Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 166


__ADS_3

Akira menangis sejadinya, saat Ibunya memeluknya.


Gian mengelus kepalanya membelai rambut panjangnya, Gian dapat merasakan kegetiran yang Akira rasakan.


"Tenang, sayang aku tau apa yang kamu rasakan tapi jangan jadikan semua itu kelemahanmu yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain, ayo kita hadapi semua ini bersama, kamu tidak sendiri, ada aku orang tua kita dan yang lainnya yang akan mendukung kita, ada putra kita yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kita," ucap Gian berusaha menguatkan Akira.


"Ayo sayang, kita hadapi bersama orang-orang yang sedang menzalimi kita, kita buat mereka kalah dalam permainan mereka sendiri." Gian menyemangati Akira.


Akira mengurai pelukan ibunya, dan beralih merangkul Gian, kemudian Gian membalasnya dengan mendekapnya dalam pelukannya.


Iya, Akira bukan wanita lemah, ia wanita tegar dan tangguh, terbukti selama ini ia selalu bisa menghadapi semua masahnya dengan kemenangan atas dirinya.



Kini keadaan putra mereka sudah membaik, mereka juga mengganti namanya menjadi Putra Giara Mahendra, sedang kembarannya yang dibawa oleh Shafira mereka beri nama Putri Giara Mahendra.


Gian dan Akira juga telah sepakat akan rujuk, sehingga di sidang keputusan yang digelar hari ini mereka memutuskan akan rujuk kembali.


Dan Gian dan Akira kembali melanjutkan ijab kabul, meskipun mereka belum bercerai secara hukum, dan belum pernah terucap talak dari mulut Gian, tapi karena lamanya mereka berpisah dan Akira pun sempat menikah dengan lelaki lain, jadi mereka harus kembali melanjutkan ijab kabul.



Sementara kondisi, Riza dalam tahanan semakin hari semakin mengenaskan, ia terus saja mengamuk dan berusaha untuk kabur ia juga diikat karena selalu berusaha melukai dirinya sendiri.


Tapi saat ini, keadaan Riza sudah semakin parah, ia dilarikan ke rumah sakit karena dia sempat tidak sadarkan diri, karena berhari-hari ia tidak makan dan minum, ia hanya memanggil-manggil nama Akira dan Shilla.


Sehingga pihak kepolisian menghubungi Akira dan juga Gian, memberi kabar tentang kondisi Riza saat ini.


Lalu, Gian dan Akira datang ke rumah sakit untuk menjenguk Riza, dan melihat keadaannya.


Dengan langkah ragu Akira memasuki kamar rawat Riza, jujur saja Akira masih merasa terauma dengan semua perlakuan Riza kepadanya.


Kini semua rasa yang pernah Akira dulu untuk Riza telah berubah menjadi rasa benci.


Ia karena apa yang telah dilakukan Riza kepadanya itu suatu kejahatan yang sangat merugikan Akira, dan membuatnya sangat menderita.


Akira sampai harus bertaruh nyawa saat Riza membawanya kabur dalam keadaan hamil besar, Akira sampai harus mengalami koma berbulan-bulan melewatkan momen-momen penting dalam hidup ketika ia baru saja menjadi seorang ibu.


Tidak sampai di situ, Riza juga tega memisahkan dirinya dari salah satu putrinya, yang kini entah berada di mana.


Dan yang membuat Akira sangat membencinya bahkan sangat jijik kepada Riza, ketika ia teringat saat dirinya di perdaya di atas ranjang.


Akira sampai merasa jijik dengan dirinya sendiri, ia sangat menyesali semua itu, mengapa ia dengan bodohnya bisa dikendalikan oleh  Riza  sampai bermain di atas ranjang pun harus sesuai dengan keinginan Riza.


Dan yang membuat Akira merasa jijik pada dirinya sendiri ia malah menikmatinya, Akira benar-benar sangat membenci hal itu.


Sampai-sampai saat, malam pertama Akira dan Gian harus tertunda karena Akira merasa belum siap untuk melakukan hal itu bersama Gian.


Flashback on

__ADS_1


Malam itu setelah mereka ( Akira dan Gian melakukan ijab kabul Akira kembali tinggal di rumah keluarga Mahendra.


Akira sudah lebih dulu masuk ked alam kamar Gian untuk menidurkan putranya dan setelah putra tidur, Akira memindahkannya ke tempat tidur khusus tempat tidur untuk putra.


Karena ia merasa sangat lelah, kemudian Akira membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, niat hatinya ia ingin tiduran terlebih dahulu sambil menunggu suaminya yang masih asyik berbincang dengan keluarganya.


Tapi rasa lelah dan rasa kantuk menguasainya, sehingga tidak ia sadari perlahan tapi pasti Akira terlelap begitu saja.


Selang beberapa waktu Gian masuk ke dalam kamarnya dan melihat putra dan bundanya sudah tertidur.


Gian menghampiri putra, lalu meraih tangan mungil putra dengan lembut lalu mengecupnya dengan lembut pula, lalu beralih mengecup seluruh wajahnya.


"Putranya Papa, tidur yang nyenyak ya, Terim kasih, sudah membantu Papa bersatu kembali dengan bundamu." gumam Gian seakan sedang berbicara dengannya.


Gian tersenyum melihat wajah polos putra yang begitu menggemaskan, kemudian Gian memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di samping istri tercintanya.


Niat hatinya ia ingin tidur, karena ia juga merasakan lelah sama seperti Akira, tapi sebagai lelaki normal hasratnya tidak bisa untuk membuatnya tidur dengan mudahnya, sementara sang pujaan hati ada di sampingnya.


Gian tidak bisa untuk tidak mengganggu istrinya, untuk sekedar mencium seluruh wajahnya lalu memeluknya.


Pergerakan Gian membuat Akira terbangun dan menyadari kehadirannya,  Akira membuka matanya, dan melihat wajah itu memang wajah suami tercintanya.


Akira tersenyum sambil memejamkan matanya, membuat Gian semakin geregetan melihatnya.


"Hhmm, kamu menggodaku ya!" Gian merasa tergoda, rasa lelah dan kantuknya ilang begitu saja.


Iya mengecup bibir seksi Akira dengan lembut, semakin lama semakin dalam, dengan nafas yang bergemuruh hasart keduanya semakin memuncak ketika tangan Gian sudah bermain di area sensitif Akira.


Bibir mereka saling bertautan, sementara tangan Gian sudah menilisik masuk kedalam pakayan Akira lalu memainkan gunung kembar Akira, yang terasa hangat empuk, dan kenyal.


Akira sendiri memberi  respon menggeliat, semakin membusungkan dadanya seakan semakin menantang, dan semakin meminta lebih dari itu.


Sebagai lelaki normal, tentang saja Gian memang merasa tertantang, ia semakin liar, mulai menyibakkan baju yang Akira kemakan dan dan berusaha membuka pengait kacamata gunung kembarnya, setelah berhasil Gian mulai bermain dengan bibir dan lidahnya di area gunung kembar Akira, sehingga Akira mengeluarkan suara-suara erotis menggema di seluruh ruangan.


Membuat suasana semakin panas, dan gairah semakin memuncak, Gian sudah berhasil melepas celananya tombak tumpulnya sudah mode on.


Gian meraih tangan Akira dan menggenggam lalu mengarahkan tangan Akira ke tombak tumpul miliknya.


Tapi saat tangan Akira menyentuh tombak tumpul milik Gian yang sudah menegang Akira terkejut, dan teringat saat adegan ranjangnya dengan Riza yang sangat ia benci.


Akira refleks ia mendorong  tubuh Gian yang berada di atas tubuhnya dengan sangat kuat,  Gian sendiri terkejut dengan pergerakan Akira yang tiba-tiba seperti itu.


Tubuh Gian terjatuh di samping Akira akibat dorongan dari nya, tapi Akira malah bergegas bangkit dan lari ke kamar mandi, di sana ia menangis sejadi-jadinya.


Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri, dan merasa tidak pantas untuk Gian, intinya Akira merasa trauma jika teringat adagannya dengan Riza.


Gian sendiri hanya bisa cengo mencerna keadaan yang sedang ia hadapi.


Sebenarnya Gian merasa syok dengan tindakan Akira yang seperti itu, ia juga merasa kecewa hasratnya yang sudah menggebu-gebu, sudah dalam mode on dan sudah siap untuk di tancapkan.

__ADS_1


Tapi harus terhenti begitu saja, sebenarnya Gian ingin marah karena belum mengerti dengan apa yang terjadi kepada akira yang sedang merasakan trauma.


Tapi Gian berusaha untuk menahan emosinya, Gian sadar betul pasti ada yang sedang Akira rasakan sehingga ia bertindak seperti itu.


"Pasti ada alasan di balik semua ini." Batin Gian mencoba memahami Akira.


Ia menarik nafas panjang untuk meredam semua emosinya serta nafsunya. Sehingga keadaannya kembali setabil, Gian kembali memungut pakaiannya yang sudah sempat terlepas lalu mengenakannya kembali.


Kemudian setelah itu, Gian mengetuk pintu kamar mandi yang di mana Akira berada di dalamnya.


Tok, tok , tok … suara pintu di ketuk.


"Akira … kamu baik-baik saja kan, sayang!" Gian memanggil Akira dan bertanya tentang keadaannya.


Tapi Gian tidak mendapatkan jawaban dari Akira, Gian mencoba menekan handel pintu kamar mandi tersebut, dan memang tidak sempat Akira kunci pintunya.


Secara perlahan Gian membuka pintu kamar mandi itu, lalu ia masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi kepada istrinya.


Namun alangkah terkejutnya Gian melihat Akira yang sedang terduduk di lantai kamar mandi, dengan keringat bercucuran, sambil memeluk kedua lututnya dan menangis terisak-isak.


"Hey, kamu kenapa, apa aku menyakitimu?" Gian menyapa lalu bertanya.


Akira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lalu kenapa, ada apa? Cerita dong sama aku supaya aku bisa tau dan mengerti kenapa kamu seperti ini?" Gian membujuk Akira agar ia mau bercerita.


Tapi Akira masih terisak ia sulit untuk berbicara.


"Oke, oke, tenangkan dulu dirimu ya!" Interuksi dari Gian, Gian mengerti dan tidak memaksa Akira.


Kemudian Gian membangunkannya lalu memapahnya untuk kembali ke ruang tidur, Gian mengarahkan Akira untuk duduk di tepi ranjangnya, lalu Gian mengambil segelas air putih lalu membuat Akira untuk meminumnya.


Dengan sekali tegukan air itu tandas berhasil melewati tenggorokan Akira yang memang sedang kekeringan.


Posisi Akira duduk di tepi ranjang, Gian berdiri di depannya, lalu Akira merangkul pinggang Gian, memeluknya.


"Maafkan aku, aku mengecewakanmu! Aku kotor, aku tidak pantas untukmu,  hiks, hiks, hiks …!" Akira mengakui kesalahannya.


Mendengar apa yang Akira katakan, Gian baru mengerti apa yang Akira rasakan, ia baru memahaminya,


Gian mengelus punggung Akira, "Tenangkan dirimu sayang, aku memahamimu, aku tidak apa-apa aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap." ucap Gian, lalu mengarahkan Akira untuk tidur.


Dan malam pertama kedua mereka gagal begitu saja, karena rasa trauma Akira. Tapi Gian berusaha untuk memahaminya.


Flashback off.


Dan ketika Akira memasuki kamar rawat inap Riza, keringat dingin mulai bercucuran ia terlihat panik, Gian memahami apa yang Akira rasakan, Gian menggenggam tangan Akira, untuk menenangkannya.


Agar Akira kembali kepada Akira yang dulu, selalu tenang dalam segala hal, Akira melihat ke arah Suaminya, lalu ia tersenyum kaku.

__ADS_1


__ADS_2