
Akira sengaja mengajak Siska untuk duduk bersamanya, dan mengajaknya ngobrol.
Dengan ragu Siska mendekat ke arah Akira, dan mulai menjatuhkan bokongnya di sofa di sebelah Akira.
Tingkah terlihat sangat gugup, tapi Akira sudah tau cara berbicara dengannya.
Sisk ternyata gadis belia yang masih labil, makanya sikapnya terlihat bar-bar.
Awalnya Akira menawarkan makanan yang masih tersedia di atas meja, tapi Siska menolaknya.
"Iya Nona, terima kasih." Tolak Siska saat Akira menyodorkan makanan.
Tapi Akira terus memaksanya dengan menyodorkan makanan tersebut.
'Waduh! dia maksa lagi, apa jangan-jangan ini ada racunnya." Siska menaruh rasa curiga karena Akira terus memaksanya untuk mengambil makanan yang ia sodorkan dan menyuruhnya untuk memakannya di hadapan Akira.
Dengan rasa ragu Siska mulai menyuapkan makanan yang sudah ia ambil, sedangkan Akira terus saja menatapnya seakan ingin memastikan bahwa Siska benar-benar telah memakan makanan itu.
Setelah satu gigitan berhasil masuk kedalam mulut Siska, Akira langsung bertanya untuk memastikan pendapat Siska bagaimana penilaiannya tentang makanan itu.
"Bagaimana rasanya?"
'Waduh, aku harus Jawab apa nih? Masa aku bilang gak enak supaya aku bisa mengeluarkan makanan ini dari mulutku, tapi rasanya memang enak sih?' Siska sibuk dengan pikirannya sendiri, Sebab ia punya rasa bersalah kepada Akira dan berpikiran yang tidak-tidak tentang Akira.
Padahal Akira hanya ingin ia menemaninya.
"Siska aku bertanya kepadamu, bagaimana rasanya?" Akira menegurnya dan kembali bertanya.
"Eeh, iya enak kok, Nona." Kemudian jawab Siska sambil tersenyum kaku.
"Ya syukurlah kalau enak habiskan ya."
Siska langsung membuka matanya mendengar perintah Akira yang menyuruhnya untuk menghabiskan makanan yang ia curiga ada racunnya.
Sebab Siska merasa ragu untuk memakannya meskipun makan itu terasa enak di lidahnya.
Agar Siska tidak merasa gugup dan segan kepadanya, Akira mencari topik pembicaraan yang menarik.
Akira bertanya umurnya berapa tahun, Siska menjawab pertanyaan Akira dengan sebenarnya, dan ternyata Akira baru tau bahwa Siska masih sangat muda.
Lalu Akira juga bertanya, sudah berada lama dia bekerja di perusahaan.
Siska sudah merasa lebih rileks untuk menjawab pertanyaan Akira.
"Dulu aku anak magang di sini tugas PKAL dari sekolah, dan karena keberuntunganku, selepas selesai sekolah SMA, aku mendapat panggilan kerja dari perusahaan ini, dan ini adalah satu kesempatan besar untukku, apa lagi posisinya sebagai sekertaris pak Gian yang super duper tampan." Siska malah memuji Gian di ujung bembicarannya.
"Apa kamu bilang?" Akira protes dan meyakinkan indera pendengarannya dengan bertambahnya agar Siska mengulang kata-kata terakhirnya.
Siska langsung menutup mulutnya, sebab tanpa sadar ia mengucapkan kata bahwa ia beruntung bisa mendapatkan panggilan kerja di sana dengan posisi sebagai sekretaris Gian seorang bos yang super duper tampan.
"Maafkan saya, Nona, saya keceplosan." Siska berkata dengan polosnya.
Membuat hati Akira tergelitik mendengarnya.
"Apa kamu menyukai suami saya?" Akira seperti sedang mengintrogasi seorang pelakor.
Siska langsung menundukkan wajahnya memohon ampun.
"Tidak, Nona, mana berani saya menyukai tuan Gian, saya sadar diri kok Nona." Ucap Siska seakan merendahkan diri.
"Saya hanya mengaguminya saja, hanya sebatas karyawan kepada atasannya." Siska melanjutkan ucapannya, agar Akira tidak salah paham kepadanya.
"Kamu masih sangat mudah Siska, kamu cantik, tubuhmu juga bagus indah di pandang."
"Tapi apa aku sangat menyayangkan, tubuh sebagus ini harus dipamerkan, hanya akan mengundang nafsu para lelaki hidup belang."
"Karena kamu bukan artis, atau model yang memang pekerjaannya memamerkan keindahan tubuhnya karena tuntutan pekerjaan."
"Dengan penampilan kamu seperti itu, kamu hanya akan mendapat image buruk, kecantikan wanita akan terpancar sendiri dari auranya, meskipun berpakaian tertutup, lihat orang-orang berhijab mereka terlihat cantik dengan memakai hijabnya."
"Ya, saya tidak melarang kamu ingin terlihat cantik, tapi kamu harus bisa menempatkan diri dalam cara berpenampilan." panjang lebar Akira memberi pengarahan kepada Siska.
Ucapan Akira menjadi satu sentilan bagi Siska, sepertinya Akira sudah dapat membaca jika Siska memang berpenampilan seperti itu untuk menarik perhatian Gian.
__ADS_1
Untungnya Gian tidak tertarik sama sekali kepadanya, jika Gian tipe lelaki hidup belang mungkin Siska sudah jadi mangsanya.
"Maafkan saya, Nona." Siska merasa bersalah sudah kecentilan.
Akira membuka ponselnya dan memperlihatkan style kantor, berpakaian tertutup tapi tetap terlihat cantik dan elegan.
Tidak terlalu terbuka dan malah terkesan murahan.
"Saya sudah pesankan beberapa untukmu, nanti di pakai ya!" Akira membelikannya pakaian yang sesuai di ponsel untuk Siska.
Siska membuka mata ketika mendengarnya, "Apa?" Ia tidak mengerti mengapa Akira malah membelikannya.
Harusnya Akira marah atau memecatnya setelah tau bahwa dirinya sudah berusaha untuk menggaet suaminya.
"Nona, mengapa Nona, bersikap baik kepadanya saya, seharusnya kan, Nona membenci saya." Siska bertanya mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ini sebagai tanda terima kasih saya."
Tentu saja ucap Akira membuat Siska semakin bingung.
Ia mengerutkan keningnya dan menatap Akira dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Berterimakasih untuk apa Nona?"
"Karena kamu sudah mau jujur sama saya, dan kamu harus berjanji tidak akan kegenitan lagi sama suami saya." tegas Akira.
Akira tau sebenernya Siska gadis baik dan polos maka Shakira berniat untuk mengarahkannya ke arah yang lebih baik lagi.
"Iya Nona, saya berjanji tidak akan mencari perhatian lagi dari tuan Gian, dan terimakasih atas kebaikan Nona."
Akira tersenyum, "Aku akan pegang janjimu." Akira bicara penuh penekanan.
"Iya, Nona saya berjanji."
Kemudian Akira sudah anggap selesai urusannya dengan Siska, tapi Akira tetap menahan Siska di sana, Akira mencari pembahasan lain untuk mencairkan suasana diantara mereka.
Sehingga obrolan mereka menjadi semakin akrab dan tidak ada jarak di antara keduanya.
Hampir dua jam Gian berada di ruang meeting, dan kini dia kembali karena sudah waktunya makan siang.
Akira dan juga Siska langsung menoleh ke arah Gian yang sedang berjalan mendekati mereka.
Seketika Siska langsung bangkit dari tempat duduknya, Karen merasa tidak enak hati duduk di sana.
Siska langsung membungkuk hormat kepada Gian untuk menghormatinya.
Siska juga langsung pamit keluar dari sana, "Nona, saya permisi dulu karena sudah ada tuan Gian bersama Nona."
"Ya, silahkan Siska kembalilah bekerja, terimakasih sudah meluangkan waktumu menemaniku di sini." Akira mempersilahkan.
Selepas kepergian Siska, Gian langsung menubruk istrinya dengan manja, bergelayut meminta perhatian darinya.
Akira langsung menyambutnya, mengelus punggung dengan penuh kasih sayang, "Bagaimana meetingnya, sayang?"
"Cukup melelahkan, tapi okelah berjalan dengan lancar." jawab Gian.
Gian melihat jam di pergelangan tangannya, "Eeh, kita makan siang dimana?" Gian meminta usul dari istrinya.
"Bagaimana kalau kita makan di cafe tempat Lisa temanku bekerja." ucul Akira.
"Oke baiklah …." Gian setuju dengan usulan istrinya.
Tapi Gian tetap betah di posisinya, bergelayut manja. Melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, dan sambil membenamkan wajahnya di dada Akira, yang terasa kenyal.
"Katanya mau ngajak makan siang, tapi kok gak mau beranjak." protes Akira.
"Aku lagi PW (posisi wenak) padahal aku pengennya makan kamu." gerutu Gian sambil bangkit.
"Hmm … ya nanti." Akira menanggapi.
Gian langsung melirik istrinya lalu tersenyum.
"Beneran ya abis makan siang, aku boleh makan kamu."
"Hhmmm … " jawab singkat Akira.
__ADS_1
Gian menjadi lebih bersemangat mendengar jawaban istrinya.
Mereka berdua melangkah ke luar kantor. Bibir Gian tidak henti mengembangkan senyumnya, dan itu menambah ketampanannya.
Karyawan yang melihatnya merasa aneh pasalnya baru kali ini melihat Gian berjalan berdua berdampingan dengan istrinya sambil terus tersenyum.
Siska sedang bersama teman-temannya hendak mencari makan siang sampai bergumam.
"Aku kira wanita yang jadi istri tuan Gian adalah wanita paling beruntung di dunia ini, ternyata perkiraanku salah."
Teman yang besamanya memicingkan mata melihat Siska karena berbicara seperti itu, "Apa maksud dari perkataanmu?" Ia seakan protes.
Lalu teman yang lainnya pun ikut menimpali, "Iya ih, apa maksudnya sudah jelas-jelas Istri tuan Gian itu memang beruntung." Ketusnya.
"Iya, aku kira seperti itu sesuai dengan pemikiran kalian, tapi setelah aku berbincang dengannya, ternyata Nona Akira itu orang yang sangat baik dan ramah, pantas tuan Gian tidak pernah melirik satupun dari kita, ternyata dia sudah punya berlian, memiliki istri seperti nona Akira, jadi yang sebenarnya beruntung adalah tuan Gian memiliki istri seperti nona Akira." Siska begitu mengagumi Akira, ia begitu terkesan dengannya setelah berbincang dengan Akira.
"Sampai sebegitunya kah isteri tuan Gian, kamu sampai menilainya berlebihan begitu." Ketus teman Siska karena menurut mereka wanita yang mendapatkan Gian lah yang beruntung bukan sebaliknya.
Siska mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat sebagai isyarat meyakinkan teman-temannya yang kurang yang yakin atas penilaiannya tentang Akira.
....
Ketika akan masuk lift untuk turun kelantai bawah.
Ternyata lift biasa yang khusus diperuntukkan untuk para petinggi perusahaan sedang ada masalah teknik dan sedang diperbaiki.
Maka Gian dan Akira tidak diperbolehkan untuk menggunakannya saat ini.
Jadi Gian disarankan untuk memakai lift khusus untuk karyawan.
Dan kebetulan saat itu Siska dan teman-temannya juga hendak turun kelantai dasar mereka sudah berada di dalam lift.
Security menahan pintu lift tersebut agar tidak tertutup, sebab Gian dan istrinya hendak masuk.
Saat Gian masuk, semua karyawan tercengang, mereka merasa tidak nyaman satu lift bersama Gian.
Mereka mulai bergerak berhamburan keluar dari lift, untuk mempersilahkan Gian dan istrinya menggunakan lift terlebih dahulu.
Tapi Akira menahan mereka, "Tunggu, kalian mau pada kemana?"
"Silahkan Nona dan tuan duluan saja." Ucap Siska mewakili teman-temannya.
"Kalian tidak usah sungkan, ayo tidak apa-apa kita sekalian turun bersama." Ajak Akira.
Siska dan teman-temannya saling memandang, bingung harus menanggapinya seperti apa.
Padahal mereka merasa sungkan berada satu lift bersama bosnya.
Tapi mereka juga tidak bisa menolak ajakan Akira.
Gian tersenyum kepada para karyawannya sambil menganggukkan kepalanya, Sebagai isyarat bahwa dirinya mempersilahkan mereka untuk ikut bersama mereka.
Dengan ragu mereka akhirnya ikut masuk dan turun ke lantai dasar bersama Gian.
Baru kali ini bos besar mereka ikut berbaur bersama mereka, menaiki lift bersama para karyawannya.
Akira sesekali menyapa semua para karyawan terutama Siska yang sudah ia kenal.
Berbasa-basi menanyakan mereka akan makan siang di mana?.
Siska menjawab bahwa mereka berencana makan di kantin kantor.
Gian sendiri tetap acuh kepada mereka, hanya diam mendengarkan istrinya berinteraksi dengan para karyawannya.
Namun tangan Gian tidak lepas menggenggam tangan istrinya.
"Iih tuan Gian gandengan tangan terus kaya mau nyebrang aja, bikin hati ku panas aja." Salah satu dari mereka membatin tidak suka melihat kemesraan yang Gian pamerkan.
....
Akankah Akira tau siapa orang yang merasa iri kepadanya?
Simak kelanjutan cerita di cerita selanjutnya...
Terimakasih ...
__ADS_1