
Seperti yang pernah Yuri lakukan kepada Juna, Yuri juga melakukan hal yang sama kepada Putra, ia tidak membiarkan tamunya hanya duduk termenung.
Yuri membuatkan teh hangat dan cemilannya, agar Putra tidak merasa jenuh ketika menunggunya.
Dan ketika Yuri menyuguhkan teh hangat nya Putra merasa Yuri sangatlah perhatian kepada nya. "Ya ampun! Bidadariku, sudah cantik baik hati, perhatian pula, terima kasih banyak," Putra terus saja menyanjung Yuri.
Membuat Yuri merasa terlena dibuatnya, dan ia selalu merasa senang dan nyaman berada di samping Putra, atau karena mungkin ia sedang di mabuk cinta, dan sedang merasakan perasaan bucin, sehingga bersama Putra dunia terasa indah.
….
"Aku tinggal dulu ke dalam ya!" Yuri pamit untuk meninggalkannya.
"Oke, aku akan setia menunggumu." jawab putra.
Putra, menunggu sambil memainkan headphonenya, untuk menghilangkan rasa jenuhnya, lalu ia mulai menyeruput secangkir teh hangat yang Yuri suguhkan tadi.
Seteguk teh hangat berhasil melewati rongga-rongga tenggorokan Putra, membasahinya yang awalnya terasa kering.
Seteguk teh itu mampu menarik perhatian Putra, iya melupakan sejenak benda pipih yang sedari tadi membuat Putra hanya fokus menatap benda itu.
Kini perhatian Putra teralihkan menatap dan mengamati secangkir teh hangat yang baru saja ia nikmati, rasanya benar-benar nikmat beda dari teh hangat yang biasanya ia minum, bahkan rasa teh di restoran-restoran hotel bintang lima atau cafe mahal pun mengalahkan kenikmatan teh yang dibuat oleh tangan Yuri.
"Kenapa bisa senikmat ini, rasa manisnya pas, terasa ringan harum tehnya enak banget!" gumam Putra sambil beberapa kali meneguk kembali teh itu.
Dan tak sadar putra langsung menghabiskannya dengan satu kali tegukan terakhirnya.
"Gila, mantap sekali tehnya." Gumam Putra lagi setelah tegukan terakhirnya.
Dan ketika itu Yuri keluar dari dalam rumahnya, ia sudah bersiap dengan penampilan sederhananya, memakai dress dengan ukuran panjang di bawah lutut, berlengan sepanjang sesiku, bermotif bunga-bunga dengan warna dasar kain putih.
Rambutnya ia kerli. Namun kali ini Yuri mengenakan make-up sedikit tebal, atau lebih tepatnya lebih perfect tapi tetap terlihat natural, seulas bedak dan lipstik, pensil alis maskara dan dan eyeliner. Menambah kecantikan Yuri terlihat sangat sempurna.
Melihat Yuri berpenampilan seperti itu, mata Putra tidak mampu untuk berkedip dan dengan mulut yang menanga Putra menatap Yuri.
"U'hum …!" Yuri berdehem menyadarkan Putra yang terkesima melihat kecantikan Yuri.
Putra langsung tersentak setelah mendengar deheman Yuri, "Kamu cantik sekali!" Putra mengutarakan penilaiannya.
"O'ya!"
"Iya …!" Tegas Putra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya
"Terima kasih!" Lalu sahut Yuri.
"Teh buatanmu juga sangat nikmat," lanjut Putra tidak melupakan tentang kenikmatan teh buat kekasihnya itu.
"O'ya, Kamu suka?" Yuri merasa senang.
"Lihat ini, teh nya tidak tersisa," Putra mengangkat cangkir tehnya untuk menunjukan bahwa isinya telah tandas.
Yuri tersenyum bahagia, "Syukurlah kalau kamu menyukainya."
"Kenapa bisa teh ini sangat nikmat?" Putar penasaran.
"He, he, he … karena aku membuatnya dengan cinta, aku tambahkan ramuan cinta di dalamnya." Yuri malah bercanda menanggapinya untuk menggoda Putra.
"O'ya, pantas saja, aku terhipnotis oleh cintamu, ternyata kamu punya Megi cinta!" Orang seperti putra diajak bercanda ia malah semakin menjadi, meladeni candaan Yuri.
"Dah, ah! Kamu makin ngaur aja." Ketus Yuri dengan nada bercanda pula, secara tidak langsung Yuri mengajak Putra untuk segera pergi dari sana.
"Oke, let's go!" Putra penuh semangat.
…
Ketika mereka sampai di restoran xxx tempat yang Akira booking untuk acara makan malam keluarga.
Mereka berdua turun dari mobil lalu seorang pelayan menyambut kedatangan mereka sesuai perintah Akira.
"Mari, Tuan dan Nona ikut saya!" ujar sang pelayan memandu Putra dan Yuri untuk menemui keluarga yang sudah stay di sana.
Ternyata disana sudah ada dua pasangan Nenek dan kakek, yaitu orang tua dari Gian dan juga Akira, sudah pasti Akira dan juga Gian pun sudah stay lebih awal dari semuanya.
"Hay, sayang! Ini lah bintang tamunya yang Kita tunggu-tunggu sedari tadi," ucap nenek Nirmala.
__ADS_1
Semua sangat antusias menyambut kedatangan Putra dan terutama Yuri.
"Astaghfirullah, Dokter Yuri Anda cantik sekali, Nak!" Nenek Yuli berdecak kagum.
Bibir Yuri tak henti-henti nya merekah mengembangkan sebuah senyuman, bagaikan bunga mawar yang bermekaran di taman.
Yuri yang mendapat pujian, Putra yang Malah merasa tersanjung.
Putar terlihat lebih bahagia, senyumannya begitu tulus nampak dari lembaran senyuman yang putra pamerkan, dan itu menambah nilai ketampanannya.
Sedang Yuri hanya tersenyum tersipu malu.
Mereka menggiring Yuri dan Putra untuk duduk dan berbincang dengan mereka terlebih dahulu sembari menunggu keluarga Erwin yang belum tiba.
Namun, di tengah kebahagiaannya, hati Akira tetap saja menangis dalam duka lamanya. Apa lagi saat - saat seperti ini saat semua keluarga berkumpul, ia teringat Shafira kakaknya, andai ia ada tidak berhati jahat, mungkin saat ini ia pun akan ikut berkumpul bersama mereka.
Jika teringat Shafira, tentu saja Akira juga mengingat putrinya yang dibawa kabur oleh kakaknya itu, yang sampai sekarang belum bisa diketahui keberadaannya.
Meskipun selama dua puluh lima tahun, Akira dan Gian mengerahkan seluruh anak buahnya membayar orang - orang untuk mencari kakaknya serta putrinya tapi belum mendapatkan hasil.
Di tengah - tengah perbincangan mereka, Akira termenung dan terlihat murung karena ia teringat akan hal itu.
Semua keluarga sudah dapat menebak mengapa Akira bersikap demikian, sudah pasti ia memikirkan tentang putrinya.
Ibu Yuli, Ibu dari Akira orang yang paling peka terhadap perubahan sikap putrinya, ia segera meraih tangan Akira, lalu mengajaknya bicara dan bergabung bersama dengan yang lainnya.
Gian ikut menghampiri para wanita yang sedang bersama Putra, Gian sengaja, karena ia ingin menghibur Akira, agar sikap murungnya tidak merusak suasana.
Ya, berkat mereka semua yang selalu berusaha menghibur Akira, Akira memang bisa melupakan kesedihannya.
Kini ia kembali berbincang dan bercanda bersama dengan yang lain, dan tidak lama keluarga Erwin akhirnya tiba di sana.
Mereka semua menyambut kedatangan Erwin, Rima, Sisil, dan Reno putra hasil pernikahan Erwin dan Rima.
Kini semua nya langsung menuju meja makan untuk memulai acara, karena waktu memang sudah menunjukkan jam makan malam.
Tapi Akira terlihat resah dan gelisah, ia masih menunggu seseorang, yaitu Juna putra angkatnya.
"Bu ayo dimulai acaranya!" tegur Gian.
"Oo ya Bu! tadi saat aku menjemput Yuri di rumah sakit, aku sempat bertemu dengan Juna, ia tergesa-gesa, karena akan melakukan operasi dadakan karena kondisi pasien darurat, jadi dia berpesan kepada ku, ia mungkin akan telat hadir." Putra menyampaikan apa yang Juna pesan kepadanya.
"Oo jadi begitu, kok dia tidak menghubungi ibu, terlebih dahulu!" Akira terlihat kecewa mendengarnya, terdengar dari nada suaranya.
"Lalu bagaimana Bu, apa kita akan tetap menunggu Juna?" Gian merasa geregetan melihat sikap Akira yang selalu mengkhawatirkan Juna, yang hanya seorang anak pungut yang bisa dikatakan anak dari musuhnya.
Mengingat hubungan Gian dan Mila memang kurang baik, Gian merasa di fitnah, di permainkan dan di injak-injak harga dirinya oleh seorang Mila yang awalnya hanya sebagai babysitter Sisil, menggantikan Rima setelah Rima menjadi istri Erwin.
Namun, Mila malah menjebak Gian untuk bertanggung jawab atas kehamilannya, menuduh anak yang ia kandungan adalah anak Gian, belum lagi Mila menuntut ini dan itu, kepada Gian meskipun sudah terbukti jelas - jelas anak yang ia kandungan bukan anak Gian, bahkan Gian tidak menyentuhnya sama sekali.
Tapi, di akhir hidupnya Mila malah menyerahkan anaknya dengan maksud ingin menghancurkan pernikahan Gian dengan Akira yang saat itu baru saja bersatu kembali.
Namun dengan berbesar hati Akira mau menerima anak itu dan menyanggupi untuk merawatnya.
Hingga akhir hidup Mila berakhir mengenaskan oleh kekasihnya sendiri berawal dari persoalan Mila menyerahkan putranya tanpa sepengetahuan dan seizin kekasihnya.
Hal itu membuat kekasih Mila yang bernama Jimi murka lalu menganiaya dirinya, dan karena itu Jimi menjadi buronan, ketika menjadi buronan ia menemui Mila, saat itu keberadaannya merasa terancam akhirnya Jimi membekap Mila agar jangan bersuara, sebab polisi bisa curiga akan keberadaannya di sana, jika sudah begitu ia sudah pasti akan mendekam di penjara, hal itu yang sangat Jimi takutkan.
Sampai - sampai Jimi terpaksa membekap Mila dengan tangannya tanpa ia sadari, Mila sampai kehilangan nyawanya, menghembuskan nafas terakhirnya dalam bekapan Jimi.
Saat itu Gian teringat tentang riwayat Juna atau latar belakang Juna, karena itu lah Gian tidak bisa tulus menerima Juna sebagai anaknya.
…
Setelah mendapat teguran dari Gian Akira terdiam ia menatap semua orang sambil berpikir, jika menunggu Juna entah kapan Juna akan datang, maka dari itu Akira memilih untuk melanjutkan acaranya.
Sebelum acara makan malam bersama keluarga dimulai, Akira membuka acara terlebih dahulu dengan sambutan sepatah dua patah kata.
Dimulai dengan salam, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu!" Sahut semuanya.
Lalu Akira melanjutkan sambutannya setelah mendengarkan jawaban salam dari semua orang.
__ADS_1
Akira berterima kasih atas kehadiran semua keluarga dalam acara yang ia gelar, karena mengumpulkan mereka dalam satu acara itu sangat sulit, sebab mereka semua orang sibuk kadang yang satu orang bisa hadir, yang lainnya tidak bisa hadir karena kesibukan masing-masing, seperti Juna saat ini.
Tapi untung yang lainnya bisa hadir, meluangkan sedikit waktu untuk mereka berkumpul dan saling bersilaturahmi, itu tujuan awal Akira ingin mempererat tali silaturahmi dalam keluarga mereka.
Dan disamping itu, Akira juga ingin mengumumkan tentang hubungan Putra dengan Yuri, sebab seluruh keluarga memang menantikan kabar gembira tersebut.
Mereka semua bersorak Sorai penuh kegembiraan mendengar tentang hubungan Putra dengan Yuri, mereka juga mendoakan agar hubungan Putra dan Yuri langgeng sampai menginjak ke jenjang pernikahan membina rumah tangga sakinah mawadah warahmah sampai kakek nenek.
Putra dan Yuri tersenyum bahagia mereka mengaminkan doa-doa dari semua keluarga.
Setelah itu Akira mengakhiri sambutannya, lalu mempersilahkan mereka semua untuk makan.
…
Sedangkan Juna, dua jam berlalu ia berada di ruang operasi menangani pasiennya, dari jam lima sore sampai jam tujuh.
Akhirnya operasi selesai berjalan dengan lancar, Juna keluar dari ruangan operasi ia melihat jam yang hendak ia kenakan kembali, setelah sempat ia bukan saat akan melakukan operasi, dan waktu menunjukkan sudah pukul tujuh, ia teringat undangan makan malam yang diadakan oleh ibunya.
Sesungguhnya Juna sangat malas menghadiri acara tersebut, mengingat acara ini bertujuan untuk merayakan hubungan Putra dengan Yuri, yang menyebabkan Juna patah hati.
Namun, saat Juna melihat headphone nya, ia melihat beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dari ibu angkatnya (Akira) dan beberapa pesan.
Juna membuka aplikasi WhatsApp dan melihat chat dari ibunya, beberapa pesan yang menanyakan di mana keberadaannya, bertanya mengapa ia belum hadir, dan memintanya untuk segera hadir.
Juna termenung ia merasa tidak tega kepada ibunya, karena selama ini hanya Akira ibu angkatnya yang sangat tulus menyayanginya.
Dan akhirnya karena perasaan Juna tidak tega kepada ibunya, meskipun ia enggan hadir dalam acara tersebut Juna terpaksa untuk hadir demi sang ibu.
Sesampainya, di restoran kebetulan saat itu ia melihat saat Gian tidak suka Akira mengkhawatirkannya, Juna juga melihat seluruh keluarga berbahagia atas hubungan putra dengan Yuri.
"Andai aku yang jadian dengan Yuri, mereka tidak akan seheboh itu!" pikir Juna.
Juna hanya melihat dari kejauhan, ia ingin mendekati tapi hatinya terasa sangat sakit menyaksikan itu semua, meskipun diantara dirinya dengan Putra sudah terjadi kesepakatan agar berbesar hati siapa pun yang akan menjadi pasangan Yuri, baik Putra maupun Juna.
Ya, walaupun Juna sudah berusaha untuk berbesar hati, tapi tetap saja hati kecilnya tidak dapat dibohongi, Juna tetap saja merasakan rasa sakit hati karena merasa patah hati.
Juna bukannya menemui keluarganya, terutama Ibu Angkatnya (Akira) yang sedari tadi menunggunya, Juna malah beralih ke toilet untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu, ia merasa belum siap untuk menyaksikan kebahagiaan mereka semua yang berbahagia di atas penderitaannya.
Saat menuju toilet Juna malah bertabrakan dengan Sisil.
BRAK…! suara tubuh Sisil terjatuh bokongnya berhasil mencium lantai dengan sempurna.
"Aaw …!" pekik Sisil sambil meringis kesakitan.
"Kak Sisil …! Kamu tidak apa-apa?" Juna panik di samping itu ia juga merasa bersalah.
"Tidak apa-apa matamu, aaw …! bokong ku sakit sekali!" keluh Sisil dengan ketusnya.
"Sorry, sorry, aku tidak melihatmu!" Juna semakin merasa bersalah.
Lalu Juna membantu Sisil untuk bangkit, "Maaf, kak Sisil mengapa berjalan tergesa-gesa? sampai aku yang segede gini tidak kak Sisil lihat main tabrak aja!" tanya Juna merasa heran.
"Kamu yang nabrak duluan!" tuduh Sisil.
"Eeh aku sudah menghindar loh tadi, kak Sisil yang kehilangan kendali dan menabrak tubuh ku," Juna menerangkan karena tidak terima dengan apa yang Sisil tuduhkan kepadanya.
"Iya, iya, aku yang salah, aku yang menabrak mu, aku tergesa-gesa karena melihat Candra sedang bersama Chika." Akhirnya Sisil mengakui jika dirinyalah yang bersalah.
"Ia kan!" Juna merasa menang.
Ya, Sisil melihat Chika, sahabat dari kecilnya anak dari Hendri yang awalnya menikah dengan Sarah lalu bercerai karena Sarah tidak bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Chika, lalu Hendri menikah lagi dengan Lisa sahabat Akira.
Saat kecil dulu sampai sekarang hubungan pertemanan Sisil dan Chika sangat baik.
Namun, saat Sisil keluar dari toilet sekelebat Sisil melihat Chika bergandengan mesra dengan Candra gebetan Sisil, maka dari itu Sisil merasa panik dan berniat untuk mengejar mereka untuk memastikannya.
Tapi hal sial malah menimpa Sisil, ia malah bertabrakan dengan dengan Juna, dan akhirnya ia kehilangan jejak Chika dan Fano.
"Ya sudah, Ayo kita bergabung dengan yang lainnya." Ajak Sisil sambil berjalan menyudahi percakapannya dengan Juna.
Juna yang awalnya ingin menghindar terlebih dahulu dengan pergi ke toilet, akhirnya kini mengekor di belakang Sisil untuk ikut bergabung bersama dengan yang lainnya.
Saat semua keluarga melihat Sisil datang bersama Juna, keluarga merasa keheranan, "Kenapa, Juna bisa bersamamu?" pertanyaan Erwin mewakili pertanyaan semua orang yang sedang berada di sana.
__ADS_1
Kemudian Sisil menjelaskan bahwa mereka tidak sengaja bertemu.
Akhirnya Akira bisa tersenyum bahagia melihat Juna sudah bisa hadir di sana, sekarang tidak ada lagi yang dikhawatirkan olehnya, dan semua menikmati santapan makanan malam tersebut dengan suka cita, Juna pun menepikan rasa kecewanya dan rasa patah hatinya demi untuk menghargai ibunya (Akira).