
Profesor Anna memeluk Akira, dan mengucapkan terima kasih, atas apa yang telah Akira lakukan.
…
Tapi Akira menampilkan senyum kegetiran yang menceritakan hatinya, sebab Akira teringat profesinya sebagai polwan, yang bertugas mengayomi masyarakat.
Kini tak lagi ia emban, karena paksaan dari Gian yang memaksanya untuk resign, padahal Akira sangat menyukai profesinya itu.
"Itu sudah menjadi tugas kami." kata-kata itu dulu sering Akira ucapkan sebagai rasa tanggung jawabnya akan profesinya.
Namun kini tidak ada dasarnya untuk Akira mengucapkan kata-kata itu lagi.
Sehingga Akira meralat ucapannya, "Ya, menolong sesama itu sudah menjadi tugas kita sebagai sesama manusia." ucap Akira meluruskan ucapnya.
" Saya sungguh berterima kasih Nona, dan maafkan saya sempat salah paham kepada Anda." Profesor Anna menyesali tindakannya.
"Iya, tidak apa-apa itu hal yang wajar kok prof, mungkin jika saya di posisi anda saya juga akan bersikap seperti anda." sahut Akira begitu bijak, membuat profesor Anna merasa lega.
Kemudian, orang yang menjadi kelinci percobaan dengan bekas luka gosong di bagian betisnya, menghampiri Akira.
Ia malah bersimpuh memeluk lutut Akira, membuat Akira merasa syok, dan tidak enak hati di perlakukan seperti itu.
"Eeh apa-apa ini!" seru Akira, kaget ketika itu.
"Nona, terimakasih atas semuanya." ucap orang itu.
Sebab luka itu sudah sejak lama ingin ia hilangkan, karena sangat mengganggunya, membuat ia minder dalam berpakaian, jika luka itu sampai harus terlihat.
"Nona… sudah berbagai cara saya lakukan untuk menghilangkan noda bekas luka itu, tapi tidak bisa hilang sampai Dokter kulit menyarankan untuk melakukan operasi, sudah tentu itu memerlukan banyak biaya, tapi nona telah menolong saya menghilangkan noda itu dengan cairan tersebut secara gratis." Orang sangat berterimakasih dan bersyukur.
"Iya, tapi tidak harus bersikap seperti ini juga." Akira menghindar.
Kemudiaan Riza menegur Akira dan mengajaknya untuk ikut bersamanya ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan nya tentang kasus penjahat tersebut.
Tapi Gian menahannya agar Akira tidak pergi bersama Riza.
Gian meminta profesor Anna dan Rahel tangan kanannya untuk pergi terlebih dahulu ke kantor polisi untuk memberikan keterangannya.
Sementara ia ingin berbicara dengan Akira terlebih dahulu.
Mendengar penuturan Gian jelas Riza tidak terima.
Karena ia yang lebih dulu yang ingin berbicara dengan Akira dengan alasan mengajak Akira untuk mengikuti nya ke kantor polisi.
__ADS_1
"Akira ku mohon ikut lah dengan ku, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Akira memang ingin menolaknya, karena Akira sudah tau sebentar lagi Riza dan Tiara akan segera menikah, karena Tiara telah mengirimkan foto prewedding antara Tiara dan Riza.
Sebab itulah Akira ingin menolak, karena Akira tidak ingin Tiara salah paham kenapanya.
"Maaf Za… sepertinya aku tidak bisa.", ucap Akira.
"Tolong beri aku kesempatan untuk bicara, jangan seperti ini Ra, ini tidak adil untuk ku, apa salahku sehingga kamu bersikap seperti ini, hati ku makin sakit Ra." ucap Riza membuat perasaan Akira makin membuatnya merasa bersalah.
"Tapi Za, tidak ada lagi yang harus kita bahas, sekarang semua sudah jelas, aku sudah jadi istri orang, dan kamu sebentar lagi akan menjadi suami orang juga." Akira
"Akira… aku mohon berikan kesempatan untuk cinta kita Ra, untuk kita memperjuangkan cinta kita, aku masih sangat mencintai mu." Riza masih tetap berharap Akira akan menjadi miliknya.
"Ehm…" Gian berdehem ketika mendengar Riza mengutarakan perasaannya kepada Akira.
"Za… sekarang kondisinya tidak seperti dulu lagi, keadaan tidak memungkinkan untuk cinta kita bersatu."
"Akira sayang… kita bisa perjuangkan cinta kita, kita berhak bahagia." Riza memelas agar Akira mau kembali kepadanya.
"Za… kita jalani apa yang terjadi sekarang dalam hidup kita, aku tidak ingin egois, karena akan banyak orang yang kecewa jika aku hanya mementingkan diri ku sendiri." Jawab Akira.
Justru Riza merasa sangat kecewa atas jawaban Akira, yang berucap seperti itu.
"Oo jadi kamu tidak pernah memikirkan perasaan ku, kamu lebih suka aku yang tersakiti seperti ini Ra?" ucap Riza kesal.
Tapi Riza sudah terlanjur kecewa, "Lah sudah lah…!" Seru Riza sambil berlalu pergi.
"Za… Riza…!" Akira mencoba untuk mengejar dan menghentikan Riza.
Namun Gian menarik tangan Akira untuk mencegahnya.
Sehingga Akira lebih memilih untuk tetap tinggal di sana.
Karena Akira berpikir itu lebih baik, jika Riza membencinya akan lebih baik karena Riza tidak akan mengejarnya lagi, dan Riza bisa menikahi Tiara sesuai keinginan keluarganya.
Meskipun semua itu, juga sangat menyakitkan bagi Akira, tapi semua sudah terjadi.
Semua itu sudah diatur oleh yang maha kuasa, seakan yang maha kuasa tidak memberikan kemungkinan bersatunya cinta Antara Riza dan Akira.
Kini ruang sudah sepi, semua karyawan dan orang yang tadi di Tawan oleh para penjahat sudah kembali beraktifitas seperti biasa.
Tinggal nanti mereka menunggu giliran dipanggil ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian atas kasus yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Di ruangan itu hanya ada Gian dan Akira, Gian tau Akira tidak baik-baik saja.
Gian tau perasaan Akira terluka, atapi Gian sungguh senang dengan pendirian Akira yang memilih untuk tidak kembali kepada Riza.
Akira berdiri dengan raut wajah yang ditekuk mencerminkan perasaannya.
Gian merasa tidak tega melihat nya dan bersimpati ingin menghiburnya.
Kemudian Gian memeluk Akira dari belakang tubuh Akira dan menyanggah kan dagunya di pundak Akira.
Akira sungguh terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Gian.
Akira berusaha untuk menghindar, dengan mencoba melepaskan tautan tangan Gian dari pinggangnya.
Tapi tautan tangan Gian cukup kuat, sehingga Akira kesulitan untuk bisa terlepas dari pelukan Gian.
"Kak Gian, tolong jangan begini, lepaskan aku." pinta Akira.
"Sayang biarkan seperti ini sebentar saja." Gian balik meminta.
"Tapi ~" ucap Akira terhenti karena Gian mempererat pelukannya, akhirnya Akira hanya bisa pasrah.
Karena Gian memang suaminya, dan tidak ada salahnya Gian seperti itu kepadanya.
"Akira, tolong maafkan semua kesalahanku, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya aku mohon." Gian terus memohon hal yang sama.
Akira tidak dapat menjawabnya, sebab Akira belum bisa percaya sepenuhnya kepada Gian atas apa yang telah Gian lakukan kepadanya.
"Akira tolong jawab aku." Gian mendesak jawaban dari Akira.
"Oke… tolong juga berikan aku waktu untuk bisa mempercayaimu, biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya." jawab Akira kemudian.
Karena Akira belum bisa menjawab iya, atau mengiyakan permintaan Gian.
"Baiklah semoga secepatnya kamu bisa membuka hatimu untuk ku!" Gian berucap penuh harapan.
"Oo iya… aku ke sini di minta mama untuk mengantarkan makanan siangmu." Terang Akira yang melupakan tujuan awalnya.
Dan Akira kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Gian.
"Oo ya…!" Seru Gian, sambil melepaskan pelukannya.
Akira langsung mengambil paper bag yang sempat ia letakan di atas meja di ruangan itu.
__ADS_1
Akira mulai membuka kotak bekal yang berisikan makan siang untuk Gian.