Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 92


__ADS_3

Disaat Erwin berkeinginan, memiliki pendamping kembali, mulai membuka hatinya, setelah mencintai Akira, Erwin mulai menyukai Lisa.


Karena Erwin selalu merasa terhibur jika sedang bersama Lisa, sipat Lisa yang apa adanya, periang, mandiri, dan sederhana, itu yang membuat Erwin tertarik kepadanya.


Dengan begitu Erwin memutuskan ingin menjalin hubungan lebih serius dengan Lisa, tapi Erwin ingin mendekatkan diri terlebih dahulu dengan Lisa.


Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan, Erwin juga berniat untuk mendekatkan Sisil dengan Lisa terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia menyatakan cinta kepada Lisa, dan mengajaknya menikah.


Tapi malah terjadi kejadian seperti kemarin, Sisil menolak Lisa mentah-mentah, dan Erwin pikir Sisil seperti itu karena hasutan dari Rima.


Maka dari itu Erwin menegur Rima, dan terjadilah salah paham antara Erwin dan juga Rima.


….


Hari sudah berganti malam, Rima sudah sampai di rumahnya, rumah sederhana yang terletak di sebuah kampung.


Orang tuanya langsung membahas tentang perjodohannya dengan seorang pemuda, anak dari orang terkaya di daerah itu.


Mereka sudah merencanakan itu dengan matang tinggal menunggu Rima pulang.


Saat ini mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengatur pernikahan tersebut.


Sedangkan Rima sendiri, bersikap acuh, tidak memperdulikan tentang pernikahan itu.


Rima berdiri di depan jendela di kamarnya yang sengaja dibiarkan terbuka.


Rima menyapu pandangnya di arah luar jendela, yang tatapannya memang terfokus memandang ke depan sana.


Tapi pikirannya beralih hanya memikirkan tentang Sisil, hatinya sangat berat meninggalkan gadis kecil itu. Ia selalu terbayang-bayang ketika Sisil menangis meraung-raung ingin menghentikannya.


Namun dirinya tetap pergi mementingkan egonya sendiri, Tapi sebenarnya ia merasa tidak tega dan kini merasa sangat bersalah kepada Sisil, karena tanpa persiapan apapun ia pergi begitu saja meninggalkannya.


Rima juga mengingat perasaannya kepada Erwin, tapi Rima merasa telah ikhlas untuk melupakannya meskipun ia sangat mencintai Tuan Erwin.


Di saat Rima sedang sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba saja ponsel yang berada dalam genggamannya berdering.


Dan itu lumayan membuat Rima terkejut dan membuyarkan lamunannya.


Rima segera melihat layar ponselnya, dan tertera nama Tuan Erwin.


Ya, Erwin lah yang menghubunginya atas desakan dari keluarganya agar Erwin menghubungi Rima dan meminta maaf kepadanya. 

__ADS_1


Agar Rima mau kembali lagi bekerja menjadi babysitter Sisil.


"Maaf Tuan Erwin saya tidak bisa untuk kembali." Rima tetap menolak untuk kembali, padahal Erwin telah meminta maaf kepadanya, bahkan Erwin sempat memohon kepada Rima agar ia mau kembali.


"Tapi saya tetap tidak bisa kembali, Tuan Erwin.'


"Demi Sisil …!" tegas Erwin.


"Maaf Tuan, demi kedua orang tua saya, karena  jika saya pergi orang tua saya akan menanggung malu, karena acara pernikahan saya akan di laksanakan besok. Dan jika saya pergi demi Sisil bagaimana dengan mereka?. Jadi maaf Tuan saya lebih memilih kedua Orang tua saya." tegas Rima, bicara dengan penuh penekanan, sebab ia berusaha keras menahan gejolak dalam dirinya.


Ia berusaha untuk ikhlas menjalani perjodohannya, dan berusaha untuk melupakan perasaan cintanya kepada Tuan Erwin, yang kini sedang menghubunginya memintanya kembali tapi hanya demi putrinya.


Rasanya sakit sekali perasaan Rima, makanya ia berusaha untuk menahan rasa sakit itu ketika berbicara dengan Erwin.


Ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rima, bahwa dirinya menolaknya. Erwin merasa sangat kecewa dan sakit hati kepada Rima.


Gian bertanya kepada Erwin setelah Erwin berbicara dengan Rima melalui sambungan telepon.


"Bagaimana, Win … apa dia mau kembali?" 


Erwin malah bereaksi mencibirkan bibirnya, isyarat bahwa dirinya gagal meminta Rima untuk kembali bekerja sebagai babysitter Sisil.


"Entahlah, apa yang harus aku lakukan demi Sisil?" Erwin merasa putus asa, dan bertanya Solusinya kepada Gian.


"Semua belum terlambat, masih ada kesempatan untuk kita berusaha." Celetuk Gian.


Erwin penasaran apa maksud dari ucapannya.


"Apa maksudmu?" Erwin tidak mengerti.


"Kita harus datangi dia, setelah di sana kita cari cara bagaimana pun kita harus bisa membawa Rima kembali ke rumah ini."


Kini Gian yang malah memiliki perasaan yang menggebu-gebu, sebab kondisi Sisil kembali mengkhawatirkan, padahal sebelumnya kondisi Sisil sempat stabil.


Semua ini persis seperti yang telah diberitahukan oleh dokter Eva,  bahwa kondisi Sisil akan tetep seperti itu jika pengaruh obatnya telah habis.


Dan akan sampai kapan Sisil seperti itu ketergantungan dengan obat, itu akan semakin memperburuk kondisinya.


Maka dari itu Gian merasa menggebu-gebu karena merasa harus menyelamatkan nyawanya Sisil, karena selama ini Gian-lah yang menjadi sosok ayah bagi Sisil, selama Erwin tinggal di luar negri, jadi rasa sayang Gian kepada Sisil sama seperti rasa Sayang seorang ayah kepada putranya.


"Apa harus sampai seperti itu?" Erwin merasa ragu.

__ADS_1


"Iya, kita harus berangkat sekarang juga sebelum semuanya terlambat." Tegas Gian 


"Baiklah jika begitu." barulah Erwin setuju dengan ide Gian.


Kemudian setelah berunding dan setelah sama-sama sepakat, kedua orang kakak beradik itu, menemui kedua orang tuanya dan juga Akira.


Mereka berdua (Erwin dan Gian) mengutarakan rencana mereka yang akan pergi pada saat itu juga untuk membawa Rima kembali.


Kedua orang tuanya pun mengizinkannya dan berpesan agar mereka hati-hati dalam perjalanan Mereka, karena perjalanan memerlukan waktu cukup lama dan dalam keadaan malam hari, mereka akan butuh waktu semalam untuk segera sampai di tempat Rima berada saat ini.


Kedua orang tuanya juga berpesan agar mereka berhati-hati dalam perjalanannya.


Setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, mereka segera pamit untuk melakukan perjalanan.


Gian juga pamit kepada istrinya, "Yang … aku tinggal dulu sebentar ya, aku janji akan segera kembali, kamu baik-baik di sini sama Mama dan papa ya." 


Akira tersenyum, "Iya, sayang … hati-hati ya dijalan, semoga berhasil dimudahkan dan dilancarkan segalanya sesuai harapan kita." Akira memberi doa restu untuk kepergian suaminya.


"Aamiin …." sahut semua orang mengamini doa Akira.


Kemudian Gian mengecup kening Akira, dan juga Perut buncitnya.


"Papa, pergi dulu ya nak, baik-baik ya di sana jangan bikin bunda kalian kesakitan." Ucap Gian sambil mengelus perut buncit istrinya, seakan ia sedang berbicara dengan calon buah hatinya.


"Ayo dong Gian, ah lebay sekali sih dirimu!" Teriak Erwin yang sudah siap berangkat tinggal menunggu Gian yang sedang berpamitan kepada istri dan calon anaknya.


"Iya sebentar kenapa." sahut Gian.


Sedangkan kedua orang tuanya hanya berdiri di teras rumah menyaksikan semuanya.


Lalu Gian segera berlalu memasuki mobil yang didalamnya sudah ada Erwin yang menunggunya di sana.


Dan barulah mobil itu melaju setelah Gian memasukinya.



Setelah kepergian Erwin dan Gian, dan mobil mereka sudah tidak nampak lagi di pandang mata, Mama Nirmala segera menggiring Akira untuk masuk.


Mama Nirmala membantu Akira yang kini duduk di kursi roda, untuk memudahkannya bergerak, sebab makin membesarnya perutnya semakin menyulitkannya, hanya sekedar untuk berjalan saja rasanya Akira merasa sangat kewalahan.


Makanya Gian sengaja membelikannya kursi roda agar akira tidak usah repot-repot berjalan jika ingin melakukan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2