
Tiga hari berlalu, dan kini waktunya Putra diperbolehkan untuk pulang, kondisinya sudah berangsur membaik meskipun belum sembuh total.
Namun, Putra disarankan untuk tetap kontrol sekitar dua sampai tiga kali lagi. Sampai kondisinya benar-benar pulih.
Tapi sepertinya Putra tidak akan melakukan hal itu, karena ia terlihat tidak peduli ketika Dokter Yuri memberi tahunya.
Dokter Yuri juga bersikap masa bodoh, yang penting dia sudah melakukan tugasnya dengan baik, dan sudah menyampaikan apa yang seharusnya.
Putra dijemput pulang oleh Ibunya (Akira) dan Papanya (Gian) saat ini Juna juga ada bersama mereka tapi Juna tidak ikut pulang ia hanya sekedar menemani keluarganya di sana, karena Juna masih harus menangani pasiennya.
Mereka semua berpamitan untuk pulang, Juna ikut mengantar mereka sampai teras rumah sakit.
Juna juga yang mendorong kursi roda yang diduduki oleh Putra.
"Sampai bertemu lag!" ucap Yuri.
Awalnya Putra merasa lega akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit, tapi saat mendengar ucapan Dokter Yuri, entah kenapa ada perasaan sedih dalam hatinya.
Selama tiga pagi hari ini, dokter Yuri yang full merawat dirinya, karena Putra enggan ada orang lain yang menyentuhnya kecuali Dokter Yuri yang melakukannya.
Dan selama itu ia merasa nyaman dengan sentuhan tangan dokter Yuri, belum lagi sikap dokter Yuri yang sangat sabar menghadapinya, mungkin karena itu Putra merasa sedih berpisah dengan dokter Yuri.
Putra yang biasa periang banyak bicara, dengan segala kekonyolannya dan candaannya bersama Juna jika di hadapan kedua orang tuanya.
Kini ia terlihat murung dan pendiam, Ibu dan Papanya serta Juna pun dapat merasakan perubahan sikap Putra.
Sesampainya di teras rumah sakit, ternyata mobil Gian sudah terparkir di depan pintu rumah sakit, di kemudikan oleh supir pribadinya Gian, sehingga mereka segera masuk kedalam mobil, tanpa harus menunggu lagi.
Juna dan Yuri masih berdiri di teras rumah saki lalu keduanya melambaikan tangannya, saat mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit.
Entah mengapa Putra merasa sakit hati melihat Yuri berdiri bersebelahan dengan Juna, mereka terlihat serasi dan juga kompak.
Sepanjang perjalanan Putra hanya terdiam, padahal sebelumnya ia masih banyak bicara meskipun sedang merasakan sakit akibat luka-lukanya.
Putra duduk di bangku penumpang bersebelahan dengan ibunya - Akira, sedang Papa Gian duduk di samping pengemudi yaitu di bangku depan.
__ADS_1
Merasakan ada yang aneh dengan putranya, Gian dan Akira saling menatap melalui kaca spion, keduanya seakan bertanya tentang sikap aneh Putra mereka.
Kemudian Akira meraih tangan Putra lalu menggenggamnya, dan perlakuan Akira berhasil menyita perhatian Putra, sehingga Putra menoleh ke arah ibunya, ia juga merasa bingung apa maksud dari ibunya bersikap seperti itu.
"Apa sih Bu, kita lagi di dalam mobil loh! ngapain gandengan segala udah kaya mau nyebrang aja!" kemudian protes Putra, sambil menari tangannya.
Gian dan Akira tersenyum mendengar ocehan Putra, ternyata putra mereka masih normal, buktinya ia masih bisa bicara seperti itu, selalu terdengar lucu jika dia berbicara, walaupun ia bicara yang sebenarnya.
"Kenapa kalian malah menertawakanku?" Putra kembali protes sebab melihat ibu dan papa nya mengulum senyum setelah mendengar ia berbicara.
"Oo tidak! Itu Papa godain Ibu, ngedip-ngedipin matanya," Akira berbohong mencari alasan agar Putra tidak tersinggung.
"Iiiis … Papa genit banget sih dah tua juga!" ketus Putra.
Akira makin terkekeh geli mendengar celetukan Putra, sedangkan Gian menoleh ke arah Akira sambil mendelikkan matanya, "Apa sih? Bu!"Gian tidak terima Akira menjadikannya kambing hitam, dan akhirnya ia yang kena semprot Putra.
"Ya iyalah pah! Papa tuh dah tua, inget umur dong jangan genit-genit!" ketus Putra lagi mengingatkan Papa nya, ia seratus persen mempercayai alasan dari ibunya.
Tapi Gian tidak marah ketika mendengar nasehat Putra, ia malah memiliki ide untuk membalas Putra.
Dan itu berhasil membuat Putra merasa tersentil, "Hmmm … boro-boro menantu, aku pacar aja gak punya, aku juga gak tau rasanya jatuh cinta kaya apa?" jawab Putra jujur.
"Kamu tuh payah banget sih jadi cowok, coba dong buka hati kamu buat salah satu wanita, masa dari sekian banyak wanita di sekitarmu tidak ada satupun yang membuatmu tertarik kepada mereka!" Akira yang berbicara,
Putra diam, ia tidak mengerti dengan dirinya, ia merasa dirinya terlalu sempurna untuk dimiliki sembarang wanita, ia ingin mencari wanita yang sepadan dengannya dari berbagai hal.
"Coba jujur sama Ibu, masa tidak ada wanita yang kamu suka?" tegas Akira. Tapi Putra tetap diam ia seakan malu untuk mengungkapkannya, sebab ia sendiri kurang yakin dengan perasaannya itu.
"Eeh, Bu jangan-jangan …!" Gian ikut menimpali ketika menyadari sesuatu yang negatif tentang anaknya
"Apa? Pah!" pekik Akira histeris, karena ia tahu apa maksud suaminya.
"Apaan sih kalian? Aku ini masih normal, Juniorku masih bisa berdiri ketika dokter Yuri menyentuhku!" celetuk Putra mengakui apa yang ia rasakan, sebab ia terpancing oleh omongan kedua orang tuanya.
Dengan demikian Akira dan Gian merasa berhasil telah memancing pengakuan dari anak mereka.
__ADS_1
"Berarti kamu punya perasaan suka dong sama dokter Yuri?" Akira bertanya untuk memastikan.
"Entahlah aku sendiri tidak tahu Bu, apa yang sebenarnya aku rasakan kepada dokter Yuri," terang Putra mulai terbuka.
"Memang seperti apa perasaanmu kepadanya?" Gian semakin penasaran.
Putra mulai menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan, jantungnya sering berdebar kencang ketika sedang berdekatan dengan dokter Yuri, ia merasa senang ketika melihat dokter Yuri datang menemuinya, dan ia merasa sedih ketika harus pulang dari rumah sakit, karena ia tidak akan sering bertemu lagi dengan dokter Yuri.
Padahal sebelumnya Putra tidak ingin sama sekali dirawat di rumah sakit, itulah keterangan yang Putra berikan kepada kedua orang tuanya.
"Itu artinya kamu memang menyukai Dokter Yuri, Nak!" Akira mengambil kesimpulan.
Lalu pembahasan berlanjut, Gian dan Akira juga memang sangat menyukai Yuri, selain sangat cantik, dokter Yuri, gadis yang mandiri, penuh semangat namun penuh dengan kesadaran, ia juga sangat baik serta ramah.
Gian dan Akira berencana akan menyatukan Putra dengan dokter Yuri.
Sesampainya di rumah mereka berdua (Akira dan Gian) menyusun rencana, mereka akan mengadakan syukuran atas keselamatan Putra dan kesembuhannya.
Mereka berdua akan mengundang keluarga besar serta anak yaitu piatu untuk melakukan pengajian serta doa bersama mendoakan kebaikan untuk keluarga mereka terutama untuk Putra.
Dan dalam rencananya, mereka berdua juga mengundang dokter Yuri untuk hadir menghadiri acara yang akan mereka gelar nanti malam.
Dokter Yuri mengiyakan undangan mereka, dan alangkah bahagianya Juna, karena ia yang diminta untuk mengantar jemput dokter Yuri.
Juna bisa jadikan itu satu kesempatan untuknya mendekati dokter Yuri, karena sesungguhnya wanita yang sedang Dokter Juna taksir adalah dokter Yuri.
Namun, Juna belum berani untuk mengungkapkan perasaannya.
Dan kini malah Putra pun ikut menyukai Dokter Yuri, dan kedua orang tuanya malah mendukung Dokter Yuri bersatu dengan Putra, karena keduanya orang tua mereka tidak tahu jika wanita yang Juna taksir adalah Dokter Yuri.
Siapa kah nanti yang akan Dokter Yuri pilih, Putra atau kah dokter Juna?
Untuk para readers kalian lebih setuju dokter Yuri dengan siapa nih? Boleh dong al-del minta saran atau masukannya …
Terimakasih 🫰🫰🫰
__ADS_1