
Akira tetap tenang, melihat tingkah laku Mila yang terlihat songong. Dari sikap Mila itu sendiri Akira bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan Mila memang tidak benar.
Semua orang di sana tercengang mendengar atas sikap Akira dan malah menyanggupi untuk mengambil dan mengurus anak itu.
"Sudah jangan dijadikan perkara yang menambah ribet permasalahan, aku bersedia untuk mengasuh putramu Mila, semoga dia jadi anak baik dalam asuhanku." ucap Akira menengahi perdebatan antara Mila dan keluarga Mahendra.
Mila sendiri terperangah ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Akira, sebab semua itu jauh dari ekspektasinya.
Terlihat jelas dari ekspresi wajah Mila ia sungguh syok dengan keadaan ia tidak pernah menyangka Akira akan bersikap demikian.
"A-apa?" gumam Mila terbata karena gugupnya karena merasa panik.
"Iya, anak siapa pun dia aku bersedia mengasuhnya." Tegas Akira.
Mila berusaha bersikap tenang setenang mungkin, dan merelakan putranya karena ia sudah terlanjur menawarkannya, ia terjebak dalam permainannya sendiri.
Gian tidak menyangka Akira akan berhati besar menerima anak itu dan bersedia untuk mengasuh anak itu.
Akira mengambil putra Mila dari pangkuan ibunya, "Sekarang kamu tinggal disini bersama ku dan yang lainnya." Ucap Akira dengan nada gemas ketika memangku anak itu.
"Lihat putra, sekarang kamu punya teman baru, Nak!" ucap Akira kepada putranya sendiri.
Akira membawa putranya dan putra Mila ke kamar dan anaknya untuk mengajak mereka bermain.
Dan anehnya anak Mila tidak menolak ketika Akira mengambilnya dari pangkuan ibunya.
Mama Nirmala, segera menghubungi pengacaranya dan memintanya untuk membuatkan surat perjanjian agar Mila tidak mengusik keluarganya lagi dengan alasan apapun.
Karena secara suka rela ia telah memberikan putranya, meskipun anak itu sudah terbukti bukan darah daging Gian.
Anak itu memang berstatus anak Gian karena ketika itu Gian menikahi Mila memang untuk status itu, tapi pada kenyataannya sesuai bukti yang ada anak itu bukan lah anak Gian.
Dan memang pada kenyataannya Gian tidak pernah menyentuh tubuh sintal Mila, meskipun dalam pengaruh minuman beralkohol.
Setelah surat dibuat saat itu juga, Mama Nirmala meminta Mila untuk menandatanganinya, dan dengan terpaksa Mila melakukan apa yang Mama Nirmala pintu, karena dia sendiri yang menyerahkan putranya.
"Sial aku terjebak dalam permainanku sendiri." Mila membatin mengakui kekalahan nya.
Setelah selesai mama Nirmala mengusir Mila untuk keluar dari rumahnya, dengan cara tidak hormat dan mengingatkannya agar jangan pernah lagi menginjakkan kaki di kediaman Mahendra.
…
Gian menghampiri Akira yang sedang bermain dengan putranya dan putra Mila di dampingi baby sitter putranya.
__ADS_1
Sebelumnya Gian ikut bermain sebentar bersama mereka, dan karena waktu sudah malam dan sudah waktunya untuk para balita juga untuk tidur, putra Mila malah lebih cepat terlelap daripada putra Akira.
Setelah kedua balita itu sudah terlelap, Akira keluar dari kamar itu bersama Gian Suaminya menuju kamar tidur Mereka.
Sesampainya di kamar, Gian mencekal pergelangan tangan Akira ketika Akira hendak berlalu ke kamar mandi untuk bersiap segera tidur.
"Tunggu sayang!" Cegah Gian.
Seketika Akira menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Gian.
"Iya, ada apa?" tanya Akira polos.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Akira tersenyum melihat dan mendengar suaminya berbicara.
"Apa yang mau dibicarakan?" tanya Akira sambil tersenyum dan mendekat ke arah Suaminya
"Tenang Mila dan putrinya." Tegas Gian.
"Tidak ada yang perlu kita bahas lagi, aku percaya sepenuhnya kepadamu, kamu tidak pernah mengkhianati ku." ucap Akira membanggakan Gian
...****************...
Di sisi lain Mila melangkah keluar dari kediaman Mahendra dengan penuh penyesalan, alih-alih ingin menghancurkan pernikahan Gian dengan Akira. Namun, dirinya sendiri yang terjebak dalam permainannya.
Kapan pun Jimi ingin, Mila selalu siap untuk melayaninya, Jimi juga selalu berpesan agar Mila menjaga putranya.
Tapi apa yang terjadi ia malah menyerahkan anaknya kepada keluarga Mahendra, yang awalnya ia hanya berniat untuk menjadikan putranya sebagai umpan untuk menghancurkan rumah tangga Gian dan Akira.
"Sial … kenapa wanita itu (Akira) tidak terpancing, kenapa dia malah bersedia mengurusi putraku, b r e n g s e k !" Mila menggerutu dengan perasaan kesalnya.
"Lalu apa yang harus aku katakan nanti kepada Jimi tentang anaknya!" Mila merasa panik akan hal itu.
Tapi Mila tetap harus pergi dari sana, ia pun pulang menuju apartemennya.
Sesampainya di apartemennya, Mila sendiri merasa sangat kehilangan putranya, yang biasanya selalu ada bersamanya, sejak ia lahirkan anaknya tidak pernah jauh darinya, tapi kini anak itu berada jauh darinya bersama musuh-musuhnya.
Saat Mila merasa kehilangan dan kebingungan, tiba-tiba terdengar suara bel pintu menandakan ada seseorang yang datang bertamu ke apartemennya.
Tapi Mila sudah tau siapa yang datang, ia menjadi sangat panik dan ketakutan.
Namun suara bel pintu itu tidak berhenti berbunyi, memaksa Mila untuk membukakan pintu itu.
__ADS_1
Dengan langkah perlahan karena ragu Mila melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu apartemennya.
Dan ketika pintu terbuka, nampak lah sosok pria yang tidak asing lagi bagi Mila.
"Jimi …," gumam Mila dengan ekspresi wajah ketakutan.
Jimi yang awalnya tersenyum segera berubah ekspresi ketika melihat wajah Mila yang menyambutnya dengan ekspresi wajah yang tidak enak dipandang.
"Kenapa? kamu tidak suka aku datang?" tanya Jimi merasa curiga.
"Ah, ti-tidak, tidak …!" jawab Mila dengan gugupnya.
Jimi semakin merasa curiga melihat gelagat Mila ia segera menyerobot masuk ke dalam apartemen Mila, karena Jimi berpikir Mila sedang menutupi sesuatu.
Awalnya Jimi mengira Mila sedang berselingkuh dan menyembunyikan seorang pria di kamar apartemennya, maka dari itu Jimi menggeledah setiap ruangan di apartemen Mila..
Mila sendiri mengekor di belakang Jimi berusaha untuk menghentikannya, karena apa yang dilakukan oleh Jimi itu hanya sia-sia saja, Jimi tidak akan menemukan apa pun di apartemennya.
Karena yang sedang Mila sembunyikan bukanlah hal itu.
"Hentikan, Jimi! kamu tidak akan menemukan apapun!" Pekik Mila.
Dan ya, Jimi menghentikan pencariannya, "Kamu tidak sedang mempermainkan ku?" tegas Jimi.
Mila segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak!" tegas Mila.
"Oke, aku percaya padamu," tapi Jimi masih merasakan kecurigaan, tapi ia berusaha untuk menepisnya.
"Dimana putraku?" Kemudian tanya Jimi.
Sebab ia tidak melihat putranya di apartemen Mila, biasanya meskipun ia sedang tertidur ia tentu ada di tempat tidurnya tapi mengapa saat ini ia tidak melihatnya.
Wajah Mila berubah pucat pasih ketika mendengar pertanyaan Jimi, dan Jimi bisa merasakan gelagat aneh Mila ketika itu. Jimi mengerutkan keningnya ia semakin curiga ada yang tidak beres yang disembunyikan oleh Mila.
"Kenapa Mila, ada apa denganmu, dan di mana putraku?" Jimi memberondong Mila dengan pertanyaan yang membuatnya curiga.
Tiba-tiba Mila bersujud di kaki Jimi dan memohon ampun kepada Jimi, "Hiks, hiks, hiks, tolong maafkan aku …!"
Melihat itu Jimi semakin merasa curiga ada yang tidak beres yang telah terjadi.
"Katakan apa yang telah terjadi?" Perintah Jimi.
"Putramu diambil oleh keluarga Mahendra." Terang Mila, sambil terus menangis.
__ADS_1
"Apa!" Pekik Jimi.
"Kurang ajar …!" Lanjut Jimi memakai dengan penuh amarah.