
Akira hanya bisa menghela nafas panjang ketika itu, "Apa aku harus benar - benar mengalah?".
…..
Malam sudah semakin larut, tidak terasa Akira tertidur lelap ketika sedang menunggu suaminya yang tidak kunjung pulang.
Rasa lelah dan letih menguasai dirinya padahal ia ingin menunggu kepulangan suaminya yang entah sampai kapan tak tau batas waktu yang ditentukan.
Sehingga Akira menyerah melawan rasa kantuknya ia tertidur di sofa di kamarnya.
Setelah sekian lama akhirnya Gian pulang, dan menyaksikan Akira tertidur di sofa.
Gian masuk kamar secara perlahan karena takut mengganggu Akira yang sedang tertidur.
Gian menghampiri istrinya lalu bergumam, "Kamu pasti menungguku, maafkan aku." Gian mengelus kepala Akira membelah rambutnya, lalu mencium keningnya.
Akira bisa merasakan sentuhan Gian dan akhirnya Akira terbangun dari tidurnya.
Akira mengerjakan mata, perlahan membuka matanya, Gian menjadi salah tingkah saat menyadari istrinya terbangun karenanya.
Saat membuka mata terlihat samar-samar sosok tampan suaminya yang ia tunggu sedari tadi.
Akira segera membuka mata ketika menyadari orang yang ia tunggu sedang ada di depan matanya.
Gian hanya berdiri dengan ekspresi wajah datar menatap Akira, "Maaf aku membangunkanmu." Gian merasa tidak enak hati, dan ingin berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Akira langsung meraih tangan suaminya, "Kamu baru pulang?" tanya Akira menghentikan suaminya.
Gian mengerti Akira meminta penjelasan dari dirinya.
Gian mengangguk dan ingin menjelaskannya, Gian membuka mulutnya baru saja ingin berbicara, Akira yang telah bangkit dari posisi sebelumnya segera menungkup mulut Gian dengan tepak tangannya.
Akira malah memeluk suaminya, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, "Jangan jelaskan apapun kepadaku, karena aku tahu kamu sangat kecewa kepadaku, maafkan aku, dan jangan pernah pergi dariku, karena aku sangat mencintaimu, dan tidak bisa hidup tanpamu." ucap Akira mengutarakan isi hatinya, dan mengungkapkan apa yang ingin ia katakan tadi siang.
Gian memang telah salah paham kepadanya, sehingga Gian meras syok ketika Akira bersikap demikian dan mengucapkan kata-kata itu.
"Akira aku juga sangat menyayangimu, maafkan aku juga sikapku tadi siang sangat melukaimu." Gian menyadarinya.
Akira mendongakkan wajahnya melihat wajah suaminya, dan Gian membalas dengan menunduk melihat wajah istrinya, dengan posisi Akira masih memeluk tubuh Gian, sehingga wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Akira menggelengkan wajahnya, "Semua karena salahku karena sudah membuatmu kecewa padaku."
"Tidak sayang aku yang egois dan terlalu emosi, maafkan aku." Ucap Gian lalu mencium seluruh wajah istrinya.
Akira sungguh terharu dengan keadaan, tapi jujur saja Akira belum bisa melupakan kejadian di rumah sakit ketika Gian bermesraan dengan kakaknya.
Namun Akira tidak mau mengungkit masalah itu saat ini, karena hanya akan merusak suasana, Akira akan mengungkapkan kebenarannya tapi ia harus mencari waktu yang tepat untuk itu, sehingga bisa terungkap kebenarannya.
Sebab Akira yakin Gian melakukan hal itu pasti ada alasan, tentunya tidak dengan maksud menyakitinya.
Setelah berbicara dengan Lisa entah mengapa Akira memiliki kecurigaan besar kepada Shafira bahwa memang benar Shafira sedang bermain-main memanfaatkan keadaan.
Maka dari itu Akira mengambil langkah sesuai saran dari Lisa untuk membuktikan semua kebenaran.
Saat Gian sedang hanyut dalam suasana, Akira mengurai pelukannya, menghentikan aksi suami yang mulai liar atas dirinya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Gian merasa Akira menolaknya.
"Mmmm … perasaan bau acem." Akira menggoda suaminya dengan menyinggung suaminya belum membersihkan diri.
Akira berhasil membuat Gian tergoda, karena Gian tersenyum menyadarinya.
"Eeh iya … aku belum mandi dan ganti baju, aku juga lapar belum sempat makan karena memikirkanmu." ucap Gian, yang entah benar atau tidak Jika dirinya benar-benar memikirkan Akira pikir Akira.
"Oke sekarang kamu bersihkan diri dulu aku siapin makan dulu untukmu." Penawaran Akira.
Gian mengguk semangat, dan bergegas ke kamar mandi.
Sedangkan Akira langsung berubah ekspresi, "Tuhan ku, aku masih bingung dengan apa yang aku lakukan, sesungguhnya hati ku masih sangat sakit ketika mengingat kejadian di rumah sakit tadi siang." Akira bicara sendiri.
Tapi demi mempertahankan pernikahannya Akira berusaha untuk bersandiwara agar terasa baik-baik saja.
Namun dalam hati Akira ia berharap Gian berterus terang tentang kejadian itu, sehingga ia merasa tidak di bohongi, dan Akira bisa tau alasan dari Gian mengapa kejadian itu bisa terjadi.
Tapi apa mungkin Gian akan berterus terang menceritakan semua kejadian itu, rasanya tidak mungkin jika Akira tidak bertanya, sebab Gian pasti akan memilih diam untuk menjaga perasaan Akira dan itu bisa merusak suasana di antara mereka yang mulai menghangat kembali setelah terjadi perseteruan di antara keduanya.
Selesai membersihkan diri, Gian menemui istrinya di meja makan yang sedang menyiapkan makan untuknya.
Akira sedang fokus menata makanan diatas meja, tiba-tiba Gian datang dan memeluknya dari belakang tubuhnya.
Dan itu membuat Akira terkejut, "Astaga …."
"Kenapa sayang?" tanya Gian.
"Kamu mengejutkanku." ujar Akira.
"Gombal apa modus ini?" Akira tidak yakin dan malah balik berguyon.
"Ini serius sayang.?" Gian menimpali dengan keseriusan.
"Iya … iya … Udah sekarang makan dulu biar kita bisa segera melepas kangen kalau gitu, karena aku dan juga bayiku sangat merindukanmu." Akira mengimbangi Gian dengan membalas ucapan Gian.
Dan itu membuat Gian merasa semakin geregetan kepada istrinya yang makin pintar merayunya dan membuatnya semakin bersemangat.
Tidak menunggu waktu lama lagi Gian segera duduk dan menyantap makanan yang istrinya siapkan untuknya.
Di sela-sela waktu makannya atau di akhir waktu makan Akira sengaja mulai bertanya memancing kejujuran dari suaminya.
"Kamu tau gak sih, seharian tadi aku kepikiran kamu terus loh, aku jadi tidak enak makan minum."
"O' ya?" Respon singkat dari Gian.
"Iya, aku berkali-kali menghubungimu, tapi sayang tidak ada respon darimu, ya aku memakluminya kamu begitu karena kamu sangat kecewa sama aku, aku mengaku salah dan ingin meminta maaf, padahal tadi siang aku belum selesai bicara loh." terang Akira.
Gian menghentikan aktivitas makan nya dan meneguk air putih yang telah Akira siapakan untuknya, lalu menatap wajah istrinya dengan serius.
"Iya, aku juga salah terlalu terbawa emosi, maafkan aku juga ya." Gian belum menyadari apa maksudnya dari ucapan Akira yang sebenarnya sedang memancing kejujuran darinya.
"Aku panik banget loh tadi, aku sampai menghubungi nomor kantormu, dan sekertarismu bilang kamu gak ada di kantor, aku juga menghubungi mama Sama papa, serta kak Erwin juga, tapi mereka tidak ada yang bersama kamu." Akira masih memancing agar Gian berterus terang tentang dirinya yang menemui Shafira di rumah sakit.
Dan sampai melakukan adegan intim yang sempat Akira lihat.
__ADS_1
Gian akhirnya mengerti apa tujuan dari semua ucapan Akira, karena makanan di piringnya juga telah habis, lalu Gian menyudahinya.
Sebenarnya itu memang siasat Akira ingin bicara tanpa emosi, sehingga Akira membuat Gian nyaman dulu dengan keadaannya, dengan menyuruhnya membersihkan diri terlebih dahulu, dan memberinya makan agar perutnya terisi dulu.
Karena jika dalam keadaan Lusuh dan perut keroncongan biasanya orang sulit untuk diajak bicara serius akan lebih mudah tersinggung dan tersulut emosi itu yang akira hindari.
Tapi kini Gian terlihat dan merasa lebih freshi sehingga saat Akira berbicara menyinggung masalah tadi siang Gian tidak langsung emosi.
Dan ya, siasat Akira berhasil, Gian mulai serius menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara kasar, seakan Gian membuang rasa sesak di dadanya.
Lalu Gian mulai menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi tadi siang, kemana dia saat Akira mencarinya.
Akira pun memasang wajah serius dan mendengarkan penuturan suaminya. Untuk mencari kebenarannya agar Akira dapat menyimpulkan kebenaran itu sendiri.
"Sesungguhnya sepemergiaan aku tadi siang, meninggalkanmu, aku mendapat telpon dari ayahmu, dan memintaku untuk segera datang ke rumah sakit karena Shafira histeris ingin bertemu denganku."
"Awalnya aku menolak, tapi ayah sungguh memohon agar aku bisa menenangkan Shafira, dan aku mengiyakannya untuk datang kesana menemui Shafira."
"Disana ada kedua orang tuamu ketika aku datang shafira memang masih mencari-cariku, dengan terus memanggil-manggil namaku."
"Setelah aku datang dan menenangkannya, ya Shafira bisa lebih tenang, tapi dia menahanku disana dia tidak mengizinkanku untuk pergi, lalu ayah dan ibumu pun memintaku untuk tetap tinggal sampai Shafira terlelap setelah Shafira terlelap barulah aku boleh pergi."
"Saat itulah handphone ku terus berbunyi dan mungkin itu suara panggilan darimu dan notif pesan darimu, karena dengan alasan Shafira ingin tenang bersamaku, Shafira meminta ku untuk menonaktifkan hpku, karena aku juga ingin segera pergi dari sana, agar Shafira bisa segera tidur aku menonaktifkan hpku sesuai permintaan Shafira, setelah lama di sana bersama ayah dan ibumu Shafira tidak kunjung terlelap."
"Shafira meminta untuk ayah dan ibunya untuk meninggalkan ku dengannya berdua karena ia ada yang ingin di bicarakan denganku, ya akhirnya Ibu dan ayah pergi meninggalkan kami."
"Dan apa yang terjadi?" Nah, saat ini Akira sungguh sangat emosional saat mendengar dan langsung menyergah Gian dengan pertanyaan tersebut, karena Akira yakin saat itulah Akira melihat adegan mereka bermesraan.
Gian menghentikan ucapannya dan menatap lekat wajah istrinya, Gian merasa curiga Akira tau sesuatu, tapi Gian juga tidak tega untuk mengungkapkannya.
Dari tatapan Gian Akira tau apa yang Gian pikiran, ada keraguan di hatinya untuk berterus terang.
Akira malah tersenyum, "tidak usah dipaksakan jika ragu untuk mengungkapkannya, karena aku sudah bisa menebak apa yang terjadi." Akira berlaga sok tau.
"Tapi dia yang menyerangku duluan, dan itu hanya sebatas ciuman bibir dan tidak …." Terhenti. Karena Akira menghentikannya.
"Cukup, aku sudah tidak sanggup mendengarnya, tapi aku percaya kepadamu, dan terimakasih sudah mau jujur tentang semua itu jadi aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai aku bisa melihat adegan itu." Akira berterus terang jika dirinya memang melihatnya.
Gian tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Akira, "Apa maksudmu?" Gian meminta penjelasan.
Akira terlihat sendu karena itu gambaran dari perasaannya.
"Iya aku melihat semua itu." tegas Akira dan menceritakan semua.
"Ya tuhan Akira kenapa kamu tidak masuk dan menghentikanku." gumam Gian.
"Aku tidak sanggup menghadapi kalian yang sedang seperti itu saat itu, karena kamu pun sangat menikmati cumbuan kak Fira." Akira mulai meneteskan bulir bening dari kelopak matanya, menandakan betapa perihnya perasaannya.
"Akira … sayang maaf kan aku … tapi sungguh hanya sebatas itu, karena aku teringat dirimu dan aku berhasil mengendalikan diriku, tidak lama setelah itu ayah dan ibumu kembali ke ruangan."
"Karena itu aku pulang malam dan mengabaikan handphoneku, aku merasa bersalah dan menyesalinya, aku merasa telah mengkhianatimu." Gian langsung bersujud di hadapan Akira memohon ampun.
......
Apakah Akira sanggup untuk memaafkan suaminya?
__ADS_1
Simak kisah berikutnya di kisah cinta Antara 2 Pilihan ...