Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 144


__ADS_3

...Perhatian …...


Mohon maaf kepada reader sekalian, jika sebelumnya sudah membaca bab 142-143 mohon di baca kembali ya, sebab author banyak melakukan revisi di bab tersebut, untuk menyambung cerita agar tidak merasa bingung di bab ini, maka author sarankan untuk membaca ulang bab 142-143 khususnya bab 143, karena di bab itu 100% isi ceritanya baru, dan menjelaskan kembalinya Akira.


Mohon maaf ya reader dan terima kasih 🙏🙏🙏


Lanjut baca yuk !!!


Hari berganti hari, Akira kini menjalani hidupnya sebagai shilla, ia juga sudah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupannya sebagai seorang istri dari Anjai (Riza) dan menjadi seorang ibu dari Anjas yang sebenarnya putranya dengan Gian.


Pasca siuman dari komanya, Anjai dan shilla sempat melakukan pernikahan dibawah tangan, atas kehendak Anjai, karena ia ingin bebas leluasa berhubungan dengan shilla, karena memang sebenarnya mereka belum pernah menikah.


Shilla hanya bisa mengikuti setiap apa yang dikatakan oleh Anjai, karena hanya dia lah yang dapat shilla percaya yang tau kehidupannya sebelumnya. Menurut pemikiran shilla.



Setelah melewatkan waktu satu tahun, shilla ingin mengganti waktu selama itu, untuk mengurus dan memberikan kasih sayang kepada putranya, dan shilla ingin ia merawat putranya sendiri tanpa bantuan baby sitter.


Anjai memahaminya, dan mengizinkan shilla melakukannya tapi dengan catatan ia tidak boleh mengabaikannya, ia tetap harus punya waktu untuk bersamanya.


Sesuai permintaan shilla, Anjai hanya memperkerjakan satu orang asisten rumah tangga untuk membantu dan menemani shilla ketika Anjai harus pergi keluar kota untuk urusan bisnisnya.


Saat ini Anjas berusia satu tahun, ia sedang aktif - aktif nya belajar berjalan, maka dari itu ia perlu perhatian lebih dari kedua orang tuanya.


Meskipun Anjas bukan putra kandungnya tapi Riza sangat menyayanginya seperti putranya sendiri. 


Pagi ini Ajai sedang mengajak bermain Anjas di halaman rumah, mereka berdua terlihat sangat bahagia, layaknya seorang ayah dengan anak kandungnya.


Bercanda penuh suka cita, berlari, tertawa bersama, shilla (Akira) duduk di bangku di teras rumah itu, ia memperhatikan ayah dan anak yang sedang bermain, ia merasa sangat bahagia, tuhan masih memberikannya kesempatan untuk bisa hidup dan merasakan kebahagiaan itu.


"Ya Tuhanku, Terim kasih atas karuniamu, aku masih di beri kesempatan untuk hidup, di beri pasangan sebaik Anjai, dikaruniai putra sepintar, setampan, sehat aktif seperti Anjas." Dalam hatinya shilla tiada henti mengucap syukur.


Bibir Shilla tidak henti mengembangkan senyum, menandakan betapa bahagianya ia, tapi entah mengapa Shilla merasa ada yang aneh ketika menatap Anjas-putranya.


Shilla selalu merasa sendu bila menatap matanya, seperti ada perasaan yang aneh yang Shilla rasakan, Shilla merasa ada sosok lain di dalam diri putranya.


Tapi Shilla sendiri tidak tahu kenapa ia merasakan hal itu, karena ia juga tidak berusaha mengingat kejadian masa lalunya.


Setelah lama memperhatikan kedua jagoannya Shilla menghampirinya.


Memeluk dan mencium putranya, lalu menggendongnya.


"Ayok sayang, waktunya mimi cucu dulu ya, kamu pasti haus kan?" ucap Shilla sembari membawa putranya  ke teras rumah.

__ADS_1


Tapi Anjai diam memaku, ia merasa Shilla tidak mempedulikannya, Anjai merasakan sakit di dadanya.


"Oo Tuhan, wanita ini masih bersamaku, dan masih menjadi milikku, mengapa rasanya aku sakit sekali ketika dia mengabaikan aku, bagaimana jika nanti dia tau yang sebenarnya, ketika di mengingat semua ingatannya, dia sudah pasti akan meninggalkanku bahkan dia akan membenciku, karena aku telah memisahkan dirinya dengan orang-orang yang mencintainya, dan akulah penyebab kematian salah satu dari bayinya." Batin Anjai (Riza) ia sadar betul semu kesahannya.


Maka dari itu, Anjai merasa sangat bersalah kepada Shilla karena telah merenggut paksa kebahagiaan Akira yang kini telah ia rubah identitasnya menjadi Shilla.


Setelah melangkah beberapa langkah menjauh dari Anjai, Shilla baru menyadari bahwa Anjai tidak turut serta bersamanya dan juga putranya.


Sehingga Shilla menghentikan langkahnya lalu berbalik ke Arah di mana Anjai berada.


Shilla melihat Anjai masih berdiri memaku dan menundukkan kepalanya, terlihat Anjai sangat sedih.


Kemudian Shilla memanggilnya, "Hey … jagoanku, kenapa masih berdiri di situ, kemari lah ayok mimi cucu juga!" seru Shilla mengejutkan Anjai yang sedang larut dengan pemikirannya.


Anjai menatap ke arah Shilla lalu tersenyum membalas seruan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Kamu curang aku, kamu campakkan begitu saja!" kemudian seru Anjai membalas Shilla dengan nada menggoda istrinya.


"Lah, masa mau aku gendong juga sih!" Shilla menimpali.


"Ya setidaknya, peluk cium aku seperti apa yang kamu lakukan kepada putraku." Pinta Anjai dengan nada manjanya.


Karena Anjai tidak kunjung beranjak dari tempatnya, terpaksa Shilla kembali menghampiri suaminya lalu mengecup kedua pipinya.


"Sini biar aku saja yang mengendong jagoanku," ucap Anjai.


Dengan senang hati Shilla melepaskan putranya dari pangkuannya, lalu Shilla merangkul pinggang Anjai, mereka berjalan menuju teras rumah, dengan Anjai memangku Anjas dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi merangkul pundak Shilla mereka terlihat sangat harmonis dan bahagia.


Sesampainya di teras Shilla menyodorkan botol susu yang sudah terisi susu formula sesuai takarannya kepada sang putra, "Entar lagi ya ayah mainnya, Dede, mau Mimi cucu dulu," ucap Shilla seakan putranya yang berbicara seperti itu kepada sang ayah.


Anjai tersenyum bahagia melihat istri dan anaknya bahagia, "Ayah juga mau dong Mimi cucu!" balas Anjai.


"Tuh, mimi cucu ayah, sudah bunda siapin." Tunjuk Shilla, karena memang Shilla sudah menyiapkan segelas susu hangat untuk Anjai.


"Tapi Ayah tidak mau susu itu." Anjai menolak sambil menggelengkan kepalanya.


Shilla mengerutkan kening melihat ekspresi Anjai, "Kenapa tidak mau itu enak loh, masih anget lagi." 


"Tapi lebih enak lagi kalau mimi cucunya langsung dari sumbernya, seperti semalam." Ternyata Anjai sedang menggoda Shilla dan mengingatkan pertempuran mereka tadi malam.


Wajah Shilla langsung bersemu merah ketika Anjai bicara seperti itu, "Iih kamu tuh apaan sih!" Shilla tersipu malu.


"Eeh, sayang! tapi aku serius loh, pingin mimi cucu dari sumbernya, nolak suami itu dosa loh." Anjai malah serius dengan ucapannya, dan seakan memaksa dengan mengingatkan Shilla.

__ADS_1


"O'y memang dosa ya, menolak permintaan suami?" Shilla memang kurang paham dengan segala hal, semenjak ia lupa ingatan.


Dan itu selalu dijadikan kesempatan oleh Anjai untuk memperdaya istrinya.


"Iya, tanya saja kepada orang lain jika kamu tidak mempercayaiku." Anjai sengaja bicara seperti itu untuk meyakinkan Shilla agar selalu percaya kepadanya.


"Tapi, Sayang! Dede, Anjas belum bobo." Shilla merasa ragu untuk melayani Anjai ketika Anjas belum tertidur.


"Berikan saja Anjas kepada Bi Atun, biar bi Atun yang menjaganya untuk sementara waktu." 


"Oo begitu, apa harus sampai seperti itu?" Shilla merasa ragu melepaskan putranya hanya demi untuk melayani suaminya.


"Iya, harus seperti itu." tegas Anjai yang sepertinya sudah tidak tahan menahan hasratnya yang sudah memuncak di ubun-ubun.


"Apa, Kamu, tidak bisa menunggu sampai Dede Anjas tidur dulu?" sebenarnya dari setiap ucapan Shilla sudah menggambarkan keraguannya.


"Kenapa harus menunggu nanti, kalau bisa sekarang tunggu apa lagi."


Anjai segera mengambil kembali Anjas dari pangkuan bundanya, lalu membawanya untuk menemui Bi Atun yang sedang berada di belakang, Anjai ingin menitipkan Anjas kepada Bi Atun, Sementara dirinya ingin mimi cucu dari sumbernya.


"Bi Atun!" Seru Anjai.


Bi Atun segera berlari mendengar tuannya memanggil namanya, "Iya, Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Atun.


"Bi Atun sedang apa?" tanya Anjai ramah.


Bi Atun menjawab dengan apa adanya, bahwa ia sedang menyiram tanaman di halaman belakang.


"Bibi, bisa bantu saya sebentar?" 


"Apa itu, Tuan ?" Bi Atun balik bertanya.


"Tolong jagain Anjas sebentar saya ada perlu dengan bundanya sebentar." 


"Oo iya, mari." Bi Atun sangat antusias, lalu mengambil Anjas dari pangkuan sang majikan.


Anjai kembali menemui Shilla yang kini sudah berada di kamarnya, karena Anjai sudah mengajarkan Shilla cara memuaskan suami harus seperti apa, dan bagaimana.


Seperti sekarang ini, meskipun berat hati melepaskan putranya untuk di asuh oleh asisten rumah tangganya, tapi Shilla tetap menjalankan apa yang telah Anjai ajarkan kepadanya.


Ia telah bersiap di tempat tidur dengan kostum lingerie, Anjai begitu senang melihat Shilla bisa separuh itu kepadanya.


Melihat penampilan Shilla yang sangat aduhai, membuat nafsu b i r a h i nya semakin memuncak, sehingga sebelum memulai pertemuan, Anjai pun mulai melepaskan satu persatu pakaian yang ia kenakan, lalu barulah ia naik ke atas ranjangnya.

__ADS_1


Dan memulai pertempurannya, ia mengecup, lalu m e l u m a t bibir merah Shilla dengan sangat rakus.


__ADS_2