Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 115


__ADS_3

"Anda berhati malaikat, Nona." Ucap Suster, sambil menitikkan air mata. Merasa sedih karena iba terhadap Akira.


Akira makin bingung dong dengan si Suster ini, kenapa bicaranya seperti itu, mengapa menilainya seperti itu? dibenak Akira mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, yang membuatnya bingung.


….


"Sus, sebenarnya apa maksud anda bicara seperti itu?" tanya Akira memastikan maksud dari ucapan suster Eka.


Mata suster mendelik ke arah Rima dengan sorot mata penuh dengan kebencian.


"Tidak apa-apa kok, Nona." Iya enggan


menceritakannya, sebab takut memancing emosi Akira dan takut terjadi hal buruk kepadanya, apa lagi kondisinya ia kini sedang hamil besar.


Akira mengerutkan keningnya, makin bingung dengan tingkah si suster, Rima dan Erwin hanya menatap suster itu.


Tapi Rima seperti berpikir, "Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh suster ini tentangku dan tentang nona Akira, sehingga dia bersikap aneh seperti itu. Dia menatapku dengan penuh kebencian, sedangkan kepada nona Akira dia bicara penuh rasa iba," Rima penasaran.


"Suster …." Erwin angkat bicara, ia merasa geram melihat tingkah suster itu sedari tadi, yang bersikap aneh, menurut Erwin.


"Iya …." Sahut Suster langsung menoleh ke arah Erwin.


Raut kesal tersirat nyata di wajah Erwin ketika menatap Suster itu, "Jangan memancing suasana yang tidak baik," ucap Erwin mengingatkan si suster.


Suster langsung menunduk wajah, "Maafkan saya, Tuan, saya hanya terbawa suasana, " sahut si suster.


"Kenapa? Suasana kami sedang bahagia, aku sudah pulih, anak istriku keluargaku di sini, kami cukup bahagia," kesal Erwin.


"Iya maafkan saya, Tuan!" jawab Suster tidak enak hati.


Kemudian "Assalamualaikum …!"  terdengar salam.


Semua melihat ke arah pintu, karena ada orang yang datang.


"Waalaikumsalam." sahut semua orang yang datang dan langsung melangkah masuk.


"Sorry, aku lama." ucapannya.


"Gimana, Sayang apa sudah beres?" tanya akira kepada suaminya.


Ya, orang yang baru datang itu ternyata adalah Gian.


"Sudah, Sayang." jawabnya.


"Emang dari mana saja kamu?" Erwin bertanya, karena Gian baru masuk sedangkan Akira dan Sisil sudah lebih dulu.


"Aku, abis menyelesaikan administrasi mu, dulu, tapi agak lama karena ada gangguan tadi." Gian menjelaskan.


"Iya, makanya aku duluan ke sini soalnya tadi Sisil pengen cepet-cepet ketemu papi-sama mamanya." Terang Akira sembari menggoda Rima.


Rima, tidak membalas dia hanya menundukkan kepalanya, karena malu.


Suster Eka yang mendengar percakapan mereka membulatkan matanya sebab ia sudah bisa membaca situasi, "Jadi … Aku telah salah paham, lalu babysitter dan tuan Erwin, Apa hubungan mereka sih sebenarnya, aah aku kok, bingung sendiri." Suster Eka membatin.


"Apa, Anteu? Papi dan Mami?" Sisil meminta penjelasan atas ucapan Akira.


Akira tersenyum lalu menjawab, "Iya Sayang, katanya kamu setuju Mbak Rima jadi ibumu." Akira menegaskan.

__ADS_1


Tapi Sisil masih belum yakin, "Memang boleh, Pih?" Sisil memastikan kepada papinya.


Padahal Erwin dan Rima memang sedang cemas hal itu, mereka berdua takut Sisil yang akan menolak hubungan mereka.


"Boleh …." Ucap Erwin sambil tersenyum.


"Hore …  Mbak Rima jadi Mamiku." Seru Sisil sambil bersorak Sorai.


Diikuti Akira dan juga Gian yang ikut bersorak gembira.


Setelah melihat dan mendengar semuanya, Suster Eka baru bisa tau jelas. Iya merasa tidak enak hati kepada Rima dan juga Erwin karena telah berprasangka buruk tentang mereka.


Ia mulai angkat bicara untuk meyakinkan dirinya agar tidak merasa penasaran dan menduga-duga lagi.


"Jadi Nona babysitter ini memang kekasih tuan Erwin, lalu nona yang sedang hamil ini siapanya tuan Erwin?" Suster bertanya ingin lebih jelas.


Karena dia berhati julid makanya dia jadi kepo.


Semu memandang ke arahnya karena dari pertanyaannya merek tau Suster itu telah salah paham.


Gian yang menjawab pertanyaannya, "Yang hamil ini istri saya, dia hamil anak saya, memangnya kenapa?" 


Suster itu sedikit ketakutan mendengar nada bicara Gian yang terdengar ketus, tapi bukan  hanya karena itu saja, karena dia juga merasa bersalah tidak enak hati kepada Rima, sebab dia telah salah sangka kepadanya, suster Eka sampai gugup menghadapi situasinya sekarang.


Karena perasaannya sendiri, dia merasa sedang berada di ruang sidang sebagai terdakwa, sebab dia mendap tatapan dari mereka semua yang mengintimidasi, menurutnya.


Tubuhnya gemetar, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, tenggorokannya mendadak terasa kering, sampai ia sudah payah untuk menelan Saliva-nya.


"Ma-maaf, Tuan, saya kira nona ini istri tuan Erwin." Suster menjawab sambil menunjuk Akira.


"Iya, Tuan. Sa-saya kira nona babysitter ini, selingkuhan, tuan." Lanjut suster sambil terbata-bata.


"Astaghfirullah ….!" seru Akira dan Rima serentak.


"Serendah itukah saya menurut penilaianmu?"  Rima yang bertanya.


"Maafkan saya, Nona." Suster meminta maaf, lalu menunduk sempurna, ia tidak mampu menatap wajah Rima yang telah dizalimi dengan sikapnya atau kata-katanya yang ketus sedari kemarin, karena ia telah menuduh Rima sebagai pelakor.


"Makanya Mbak, jangan hanya melihat sekilas, anda langsung mengambil kesimpulan tentang orang lain yang belum tentu sesuai dengan kenyataannya." Akira menasehati suster tersebut.


"Mbak Rima ini, babysitter Sisil, putrinya tuan Erwin, ibu dari Sisil telah meninggal sejak Sisil masih bayi, dan tuan Erwin menikahinya, jadi babysitter ini istri tuan Erwin." Akira menerangkan agar tidak terjadi salah paham lagi.


"Terus kenapa Kamu, punya sangkaan aku dan istriku pasangan selingkuhan?" Erwin ingin tau apa alasannya.


Suster mengutarakan tentang kecurigaannya, mengapa pada akhirnya Suster Eka mengambil kesimpulan seperti itu.


Pertama karena Rima menggunakan seragam babysitter, kemudahan saat Suster pertama kali melihat mereka, Rima tengah menangis dengan posisi intens bersama Erwin, dan juga dari obrolan mereka yang membicarakan soal restu dari sisil membicarakan tentang ibu sambung untuk Sisil, di tambah lagi kedatangan Akira bersama Sisil, yang Suster Eka kira Akira adalah istri sah Erwin.


"Ya Allah, Mbak … iya memang yang kamu bicarakan itu benar, tapi kesimpulan mu salah." Tegas Erwin dan Gian saling mendukung, sambil menggelengkan kepala mereka, begitu juga Akira dan Rima, merek tidak menyangka orang lain bisa beranggapan seperti itu, hanya karena melihat kejanggalan-kejanggalan menurut penilaiannya saja.


"Tolong maafkan saya, Nona, Tuan." Suster meminta maaf.


"Iya, tapi lain kali jangan dulu ambil kesimpulan sebelum ada bukti dan faktanya akurat, Anda bisa dianggap memfitnah."


"Dan kami bisa menuntut mu, atas tindakan mencemarkan nama baik, dan tindakan tidak menyenangkan," Sambung Erwin 


Sontak Suster Eka ketar-ketir mendengarnya. Ia langsung berlutut di hadapan semua orang, lalu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya, "Tuan-tuan, dan Nona-nona, mohon maafkan saya, saya sungguh menyesalinya, hiks … hiks …!" suster Eka memohon pengampunan sambil menangis ketika mendengar ancam Erwin.

__ADS_1


Rima bergegas menghampirinya dan membantu membangunkannya, "Suster, tidak boleh seperti ini, ayo buang."  Ucap Rima sambil menari tangannya agar Suster Eka bangkit kembali.


Suster Eka menatap Rima dengan wajah memelas karena merasa bersalah kepada Rima telah berburuk sangka terhadapnya, "Tapi, Nona, saya ~" terhenti karena Rima menghentikannya.


"Anda tidak bersalah, Sus. Jika anda punya pikiran seperti itu, menurut saya itu hal yang wajar, karena memang hubungan saya dan tuan Erwin belum dipublikasikan, mungkin orang yang belum tau akan berpikiran seperti anda." Terang Rima seakan membela Suster Eka.


Akira tersenyum mendengar penjelasan Rima.


"Jadi Nona, memaafkan saya?" Suster meminta kejelasan, sambil terus menangis.


"Sudahlah lupakan saja, sudah saya bilang Anda tidak bersalah," tegas Rima


"Terimakasih, Nona." Ucap Suster Eka, sambil tersenyum haru.


Erwin ada Gian hanya saling menatap dan mereka tidak bereaksi apapun.


Akira mengalihkan pembicaraan untuk mencarikan suasana, "Eeh, udah siap pulang kan?"  tanya Akira.


"Belum," tegas Rima.


"Nunggu apa lagi?" Kali ini Gian yang bertanya.


Rima menatap Erwin, lalu menatap suster Eka yang masih bersedih, sepertinya mereka enggan menjawab pertanyaan Gian, dan Rima lah yang menjawabnya.


Rima mengatakan bahwa, Erwin harus menunggu dokter untuk pengecekan terakhir kali sebelum pulang, dan juga Erwin sendiri belum mandi dan sarapan.


Ya, Erwin menolak untuk di kompres, dan malah ingin di mandikan oleh Rima.


"Ooh no …!" Seru Sisil dengan ekspresi wajah yang seakan jijik.


Sisil langsung bereaksi saat mendengar Papinya belum mandi di jam yang sudah siang.


Karena Sisil terbiasa disiplin, semua kegiatannya sudah terjadwal, tersusun rapi, sekolah atau libur, Sisil sudah harus mandi di jam tujuh pagi, jadi dia tidak suka melihat orang yang malas mandi.


Kemudian Rima menghampiri Erwin dan membantunya untuk ke kamar mandi.


"Mbak, mau mandi-in Papi?" tanya Sisil penasaran.


Erwin tersenyum meledek Sisil, "Iya, kan Mbak Rima-nya papi pinjem dulu. "Erwin malah sengaja menggoda Sisil sambil cengar-cengir.


Sisil memanyunkan bibirnya, karena tidak rela Papi-nya kini yang menguasai Rima, Sisil tidak suka sesuatu yang di sayanginya di ambil orang, sehingga Sisil berubah ekspresi menjadi kesal, tapi ada Akira dan Gian yang membujuknya, lalu memberi penjelasan dan pengertian kepada Sisil.


Sedangkan di kamar mandi, Rima sudah menyiapkan semua keperluan mandi Erwin, Rima membantu membukakan pakaian Erwin, tapi Rima menolak saat Erwin memintanya membantu untuk membuka CD-nya.


"Eeh kenapa gak mau, bukannya kamu sudah melihatnya mengelusnya dan merasakan kenikmatannya?" Erwin bicara berbisik di telinga Rima.


Dan bisikan itu membuat bulu halus Rima meremang karena geli, ketika hembusan nafas Erwin berhembus di telinga Rima.


"Ah, Tuan Jang seperti ini, lihat di luar banyak orang, ada Sisil juga di sana." Rima mengingatkan Erwin yang mulai genit dan ingin menggodanya.


"Lalu bagaimana ini? aku tidak bisa membukanya sendiri, apa kamu tidak lihat tangan ku masih di pasangi jarum infus." Keluh Erwin, dan di jadikannya sebagai alasan agar Rima mau membantunya.


Dengan terpaksa Rima mengikuti maunya, karena Rima tidak dapat untuk mengelak lagi dan juga itu sudah menjadi kewajibannya membantu dan melayani suaminya.


Erwin tersenyum simpul, ternyata Rima dapat membaca niatnya yang ingin menggoda dirinya, Erwin begitu karena ketika tangan Rima menggera*anginya, walaupun hanya sekedar membantunya melepas pakaian , tapi sentuhan kulitnya dan kulit Rima yang bergesekan menimbulkan desiran panas dalam diri Erwin, tanpa di sadari sang junior pun sudah berdiri tegak dengan sempurna.


"Astaga …." 

__ADS_1


__ADS_2