
Saat office girl mengirimkan rekaman nya, terdengar sebuah notifikasi sebuah pesan masuk di handphone Gian, ia langsung melihatnya.
Gian melihat Akira yang terlihat begitu rapuh dan depresi.
Tapi entah mengapa hati Gian begitu sakit melihat Akira seperti itu.
Bukan kah itu yang ia ingin kan, bahkan ia rencana kan Akira tersiksa dengan semu permainannya.
Tapi kini ia malah merasa tidak tega kepada Akira.
Kemudian Gian mengirim pesan kepada suruhannya, agar tetap mengawasi Akira.
Gian Takut Akira kabur dari sana, kini ada rasa takut kehilangan Akira, di hati Gian.
Akira cukup lama berada di toilet, ia memang sengaja mengulur waktu, agar tidak berlama-lama bersama Gian.
Sesungguhnya hati Gian merasa resah karena Akira tidak kunjung kembali.
Tapi orang suruhannya mengabarkan Akira masih berada di toilet.
Sehingga rasa cemas Gian bisa sedikit berkurang.
Namun Sisil terus menanyakan keberadaan Akira, karena ia merasa Akira pergi meninggalkannya sebab Akira memang sudah sangat lama pergi meninggalkannya.
Kebetulan Acara permainan yang akan di ikuti Sisil dan kawan - kawan nya yang melibatkan para wali murid akan segera di mulai.
Saat itu lah puncaknya Sisil mencari - cari keberadaan Akira.
"Om anteu kemana om?" tanya Sisil kepada Gian sambil merengek.
"Sisil tenang ya,,, anteu kan tadi bilang nya mau ke toilet pasti sebentar lagi anteu juga akan kembali." Gian berusaha untuk menenangkan Sisil.
"Tapi om sebentar lagi acara ku akan segera di mulai om..!" Sisil terus saja mendesak Gian.
"Iya-iya, nanti Om hubungi anteu dulu nya!" akhirnya Gian terpaksa menghubungi Akira.
Sebab Gian juga memang sudah menyimpan nomor Akira sehingga tidak menyulitkan untuk Gian melakukan panggilan telepon kepada Akira.
Drt,,, drt,,, drt,,, terdengar getaran di handphone Akira, ia segera melihatnya dan terlihat nomer Tanpa nama melakukan panggilan.
Akira mengerutkan keningnya, merasa curiga dengan nomer itu.
'Siapa yang menelpon ku? Jangan - jangan ini si beruang kutub (Gian lah yang Akira maksud)"
Akira tidak ingin mengambil resiko, Akira takut berdampak buruk nantinya dan akhirnya Akira mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Iya halo,,,! Siapa ini?" Sapa Akira ketika sambung telepon sudah terhubung, dan tanpa basa-basi lagi Akira langsung bertanya siapakah orang yang menghubunginya.
__ADS_1
"Iya Halo juga,,,! Ini saya,,, om nya Sisil." ucap Gian tidak berani menyebutkan namanya, karena merasa gengsi harus menghubungi Akira lebih dulu.
"Iya ada apa ya?" Akira bertanya, sebab merasa heran.
"Udah gak usah banyak nanya, cepat kamu kembali Sisil menanyakan mu!" Jawab Gian dengan tegas.
Padahal hatinya tidak sedang membenci Akira atau pun marah kepada Akira, Gian malah sedang merasa kasihan dan merasakan sesuatu persalinan yang berbeda kepada Akira.
Tapi karena rasa gengsinya, ia tetap bersikap tegas dan terkesan angkuh.
"Iya saya akan segera kembali." Terang Akira, menjawab perintah Gian.
"Oke,,,!" sahut Gian lalu menutup sambungan teleponnya.
Akira menghela napas panjang, dan menghembuskan nya secara perlahan, untuk mengontrol perasaannya yang sedang kacau balau, karena akibat ulah Gian.
"Tenang Akira, tenang…!" Akira mengintruksi dirinya sendiri.
Lalu kemudian, Akira berlalu meninggalkan toilet.
Akira kembali berhadapan dengan Gian ketika menghampiri Sisil.
Sisil terlihat rewel dan ingin menangis.
"Sisil kenapa sayang…!" ucap Akira lalu memeluk Sisil.
"Anteu dari mana, kok anteu lama sekali?" ucap Sisil sambil menahan tangisnya.
"Ya sudah tidak boleh bersedih lagi, sekarangkan anteu nya sudah ada disini!" ucap Akira menenangkan Sisil.
Tidak lama para peserta lomba yang di adakan oleh pihak sekolah akan segera di mulai.
Sisil salah satu murid yang sudah tercantum akan mengikuti lomba bersama keluarga lain yaitu Akira dan Gian sebagai wali murid.
Ada Sepuluh murid beserta wali muridnya yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Mereka diminta untuk segera naik ke atas panggung dan mengambil posisi.
Perlombaannya adalah, setiap tim yang terdiri dari satu murid dan dua wali murid yaitu ayah dan ibu, jadi sang ibu harus memakeup sang ayah tapi mata sang ibu yang memakeup harus ditutup dengan penutup mata yang sudah disediakan. Sedangkan sang anak ( murid) yang akan mengarahkan sang ibu.
Jadi karena mata sang ibu di tutup harus diarahkan, sang anak lah yang bertugas untuk mengarahkan nya, Saat sang ibu mengambil lipstik, tangan ibu harus kemana diarahkannya, begitu juga saat sang ibu mengambil alat makeup yang lainnya.
Untuk sang ayah dilarang bersuara atau protes, mereka harus pasrah apapun yang di pasangkan atau di pakaikan di wajah mereka, dan bagaimanapun nanti rupanya, jika sang ayah melanggar akan di diskualifikasi.
Penilaian pemenangnya adalah kekompakan tim, kerapihan makeup nya dan jumlah Alat makeup yang sudah dikenakan oleh sang ibu di wajah sang ayah.
Panitia sudah memberi tahu semua ketentuannya, dan semua peserta sudah memahaminya termasuk para murid.
__ADS_1
Peserta dan panitia juga dewan juri sudah bersiap.
Tidak menunggu waktu lama lagi, acara lomba pun segera dimulai.
Posisi ayah dan ibu terhadap, seperti posisi Gian dan Akira saat ini, sebagai wali murid Sisil.
Mata Akira mulai di tutup begitu juga dengan para ibu yang lainnya.
Sedangkan Sisil dan murid lainnya, berada di samping di antara ibu dan ayah mereka (di tengah).
Panitia mulai memberi aba-aba sebagai tanda dimulainya perlombaan.
"Satu,,, dua,,, tiga…!"
Priiiit,,,! peluit ditutup menandakan waktu dimulai.
Akira mulai meraba nampan di sampingnya yang berisikan alat - alat makeup yang sudah disediakan oleh pihak sekolah.
Akira mencari bedak, dan memang tepat sekali tangan Akira meraba apa yang ia cari.
"Ayo Tante pasangkan di pipi om!" seru Sisil.
Mendengar itu, Akira tau apa yang ia pegang saat ini.
Akira mulai mencoba membukanya dan mulai memakai kan bedak itu di wajah Gian.
Kebetulan bedak yang digunakan adalah bedak bayi jadi tangan Akira langsung menyentuh wajah Gian.
Akira melakukan gerakan seperti sedang membedaki Sisil, dengan hati - hati dan penuh kelembutan, sehingga hasilnya terlihat rata.
Gian sendiri menikmati setiap sentuhan tangan Akira ketika menyentuh bagian-bagian wajahnya.
Gian juga, begitu terpana memperhatikan bibir Akira berada tepat di hadapannya.
Bibir tipis, merah alami, Gian membayangkan begitu manisnya jika ia mengecupnya, jiwa lelaki Gian meronta ketika itu.
"Astaga… kenapa pikiran ku menjadi liar seperti ini!" gumam Gian dalam hatinya.
Ketika ia menyadari apa yang ia rasakan dengan pikirannya.
Sebab sorak - sorai para pendukung menyadarkannya dari pikirannya.
Saat memakaikan, pencil alis, lipstik, eyeshadow, blush on dan memang hanya alat makeup itu yang berhasil Akira pakaikan di wajah Gian, sebab waktunya keburu habis.
Gian sungguh menikmati itu semua...
..................
__ADS_1
hayoh!!! hati Abang Gian mulai meleleh seperti es krim...😅😅😅