mama Nirmala ceritakan.
Dan tiba-tiba Papa Arga berkata, "Jangan-jangan anak itu memang anakmu Gian," celetuk papa Arga dengan nada bergumam.
"Apa!" Seru Gian terkejut, dan akhirnya Gian pun berpikiran sama seperti Papanya.
__ADS_1