
"Sisil sayang…" ucap Akira lemah lembut sambil menggenggam tangan Sisil lalu mencium keningnya.
"Anteu datang nak…!" Lanjut Akira.
….
Sisil langsung bisa merasakan kehadiran Akira di sana, sebab genggaman tangan Akira dan kecupan hangatnya yang Sisil rindukan, membuat Sisil terbangun dari tidurnya.
Tapi karena kondisinya memang sangat lemah sehingga Sisil tidak mampu hanya sekedar untuk membuka matanya.
Ia hanya mampu bergumam dengan nada berbisik, tanpa menggerakkan bibirnya, "Anteu..!" hanya kata itu yang keluar dari mulut sisil tapi nyaris tidak terdengar.
Akira merasa lega ternyata Sisil meresponnya, ia pun balik memberi respon kepada Sisil "Iya, sayang…!" sahut Akira sambil menitikkan air mata kembali.
Suasana begitu haru, Gian sendiri yang ikut menyaksikannya yang hanya berdiri memaku turut serta Larut dalam rasa haru, terlebih ia memang merasa bersalah.
Atas egonya, Sisil harus mengalami itu semua, ia pikir Sisil bisa ia paksa dan mengikuti semua yang ia inginkan.
Iya, Sisil memang gadis kecil lemah tidak mampu melawan, tapi bayinya begitu memberontak dan memberikan reaksi untuk me look awan. Sehingga tekanan yang Sisil terima membuat fisik Sisil tidak mampu untuk bertahan.
Memberikan reaksi seakan menyerah dan memilih untuk pergi selamanya.
Dan itu semua menjadi penyesalan terbesar bagi Gian atas sikap keras nya terhadap Sisil.
Para petugas yang ikut menyaksikan juga tidak luput dari rasa haru, mereka ikut meneteskan air matanya tanpa mereka sadari.
"Sisil kenapa sayang…? Anteu tidak akan meninggalkan Sisil, kamu tenang yang dan beristirahat lah! Anteu akan menunggu Sisil di sini sampai Sisil sehat." ucap Akira untuk memberi support kepada Sisil.
Sisil memberikan respon dengan sedikit mengangguk kan kepalanya.
Kemudian Akira duduk di kursi di samping ranjang Sisil.
Akira terus menggenggam tangan Sisil yang awalnya terasa begitu dingin kini berangsur menjadi hangat.
Wajah Sisil yang awalnya pucat pasih , kini juga berangsur sedikit memerah.
Ya, kondisi Sisil berangsur membaik setelah kedatangan Akira.
…
Sampai di pagi hari, sang penerang alam sudah menampakkan sinarnya.
Setelah semalaman terjaga, Akira baru saja terlelap, tapi kini ia di bangunkan oleh Gian atas permintaan petugas yang berjaga di ruangan itu.
Akira tertidur dengan posisi duduk di samping Sisil dan menopang kan kepada nya di bibir ranjang Sisil.
__ADS_1
Saking lelahnya ia, sampai tidak menyadari bahwa waktu telah pagi.
Gian masuk keruangan Setelah tidur di luar atau di ruang tunggu khusus pasien ruangan ICU, petugas pun meminta agar Akira di bangunkan, karena dokter dan perawat akan membersihkan Sisil dan akan ada pemeriksaan atas kondisi Sisil.
Untuk suasana lebih kondusif, maka Akira diminta untuk keluar terlebih dahulu.
Gian menghampiri Sisil dan Akira yang sama-sama masih terlelap.
Gian menatap wajah keduanya secara bergantian.
Ada rasa bersalah yang mendalam dalam hati Gian, ia teringat ego nya menimbulkan penyesalan.
'Karena ke egoisan ku, mereka berdua jadi korbannya.' Batin Gian.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, kini tinggal Gian untuk memperbaiki semuanya.
Gian teringat apa yang di interuksi oleh tim medis untuk segera membangunkan Akira dan mengajaknya keluar.
Gian mulai membangunkan Akira dengan menyerukan namanya, "Akira…!"
Tapi Akira masih terlelap tidur, kemudian Gian menyentuh pergelangan tangan Akira dengan telunjuknya, lalu sedikit mengiyakannya.
"Hey… Akira… ayo bangun." seru Gian lagi.
Merasakan ada yang menggoyang-goyangkan tangannya Akira terbangun dari tidur nyenyak nya.
Akira masih belum sepenuhnya sadar dari dari tidurnya, ia masih mengingat-ingat ia berada di mana karena ia merasa asing dengan pandangan pertamanya saat membuka mata.
Akira menguap, dan menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Sssst , aaaah…!"
"Iisss… jorok sekali kamu, jaga sikapmu sedang berada di mana." gumam Gian melihat Akira menggeliat dan menguap, seakan ilfil melihatnya.
Akira langsung menutup mulutnya mendengar apa yang diucapkan oleh Gian.
Kini akira sadar betul dirinya sedang berada di mana, tapi Akira tidak menjawab ataupun merespon ucapan Gian.
Akira masih berekspresi datar, karena ia tidak tahu ia di bangunkan untuk apa.
"Ayo bangun, tim medis meminta agar Sisil di tinggalkan dulu karena dokter akan melakukan pemeriksaan mengecek kondisi Sisil." kemudian terang Gian.
Akira hanya mengangguk tanda mengerti dan bangun dari duduknya, lalu berjalan lebih dulu dari pada Gian atau tanpa menunggu Gian.
Sikap Akira begitu dingin kepada Gian rasa sakit hati yang di rasakan oleh Akira, membuat hati Akira mati rasa kepada Gian.
__ADS_1
Gian berjalan mengikuti Akira, sesampainya di luar ruangan, Akira terus berjalan sendiri makin menjauh dari Gian, padahal Gian ingin mengajaknya untuk sarapan tapi respon Akira, tidak bersahabat dengan nya.
Sehingga Gian pun memilih untuk tetap diam menunggu di ruang tunggu, bahkan tidak menyapa Akira sama sekali.
Setelah beberapa waktu, Akira kembali ke ruang tunggu menghampiri babysitter yang masih setia menunggu, karena itu memang sudah tugasnya, menemani Sisil, meskipun hanya menunggu di ruang tunggu.
Mata Akira terlihat sembab, meskipun Akira telah mencuci mukanya di toilet, sebab rupanya tadi Akira langsung bergegas ke toilet untuk buang air kecil, dan mencuci mukanya.
"Mbak ada air minum?" tanya Akira kepada babysitter, sebab ia merasa tidak sangat haus.
"Maaf Non, tidak ada ini ada juga bekas saya, ini juga dah mau abis." Jawab babysitter.
"Oo ya udah gak usah." Akira pun menolak.
"Apa mau saya belikan Non?" tawar babysitter.
"Tidak usah…!" Gian yang menjawab.
Sontak Akira dan babysitter langsung menatap Gian.
"Lah… dia mulai lagi deh…!" Bisik Akira, dengan ekspresi malas berdebat dengan Gian.
Tapi Gian malah sengaja mendekati Akira.
"Loh… loh… mau ngapain dia?" Akira gugup merasa serba salah karena Gian makin mendekat kepadanya.
Tiba-tiba Gian menarik tangan Akira, "ayo ikut aku." Katanya.
"Heh mau kemana..?" Teriak Akira, karena kaget atas sikap Gian yang tiba-tiba menarik tangannya dan menyeretnya untuk mengikuti nya.
Tapi Gian tetap menariknya, tidak mempedulikan teriakannya, sampai petugas keamanan menegur mereka karena telah membuat kegaduhan dengan suara teriakan Akira yang emosi, sehingga mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang di sana.
"Maaf Tuan, Nona… tolong jangan membuat keributan ini rumah sakit anda berdua bisa mengganggu kenyamanan pasien." tegur petugas keamanan.
Kala itu mereka terhenti, karena memang petugas itu menghentikan langkah mereka.
Saat itu Akira menarik tangannya dari genggaman tangan Gian, karena genggam tangan Gian agak kendur, atau melemah.
Sehingga dengan mudah Akira bisa melepaskan diri.
"Ini nih pak! Dia orang bikin masalah terus." tuduh Akira kepada Gian dengan kesalnya.
"Maaf pak…!" hanya itu yang Gian ucapkan.
"Ya sudah, jangan diulangi tuan, hargai tempat ini." Petugas keamanan pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Gian kembali menarik tangan Akira, tapi Akira dengan sigap mengangkat tangannya dengan gerakan menyetop pergerakan Gian.
"Stop…! tidak dengar apa yang dikatakan oleh security tadi, jangan buat keributan." Akira mengingat kan Gian, Agar tidak membuat akira berteriak lagi, intinya Akira tidak ingin di paksa.